
Hingga, beberapa saat kemudian.
Agnes melengking dan melenting. Ketika pertama kali dirinya mencapai puncak kenikmatan yang pertama kali ia rasakan dalam hidupnya. Ia merasa terbang di atas permen kapas yang berwarna-warni. Lalu membuat membuat jejak peri di sana dengan hati riang gembira.
Hingga tak lama raga itu lemas, dan David kembali melabuhkan kecupan di seluruh area wajahnya. Agnes pun tersenyum dan mengangguk. Ketika ia tau apa arti dari tatapan berkabut dan bisikan parau dari David.
Hingga, pria yang beberapa waktu belakangan ini memenuhi hati serta pikirannya, memposisikan diri untuk bersatu dengannya. Agnes menahan suara agar tidak berteriak. Namun, ia tak dapat menahan untuk tidak mencengkeram bahu tegap yang terbuka itu.
David kembali melabuhkan ciuman berkali-kali demi membuat Agnes rileks dan tenang. Barulah, ia menekan kembali tubuhnya hingga mereka pun menyatu dengan sempurna. Suara desah lega keluar dari mulut David. Karena dirinya telah berhasil masuk menebus pertahanan penjaga.
Ia mendekap raga polos berkeringat di bawahnya ini. Sambil menikmati semua yang terpampang indah. Tubuh seksi Agnes semakin berkilat karena keringat dan juga pantulan cahaya. David mulai bergerak pelan kala senyum itu kembali menghiasi wajah cantik gadis di dalam pelukannya ini. Hingga rintihan Agnes berubah menjadi alunan merdu yang mungkin akan menjadi suara paling indah yang ingin David dengar seterusnya.
"Ah, Dav ...," lenguhan Agnes pertanda gadis itu kembali melayang ke nirwana. Hingga tak lama kemudian David menyusulnya terbang tinggi. Mereka memekik bersamaan. Menyebut nama masing-masing. Agnes kembali lemas tak bertulang. Namun, ia bahagia ketika apa yang ia inginkan telah tersampaikan dan terwujud. Ia menahan pinggang David. Agar pria itu tak memisahkan diri darinya. Berharap rahimnya terendam limpahan lava hangat itu sedikit lama.
"Terimakasih. Ini pertama kali untukku. Maaf, jika. sedikit menyakitimu," ucap David setelah ia kembali menghujani ciuman di seluruh wajah Agnes. Sementara gadis yang terlihat masih menguasai nafasnya itu tersenyum sangat manis.
"Kenapa kali ini, senyumnya sangat manis? Berbeda ketika pertama kali kita bertemu dulu. Ah, bahkan kau tidak pernah tersenyum sama sekali." David terkekeh kecil setelah melihat perubahan wajah pada gadisnya ini.
Hingga jemarinya terulur untuk menjebak poni yang menutupi sebagian dari wajah Agnes. David kembali menatap dalam, wajah lelah di bawahnya ini. Ia masih belum memisahkan diri. Karena, senjatanya masih nyaman berada di rumahnya. Bahkan, ia telah kembali membesar dan tegang. Terlihat dari bola mata Agnes yang tiba-tiba membelalak.
"Kau yang membiarkannya di dalam ketika hendak keluar tadi. Jadi, jangan salahkan aku jika dia menginginkannya lagi." David mendekati ceruk leher Agnes dan memberi sesapan kuat di sana. Ciumannya semakin turun hingga ke dada. Ia pun melakukan hal yang sama. Hingga beberapa tanda kepemilikan tercetak indah.
Agnes yang telah terpancing kembali, terlihat meremas kepala David dan menekannya. Menikmati perlakuan pria itu yang bagaikan bayi kehausan.
Ia kembali mengangguk ketika tatapan penuh kabut dari David seakan meminta ijin padanya. Meskipun rasa perih itu masih mendominasi. Tapi dia suka. Dia merasakan nikmati diantara rasa sakit itu sendiri.
"Ah, maafkan aku ...," lirih David sembari mengecup kening Agnes yang basah oleh keringat. Sementara Agnes tak mampu menggerakkan bibirnya meski untuk sekedar menjawab, iya.
"Aku sudah keterlaluan padamu. Aku tidak bisa mengontrolnya. Karena yang kedua ternyata lebih --" David seketika berhenti berbicara ketika ia mendapati bahwa Agnes sudah tertidur.
David turun perlahan dan membersihkan bagian bawah Agnes yang lengket karena ulahnya, lalu menutupi raga indah yang polos itu dengan selimut. Tak lupa ia kembali melabuhkan kecupan dalam di kening dan kedua kelopak mata yang terpejam itu. Setelahnya, David berlalu ke kamar mandi tanpa menutupi tubuhnya dengan sehelai benangpun.
Tiba-tiba di depan pintu kamar mandi.
[ Halo Tuan! ]
"Eh, kamprett!"
David yang panik karena dalam keadaan telanjang. Seketika menutup bagian bawahnya menggunakan kedua telapak tangan.
[ Maaf Tuan. Saya hanya ingin melapor. Ah, Ya sudah saya balik lagi nanti saja. ]
Paul sang sistem tak jadi bicara karena ia melihat pancaran kemarahan dari kedua mata tuannya itu.
David pun menggeram gemas meskipun sistem tak lagi terlihat.
...Bersambung...