Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya

Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya
Bab. 47. Futsal atau Football?


"Sovia sayang. Kenapa kau berteriak?" Regan berakting kura-kura dalam perahu. Ia menghampiri Sovia dengan senyum tanpa dosa. Namun, istrinya itu tetap memasang wajah mode galak dengan mata yang hendak keluar dari cangkangnya.


"Haiss, kenapa ekspresi mu seperti itu?" Regan bahkan mengusap pelan wajah Sovia karena takut melihat istrinya melotot ke arahnya.


"Jadi, kau ingin menikah lagi. Demi memperbanyak keturunan kita, iya! Katakan honey? Apa kau ingin menikah lagi? Ayo jawab?" desak Sovia, yang kemudian membuat Regan kelabakan dan mencari pertolongan dengan menoleh ke arah David, berharap pembelaan.


Ingin sekali David tertawa geli saat melihat sang ayah dalam kesusahan.


"Mom, aku ingin menikahi Agnes."


"Bagus. Lalu kenapa Daddy mu ingin menikah juga!" Sovia ternyata masih saja kesal.


"Hei, tidak begitu sayang. Kau salah dengar," kilah Regan. Ia tidak mau jika malam ini tidur di kamar tamu. Sungguh memalukan dan tentu saja menyiksa.


"Mom. Misi untuk melanjutkan generasi Voster. Apakah hanya dilimpahkan padaku? Jika iya. Aku merasa ini tak adil. Agnes, hanya ingin menjadi wanita satu-satunya dalam hati dan juga hidupku. Sama seperti Mommy. Dimana ingin hanya menjadi yang tak tergantikan bagi Daddy. Iya kan?" ucap David tegas menohok relung hati Regan dan Sovia.


"Ini--"


"Kau benar-benar telah berubah, Nak. Karena semua uang Daddy putuskan saat ini, semua adalah atas keinginanmu lima tahun yang lalu. Bukan karena keinginannya kami yang memaksamu untuk itu. Tentu saja Mommy, sangat mengerti perasaan Agnes. Lakukanlah apa yang kau inginkan. Mommy, hanya ingin melihat kau bahagia," ucap Sovia membuat relung batin David bergetar hebat.


Belum pernah, dia mendapat dan mendengar ucapan status sayang yang tulus dari seorang ibu. Karena sejak kecil dirinya hanya tinggal bersama dengan sang kakek. David anak korban broken home yang tidak diinginkan. Ia hanya tau dan mengenal perasaan kasih dan sayang dari sosok kakeknya saja. Bahkan, hatinya yang selalu tidak tegaan dan suka menolong orang lain adalah warisan dari sang kakek.


Pria tua kurus yang selalu menggantung makanan di depan setiap rumah tetangganya.


Pria tua yang selalu diikuti gerombolan kucing liar. Karena di dalam kantong bajunya terdapat makanan untuk anabul, atau anak bulu. Karena itulah, ketika pertama kali dirinya melihat Agnes dan Wanita itu sedang meyelamatkan kucing liar. Pada saat itu juga, David mengingat sang kakek.


Pada saat ini, di dalam pelukan Sovia. David kembali merasakan kehangatan dari kasih sayang keluarga yang tulus. Hatinya pun seketika menghangat.


"Terimakasih atas dukungan dan pengertian dari Mommy. Semoga, Agnes dapat memberikan keturunan yang banyak. Agar generasi keluarga kita semakin kuat," ucap David seraya melerai pelukan dari keduanya. Sovia tersendiri. Ia sama sekali lagi menyangka jika putranya yang terkenal arogan dan kejam ini. Dapat menjadi pribadi yang lebih baik setelah bangun dari tidur panjangnya selama 5 tahun. Satu impian dan harapan dari Sovia yang akhirnya menjadi kenyataan.


"Lalu, apa yang harus Daddy lakukan pada kandidat selanjutnya. Masih ada lima orang lagi. Bagaimana jika, kau temui saja mereka dulu. Lalu nanti berikan alasan jika tidak ada yang bisa kau pilih dari mereka. Karena kau telah mendapatkan pilihan. Daddy akan membuat agenda selanjutnya. Itupun jika kau --"


"Aku tidak mau! Sekali tidak tetap tidak!"


"Sudah, jangan memaksa anakmu lagi. Memang kenapa kalau, David keturunan terakhir!" Sovia pun memekik kesal di depan wajah Regan. Membuat, suaminya itu terlonjak sambil menutupi kedua telinganya menggunakan tangan.


"Tuh, dengar apa kata, Mommy, Dad! No pemaksaan! Atau, Daddy aja yang--"


"Baiklah!" Regan pun akhirnya menyerah.


Namun, mereka bertiga tak tau. Ada sepasang telinga yang tak sengaja mendengar perdebatan mereka dari balik dinding.


"Aku akan mencari cara. Agar bisa melahirkan anak yang banyak untukmu, Dav. Kalau perlu sebelas anak. Aku rela. Walaupun aku lebih suka Futsal ketimbang Football."


...Bersambung ...