Sistem Murid Bodoh

Sistem Murid Bodoh
39 : Siapa Roki Dan Lilith?


Pertarungan ini berlangsung cukup lama, tetapi akhirnya Riki berhasil menumbangkan Roki.


Kecekatan, ketajaman, dan ketekunan Riki memberikan kelebihan baginya dalam menghadapi penggunaan portal dimensi oleh Roki.


"Pertarungan ini tidak terlalu sulit karena aku dapat memahami pemikiran Roki," ucap Riki bernapas lega.


Namun, sosok iblis wanita bernama Lilith tiba-tiba muncul.


"Riki, aku punya penawaran bagus untukmu," ucapnya ketika ia muncul.


"Tidak! Jangan dengarkan dia, Riki!" ujar Lala. "Jika kamu menerima tawarannya, maka Roki lainnya akan muncul!"


"Apa? Aku tidak paham!" sahut Riki bingung.


Lala tampak menghela napas. "Roki itu adalah dirimu dari dimensi waktu yang berbeda."


Riki terdiam sejenak, mencoba memproses kata-kata Lala. "Aku... Aku seorang Roki?" gumamnya.


Lilith tersenyum licik. "Jika kamu menerima tawaranku, kamu akan mendapatkan kekuatan luar biasa dan bisa menguasai semua dimensi. Kamu akan menjadi penguasa Roki yang tak tertandingi."


Riki mulai tergoda oleh janji-janji Lilith. Di satu sisi, penawaran itu terdengar menggiurkan.


Namun, Lala sudah memperingatkannya tentang bahaya yang mungkin mengancam.


Dia tidak ingin menimbulkan kekacauan di banyak dimensi hanya untuk kekuasaan semu.


"Tidak, aku menolak tawaranmu," jawab Riki dengan mantap. "Aku tidak ingin merusak keseimbangan dan mengancam kedamaian di dimensi lain. Aku harus menjaga integritas sebagai seorang Roki."


Lilith mengerutkan keningnya. "Sebagai penguasa Roki, kamu akan memiliki segalanya! Kamu melewatkan peluang besar."


Riki menggelengkan kepala. "Kekuatan sejati bukan berarti menguasai segalanya, tapi mampu menggunakan kekuatan itu untuk tujuan yang benar. Aku memilih untuk melindungi dan memperbaiki dimensi, bukan menguasainya."


Lilith mengerutkan keningnya, tidak bisa memahami pilihan Riki.


Sekarang Lala pun mulai menceritakan tentang apa yang terjadi sebelumnya dan kenapa bisa lahir sosok seorang Roki.


Sebelumnya, sosok Roki juga sama seperti Riki, ia mendapat sistem dan menjalankan berbagai misi.


Namun, rekan atau pembimbingnya waktu itu adalah Lilith.


Perlahan tapi pasti, Lilith mulai mengarahkan Roki ke jalan yang salah.


Roki mulai mencuri keberuntungan dari kembaran-kembarannya di dunia lain dan ingin menguasai semua dimensi.


Lilith sendiri adalah iblis yang dihukum langit dan ia diberi kesempatan untuk berubah dengan cara membantu Roki.


Namun, Lilith malah mendapat celah untuk membuat kekacauan di seluruh dimensi sehingga mengarahkannya pada kehancuran.


Demi menghindari kehancuran, Lala dikirim kepada Riki yang berada di garis waktu lain.


Roki time line A dan Riki time line B.


"Kita harus menghentikan Lilith sebelum ia pergi ke garis waktu lain!" tegur Lala.


"Apakah aku bisa melakukannya?" tanya Riki tidak percaya diri.


"Kamu sudah mengumpulkan banyak Poin Skill dari misi yang telah kamu lakukan, jadi kamu pasti bisa!" tegas Lala.


Riki merasa ragu, tetapi ia juga merasa tertantang oleh kata-kata Lala. Ia menjadi semakin yakin bahwa ia harus mencoba untuk menghentikan Lilith sebelum ia dapat melarikan diri ke garis waktu lain.


"Baiklah, aku akan mencobanya," kata Riki dengan tekad yang baru ditemukan. "Aku tidak akan membiarkan Lilith melarikan diri lagi."


Lala tersenyum puas. "Itu dia, Riki! Aku tahu kamu pasti bisa! Kamu telah menunjukkan keahlianmu dalam setiap misi yang telah kamu selesaikan.


 Kamu memiliki Poin Skill yang cukup untuk melawan Lilith. Percayalah pada dirimu sendiri!"


Riki merasa terinspirasi oleh kepercayaan Lala. Ia mulai merenung tentang semua pekerjaan keras yang telah ia lakukan selama ini.


 Ia berlatih dan berusaha keras untuk mengumpulkan Poin Skill, dan sekarang saatnya untuk menggunakannya dengan bijaksana.


"Mungkin aku memang bisa melakukannya," pikir Riki dalam hati. "Aku akan menggunakan segala Poin Skill yang telah aku kumpulkan untuk menghadapi Lilith. Tidak ada waktu untuk ragu."


Poin Skill sendiri sebenarnya adalah kekuatan suci dari perbuatan baik atau amal.


Dengan kekuatan tersebut, Riki bisa mengalahkan iblis kehancuran, Lilith.


Lilith adalah iblis yang memiliki kekuatan yang sangat kuat dan keinginan untuk menghancurkan dunia.


Namun, Riki telah menghabiskan waktu dan usaha untuk mengumpulkan Poin Skill, yang memberinya kekuatan yang setara dengan Lilith.


Dalam pertempuran ini, Riki tidak bisa mengandalkan kekuatan fisik semata. Dia harus menggunakan kecerdikan dan strategi untuk mengalahkan Lilith.


Poin Skill memberinya akses ke berbagai kemampuan, seperti kecepatan yang tak tergoyahkan, kekuatan serangan yang dahsyat, dan perlindungan yang kokoh.


Riki mengumpulkan Poin Skill dengan melakukan perbuatan baik kepada orang lain.


Setiap kali dia membantu seseorang, melakukan kebajikan, atau menyelamatkan nyawa, dia akan mendapatkan Poin Skill. Dengan melakukan ini selama bertahun-tahun, Riki telah mengumpulkan jumlah yang cukup besar.


Saat ini, Riki memiliki jumlah Poin Skill yang cukup untuk menghadapi Lilith.


Namun, dia juga menyadari bahwa Lilith tidak akan menyerah begitu saja.


Lilith memiliki strategi jahat dan kekuatan yang sangat mematikan. Tidak ada kemungkinan bagi Riki untuk menang tanpa menggunakan Poin Skill secara bijaksana.


Riki menarik napas dalam-dalam dan memusatkan pikirannya. Dia mengingat semua yang telah dia pelajari selama menjalankan misi.


Ia memutuskan untuk menggunakan kecepatan untuk mengelabui Lilith dan menyerang dari arah yang tak terduga.


Pertempuran pun dimulai. Riki menggunakan Poin Skillnya dengan bijaksana, menghindari serangan Lilith dengan kecepatan yang luar biasa dan menghantamnya dengan serangan yang dahsyat.


Dia menggunakan perlindungan yang mengkonsumsi Poin Skill untuk bertahan dari serangan mematikan Lilith.


Dia tahu bahwa Poin Skill yang dia kumpulkan selama ini memberinya kekuatan yang cukup untuk menghadapi Lilith.


Namun, kekacauan besar mulai terjadi di seluruh dunia ketika Riki menghadapi si iblis Lilith.


Bencana alam terjadi di mana-mana seperti gempa bumi, banjir, dan badai yang melanda berbagai wilayah. Banyak korban tewas dan kerusakan besar terjadi pada infrastruktur dan lingkungan.


Selain itu, masyarakat juga menjadi semakin terbelah dan terisolasi, karena ketakutan dan ketidakpercayaan antara sesama manusia semakin meningkat.


Konflik sosial pun semakin memanas, dengan adanya kerusuhan, perampokan, dan peningkatan kejahatan lainnya.


"Kenapa ini jadi pertarungan yang panjang? Apa kekuatanku akan cukup untuk mengalahkan iblis itu?" gumam Riki mulai pesimis setelah bertarung selama berhari-hari.


"Riki, gunakan aku!" kata Lala, peri yang selalu mendampinginya tersebut berubah menjadi pedang.


Dengan Lala yang sekarang menjadi pedang, Riki merasa sedikit lebih percaya diri.


Namun, ia masih khawatir tentang kekuatannya yang mungkin tidak sebanding dengan kekuatan Lilith.


Mereka berdua berdiri di medan pertempuran yang hancur, di tengah reruntuhan dan hawa kehancuran. Lilith, dengan kegelapan yang menjulang di sekelilingnya, tersenyum sinis.


"Pertempuran ini tidak akan berakhir dengan baik untukmu, manusia," kata Lilith dengan suara seraknya.


Riki mengambil napas dalam-dalam dan mempersiapkan diri untuk melawan. Ia mengingat semua pelatihan dan keterampilan tempur yang pernah ia pelajari.


Namun, ia juga merasa bahwa ini bukanlah pertempuran biasa. Ada banyak yang dipertaruhkan di sini.


"Sekarang sisa poin skill tinggal sedikit. Aku harus segera mengalahkannya atau dunia akan hancur," kata Riki, merasakan beban yang sangat berat di pundaknya.


Kemudian, Riki berusaha keras melancarkan serangan pertamanya. Pedang Lala berdenting keras saat menyambar angin.


Namun, Lilith dengan mudah menghindari serangan tersebut dan membalas dengan serangan yang berbahaya.


Riki berjuang sekuat tenaga untuk bertahan meskipun setiap kali mendapat pukulan atau serangan dari Lilith membuat poin skillnya terus berkurang.


Waktu terus berjalan, dan pertempuran semakin seru. Riki terus berusaha mengalahkan


Lilith, tidak peduli seberapa sulitnya. Namun, ia semakin lelah dan tampaknya semakin jauh dari kemenangan.


"Aku akan mempertaruhkan semua poin yang tersisa!" ujar Riki bertekad.


Riki melihat kilatan cahaya yang memancar dari dalam dirinya.


Ia merasakan kehadiran sesuatu yang kuat dan menggetarkan.


Tanpa ragu, Riki menggenggam erat pedang Lala dan mengayunkannya dengan kekuatan yang tak terduga.


Serangan itu menghantam Lilith dengan kekuatan yang begitu dahsyat.


Ia berteriak kesakitan dan terlempar jauh. Riki hampir tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Ia mengetahui bahwa kekuatannya telah meningkat secara luar biasa.


Dalam sekejap, Riki melancarkan serangan beruntun yang membuat Lilith semakin terdesak.


Akhirnya, dengan satu pukulan terakhir, iblis Lilith tertusuk oleh pedangnya dan perlahan menghilang menjadi abu.


Riki menarik napas lega, ia tahu bahwa pertempuran telah berakhir.


Namun, kehancuran dunia masih belum berhenti meskipun Lilith telah dikalahkan.


"Riki, ini adalah saatnya untuk kita berpisah," kata Lala tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" tanya Riki terkejut.


Peri Lala tampak ingin mengorbankan dirinya untuk menghentikan kehancuran seluruh dunia.


Lala mulai berdoa pada Tuhan dan meminta kekuatan untuk melindungi Riki dan menyelamatkan dunia dari kehancuran.


Saat Lala berdoa dengan penuh keyakinan, tubuhnya mulai terpancar cahaya yang menyilaukan. Ia menjadi semakin terang dan terlihat seperti sosok perkasa yang memancarkan aura kebaikan.


Setelah beberapa saat, cahaya itu redup dan tubuh Lala mulai semakin transparan/menghilang.


Riki merasa hatinya seperti terkatup rapat. Dia tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa Lala.


"Apa nanti aku bisa bertemu dengan lagi, Lala?" tanya Riki dengan suara bergetar.


"Mungkin saja," kata Lala, hanya tersenyum ketika tubuhnya perlahan menghilang.


Tiba-tiba, kesadaran Riki juga menghilang akibat lamanya bertarung dan ia meneteskan air mata sebelum benar-benar tak sadarkan diri.


Tampak tubuh Riki mulai jatuh ke bawah, tapi sebuah portal muncul dan tubuhnya masuk ke dalam sana.


Bersambung.