Sistem Murid Bodoh

Sistem Murid Bodoh
33 : Dunia benar-benar terbalik dan dikuasai wanita.


Riki masih saja belum terbiasa dengan segala perubahan yang terjadi saat ini.


"Ini kamar benar-benar dipenuhi oleh boneka lucu dan cat dindingnya serba warna pink!" ujar Riki menggelengkan kepala.


Tidak hanya itu, Riki melihat banyak poster bergambar Power Buff Girls pada dinding kamarnya.


"Sudahlah, Host. Kamu terima saja semua keadaan ini," kata Lala terkekeh.


"Bagaimana bisa aku begitu saja menerima situasi ini?" keluh Riki.


"Padahal aku berencana untuk menjadi dokter dan membuka klinik sederhana di daerah pedesaan."


"Kemudian, memanfaatkan buah di rumah rahasiaku untuk dijadikan pengobatan."


"Sekarang semua itu hilang!"


"Bahkan, aku tidak bisa bertemu Mochi dan Gon lagi!"


Riki pun berjalan ke arah poster Power Buff Girls yang menempel di dinding dan melepasnya dengan kesal.


"Tapi dari semua hal... apa-apaan penampilan mereka ini?" kata Riki heran.


"Mereka hanya memakai topeng mata, tapi semua orang tidak dapat mengetahui identitasnya!" keluh Riki menumpahkan semua kekesalannya.


Tuk! Tuk!


"Tuan Muda, ada teman Anda datang!" ucap Pelayan Trisha mengetuk pintu kamarnya.


"Iya! Sebentar lagi aku akan menemuinya!" sahut Riki.


"Memangnya siapa yang datang?" gumam Riki penasaran.


Riki pun segera bergegas mengganti pakaian, tapi ia sedikit terkesima melihat penampilan barunya.


Kulitnya lebih putih dan mulus. Rambutnya lebih panjang dan teratur.


Wajahnya terlihat segar dengan senyuman cerah. Riki merasa sedikit percaya diri dengan penampilan barunya.


"Ini... kenapa aku merasa diriku lebih feminim?" gumam Riki merasa aneh.


Selain itu, ia juga merasa tubuh fisiknya yang sekarang lebih lembek dari biasanya.


Setelah cukup puas mengamati penampilan barunya dan berganti pakaian, Riki segera membuka pintu kamar dan melangkah keluar.


"Lia, ada apa kamu datang ke sini?" tanya Riki ketika melihat Lia tengah duduk menantinya di ruang tamu.


"Riri, aku ingin mengajakmu jalan-jalan!" jawab Lia tersenyum.


"Jalan-jalan ke mana?" tanya Riki penasaran.


Lia pun berdiri dan menghampirinya.


"Nanti kamu juga akan tahu, manis!" kata Lia menggodanya.


Wajah Riki langsung bersemu merah ketika Lia berlagak jantan dan menggodanya.


"Kenapa aku merasa dia begitu mendominasi?" gumam Riki tidak bisa mengendalikan perasaannya


"Baiklah, ayo kita pergi," kata Riki setuju.


Kemudian, Lia segera menggandeng tangannya sampai keluar dari rumah tersebut.


"Ayo naik!" kata Lia seraya mengenakan helm.


Ternyata Lia mengendarai motor sport untuk mengajaknya jalan-jalan.


Untuk yang satu ini Riki tidak terlalu merasa heran, itu karena wanita mengemudi motor sudah menjadi hal biasa meskipun dunianya belum berubah seperti sekarang.


Lia pun mengajak Riki untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di sekitar kota.


Rencananya, mereka akan menghabiskan sehari penuh untuk menjelajahi berbagai tempat menarik tersebut.


Pertama, Lia mengajak Riki untuk mengunjungi taman nasional yang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah.


Mereka pun melakukan aktivitas trekking dan menikmati keindahan hutan serta air terjun yang ada di sana.


"Tubuh ini benar-benar menyebalkan!" keluh hati Riki yang kelelahan.


"Riri, apa kamu masih sanggup berjalan?" tanya Lia penuh perhatian.


Riki merasa kesal dengan situasi terbalik ini, tapi dia juga tidak mau menggunakan poin skillnya untuk hal sepele.


Tiba-tiba, Lia menggendongnya bak seorang putri dalam cerita dongeng.


"Situasi macam apa ini?" gumam Riki tak berdaya.


"Hahaha. Host, Anda terlihat bersenang-senang!" ejek Lala.


"Cih! Apa gadis ini benar-benar akan sekuat ini untuk menggendongku jika dunia tidak terbalik?" sahut Riki.


Setelah menempuh perjalanan panjang mendaki gunung, mereka akhirnya tiba di puncak ketika hari mulai gelap.


Lia benar-benar menjadi gadis yang sangat kuat dan bisa diandalkan.


Dia membangun tenda, menyalakan api unggun, dan melakukan hal lainnya untuk Riki.


Lia pun berkata ingin menunjukkan sesuatu kepada Riki dan mengajaknya ke suatu.


"Dia bukan berniat melakukan sesuatu, kan?" pikir Riki mulai berpikir aneh-aneh.


"Cahaya-cahaya apa itu?" tanya Riki takjub melihat pemandangan indah di depannya.


"Itu kunang-kunang!" jawab Lia.


Riki memandang dengan kagum ke arah kunang-kunang yang berkelap-kelip di sekitar mereka. Cahaya itu memberikan suasana yang magis dan romantis di tempat itu.


"Kenapa aku merasa kalah sebagai lelaki?" gumam Riki. "Aku saja ketika dunia normal, tidak bisa menjadi lelaki seromantis ini."


Tampak Lia tersenyum melihat kekaguman Riki. "Tempat ini adalah tempat favoritku karena sering dihuni oleh kunang-kunang. Rasanya seperti berada di dalam dongeng, bukan?"


Riki mengangguk setuju. "Iya, sangat indah. Aku belum pernah melihat kunang-kunang sebanyak ini sebelumnya. Mereka membuat suasana ini terasa sangat istimewa."


Lia memandangi cahaya kunang-kunang dengan perasaan damai. "Kunang-kunang selalu mengingatkanku pada keajaiban alam. Mereka memberi tanda bahwa ada keindahan di setiap sudut dunia ini."


Riki tersenyum lembut. "Aku merasa sangat beruntung bisa berada di sini bersamamu, Lia. Tempat ini benar-benar spesial dan menjadi saksi cinta kita."


Lia merasa hangat di hatinya mendengar kata-kata Riki. Ia merasa bahagia bisa berbagi momen indah seperti ini dengan orang yang dicintainya.


Mereka berdua berjalan-jalan melintasi area terbuka sambil menikmati keindahan alam yang disuguhkan kunang-kunang.


Malam semakin larut, membuat cahaya kunang-kunang semakin mempesona. Lia dan Riki berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan langit bintang yang indah.


"Apakah kamu percaya pada keajaiban, Riri?" tanya Lia dengan lembut.


Riki berpikir sejenak, lalu menjawab dengan tulus, "Aku percaya. Tempat ini adalah salah satu bukti nyata bahwa keajaiban ada di dunia ini."


"Kamu benar," jawab Lia. "Dan bagiku, keajaiban terbesar dalam hidupku adalah bertemu denganmu dan aku ingin memilikimu sebagai pasangan hidupku."


"Kya! Apa ini? Aku benar-benar kalah telak dari gadis ini!" ujar Riki, yang dalam imajinasinya, ia sedang heboh sendiri.


Lia yang duduk bersebelahan dengannya, mulai menyentuh pipinya dan mendekatkan wajahnya.


Lia mencium bibir Riki dengan lembut dan menggenggam tangannya erat-erat.


Riki terkejut namun segera membalas kecupan itu dengan penuh kasih sayang.


Mereka saling terpaku dalam kehangatan cinta mereka, melupakan segala sesuatu di sekitar mereka.


Sentuhan dan kecupan mereka semakin dalam dan gairah pun tumbuh di antara mereka.


Mereka melupakan segala keraguan, ketidakpastian, dan rintangan yang mungkin menghadang.


Lia merasakan denyutan getaran yang mengalir dari jantung Riki, dan Riki merasakan getaran yang sama dari Lia.


"Ayo kita kembali ke tenda," ajak Lia dengan penuh perhatian.


Ketika berjalan menuju perkemahan, Lia memakaikan jaketnya ke badan Riki agar tidak kedinginan.


"Host, sepertinya kamu benar-benar menyukai peran terbalik ini," sindir Lala terkekeh melihat.


Namun, Riki tidak mampu berkata-kata karena ucapan Lala memang benar adanya.


Setiba di tenda, mereka pun tidur bersama dan Lia memeluknya sepanjang malam.


"Riri, cepat bangun. Waktunya aku mengantarmu pulang!" kata Lia membangunkannya.


Untuk perjalanan pulang, Riki akhirnya menggunakan poin skillnya agar kejadian kemarin tidak terulang.


"Ini demi harga diriku!" gumam hati Riki.


Sesampainya Lia mengantar Riki sampai depan rumahnya, ia dan orang tuanya Riki malah terlibat perdebatan.


"Ambil uang seratus juta ini dan jauhi putra kami!" ujar ayahnya, Pak Hermawan.


"Apa maksudnya ini, Tuan?" tanya Lia terkejut.


"Kau pikir saya tidak tahu bahwa niatmu mendekati Riri adalah demi mendapatkan uang!" jawab Pak Hermawan.


"Benar sayang. Gadis miskin ini hanya mendekati putra kita demi uang!" sambung Nyonya Yanti, ibunya Riki.


"Ayah! Ibu! Apa maksud kalian melakukan hal ini kepada Lia?" bela Riki yang berdiri membelakangi Lia.


"Dan kenapa momen ini terasa seperti adegan sinetron?" pikir Riki dan ia sempat terdiam sejenak.


Lia tampak senang melihat Riki membelanya, tapi ia tidak ingin membuatnya bertengkar dengan orang tuanya.


"Tuan dan Nyonya, saya akan membuktikan bahwa cinta saya tulus kepada Riri, bukannya demi uang!" tegas Lia.


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Pak Hermawan tampak meremehkannya.


"Lihat saja! Saya akan menghasilkan banyak uang sehingga kalian tidak meremehkan saya lagi," kata Lia penuh tekad.


Dia pun segera pergi dari sana dan tidak mengambil sepeser pun uang yang diberikan padanya.


"Riri, cepat kembali ke kamarmu!" ujar ibunya sangat marah.


Setiba dalam kamar, Riki tampak sangat bersedih dan terus terbayang momen kebersamaannya dengan Lia.


"Lihat Host kita yang satu ini. Dia benar-benar telah menjadi seorang gadis tulen!" ejek Lala malah menertawakannya.


"Lala!" ujar Riki cemberut.


"Bahkan kamu makin imut seperti gadis ketika menggembungkan pipi seperti itu," kata Lala yang begitu puas menertawainya.


Bersambung.