
Riki masih sulit melupakan apa yang terjadi kemarin antara dirinya dengan Lia.
Peran yang tertukar ini terasa menyebalkan baginya karena seluruhnya benar-benar terbalik kecuali jenis kelamin.
"Nanggung sekali! Kenapa enggak sekalian saja aku jadi cewek!" ujar Riki.
Yang menjadi masalah dan membuat Riki tidak nyaman adalah tentang bagaimana emosi dan tubuhnya menjadi feminim seperti perempuan.
"Mungkin Host bisa lebih kuat jika olahraga," kata Lala.
"Benar juga katamu," sahut Riki setuju.
Ketika dunia normal juga terdapat banyak wanita yang memiliki kekuatan fisik lebih kuat dari pria setelah ia rutin olahraga.
Pagi ini, Riki pun memulai olahraga dengan lari pagi karena hari ini hari libur sekolah alias hari minggu.
"Betapa lemahnya tubuh ini," keluh Riki ketika sudah kelelahan padahal baru lari sebentar.
"Hei manis, apa kamu sedang lari pagi?" tanya seorang gadis menyapanya.
"Iya," jawab Riki dengan napas tersengal-sengal.
"Tidak biasanya kamu melakukan ini. Mau dibelikan minum?" tanya gadis tersebut yang ternyata adalah Ami.
"Boleh," jawab Riki.
Saat ini Riki sedang duduk dan istirahat di bawah pohon rindang taman kota tak jauh dari kediamannya.
"Bagaimana kalau kamu ikut ke rumahku kalau memang tertarik untuk olahraga. Di sana ada peralatan olahraga yang lengkap, seperti barbel, treadmill, sepeda statis, dan lainnya," tawar Ami setelah membelikannya minuman.
"Boleh," jawab Riki.
Di tempat Ami sepertinya terdapat peralatan gym lengkap.
"Aku bisa saja membeli semua peralatan olahraga itu, tapi orang tuaku pasti melarangnya," pikir Riki.
Setiba di rumah Ami, di sana ada Kiran juga yang sedang olahraga.
"Wah! Tempat kamu benar-benar memiliki peralatan gym lengkap!" ujar Riki senang.
"Tentu saja," kata Ami bangga. "Sekarang, aku akan membantumu untuk menggunakannya."
Ami mulai menjelaskan fungsi dan cara penggunaan setiap alat kepada Riki. Mereka berdua mengawali sesi latihan dengan pemanasan ringan untuk menghangatkan tubuh.
Ami memberi arahan yang jelas, memastikan Riki melakukan gerakan dengan benar dan aman.
Tidak hanya Ami, Kiran, kakaknya, juga ikut memberi arahan kepada Riki.
"Host, sebenarnya kamu sadar, kan kalau kedua gadis ini dari tadi cari kesempatan darimu?" singgung Lala.
Riki malah tersipu malu. "Daripada melawan, mending nikmati."
Setelah puas nge-gym, akhirnya Riki diantar pulang Ami sampai depan gerbang rumahnya.
"Astaga, Tuan Muda, kamu habis ngapain?" tanya Quin ketika membukakan pintu gerbang.
"Saya habis lari pagi dan nge-gym!" jawab Riki.
Riki yang kelelahan, malah ceroboh dan hampir terjatuh akibat tersandung kakinya sendiri.
"Tuan Muda, tubuhmu kan lemah, sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri," kata Quin berhasil menangkapnya sebelum Riki jatuh.
Akhirnya Riki digendong oleh Quin sampai ke kamarnya.
"Tubuhku terasa pegal-pegal dan lemas," ungkap Riki.
"Apa mau saya pijat?" tanya Quin.
"Boleh," jawab Riki menerima tawarannya.
Namun, Lala kembali menyela. "Dari ekspresinya jelas sekali ingin mencari kesempatan untuk menyentuhmu."
"Ya mau bagaimana lagi, Lala. Tubuh ini payah sekali!" jawab Riki.
Beberapa saat kemudian, tampak Riki berbaring di tempat tidurnya dan Quin begitu antusias memijitnya.
"Kulit Anda sangat lembut, Tuan Muda," puji Quin.
"Iya," jawab Riki keenakan dipijit.
Namun, lama-lama Quin tidak bisa menahan diri lagi dan akhirnya menindih tubuh Riki.
"Q-Quin? Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Riki terkejut.
Akan tetapi, Quin tidak menggubris dan malah mengancamnya untuk tidak berteriak.
"Situasi apa ini? Apa aku akan kehilangan kesucianku?" gumam hati Riki tak bisa melawan karena kekuatan Quin lebih kuat darinya.
"Host, gunakan kekuatan poin skill untuk melawan!" ujar Lala.
Namun, Riki malah diam saja dan menikmati. Lala pun hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.
Riki hanya pasrah saja ketika Quin begitu rakus menciumi bibir dan lehernya.
"Kalau memang itu maumu, silakan lakukan saja!" kata Riki.
Quin malah terdiam dan menatap Riki dengan gelisah.
"Tuan Muda, saya khilaf!" kata Quin yang ternyata sudah mendapatkan kembali kewarasannya.
Quin pun melepaskan Riki dan turun dari tempat tidur.
"Tuan Muda, silakan hukum saya!" katanya malah bersujud.
Riki sedikit kecewa, tetapi ia pura-pura marah padanya.
"Kamu adalah orang kepercayaan keluargaku dan aku bisa menganggap semua ini tidak pernah terjadi jika kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi," kata Riki.
Normalnya, Riki harusnya marah besar karena telah ternodai oleh bawahannya.
Posisi Riki saat ini adalah seperti Nona Muda cantik dari keluarga kaya raya. Banyak yang menyukainya dan ingin menidurinya.
Namun, Riki tidak terlalu terikat dengan konsep dunia yang sudah terbalik ini sehingga tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan Quin, Ami, dan Kiran hari ini.
"Dasar murahan!" sindir Lala.
Riki malah nyengir karena malah menyukai situasi tersebut.
Sore harinya, Riki dihubungi Gin dan Syahrul yang ingin mengajaknya jalan-jalan dan berbelanja.
Riki, Gin, dan Syahrul bertemu esok harinya sepulang sekolah untuk berbelanja dan pergi ke salon.
Mereka memulai perjalanan mereka dengan mengunjungi beberapa toko pakaian favorit mereka.
Riki mencari beberapa pakaian baru untuk mengisi lemari pakaian barunya, sedangkan Gin mencari aksesori dan Syahrul mencari sepatu baru.
"Sepatunaya sangat cocok untukmu!" kata Riki.
"Baiklah, aku akan mengambil ini," kata Syahrul.
Setelah puas dengan berbelanja, mereka bertiga melanjutkan petualangan mereka dengan pergi ke salon.
Riki memutuskan untuk mendapatkan potongan rambut yang segar dan bergaya, sedangkan Gin dan Syahrul memilih untuk mendapatkan perawatan kecantikan seperti facial dan manicure.
"Beginikah rasanya jadi wanita?" gumam Riki lumayan menikmatinya.
"Host, kapan kamu akan memulai misimu?" tanya Lala.
"Aku sedang membiasakan diri dahulu dan besok baru akan memulai melaksanakan misinya!" jawab Riki.
Setelah beberapa jam di salon, mereka semua merasa segar dan puas dengan hasilnya.
Mereka melanjutkan hari mereka dengan makan malam di restoran favorit mereka untuk memperingati hari yang menyenangkan.
Esok harinya, monster iblis kembali muncul dan meneror seisi kota dengan ketakutan.
Peristiwa ini akhirnya membuat Riki sadar untuk mulai fokus kepada misinya dan mengembalikan dunia ini menjadi semula.
Tampak grup Power Buff Girls dan super hero lainnya sedang kewalahan dengan banyaknya monster yang meneror kota.
Oh iya nih. Saat ini hanya wanita yang bisa memiliki kekuatan super dan mereka telah membentuk kelompok-kelompok pahlawan untuk melawan monster iblis seperti Power Buff Girls.
Kemudian, Departemen Pahlawan Super sudah mengumumkan untuk segera melakukan pembersihan dan meminta para pemilik kekuatan super untuk berpartisipasi.
Hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya jumlah monster iblis di tower dan penjaga sangat kewalahan sampai akhirnya mereka bisa lolos untuk menyerang kota.
"Ini adalah kesempatan bagus untuk masuk ke dalam tower," kata Lala.
"Kamu benar, tapi apa aku harus memakai kostum aneh begini?" keluh Riki merasa konyol.
"Kamu harus menutupi identitas aslimu dan mengikuti aturan dunia ini sekarang," jawab Lala.
Agar bisa berpartisipasi pembersihan ke menara, Riki harus segera memulai debutnya sebagai Super Hero atau Pahlawan Super.
[Skill sihir api telah digunakan]
[Cost : -5 Poin Skill]
[Skill sihir angin telah digunakan]
[Cost : -5 Poin Skill]
"Astaga, monster yang muncul kali ini sangat banyak!" keluh Riki.
"Tenang saja, poin skillmu sangat banyak!" kata Lala.
Sementara itu, para kelompok pahlawan yang sedang bertarung cukup terkejut melihat kehadiran Riki.
Mereka baru pertama kali melihat ada laki-laki memiliki kekuatan super atau menjadi pahlawan.
"Afgan!!!" teriak seorang murid laki-laki yang tidak asing bagi Riki.
"Baiklah, kurasa sudah waktunya mengembalikan dunia ini menjadi normal lagi," kata Riki.
Bersambung.