
Setelah sekolah bubar, Riki malah dipanggil ke ruang guru sebelum diizinkan pulang.
Ibu Anita yang sudah melihat lembar jawaban ulangan Riki yang mendapat sempurna, masih merasa ragu.
"Riki, boleh saya bicara denganmu sebentar?" tanya Ibu Anita sambil menatap Riki dengan tatapan tajam.
Riki sedikit terkejut namun ia mengangguk dan duduk di kursi yang tersedia di ruang guru. Ia merasa sedikit gugup karena tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Ibu Anita.
Ibu Anita memandangi Riki dengan serius sebelum akhirnya mulai bicara, "Riki, saya sudah melihat lembar jawaban ulanganmu. Kau mendapatkan nilai sempurna kali ini."
Riki mendengarkan dengan cermat, masih merasa sedikit gugup dengan pertanyaan Ibu Anita. "Apa yang membuat Ibu penasaran, Bu?" tanya Riki dengan polos.
Ibu Anita menjelaskan, "Tentu saja semua ini aneh! Sebelumnya, kamu selalu tidak bisa menjawab dengan benar dan mendapat nilai terendah. Mungkinkah kamu berbuat curang?"
Riki terkejut mendengar itu dan buru-buru membantah, "Tidak, Bu! Saya benar-benar tidak melakukan kecurangan apapun. Saya belajar dengan sungguh-sungguh dan hasilnya memuaskan."
Ibu Anita masih tetap menatap Riki dengan tajam, mencoba mencari ekspresi kebohongan.
"Jika Ibu tidak percaya, silakan tes saya lagi!" kata Riki.
"Memang itu tujuan saya memanggilmu," jawab Ibu Anita.
Ibu Anita kemudian memberikan soal ulangan yang berbeda dari sebelumnya.
Namun, Riki kembali berhasil mengisi semua jawaban dengan benar.
Kali ini Ibu Anita sudah yakin dan pun ia mengubah nada bicaranya menjadi lebih lembut.
"Baiklah, Riki. Saya percaya padamu. Tetapi, Ibu akan terus memantaumu ke depannya untuk melihat apakah kamu masih bisa terus mempertahankan nilaimu atau tidak."
Akhirnya Ibu Anita memberi izin untuk pulang, tapi Riki jadi terlambat untuk ke restoran Pak Herman.
Setiba di depan restoran, dia malah melihat Danang beserta teman-temannya yang tampak ingin makan di tempat Pak Herman.
Danang terlihat sesumbar ingin mentraktir teman-temannya, bahkan dia berhasil memaksa Monika ikut berkat bantuan Novita.
"Novi, kenapa sih aku harus ikut juga?" kata Monika terlihat malas.
"Jika kamu pergi, berarti kamu tidak menganggapku temanmu lagi," kata Novita terus membujuknya.
Karena sudah terlambat, Riki pura-pura tidak melihat mereka dan berniat berjalan melewati mereka untuk masuk ke restoran.
Namun, Danang melihatnya dan kemudian mencegatnya.
"Heh, kenapa kau ada di sini?" tanya Danang.
"Mungkin dia ingin ikut makan dengan kita," sahut Arya.
"Haha. Apakah uang yang kau terima kemarin tidak cukup?" ujar Danang arogan.
Monika yang ingin membantu Riki, malah ditahan oleh Novita agar tidak ikut campur.
Meski Danang terus mencemoohnya, Riki tetap mengabaikannya dan melanjutkan langkah kakinya untuk masuk.
"Kalau orang ngomong itu dengerin!" tegur Danang.
Danang menarik Riki yang hendak berjalan masuk kemudian melempar sejumlah uang padanya.
"Ambil saja uang ini dan makanlah di tempat lain!" ujar Danang sangat arogan.
"Siapa yang butuh uangmu?" ujar Riki akhirnya angkat bicara.
"Hei, aku tahu kamu punya sedikit uang dari ayahku. Tapi, aku ingin kamu tidak makan di tempat ini karena akan menghilangkan selera makanku!" sahut Danang.
Danang pun berteriak untuk mencoba memanggil pelayan. Dia ingin agar pelayan restoran tersebut segera mengusir Riki.
Namun, orang yang datang justru adalah William.
"Riki, apa mereka adalah teman-teman sekolahmu?" tanya William sangat ramah kepada Riki.
Melihat hal itu membuat Danang menjadi heran. "Tuan William, apa Anda tidak salah mengenali orang?"
"Apa maksudmu? Mana mungkin aku tidak mengenali adikku!" jawab William.
William sendiri berasal dari keluarga yang kekayaannya melebihi keluarga Hartono dan sangat dihormati di kota ini.
Monika yang daritadi menahan diri akhirnya angkat bicara dan menjelaskan apa yang telah terjadi antara Riki dan Danang.
Setelah mendengarnya, William langsung marah dan mengusir Danang dari restoran tersebut.
"Setahu saya restoran ini adalah milik Pak Herman!" kata Danang tidak terima diusir.
Namun, Pak Herman juga muncul dan malah lebih membela Riki.
Pak Herman mengatakan semisal tidak mengenal Riki, dia tetap akan membelanya demi William.
Danang dan teman-temannya akhirnya pergi, kecuali Monika yang sudah geram dengan mereka.
Monika memutuskan tidak ingin berteman lagi dengan Novita yang suka memaksanya untuk mendekati Danang.
"Pacarmu cantik juga," ucap William pada Riki.
"Pacar? Maksudmu Monika?" tanya Riki bingung.
"Kami tidak pacaran!" ujar Monika menjelaskan, tapi wajahnya tampak berharap.
Monika memang gadis tercantik di sekolah. Dia keturunan Jerman dan memiliki rambut pirang yang panjang dan mata biru yang memikat.
Wajahnya simetris dengan hidung mancung dan bibir yang merah alami. Tubuhnya ramping dan tinggi, membuatnya terlihat sangat elegan saat berjalan.
Monika selalu berpakaian dengan gaya yang modis dan sesuai dengan tren terkini.
Banyak laki-laki di sekolah yang tak bisa berhenti memandanginya dan beberapa diantaranya bahkan berani mendekatinya hanya untuk sekedar melihatnya lebih dekat.
Monika tahu akan kecantikannya, namun dia tidak sombong atau arogan. Dia adalah gadis yang rendah hati dan sering kali membantu teman-temannya.
Monika memang pantas dijuluki sebagai gadis tercantik di sekolah.
Setelah selesai berbincang-bincang sebentar, William segera meminta Riki untuk bersiap.
"Sebentar lagi teman-temanku dari luar negeri akan datang ke restoran kita," ucap Chef William.
William ingin agar Riki menyajikan makanan andalannya untuk memuaskan para tamu yang akan datang.
Riki mengangguk dan segera pergi ke dapur untuk menyiapkan semua bahan-bahan yang diperlukan.
Dia dengan hati-hati memilih bahan-bahan segar dan berkualitas tinggi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Ia tahu betul bahwa keahliannya dalam memasak adalah kunci keberhasilan restoran ini, dan ia tidak ingin mengecewakan Chef William dan tamu-tamu yang akan datang.
Setelah bahan-bahan sudah dipersiapkan dengan teliti, Riki mulai bekerja dengan semangat yang tinggi.
Ia meracik bumbu-bumbu yang tepat untuk menciptakan rasa yang lezat dan seimbang. Kemudian, ia membakar daging dengan api yang pas, menghasilkan aroma yang menggugah selera.
Riki terus bekerja dengan penuh perhatian dan ketelitian. Ia tahu bahwa presentasi juga sangat penting dalam menyajikan hidangan yang maksimal.
Ia menghias piring dengan indah dan meletakkan hidangan yang dihasilkannya dengan penuh kebanggaan.
[Ding! Kemampuan memasak telah digunakan]
[-5 Poin Kemampuan telah dikurangi]
[Sisa Poin : 245 Poin Kemampuan]
"Aku selalu kagum melihat bagaimana caramu memasak!" kata Chef William.
"Terima kasih, Kak Will," jawab Riki tersenyum.
Setelah selesai, Riki meletakkan hidangan-hidangan tersebut di atas nampan dan membawanya ke meja tamu.
Ia dengan ramah menyapa dan mengucapkan selamat datang kepada tamu-tamu tersebut.
Chef William dan para tamu pun sangat puas dengan hidangan yang disajikan oleh Riki.
"Bagaimana? Apa kalian menyukai makanannya?" tanya Chef William pada teman-temannya.
Mereka mengangguk dan tampak menikmati makanan itu dengan lahap dan memuji keahlian masak Riki.
[Ding! Anda mendapat 100 Poin Skill setelan membantu William]
[+100 Poin Skill]
[Total : 345 Poin Skill]
*Aku ubah sedikit, 'Poin Kemampuan menjadi 'Poin Skill' biar mudah menulisnya.
Riki tampak senang karena poinnya mulai bertambah lagi. Sementara itu, Chef William dengan rendah hati mengakui kalau masakan buatan Riki lebih baik darinya.
"Kamu punya orang-orang luar biasa di sisimu. Kami akan membagikan info mengenai restoran ini kepada teman-teman kami agar mereka mampir ketika ke kota ini," ucap salah satu temannya yang bernama Michel.
Restoran milik Pak Herman yang dikelola oleh William dan Riki pun mulai terkenal.
Banyak pengunjung yang datang untuk mencicipi hidangan lezat yang disajikan oleh Chef William dan Riki.
Seiring berjalannya waktu, restoran ini semakin ramai dan memiliki banyak pelanggan tetap.
Pujian dan ulasan positif tentang restoran ini juga mulai beredar luas di media sosial dan platform review makanan, membuat restoran ini semakin populer di kalangan pecinta kuliner.
Banyak orang datang dari berbagai kota hanya untuk mencoba masakan khas yang disajikan di restoran ini.
Chef William dan Riki sangat bersyukur atas kesuksesan restoran mereka. Mereka bekerja keras untuk mempertahankan kualitas makanan dan terus mengembangkan menu yang menggugah selera.
Mereka juga selalu menyambut tamu dengan hangat dan menjaga pelayanan yang ramah.
Dalam waktu singkat, restoran milik Pak Herman ini menjadi tempat favorit untuk makan malam, acara keluarga, atau pertemuan bisnis.
Restoran ini juga mulai mendapatkan penghargaan dari berbagai kompetisi masak dan konsumen yang puas.
Chef William dan Riki terus berinovasi dalam menciptakan hidangan baru dan melakukan eksperimen dengan berbagai bahan dan teknik masak.
Suatu ketika Riki diundang oleh salah satu acara televisi dan tayangannya kebetulan ditonton oleh keluarganya.
Danang dan ibunya, Nyonya Linda, tampak kesal dengan Riki yang sekarang telah sukses.
Mereka malah menduga bahwa kesuksesan Riki ada campur tangan dari Tuan Hartono.
Pertengkaran pun terjadi di mana Nyonya Linda mendesak Ryan Hartono agar membantu Danang menjadi terkenal juga.
Setelah pertengkaran tersebut Pak Hartono langsung menghubungi seseorang.
"Kau bisa melakukannya sekarang!" kata Pak Hartono.
"Siap, Tuan!" jawab seseorang di telepon.
Setelah telepon ditutup, orang yang dihubungi Pak Hartono barusan sedikit tersenyum.
"Akhirnya Tuan Ryan mau mengambil tindakan!" ucapnya seraya memegang dokumen hasil tes DNA dari Danang dan bosnya tersebut.
Di sana jelas tertulis bahwa Danang bukanlah anak kandung Pak Hartono.
Bersambung.