Sistem Murid Bodoh

Sistem Murid Bodoh
26 : Kemampuan, Poin, dan Misi


–Profil Host , Riwayat perjalanan, Riwayat pembelian Skill, Riwayat penggunaan skill, dan Misi.–


Nama : Riki Saputra.


Jenis Kelamin : Laki-laki.


Usia : 18 tahun.


Skill Permanen : Memasak, Bela Diri, Literasi, segala cabang olahraga, penyembuhan, menjinakkan binatang, dan spiritual atau kebatinan.


Catatan : Skill permanen hanya bisa digunakan di dunia utama dan poin akan digunakan ketika menggunakan kemampuan di dunia paralel.


Kecuali, host mendapat keahlian dengan berlatih atau cara lainnya ketika di dunia lain tersebut.


Contoh : Kemampuan bertani/menanam tanaman dan mantra sihir ketika berada di dunia tutorial (Dunia Dewa Pulau Mengapung).


Misi : Membantu kembarannya di dunia paralel agar mendapat poin dan keseimbangan antar dunia.


Penjelasan tujuan misi : Menjaga keseimbangan antar dunia tetap terjaga.


Resiko jika misi gagal : Riki dan semua kembarannya di dunia lain akan mengalami kesialan tanpa ampun.


Toko Skill Sistem : Terdapat banyak kemampuan yang dapat dibeli, tapi harganya sangat mahal.


Meski demikian, Host atau Riki dapat membeli buku/kitab skill dengan catatan ; dia harus mempelajarinya dengan manual.


Riwayat pembelian buku skill : Pertama, kitab bela diri dan Riki pergi ke zaman kerajaan.


Kedua, kitab olah energi tenaga dalam atau spiritual dan membuat Riki pergi ke dunia Dewa.


Misi utama : Informasi masih terkunci.


–Riwayat poin kemampuan/skill yang telah digunakan.–


Penggunaan terbanyak : Ketika melawan aliansi sekte di dunia Dewa.


Penggunaan rata-rata : Ketika menggunakan skill di dunia paralel dalam perjalanan misi.


Cara mendapatkan atau menghasilkan poin : Menyelesaikan misi utama atau tugas-tugas sampingan acak/random, seperti, membantu keluarga, teman, mengalahkan musuh, dan lain-lain.


...****************...


...[Transfer ingatan selesai]...


"Ah, jadi pemilik tubuh ini adalah siswa terbodoh dan lemah dari akademi sihir di dunia ini. Dia baru saja dijebak dan ditinggalkan oleh murid lainnya di hutan wilayah monster ini," kata Riki setelah mendapat ingatan dari pemilik tubuh.


Namun, Riki tiba-tiba mendapat serangan sihir api dari belakang.


Dia berhasil menghindar dengan jongkok, tapi rambutnya sedikit terbakar.


"Vangke! Siapa itu?!" ujar Riki mencari siapa penyerangnya.


Riki sangat terkejut ketika tiba-tiba ada yang menyerangnya menggunakan serangan sihir api dari belakang.


Namun, dia lebih terkejut ketika melihat wajah orang yang menyerangnya itu ternyata sangat mirip dengannya.


Risau dan kebingungan langsung melanda Riki ketika ia menyadari bahwa orang yang menyerangnya memiliki wajah yang sama persis dengannya.


Pikirannya berkecamuk saat ia mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Apa ini... seorang saudara kembar?" gumam Riki dalam keheranan.


Hatinya berdebar kencang, sementara pikirannya berusaha menghubungkan semua titik-titik dan menciptakan rasa logika dalam situasi aneh ini.


Namun, semakin lama Riki memandang wajah orang tersebut, semakin ia merasa bahwa ada sesuatu yang lebih misterius di balik serangan ini.


"Tapi... bagaimana mungkin ada dua orang yang mirip sekali dengan saya?" batin Riki, sembari memperhatikan gerakan serangan orang itu.


Dalam keadaan yang datar dan tenang, Riki merespons serangan dengan keahlian pertarungannya.


Ia dengan sigapnya menghindari serangan api selanjutnya dan dengan gesit memutar tubuhnya dalam sebuah gerakan menghindar yang sempurna.


Namun, ia tidak begitu cepat untuk tidak menerima luka, karena tangan orang itu berhasil melukainya dengan serangan sihir api yang kuat.


Riki merasa nyeri terbakar pada kulitnya, namun itu juga memicu semangat bertarungnya.


Keingintahuannya semakin menggebu saat ia memutuskan untuk menangkap dan mengejar orang yang menyerangnya itu. Ia yakin bahwa akan ada jawaban di balik pertemuan mereka.


Tanpa ragu, Riki mengejar dengan cepat, menghindari serangan api setiap saat, dan dengan berani meladeni serangan musuh.


Setiap gerakan dan teknik yang dipakainya terasa begitu dikenal.


Ia merasakan adrenalin mengalir dalam dirinya, sehingga setiap serangan dan gerakan adalah refleksnya yang alami.


Akhirnya sosok kembarannya itu terpojok, tapi dia malah tersenyum sinis.


"Ini hanya salam perkenalan saja dariku!" ucapnya sebelum dia tiba-tiba menghilang.


Riki kebingungan dan satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah bertanya kepada Lala.


"Jadi memang sudah tak bisa disembunyikan lagi," kata Lala tidak begitu jelas maksudnya.


"Apanya yang tidak bisa disembunyikan lagi?" tanya Riki begitu penasaran.


"Dia adalah kembaranmu dari dunia lain yang memiliki sistem juga," jelas Lala.


"Jika dia punya sistem, apa dia punya pendamping juga?" tanya Riki.


Seperti yang kita tahu, Riki punya pendamping atau rekan setia yang mengikutinya, yaitu Peri Lala.


"Ya, dia didampingi Lilith!" jawab Lala.


Dari sini, informasi tentang misi utama yang terkunci akhirnya terbuka.


Untuk membedakannya, kita bisa menyebut kembarannya itu sebagai Roki.


Roki telah mendapat sistem, tapi hasil perjanjiannya dengan bangsa iblis.


Lilith sendiri adalah peri hitam atau bisa juga disebut Satan.


Berbeda dengan Riki yang mendapatkan poin skill dari perbuatan baik, Roki justru mendapat poin dengan mengambil keberuntungan milik kembaran-kembarannya di dunia lain.


Rata-rata yang dialami mereka atau kembaran Riki adalah menjadi orang bodoh, penyakitan, atau selalu ditimpa kemalangan.


"Dia telah menemukan kita! Ke depannya mungkin akan lebih sulit dan dia akan terus mengganggu kita," kata Lala khawatir.


[Ding! Mengatur ulang semua tingkatan misi]


Sepertinya Roki mulai membuat kekacauan di dunia-dunia yang akan Riki kunjungi selanjutnya.


Ketika Riki sedang berusaha mencerna semua informasi baru tersebut, tiba-tiba gerombolan puluhan monster datang.


"Dari mana monster-monster ini muncul!" ujar Riki heran.


"Pasti ini perbuatan Roki!" tebak Lala.


Riki segera melihat sisa poin skillnya yang hanya tersisa 1.000 poin setelah ia gunakan untuk menghadapi Roki tadi.


"Hanya menggunakan sihir akan sulit! Aku juga harus menggunakan pedang!" ujar Riki sedikit tegang.


Karena tidak pilihan lain, Peri Lala pun mengubah dirinya sendiri menjadi sebuah pedang.


Riki lumayan terkejut, "Aku tidak tahu kamu bisa mengubah wujud jadi pedang!"


Lala tersenyum, "Aku masih memiliki banyak kejutan untukmu, Riki!"


Riki segera berpegangan erat pada pedang yang Lala wujudkan. Dengan pedang di tangannya, Riki merasa lebih percaya diri untuk menghadapi gerombolan monster yang mendekat.


"Kita harus bekerja sama untuk mengalahkan mereka, Riki!" kata Lala sembari memberikan semangat.


Riki mengangguk, "Tentu saja, Lala! Kita adalah tim yang tak terpisahkan!"


Riki dan Lala segera memasuki pertarungan melawan monster-monster tersebut.


Riki mengayunkan pedang dengan lincah, sedangkan Lala mengeluarkan sihir-sihirnya untuk memberikan serangan pedang Riki lebih kekuatan.


[Ding! -50 Poin Skill telah digunakan]


Pertarungan berlangsung sengit, Riki dan Lala berhasil menyingkirkan beberapa monster.


Namun, gerombolan monster tersebut terus berdatangan tanpa henti.


[Ding! -50 Poin Skill telah digunakan]


[Ding! -50 Poin Skill telah digunakan]


[Ding! -50 Poin Skill telah digunakan]


"Situasi semakin sulit," gumam Riki sambil menghindari serangan monster.


Lala berpikir cepat, "Ayo kita gunakan serangan gabungan!"


Riki dan Lala saling berhadapan dan bersiaga. Mereka menyatukan tenaga dan kekuatan mereka, melepaskan serangan gabungan yang memukau.


Serangan itu menghancurkan sebagian besar monster dalam sekejap.


[Ding! -350 Poin Skill telah digunakan]


Namun, beberapa monster yang tersisa masih tetap bertahan. Mereka semakin ganas dan cepat dalam menyerang.


Riki dan Lala saling melindungi satu sama lain, menggabungkan keahlian dan kekuatan mereka untuk melawan monster-monster itu.


[Ding! -50 Poin Skill telah digunakan]


[Ding! -50 Poin Skill telah digunakan]


[Ding! -300 Poin Skill telah digunakan]


Akhirnya, setelah pertarungan yang panjang, Riki dan Lala berhasil mengalahkan gerombolan monster tersebut. Mereka menatap satu sama lain dengan rasa bangga dan lega.


[Sisa Poin : 50 Poin]


"Kita berhasil, Lala!" ucap Riki dengan senyum lelah di wajahnya.


Lala mengembalikan dirinya ke bentuk aslinya sebagai peri. Dia tersenyum lembut, "Kamu hebat, Riki. Kita bisa mengalahkannya sebelum poinmu habis!"


Riki tersenyum puas, "Ya, itu cukup menegangkan. Namun, harusnya aku mendapat lebih banyak poin sekarang!"


[Ding! Anda mendapatkan 5.000 Poin Skill setelah mengalahkan gelombang monster mengamuk]


Beberapa saat setelah mendapatkan poin, Guru dan murid-murid dari Akademi Sihir datang.


Mereka terkejut melihat area bekas pertarungan Riki dan tampak kristal sihir berserakan di mana-mana.


Catatan tambahan : Monster yang dikalahkan tubuhnya akan otomatis menghilang dan hanya menyisakan sebuah pecahan kristal yang disebut Kristal Sihir.


Kristal Sihir ini adalah akumulasi Mana atau Energi sihir yang memadat dalam tubuh monster setelah mereka menyerap energi sihir yang tersebar di udara.


Di Akademi Sihir, kristal sihir ini dapat digunakan untuk berlatih menyerap energi sihir dan meningkatkan kapasitas mana setiap murid akademi.


Untuk Riki, dia bisa menukar kristal sihir ini dengan poin skill.


Sayangnya, Lala telat memberi tahu dan akhirnya semua kristal sihir tersebut disita oleh gurunya.


"Maaf, Host. Setidaknya kamu masih punya poin hasil dari mengalahkan mereka," kata Lala merasa tidak enak.


Namun, wajah Riki tetap cemberut karena kristal sihir yang dia dapatkan cukup banyak.


Kalau dimasukin karung, itu bisa sampai 10 karung lebih.


"Satu kristal sihir seharga lima poin skill loh!" ujar Riki dengan urat di jidatnya sudah menyembul karena menahan amarah.


Wajar saja sih dia marah. Kalau semua kristal itu ditukar dengan poin skill, setidaknya dia bisa mendapatkan poin sekitar 2.500 poin.


Meski demikian, fokus Riki saat ini adalah pada orang-orang dari akademi yang datang.


Mereka tidak percaya kalau semua kristal sihir ini adalah hasil jerih payahnya setelah melawan puluhan monster sihir.


Bersambung.