Sistem Murid Bodoh

Sistem Murid Bodoh
27 : Akademi Sihir dan Istana Ignisia.


Saat ini Riki berada di dunia magis atau sihir untuk menjalankan misi barunya.


Baru saja jiwanya ditransfer ke dunia tersebut, dia harus menghadapi kawanan Orc dan gelombang serangan monster.


Namun, Riki lebih kecewa karena tidak bisa menukarkan kristal sihir dengan Poin Skill setelah semuanya disita oleh pihak Akademi.


"Baiklah anak-anak, sekarang waktunya kita kembali ke akademi!" ujar gurunya yang bernama Dmitry.


Posisi Akademi Sihir berada di langit atau mengapung di udara, itu membuat Riki teringat dunia Dewa.


"Lala, mungkinkah mereka akan naik sapu terbang?" tanya Riki teringat cerita fiksi fantasi yang pernah ia baca.


"Sapu itu untuk menyapu, bukan untuk terbang!" jawab Lala.


Riki tak menduga jawaban Lala dan mengangkat alisnya karena kepikiran. "Benar juga, ya?" kata Riki sependapat.


"Akan masuk akal kalau mereka punya sayap atau menunggangi burung!" pikirnya Riki.


Namun, jubah yang dikenakan guru beserta para murid penyihir akademi itu tiba-tiba mengembang dan berubah menjadi sayap.


"Eureka!" ujar Riki yang akhirnya tahu bagaimana mereka terbang ke akademi.


"Tapi aku lihat mereka mengucapkan suatu mantra terlebih dahulu agar jubahnya berubah menjadi sayap. Kira-kira seperti apa mantra yang harus diucapkan?" tanya Riki bingung.


"Mungkinkah 'Abah Ke tabrak' atau 'Bim salah Bim'?" lanjutnya seraya langsung mencobanya.


"Abah ke tabrak!" ujar Riki melafalkannya.


Tanpa terduga, mantra tersebut berhasil dan Riki akhirnya bisa terbang menggunakan jubah yang menjadi sayap itu.


Tampak yang lainnya juga sudah mulai melayang dan bersiap untuk terbang kembali ke akademi.


Bersamaan dengan itu, Riki melihat hutan yang tadi porak-poranda mulai pulih sendiri seperti sedia kala.


Pohon yang rusak, langsung diganti dengan pohon baru yang langsung tumbuh dengan cepat.


"Semua itu karena energi atau mana sihir yang melimpah di hutan ini," jelas Lala.


Namun, Riki melihat ada makhluk-makhluk kecil yang mirip seperti Lala di sana.


Ketika Riki mengikuti murid lainnya yang sudah beterbangan kembali ke akademi, dia malah diikuti oleh puluhan makhluk-makhluk kecil tersebut.


"Astaga Yolanda! Kenapa mereka mengikutiku?" tanya Riki heran.


"Tenang saja, mereka adalah roh sihir yang tertarik padamu," jawab Lala.


"Iki! Iki!" panggil makhluk-makhluk itu mulai mengganyang badan Riki.


"Hahaha! Geli! Haha!" Riki dibuat kegelian oleh mereka sehingga tak bisa berhenti tertawa.


"Apa dia juga mulai tak waras?" kata salah satu murid akademi di depannya yang mendengar tawanya yang cukup keras.


"Entahlah! Aku sendiri heran mengapa kepala sekolah akademi selalu melindunginya dan tetap berusaha mempertahankannya di akademi kita," sahut temannya.


"Aku dengar kepala sekolah akademi tak sengaja menemukannya di hutan ketika dia masih bayi. Kemudian, dia merawatnya dan menyayangi seperti cucunya sendiri," ucap murid satunya lagi.


Setelah Riki hampir tiba di akademi, semua makhluk kecil itu akhirnya melepaskannya dan kembali ke hutan.


Setiba di akademi, Riki kembali dimintai penjelasan mengenai serangan gelombang monster itu.


Namun, semua orang tetap tidak percaya, kecuali kepala sekolah akademi bernama Gordon yang selalu mendukungnya itu.


"Sudahlah! Biarkan pihak Kerajaan Ignis yang nanti menyelidikinya!" kata Kakek Gordon, Kepala Sekolah Akademi.


Apa yang ditakutkan oleh semua orang di akademi ini adalah akan bangkitnya raja iblis.


Kejadian gelombang monster itu sangat aneh dan mereka juga tidak percaya bahwa Riki benar-benar penyihir yang telah mengatasinya hal tersebut.


Akhirnya pihak akademi memutuskan untuk menyerahkan masalah ini kepada pihak kerajaan.


Esok harinya, Riki memulai menjalani aktifitasnya sebagai murid akademi sihir, tapi dia tak lupa juga menyusun rencana balas dendam kepada murid-murid yang sudah menjebaknya kemarin.


"Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini adalah sihir pemanggilan!" kata Ibu Samantha.


Murid-murid duduk dengan antusias memperhatikan bu Samantha yang berdiri tegak di depan mereka.


Wajah-wajah mereka penuh dengan kegembiraan dan rasa ingin tahu tentang pelajaran baru ini.


Ibu Samantha memulai pelajarannya dengan tersenyum. "Sihir pemanggilan adalah kemampuan untuk memanggil entitas atau energi dari dunia lain ke dunia kita," jelasnya. "Kemampuan ini tergantung pada kekuatan dan konsentrasi kita."


Semua murid di kelas mendengarkan dengan penuh perhatian, ingin tahu tentang seluk-beluk sihir pemanggilan ini.


Ibu Samantha melanjutkan, "Tentu saja, sihir pemanggilan harus digunakan dengan bijaksana. Kita harus memahami dan menghormati makhluk yang ingin kita panggil. Tidak boleh sembarang memanggil mereka."


Dia menunjukkan gerakan tangan yang tepat dan menjelaskan mantra-mantra yang harus diucapkan.


Semua murid dalam kelas mulai mencoba meniru gerakan-gerakan tersebut dengan penuh semangat.


Setelah itu, Ibu Samantha memberikan peringatan penting kepada anak-anak. "Ingatlah, ketika memanggil makhluk dari dunia lain, kita harus selalu menghormati mereka. Kita tidak boleh meminta mereka melakukan hal-hal yang tidak pantas atau membahayakan orang lain." Ibu Samantha menekankan pentingnya etika dalam menggunakan sihir pemanggilan.


Semua murid dengan serius mencatat semua pelajaran yang diberikan Ibu Samantha. Mereka bertekad untuk menggunakan sihir pemanggilan dengan bijaksana dan bertanggung jawab.


Setelah pelajaran teori tentang sihir pemanggilan, Ibu Samantha segera mengajak murid-muridnya untuk mempraktikannya di lapangan akademi.


Para murid yang bersemangat segera berbaris di lapangan akademi, siap untuk mempraktikkan sihir pemanggilan yang baru mereka pelajari. Ibu Samantha berdiri di depan mereka, memperhatikan dengan penuh antusiasme.


"Baiklah, anak-anak! Kita akan memulai praktik sihir pemanggilan dengan memanggil makhluk sederhana," kata Ibu Samantha dengan penuh semangat.


Dia mulai melafalkan mantra dan mengayunkan tongkat sihirnya. "Ini adalah makhluk panggilan milikku. Namanya Puppy. Tugas kalian adalah memanggil makhluk panggilan kalian sendiri."


Para murid melihat dengan tertarik pada makhluk panggilan beruang kecil milik Ibu Samantha dan saling berbisik-bisik antara satu sama lain.


Mereka berusaha mengingat kembali pelajaran teori yang telah diajarkan Ibu Samantha.


"Ini adalah waktu untuk menerapkan apa yang telah kalian pelajari," kata Ibu Samantha dengan senyum. "Ingat, kalian perlu berkonsentrasi dengan baik dan menggunakan pikiran serta energi kalian untuk memanggil makhluk yang akan menjadi rekan kalian nanti."


Para murid memusatkan pikiran mereka pada gambaran makhluk yang dipanggil.


Beberapa menggenggam tangan mereka dengan erat, sementara yang lain menutup matanya untuk meningkatkan fokus mereka.


Ketika mereka mulai mengucapkan mantra yang mereka pelajari, energi mulai terasa di udara. Ibu Samantha meyakinkan mereka untuk terus mencoba dan tidak menyerah.


Tidak lama kemudian, terdengar suara kecil yang semakin lama semakin terdengar jelas.


Masing-masing dari mereka memanggil makhluk-makhluk sihir dengan berbagai wujud yang kecil dan lucu.


Namun, Riki yang teringat pada hewan peliharaannya, Mochi dan Gon, malah membuat dia tak sengaja memanggil mereka.


"Kalian berdua? Mengapa bisa aku memanggil kalian?" ucap Riki heran.


Mochi, si Harimau Putih, dan Gon, si kera kecil, ukuran mereka lebih besar dan wujudnya lebih menakutkan, tapi Riki masih mengenali mereka.


Ketika Riki tengah mengelus kepala kedua peliharaannya, murid-murid lain beserta gurunya malah menyingkir ke sisi lapangan.


"Ri-Rici, makhluk apa yang kau panggil?" tanya Ibu Samantha tampak ketakutan.


Di dunia ini, Riki dipanggil Richi alias Richie El Vellfire.


"Tentu saja aku memanggil hewan peliharaanku," jawab Riki.


Riki tampak senang karena Mochi memiliki sayap ketika berada di dunia ini. Gon juga tidak kalah unik, penampilannya mirip Kera Sakti atau Sun Wukong.


"Tuan, di mana kita?" tanya Gon.


Mendengar Gon bicara, Riki semakin senang dan takjub.


"Jika kamu penasaran, ayo kita jalan-jalan," kata Riki.


"Mochi, kamu bisa terbang, kan?" tanya Riki.


"Tentu saja," jawab Mochi tersenyum.


Kemudian, Riki naik ke punggung Mochi diikuti oleh Gon yang duduk di belakangnya.


Ukuran Mochi sebesar gajah saat ini dan dia tidak kesulitan membawa Riki dan Gon untuk terbang.


Riki pun pergi begitu saja, padahal saat ini masih berada pada jam pelajaran di akademi tersebut.


Meski begitu, murid lain bahkan gurunya tidak berani mencegahnya pergi karena takut kepada Mochi.


"Ibu Samantha, sebenarnya itu makhluk apa?" tanya seorang murid bernama Aria.


"Entahlah! Ibu akan bertanya pada guru lain dan kepala sekolah!" jawab Ibu Samantha.


Ketika Riki kelayapan ke mana-mana bersama Mochi dan Gon di wilayah kerajaan, pihak istana mulai mendapat beberapa laporan dari orang-orang yang melihatnya lewat.


Oleh karenanya, di istana mulai heboh dan ribut membicarakan soal makhluk besar terbang di wilayah mereka.


"Yang Mulia Samuel, apakah saya harus pergi untuk memeriksanya?" tanya kesatria terbaik kerajaan bernama Iris.


Dia memang seorang gadis muda, tapi sudah berhasil membuktikan kemampuannya dan menjadi kesatria terbaik di Kerajaan Ignisia.


Sementara banyak pihak sudah panik dan heboh, Riki malah tidak tahu hal itu dan terus keasyikan jalan-jalan.


Bersambung.