Sistem Murid Bodoh

Sistem Murid Bodoh
28 : Si Cantik berbahaya - Iris


Riki terlalu keasyikan berlaku sesuka hati dan melupakan di mana kini ia berada. Menciptakan kepanikan pada rakyat Ignisia, dia tidak menyadari keadaan tersebut.


Kemudian, satu perbuatan bodohnya benar-benar membuat wilayah seluruh kerajaan bergetar atau gempa.


"Luar biasa! Kamu dapat menembakan bola api ledakan dari mulutmu!" puji Riki pada Mochi.


"Terima kasih, Tuan!" jawab Mochi merasa senang.


"Lakukan lagi!" kata Riki.


"Tuan, kapan giliran saya?" tanya Gon yang ingin ikut unjuk gigi


"Baiklah Gon, tunjukan kebolehanmu!" ucap Riki memberi kesempatan.


Gon pun melompat ke udara, mengayunkan tongkatnya yang bisa memanjang, dan dampak dari ayunannya menciptakan serangan tak kalah dahsyat.


"Wow!" Riki kagum karena tanah langsung terbelah oleh serangan Gon barusan.


"Bukankah kedua hewan ini cukup mengerikan? Hal ini di luar kendali sistem!" kata Lala merasakan campuran antara takjub dan heran melihatnya.


Dampak serangan Mochi menciptakan efek seperti meteor jatuh menabrak bumi, tampak kawah besar tercipta seperti danau mengering karenanya.


Sebaliknya, serangan ayunan Gon begitu mengerikan, membuat tanah terbelah membentuk garis lurus sepanjang beberapa kilometer.


Namun, kesenangan itu berakhir dengan datang kelompok pasukan kerajaan yang mengendarai Naga.


"Apa kau berniat menghancurkan negeri kerajaan ini!" tanya pemimpin mereka, kesatria Iris.


"Cantik, sepertinya kamu salah paham! Apa kamu tidak lihat aku adalah murid dari akademi?" jawab Riki.


"Saya tidak pernah mendengar murid akademi sekuat kau!" ujar Iris tidak percaya.


Iris mengangkat tangannya untuk memberi instruksi agar pasukannya siap dalam formasi menyerang.


Semua Naga yang mereka tunggangi mulai membuka mulutnya dan siap menembakan serangan sihir ke arah Riki.


"Mochi, ayo pergi dari sini!" ucap Riki tidak ingin bertarung.


Namun, tembakan dari Naga mereka sudah mulai dilepaskan dan menghujani Riki tanpa ampun.


Pemandangan ini terlihat seperti hujan api ketika melihatnya dari bawah sana.


Harimau bersayap peliharaan Riki segera terbang untuk menghindari tembakan membabi buta itu.


Setelah itu, Mochi terbang menjauh untuk kabur dari pasukan kerajaan. Akan tetapi, Iris dan prajuritnya tidak ingin melepaskan Riki begitu


Terjadilah aksi kejar-kejaran di udara dengan kecepatan setara pesawat jet militer.


Pasukan kerajaan tak hentinya menembaki Riki dari belakang, membuat Riki harus terbang lebih rendah untuk menghindari serangan mereka.


"Mochi, cepat terbang ke arah pepohonan itu!" ujar Riki.


Sementara itu, Gon terus menangkis serangan yang mengarah mereka menggunakan tongkatnya.


"Tuan, saya bisa menghabisi mereka dengan mudah. Apa saya harus melakukannya?" tanya Gon.


"Jangan! Kita tidak boleh membuat masalah dengan kerajaan!" jawab Riki menegur, padahal dia sendirilah yang sudah membuat kegaduhan sehingga mereka jadi dikejar sekarang.


Mochi terbang dengan gesit melewati celah pepohonan, sementara pasukan masih terbang lebih tinggi dari mereka.


"Pepohonan itu menghalangi kami!" ucap salah satu prajurit.


Tembakan mereka terus meleset dan mengenai pepohonan yang dilalui Riki dan peliharaannya.


Meski demikian, Iris dan pasukan masih terus mengejar Riki ke mana pun.


"Mochi, ayo terbang ke kota!" ujar Riki memerintah.


"Apa itu tidak masalah? Bagaimana jika ada penduduk yang terluka?" tanya Mochi khawatir.


"Tenang saja, justru para penduduk bisa kita jadikan tameng!" jelas Riki.


"Host, kamu kejam!" singgung Lala.


"Kita tidak ada pilihan lain! Dengan terbang di perkotaan, mereka akan berhenti menembaki kita!" jelas Riki lagi.


Mochi langsung bermanuver tajam untuk putar arah dan menuju ke kota kerajaan.


Pasukan kerajaan yang mengejar sedikit ketinggalan karena mereka tidak menduga kalau Riki akan putar balik.


"Nona Iris, mereka menuju ke kota!" kata salah satu prajurit itu cemas.


"Terus kejar mereka jangan sampai lolos!" teriak Iris pada pasukannya.


"Kya!" Embusan angin ketika Riki lewat membuat beberapa gaun wanita tertiup anginnya.


"Seru nih! Kaya balapan!" kata Riki malah senang.


Akhirnya pihak akademi sudah datang ke kerajaan dan memberi tahu bahwa Riki adalah murid akademi.


Aksi kejar-kejaran sudah berhenti, Riki dan pengejarnya sudah mendarat di area depan istana.


Meski begitu, si cantik Iris tidak terima dan mendatangi Riki untuk mengajaknya duel.


"Ayo lawan aku di arena! Kita lihat, Naga Salamanderku atau Harimau Putihmu yang lebih kuat!" tantang Iris.


"Iris, sudahlah!" kata ayahnya, Edward, kesatria paling senior di kerajaan dan pengawal sekaligus penasehat sang raja.


"Ayah, semua demi kehormatanku sebagai kesatria!" tegas Iris.


"Gadis ini pasti tidak akan pernah melepaskanku jika aku menolak tantangannya," pikir Riki.


Riki pun bersedia menerima tantangan tersebut. "Baiklah, selama kamu berjanji akan melupakan yang telah terjadi setelah duel ini."


Iris mengangguk dan dia tampak sangat tidak sabar untuk menghajar Riki di arena.


Setelah mendapat izin dari sang raja, pertandingan akan dilakukan esok harinya di arena yang mirip dengan arena gladiator.


"Iris, apa kamu yakin ingin melakukannya?" tanya ayahnya masih berusaha membujuknya.


"Sudahlah, Ayah. Tekadku sudah bulat untuk melakukan duel ini!" tegas Iris.


"Tapi kalau kamu kalah ..." Ayahnya tampak begitu khawatir.


"Aku tahu ayah khawatir, tapi aku pasti menang sehingga hal itu tidak akan terjadi!" jawab Iris tetap tegak dengan keputusannya.


Mereka dari pihak kerajaan, penduduk, dan murid akademi yang turut hadir untuk menonton.


"Lihat itu, mereka bukannya datang untuk mendukungku, tapi mereka datang untuk melihat aku dihajar oleh Iris," kata Riki kesal.


Pertandingan antar hewan sihir panggilan pun dimulai, meskipun Harimau Putih Riki bisa dengan mudah mengalahkan Naga milik Iris, tapi Riki meminta Harimau peliharaannya untuk sedikit menurunkan kekuatannya.


"Jangan terlalu kasar dan temani dia bermain terlebih dahulu," kata Riki pada Harimau.


Riki memang ingin agar pertandingan ini menjadi lebih adil. Meskipun Harimau Putih-nya memiliki kekuatan yang tak tertandingi, Riki tidak ingin melihat Naga milik Iris terluka dengan keras.


Harimau Putih dengan patuh mengangguk, menunjukkan pemahamannya terhadap permintaan Riki.


Ia menganggap bahwa ini adalah pertandingan hiburan dan bukan kesempatan untuk melukai lawannya.


Dengan perlahan, Harimau Putih mendekati Naga.Ia menggerakkan tubuhnya dengan lembut, mencoba memancing Naga untuk menyerangnya.


Naga itu pun mulai menyerangnya tanpa ragu, tapi serangannya tidak bisa melukai Mochi sedikitpun.


"Silvy, gunakan serangan terkuatmu!" teriak Iris pada Naga panggilannya.


Naga mendengarkan perintah Iris dan dengan segera mengumpulkan kekuatannya.


Dia mengepalkan cakarnya, mempersiapkan serangan terkuat yang mampu dilakukannya.


Dengan gerakan yang gesit, Naga meluncurkan serangan melalui udara dengan kecepatan yang luar biasa. Cakar Naga melintasi ruang antara dia dan Harimau Riki dengan presisi yang mematikan.


Namun, saat serangannya mencapai target, Mochi tiba-tiba bersin dan Naga milik Iris langsung terpental sangat jauh.


Riki, Lala, dan Gon menepuk jidat melihat kejadian tersebut.


"Dasar tak bisa dia andalkan!" kata Riki.


"Bukannya sama saja kaya tuannya!" sindir Lala.


Sementara itu, Iris dan semua penonton yang hadir, termasuk raja dan ayahnya Iris, hanya bisa terdiam melihat Naga itu langsung kalah begitu saja dengan cara tak terduga.


"Pertandingan belum berakhir! Sekarang giliranku untuk melawanmu!" teriak Iris mencabut pedangnya.


"Baiklah," jawab Riki menerimanya.


Iris bersiap dengan pedangnya dan Riki juga siap dengan kekuatan sihirnya setelah mendapatkan tongkat baru.


Mereka berdua saling menatap dalam ketegangan. Iris merasakan kekuatan dan energi yang mengalir dalam dirinya, memberinya keyakinan bahwa dia bisa mengalahkan Riki.


Ayah Iris yang duduk di kursi kehormatan juga berpikir keras tentang strategi apa yang bisa digunakan perempuan mudanya itu untuk melawan Riki.


Tiba-tiba, Iris melompat menuju Riki, mengayunkan pedangnya dengan cepat.Riki dengan sigap menghindar, lalu melepaskan serangan balasan menggunakan sihirnya.


[Ding! -50 poin telah digunakan]


Bola terbuat dari tanah yang terbakar muncul di depannya dan menghantam Iris. Tetapi, tanah itu hancur saat pedang Iris menerkamnya.


[Ding! -100 poin telah digunakan]


Tontonan yang penuh aksi ini membuat penonton semakin terhanyut. Mereka mengagumi keahlian dan keberanian Iris yang tak kenal takut menghadapi tantangan Riki. Bahkan, raja pun terkesima dengan kecerdikan putrinya ini.


"Apa Richie memang sekuat itu?" kata murid akademi yang sering merundungnya.


Mereka mulai segan dan takut jika harus mengganggunya lagi di akademi.


Iris dan Riki terus bertempur, saling menghindari serangan dan mencoba menyerang dengan kekuatan penuh.


[Ding! -50 poin telah digunakan]


[Ding! -150 poin telah digunakan]


Setiap gerakan mereka menghasilkan suara bertalu-talu yang memenuhi stadion.


"Kurasa sudah waktunya untuk mengakhiri pertandingan ini," kata Riki sudah mulai bosan.


'Freez'


Sebagian besar tubuh Iris langsung dibuat membeku oleh sihir es Riki. Iris tampak kesulitan untuk melepaskan diri dan hanya kepalanya saja yang masih bisa bergerak.


"Baiklah, ayo akhiri ini!" kata Iris sudah merasa tidak ada harapan lagi ketika Riki sudah berdiri di depannya.


Riki mulai mengangkat tangannya dan tampak ingin melakukan serangan terakhir.


Iris sudah pasrah dan menutup matanya.


Tak!!!


Riki hanya menyentil pelan keningnya. "Sudahlah. Apa kita bisa berhenti melakukan hal ini?"


Iris tidak menyangka bahwa Riki akan melakukan hal tersebut dan akhirnya mengaku kalah. Duel tersebut pun berakhir dengan Riki keluar sebagai juaranya.


[Ding! +1.000 Poin Skill telah ditambahkan]


[Total : 5.000 Poin Skill]


Karena kemarin memanggil Mochi dan Gon serta bertarung melawan Iris, poin Riki tidak bertambah ataupun berkurang.


Dua hari kemudian, situasi kembali normal dan kembali ke keadaan seperti biasanya.


Riki menjalani aktifitasnya sebagai murid, hanya saja beberapa murid sudah berhenti meremehkannya dan tidak berani mencari masalah lagi dengannya.


Namun, hari ini dia berencana pergi ke rumah keluarga Iris karena mendapat undangan dari mereka.


"Apakah dia mengundangku ke pesta keluarganya sebagai bentuk permintaan maaf?" tanya benak Riki.


Riki sedikit berharap bahwa keluarga Iris akan memberinya hadiah yang berharga.


Sebab, selain kristal sihir, benda ajaib atau alat sihir juga bisa ditukarkan dengan Poin Skill.


Setiba di rumah Iris, ia mendapat sambutan hangat dan meriah, kemudian para pelayan membawanya untuk berganti pakaian.


Setelah berganti pakaian dan didandani oleh pelayan, Riki pun bergabung ke dalam pesta.


Namun, Riki baru sadar bahwa pesta tersebut ternyata adalah pesta pertunangan dirinya dengan Iris.


Bersambung.