
[Ding! Berhasil mengalahkan Otto]
[+1.000 poin skill]
[Total : 65.000 Poin]
Tadinya Pak Han Ibu Lan Lan mengubah aturan duel agar Riki tidak terlalu kecewa jika kalah dari Otto dalam duel satu lawan satu.
Namun, Riki justru bisa mengalahkan tantangan lebih cepat dan membantai semua monster simulasi dengan mudah.
"Aku tidak terima ini! Dia pasti curang!" keluh Otto.
"Apa maksudmu, Otto?" tanya Pak Han heran.
"Mungkin dia telah melakukan sesuatu pada mesin simulasinya!" tuduh Otto.
"Saya dan Ibu Lan Lan sudah memastikan bahwa mesinnya baik-baik saja," tegas Pak Han, ia marah dengan sikap Otto yang tidak mau menerima kekalahan.
"Kalau kamu tidak terima, ayo duel lagi di arena asli!" tantang Riki.
Riki sudah diberi tahu oleh Lia kalau gurunya sengaja meminta mereka bersaing di mesin simulasi karena tidak ingin Riki terluka parah oleh Otto yang lebih kuat darinya.
Sekarang setelah melihat kemampuan Riki yang luar biasa, mungkin mereka akan setuju membiarkan Riki berduel dengan Otto di arena.
"Siapa takut? Aku akan buktikan kalau kekalahan tadi karena mesinnya saja yang bermasalah!" ujar Otto masih kukuh dengan pendapatnya.
"Baiklah, Riki, kami akan menyetujui duelnya. Namun, kau jangan menyalahkan pihak akademi jika terjadi sesuatu padamu," kata Pak Han seraya menghela napas.
Mereka pun akhirnya tiba di tempat arena yang sesungguhnya.
"Nah, ini baru tempat duel!" kata Riki antusias.
"Kenapa kamu malah bersemangat? Apa kamu yakin dapat mengalahkan Otto?" tanya Lia heran.
"Tenang saja, sayang! Aku pasti bisa mengalahkannya!" kata Riki.
Wajah Lia langsung berubah menjadi skeptis. "Tapi Otto itu sangat kuat, Riki. Dia memiliki pengalaman dan teknik yang sangat baik. Apa yang membuat kamu yakin bisa mengalahkannya?"
Riki tersenyum dan menatap Lia dengan mata berbinar. "Aku percaya pada diriku sendiri, Lia. Aku telah melatih dan berlatih sekeras mungkin untuk pertandingan ini. Aku juga memiliki strategi khusus dan telah menganalisis permainan Otto dengan baik. Aku yakin aku memiliki peluang yang besar untuk menang."
Lia masih terlihat ragu. "Tapi Riki, kamu belum pernah berduel melawan lawan Otto sebelumnya. Bagaimana kamu bisa yakin mampu mengatasinya?"
Riki mengangguk tegas. "Itu benar, Lia. Aku belum pernah melawan lawan Otto sebelumnya. Tetapi itu tidak berarti aku tidak mampu. Aku percaya bahwa jika aku memberikan yang terbaik dan menghadapinya dengan kecerdasan, aku memiliki kesempatan untuk menang."
Lia akhirnya memberikan senyuman kecil. "Aku tetap akan mendukungmu, Riki. Aku tahu betapa kerasnya kamu bekerja dan berlatih. Semoga kamu dapat membuktikan bahwa keyakinanmu itu benar."
Riki tersenyum lebar dan menggenggam tangan Lia. "Terima kasih, sayang."
Wajah Lia memerah dan Riki langsung mencium bibirnya , membuatnya terkejut. Namun, Lia tidak menolak dan membalas ciuman tersebut dengan penuh kasih sayang.
"Host apa kamu lupa?" tanya Lala.
"Lupa apa?" kata Riki tidak paham.
"Secara teknis pada periode waktu ini, kamu belum jadi kekasih Lia!" jelas Lala.
Riki yang akhirnya ingat kemudian segera melepaskan Lia dari ciumannya.
"I-itu... ciuman pertamaku," ucap Lia tersipu malu.
"Maafkan aku, Lia. Kita sudah melakukannya berkali-kali, tapi kamu tidak akan tahu itu," gumam batin Riki merasa tidak enak.
Otto yang tak sengaja melihat momen tersebut benar-benar naik pitam. "Beraninya kau terang-terangan bermesraan di tempat terbuka seperti ini!"
Duel belum dimulai tapi Otto sudah melancarkan serangan ke arah Riki, tapi serangannya malah hampir mengenai Lia.
Lia yang terkejut dengan kejadian tersebut langsung mengambil sikap bertahan dengan membangun perisai tanah di sekitarnya.
"Berhenti! Kita belum mulai duel, Otto! Apa kau tidak lihat kalau di sini masih ada Lia?" ujar Riki dengan tegas.
"Haha. Aku sudah tidak peduli lagi dengan gadis itu. Sekarang aku hanya ingin menghabisi kalian berdua!" sahut Otto dengan suara mengancam. Dia melanjutkan serangannya, tapi Riki dengan sigap mengeluarkan senjatanya dan berhasil memblokir serangan Otto.
[-5 Poin Skill telah digunakan]
Lia, yang melihat situasi tersebut, segera melanjutkan memperkuat perisainya untuk melindungi diri dan Riki dari serangan Otto yang semakin ganas.
Riki, yang sadar bahwa mereka harus segera mengakhiri pertarungan ini, menggunakan poin skill untuk memperkuat pukulannya.
[-5 Poin Skill telah digunakan]
Dengan gerakan yang cepat dan elegan, Riki mampu menghindari serangan Otto dan berhasil melancarkan serangan balik yang mengenai perisai Otto.
[-5 Poin Skill telah digunakan]
Otto terdiam sejenak, terkejut dengan serangan balik yang dilancarkan oleh Riki. Namun, dia tidak lama berpikir dan mengeluarkan serangan berikutnya dengan lebih marah dan kejam.
Melihat hal ini, Lia memutuskan untuk ikut campur dalam pertarungan.
Dia mengumpulkan energi di tangannya dan melepaskannya dalam bentuk serangan energi yang menghantam Otto dari belakang.
Serangan ini membuat Otto terpental sejenak, memberikan kesempatan bagi Riki untuk mengirim serangan terakhirnya.
Riki meluncur dengan cepat menuju Otto dan dengan satu gerakan pukulan yang terarah, ia berhasil menjatuhkan Otto ke tanah.
[-5 Poin Skill telah digunakan]
Otto terkapar dengan napas terengah-engah, dan dengan tegas Riki memberikan peringatan padanya.
"Inilah akibatnya jika kamu mengabaikan kehadiran orang lain. Jangan pernah mengulanginya lagi," ujar Riki dengan suara tegas.
Otto, yang takluk dan tak berdaya, mengangguk dengan malu. Dia menyadari kesalahannya dan berjanji untuk tidak lagi membuang perhatian pada keberadaan orang lain.
[Ding! Berhasil mengalahkan Otto]
[+1.000 poin skill]
[Total : 65.920 Poin]
"Cukup! Ada apa ini?" tanya Pak Han baru tiba setelah ada urusan sebentar dengan Kepala Akademi.
Lia kemudian segera menjelaskan kronologisnya sehingga membuat Pak Han sedikit geram.
"Sekarang kalian pulanglah. Mengenai Otto, Bapak akan memberinya nasehat dan hukuman nanti," kata Pak Han.
Pak Han dan Ibu Lan Lan baru saja dipanggil oleh Kepala Akademi jadi menyuruh Riki dan Otto untuk menunggu.
Namun, mereka malah sudah bertarung sebelum Pak Han kembali.
Setelah mengantar Lia Pulang, Riki pun kembali pulang ke rumahnya untuk melihat bagaimana keadaan keluarganya setelah dunia berubah lagi.
Kali ini, keadaan keluarganya juga sangat berbeda seperti sebelumnya.
Saat dunia masih normal, orang tuanya hanya penjual mie ayam biasa di kios. Kemudian menjadi pemilik restoran setelah Riki membantu mereka.
Selanjutnya, keluarga Riki jadi keluarga kaya pemilik perusahaan besar ketika dunia terbalik.
Sekarang, dunia sudah berubah lagi dan Riki mendapati keluarganya memiliki perusahaan teknologi robotika canggih.
Selain itu, perusahaan mereka juga membuat senjata-senjata dan peralatan lainnya untuk dijual pada para pahlawan.
Satu minggu kemudian, Riki berhasil membuat robot-robot baru berkat dukungan ayah dan ibunya.
Riki tidak terlalu pusing untuk mencari bahan-bahan yang diperlukannya untuk membuat robot.
"Nak, ayah tidak tahu kalau kamu pandai membuat robot sekarang," kata Ayahnya heran dan kagum.
"Bukannya itu wajar? Mungkin dia mewarisi kejeniusanmu sayang!" kata ibunya.
Mendapat dukungan penuh dari orang tuanya, Riki pun tidak segan untuk memberitahukan keinginan besarnya.
"Kamu yakin ingin membuat ini?" tanya ayahnya terkejut.
"Ya!" jawab Riki tegas.
Riki menunjukkan cetak biru atau desainnya tentang sebuah pesawat besar yang ingin dia buat sebagai markasnya.
Pesawat tersebut tidak jauh berbeda atau cukup mirip dengan markas super hero dalam film. Itu karena Riki memang terinspirasi dari film-film tersebut.
Bersambung.