Sistem Murid Bodoh

Sistem Murid Bodoh
21 : Misi Pertama Sistem


[Misi Pertama Telah dibuat]


[Memulai transfer jiwa]


[Silakan selesaikan misi untuk mendapatkan 1000 Poin Kemampuan]


[Memulai transfer ingatan pemilik tubuh asli]


Saat ini, Riki telah memulai misi pertamanya setelah sistem selesai diperbaharui beberapa hari yang lalu.


Namun, dia malah mendapati dirinya merasuki seorang remaja yang sedang dipukuli oleh teman sekolahnya.


"Roni, apa kita tidak terlalu berlebihan?" ucap salah satu dari mereka tampak cemas.


"Tenang saja, Arya. Kita hanya menjalani perintah si Danang," jawab siswa yang dipanggil Roni tersebut.


Pemilik tubuh baru saja dipukuli sampai pingsan sebelum Riki merasuk ke tubuhnya.


"Riki, jangan salahkan kami melakukan ini," ucap Roni.


"Benar. Kamu adalah anak angkat dari keluarga Hartono dan kakak angkatmu, Danang, sangat membencimu," sambung Arya.


[Ding! Kemampuan penyembuhan telah digunakan]


[-5 Poin Kemampuan telah dikurangi]


[Sisa Poin : 95 Poin Kemampuan]


Riki yang daritadi pura-pura tidak sadar tiba-tiba bangun dan mengejutkan kedua murid tersebut.


"Eh?" Kedua murid tersebut heran melihat Riki tampak baik-baik saja.


[Transfer ingatan telah selesai]


"Bagus sekali! Kelihatannya kau mulai tahan pukul dan kebetulan kami belum puas menghajarmu!" ujar Roni menyeringai.


Roni langsung mencoba meraih kerah Riki karena ingin memukulnya lagi.


Namun, Riki sedikit menggerakkan tubuhnya ke samping sehingga berhasil menghindarinya.


Tidak hanya itu, Riki memakai kakinya untuk membuat Roni jatuh tersandung.


"Beraninya kamu melawan!" ujar Arya menjadi marah kemudian mencoba menyerang Riki juga.


Lagi-lagi Riki dengan cekatan bisa menghindari serangan Arya dan malah membantingnya ke lantai menggunakan teknik judo.


"Menghadapi sampah selemah ini saja kenapa pemilik tubuh tidak bisa melakukannya?" ucap Riki dalam hati.


[Ding! Kemampuan bela diri telah digunakan]


[-5 Poin Kemampuan telah dikurangi]


[Sisa Poin : 90 Poin Kemampuan]


"Tuan, itu karena dia tidak punya sistem seperti kamu!" jawab Lala.


"Kamu benar juga. Aku lupa kalau barusan mengkonsumsi poin yang baru saja kukumpulkan lagi," kata Riki sedikit tidak rela kehilangan poinnya.


Kemudian, Riki mengelap darah di mulutnya dan pergi meninggalkan kedua murid itu begitu saja.


"Ron, kamu baik-baik saja?" tanya Arya.


"Sudah, kita diam saja. Kalau kita bangun sekarang, takutnya dia menghajar kita lagi," jawab Roni masih tidak bangun.


Roni tidak tahu apa yang terjadi pada Riki, tapi dia sadar kalau mereka sebaiknya tidak mencari masalah lagi dengannya.


Tampak Riki memutuskan untuk pulang dan melihat keadaan rumah Hartono seperti apa saat ini.


Setiba di rumah, Pak Hartono kebetulan sedang ada di rumah untuk mengambil barang yang ketinggalan.


"Riki, apa kamu pulang karena dipukuli lagi?" tanya Pak Hartono tampak khawatir.


Namun, sikapnya tiba-tiba berubah berbeda ketika istrinya muncul.


"Palingan dia berantem lagi di sekolah!" ucap ibu angkatnya, Nyonya Linda.


Nyonya Linda tampak begitu marah dan segera meminta Riki untuk melakukan pekerjaan rumah.


Dalam hati, Riki ingin sekali menampar wanita menyebalkan tersebut. Namun, dia harus menahan diri demi misinya.


"Lala, bisakah kamu memberiku sedikit petunjuk? Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan selain fakta bahwa Riki di dunia ini juga bodoh sepertiku," tanya Riki bingung.


Lala sedikit tertawa sebelum menjawab. "Tentu saja untuk membuat kehidupan pemilik tubuh ini menjadi lebih baik."


"Dan Tuan, kurasa dirimu juga masih bodoh sekarang pun," ucapnya menambahkan.


"Sudahlah. Sebaiknya aku mulai menyusun rencana untuk ke depannya," kata Riki seraya memulai melakukan pekerjaan rumah.


Esok harinya, Riki tidak pergi ke sekolah dan malah melamar pekerjaan ke restoran.


Dia memutuskan untuk keluar dari kediaman Pak Hartono karena tidak tahan dengan Nyonya Linda dan ingin lebih bebas bergerak.


Riki heran dengan ayah angkatnya yang jelas-jelas terlihat peduli dan menyayanginya, tapi entah mengapa dia berusaha menyembunyikannya.


"Maaf, saya memang membutuhkan koki, tapi tidak bisa menerima siswa pelajar sepertimu," tolak Pak Herman, pemilik restoran.


"Bos, setidaknya tolong beri saya kesempatan untuk mengikuti lombanya!" pinta Riki memohon.


"Maaf, Riki. Tapi persyaratan untuk bekerja di restoran saya memang membutuhkan kualifikasi yang lebih tinggi," jawab Pak Herman dengan tegas.


Riki merasakan keputusan yang sulit untuk diterima, namun dia tidak menyerah begitu saja. "Bos, saya sangat berminat dan ingin belajar secara langsung di dapur. Saya punya semangat dan tekad yang kuat untuk menjadi seorang koki yang terampil," kata Riki dengan penuh keyakinan.


Pak Herman melihat kegigihan dan semangat Riki. Dia memberi pertimbangan sejenak sebelum akhirnya berkata, "Baiklah, saya akan memberimu kesempatan. Tapi, ini bukan pekerjaan tetap, hanya kesempatan untukmu belajar di dapur melalui kompetisi masak yang saya adakan. Jika kamu berhasil, aku mungkin akan memberimu kesempatan bekerja penuh di restoranku."


Meski begitu, Riki tidak gentar dan yakin bisa menang karena dia memiliki bantuan dari sistem.


Perlombaan masak dimulai dan Riki mulai menunjukkan keahliannya dalam meracik bumbu dan memasak makanan.


Dengan sigap, Riki mengambil bahan-bahan yang telah disediakan panitia dan mulai bekerja dengan penuh semangat.


Riki memulai perlombaan dengan mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan.


Dia dengan cermat memotong sayuran, mencincang bawang, dan menghaluskan bumbu-bumbu.


Setiap gerakan Riki terlihat sangat terampil dan presisi. Ia tahu betul bahwa dalam memasak, setiap detail sangatlah penting.


"Bocah itu lumayan juga!" puji Pak Herman dalam hati saat mengawasinya memasak.


Setelah semua bahan terpilih dan siap digunakan, Riki mulai memasak makanannya. Ia memanaskan wajan dengan api kecil dan menambahkan minyak goreng.


Dengan lembut, ia meletakkan daging dan sayuran ke dalam wajan, dan mulai melakukan teknik-teknik memasak yang ia kuasai dengan sangat baik.


"Cara dia memasak terlihat seperti chef yang sudah sangat berpengalaman," batin Pak Herman yang terus memperhatikannya.


Riki terlihat begitu handal bagaimana mengatur suhu dan waktu masak yang tepat.


Ia menghindari agar daging tidak terlalu matang atau terlalu mentah.


Dia memasak makanan dengan seksama, mencium aroma makanannya untuk memastikan bahwa rasanya sedap.


Tidak hanya itu, Riki juga memiliki kemampuan untuk mengimprovisasi dan menciptakan resep sendiri.


"Ini sungguh menarik!" ucap Pak Herman semakin tertarik melihatnya.


Ternyata Riki tidak hanya mengikuti resep yang telah ada, tetapi juga meletakkan sedikit sentuhan kreativitasnya.


Walaupun perlombaan ini terlihat sangat tegang dan penuh persaingan, Riki tetap tenang dan fokus pada tugas yang ada di hadapannya.


Setelah waktu yang ditentukan berakhir, Riki menyelesaikan masakannya dan mempresentasikannya kepada para juri.


Makanannya terlihat sangat menggiurkan dengan tatakan yang indah dan kualitas rasa yang memukau.


[Ding! Berhasil memasak menu baru]


[+10 poin kemampuan telah ditambahkan]


[Total Poin : 100 Poin Kemampuan]


"Apa yang telah kamu masak? Bisa jelaskan?" tanya Pak Herman pada Riki.


Riki menjawab dengan senyum, "Saya membuat sebuah sajian daging sapi panggang dengan saus bawang putih dan sayur tumis yang menggunakan sedikit rasa pedas. Selain itu, saya juga menambahkan taburan keju parmesan untuk memberikan sentuhan yang ekstra pada hidangan ini."


Pak Herman memandang makanan tersebut dengan penuh kekaguman. "Wow, terlihat sangat lezat! Aku yakin rasanya juga luar biasa," katanya dengan antusias.


Begitu Pak Herman mencicipinya, dia langsung jatuh hati pada masakan tersebut dan langsung mengumumkan bahwa Riki adalah juaranya.


Namun, seorang peserta lain bernama William tidak terima dengan keputusan tersebut.


William adalah koki muda yang sudah belajar keahlian kuliner sejak dia masih remaja.


Dia sangat berbakat dalam seni memasak dan memiliki minat yang besar dalam menciptakan makanan yang lezat dan indah.


Dia telah belajar di berbagai sekolah kuliner terkemuka di seluruh dunia dan telah mengikuti banyak kompetisi memasak.


Meskipun usianya masih muda, William telah memenangkan banyak penghargaan atas bakatnya dalam memasak.


William merasa masakan buatan Riki terlalu sederhana dan mana mungkin rasanya bisa lebih enak dari masakannya.


"William, kenapa kamu tidak mencobanya sendiri masakan ini," tawar Pak Herman meminta William mencicipinya juga.


Meski kesal, William penasaran untuk mencoba masakan Riki seperti apa.


"Ibu," kata William langsung teringat ibunya yang sudah tiada.


Rupanya rasa dari masakan Riki membuatnya tersentuh dan teringat kembali akan rasa masakan ibunya. Meski masih sederhana, masakan Riki ini memiliki sentuhan yang khas dan membuat William terkesan.


Jadi, setelah mencicipinya, William terkejut dengan kelezatan masakan Riki. Rasa masakan itu begitu lezat dan memukau, bahkan melebihi dari yang pernah dibuatnya sendiri.


William akhirnya menyadari bahwa keahlian memasak Riki tidak bisa dianggap remeh.


"Luar biasa, Riki! Ini benar-benar enak!" ujar William dengan ekspresi kagum.


Tidak hanya itu, William juga menyadari bahwa selama ini dia terlalu banyak membanggakan diri dan menganggap dirinya lebih unggul dalam hal memasak.


Kemenangannya dalam kompetisi-kompetisi memasak semakin menggebu-gebu egonya.


Namun, setelah mencicipi masakan Riki, William menyadari bahwa bakat memasak tidak bisa diukur dari sejumlah penghargaan yang dimenangkan.


Keahlian dan rasa dalam memasak sebenarnya tidak tergantung pada usia atau pengakuan publik, tetapi terletak pada dedikasi, kasih sayang, dan keunikan setiap individu dalam menyajikan hidangan.


"Tenang saja, Will. Meskipun kamu tidak menang, kamu tetap diterima bekerja di restoran ini," ucap Pak Herman.


Di sisi lain, Lala mengatakan bahwa akan bagus jika Riki membangun hubungan baik dengan Pak Herman dan William.


Kembali pada William yang tampak senang dan sudah menerima kekalahannya. Dia menghampiri Riki dan meminta maaf padanya.


"Bolehkah aku memanggilmu 'Kakak'? Walau bagaimana pun, masih banyak yang perlu saya pelajari dan kali ini hanya beruntung saja bisa menang," kata Riki dengan tulus dan rendah hati.


William tersenyum dan mengatakan bahwa dia cukup menyukai kepribadian Riki yang rendah hati.


"Ya, kau boleh memanggilku 'Kakak' mulai sekarang!" kata William senang.


Bersambung.