Sistem Murid Bodoh

Sistem Murid Bodoh
22 : Membangun Koneksi


Setelah memenangkan perlombaan memasak dan diterima kerja di restoran, Riki segera menceritakan alasannya kenapa ingin bekerja.


Pak Herman dan William mendengarkan dengan serius dan akhirnya memutuskan untuk membantu Riki.


"Riki, kamu boleh bekerja sepulang sekolah," kata Pak Herman memberi simpatinya.


William juga tidak mau kalah dan dia memberikan Riki tempat untuk tinggal sementara. "Kamu tinggal saja di rumah itu. Itu adalah rumah keluargaku dulu dan sudah lama kosong!"


Kemudian, William bersedia mengantar Riki ke rumah tersebut dengan mengendarai mobilnya.


Riki merasa sangat berterima kasih kepada Pak Herman dan William atas bantuan dan dukungannya.


Saat tiba di rumah William, Riki merasa kagum dengan keindahan dan kenyamanan rumah tersebut.


William menjelaskan bahwa rumah ini adalah warisan keluarganya dan sebelumnya telah lama kosong.


"Baiklah, Riki. Kamu boleh tinggal di sini sekalian menjaganya untukku," kata William sebelum pamit pulang.


"Sekali lagi, terima kasih Kak Will. Saya pasti menjaga dan merawat rumah ini," jawab Riki sangat senang.


"Ini adalah awal yang bagus, Tuan," kata Lala ikut senang.


Lala, peri kecil yang mewakili sistem, dia langsung terbang ke sana - kemari untuk melihat keadaan rumah tersebut.


Sementara itu, Riki sedang memeriksa poin yang baru saja didapatkannya setelah memenangkan lomba dan diterima kerja.


"Mungkin aku harus mulai menghasilkan uang," kata Riki setelah menyadari dirinya hanya memiliki pakaian satu setel saja, yaitu seragam sekolah yang saat ini dikenakannya.


Poin Kemampuan saat ini ada 150 poin saja dan itu terus terpakai ketika Riki menggunakan kemampuan.


Riki menyimpulkan bahwa kemampuan permanennya hanya berlaku di dunia asalnya saja - Bumi.


Bersamaan dengan itu, Pak Hartono tiba-tiba menghubunginya.


"Nak, kamu di mana?" tanya Pak Hartono khawatir.


"Aku di rumah Kak William!" jawab Riki.


"William? Siapa itu? Kenapa kamu tidak pulang?" tanya Pak Hartono bingung.


"Ayah, aku tidak betah tinggal di rumah karena Ibu tidak menyukaiku," jawab Riki.


Mendengar hal itu membuat Pak Hartono menjadi semakin bingung, tapi dari nada bicaranya terdengar sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dari Riki.


"Maafkan, Ayah! Dapatkah kamu bersabar sebentar lagi?" kata Pak Hartono, semakin menegaskan ada sesuatu yang dia rahasiakan.


Setelah panggilan selesai, Pak Hartono mentransfer sejumlah uang ke rekening pribadi Riki.


Setelah mendapat uang cukup banyak dari ayahnya, Riki memutuskan untuk memperbaiki penampilannya.


Riki berjalan ke depan cermin dan menyingkap poni rambut yang menutupi wajahnya.


"Kamu ini tampan, Riki. Kenapa harus menyembunyikannya?" ucapnya memuji penampilannya sendiri.


Dia pun pergi ke salon dan meminta saran dari penata busana tentang gaya yang cocok untuknya.


Setelah mencoba beberapa pakaian, Riki puas dengan hasilnya.


Dia membeli beberapa baju yang sesuai dengan gaya yang ingin dia tampilkan.


Selanjutnya, Riki pergi ke toko sepatu untuk mencari sepatu yang sesuai dengan gaya barunya.


Setelah mencoba beberapa pasang sepatu, Riki menemukan sepasang sepatu yang sempurna dan sesuai dengan gayanya.


Tidak hanya itu, Riki juga memutuskan untuk membeli beberapa aksesori seperti gelang, kalung, dan jam tangan untuk melengkapi penampilannya yang baru.


Setelah pergi dari salon dan berbelanja pakaian serta aksesori baru, Riki merasa lebih percaya diri dengan penampilannya yang baru.


"Astaga! Penampilanmu ini bahkan lebih baik daripada dirimu yang di Bumi!" singgung Lala.


"Heh, nanti aku akan memperbaiki penampilanku setelah kembali," kata Riki sedikit cemberut dengan komentar Lala.


Esok harinya, Riki kembali masuk ke sekolah dan perubahan besar pada dirinya membuat semua orang nyaris tidak mengenalinya.


~"Apa dia benar-benar si Riki?"


~"Dia lumayan cakep juga setelah menyingkirkan poni bodohnya itu! Sayang dia hanya anak pungut keluarga Hartono dan nilainya sangat jeblok!"


~"Sttt.. pelan-pelan ngomongnya, nanti dia dengar!"


Selain terlihat lebih tampan dan imut, Riki juga berjalan dengan penuh rasa percaya diri.


Ketika Riki berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba seorang gadis menarik tangannya untuk mengajaknya bicara.


"Riki, kemarin kamu ke mana?" tanya gadis tersebut.


Menurut ingatan Riki di dunia ini, gadis tersebut bernama Monika dan ia adalah satu-satunya teman yang dekat dengan Riki.


Belum sempat Riki menjawab, Monika kembali bicara dan menyinggung soal penampilan barunya. "Lihat, sudah kubilang kamu akan terlihat lebih baik jika memotong rambutmu."


"Monika!" ujar Riki sedikit tidak nyaman dengan perlakuannya.


Tangan Monika dengan santainya memegang dagu Riki dan menggerakkan kepala Riki ke samping bolak-balik.


"Hanya berubah sedikit kamu sudah berani menggodanya!" ujar Danang tiba-tiba sudah ada di belakang Riki.


"Apa maksudmu?" kata Monika tampak tidak senang dengan kehadirannya.


Namun, Danang mengabaikan Monika dan malah menarik Riki agar berbalik badan menghadapnya.


"Katakan, kemarin kamu pergi setelah mengambil beberapa barang berharga dari rumah dan menjualnya, kan?" tuduh Danang, ingin menjelekkan nama Riki di hadapan semua orang.


"Untuk apa aku mengambil barang di rumah kita?" tanya Riki, masih bersabar.


"Kita? Kamu itu hanya anak pungut yang diadopsi ayahku, jadi itu bukan rumahmu!" ujar Danang.


"Terserah apa katamu, tapi aku tidak mengambil apapun dari tempatmu," tegas Riki.


"Haha. Kau pikir kemarin aku tidak melihatnya waktu kamu membolos dan membeli beberapa pakaian?" singgung Danang yang kebetulan melihat Riki berbelanja kemarin.


Akhirnya Riki segera angkat bicara. "Aku diberikan uang oleh Ayah karena aku bilang tidak ingin kembali ke rumah!"


Bertepatan dengan selesainya ucapan Riki, bel masuk berbunyi sehingga semua murid bergegas masuk ke kelasnya masing-masing.


Namun, Danang terlihat senang ketika mendengar penjelasan Riki.


Dia berpikir bahwa ayahnya akhirnya memutuskan untuk membuang Riki dari keluarganya.


Kelas dimulai dengan guru yang tiba-tiba membagikan kertas ulangan dan membuat para murid sangat terkejut.


"Kenapa tiba-tiba ada ulangan?" ujar salah satu murid terlihat tidak siap untuk mengerjakannya.


Di antara semua murid dalam kelas, guru bernama Anita itu menatap tajam ke arah Riki.


"Sudah pasti dia akan mendapat nilai paling rendah lagi," ucap batinnya menggelengkan kepala.


Namun, Riki tampak tenang dan hanya butuh waktu kurang dari lima menit saja untuk menyelesaikan ulangannya.


"Kamu sadar dengan batas dirimu dan akhirnya mengisi jawaban dengan sembarang ya?" ucap Ibu Anita mencibirnya ketika Riki menaruh kertas lembar jawabannya di meja.


"Menyedihkan! Kamu hanya ingin cepat-cepat pergi dari kelas dan tidak niat belajar!" ucap Ibu Anita semakin tidak menyukai Riki.


Meski begitu, Riki tetap santai dan langsung meninggalkan kelas setelah menyelesaikan tugas ulangannya.


Setelah Riki pergi, barulah Ibu Anita memeriksa lembar jawabannya sambil menunggu murid yang lain menyelesaikan ulangannya.


"Apa aku salah lihat?" ucap Ibu Anita tersentak kaget.


Semua jawaban Riki benar dan dia mustahil mencontek mengingat ini ulangan dadakan.


Ibu Anita mulai berpikir bahwa Riki berpura-pura bodoh selama ini.


Ibu Anita tidak tahu bahwa ada guru lainnya, Pak Han, yang mengalami hal yang persis seperti ini.


Fokus beralih ke posisi Riki, dia menghabiskan waktunya dengan rebahan di atap gedung sekolah.


Riki mulai bernostalgia tentang masa lalunya ketika masih SMA. Secara teknis, hari ini Riki seperti mengulang kembali masa SMA-nya di dunia ini.


Hanya saja, Riki dari dunia ini, pemilik tubuh, tidak seberuntung Riki.


Dari keluarga, teman, lingkungan sekolah, semua selalu menyudutkannya dalam ketidakadilan.


Karena itu, Riki pemilik sistem bertekad untuk merubah kehidupan kembarannya di dunia lain agar hidupnya lebih baik.


Bersambung.