
Riki hampir saja lupa dengan misinya dan menikmati kehidupan terbalik tersebut.
Faktanya di dunia normal hal seperti peran terbalik juga sudah mulai terjadi sejak lama.
"Monster-monster ini benar-benar sama dengan monster yang menyerang Kota Elvina," kata Riki ketika sudah memulai raid ke menara tower.
Kabar baiknya, monster-monster ini juga menjatuhkan kristal sihir yang dapat Riki manfaatkan atau tukar dengan poin skill.
Riki pun dengan semangat mengalahkan monster-monster iblis di lantai pertama untuk mengumpulkan banyak kristal.
"Baiklah, hari ini sudah cukup," kata Riki menyudahi perburuannya.
Hari pertama raid dungeon diikuti banyak hero, termasuk super buff girls, sehingga pembersihan lantai pertama selesai lebih cepat.
"Sekarang poin skill masih ada 25.000. Aku mau beli skill-skill yang sebelumnya," kata Riki setelah keluar dari menara.
"Jangan bilang..." Lala menebak bahwa Riki ingin membuat robot-robotnya lagi.
"Benar! Di sini ada kristal sihir, jadi aku bisa membuat mereka lagi," kata Riki semangat.
Selain itu, uang saku Riki cukup banyak sehingga ia bisa membeli bangunan dan bahan-bahan yang ia perlukan untuk membuat robot.
Beberapa hari kemudian, Riki sudah berhasil membuat dua robot karena ia mengerjakannya sendiri.
"Meskipun hanya dua unit robot, tapi ini sudah cukup!" kata Riki senang.
Robot tersebut dinamai Alpha 1 dan Alpha 3, untuk mengenang robot-robot yang sebelumnya hancur.
"Inilah masa depan!" ujar Riki tertawa penuh kepuasan.
"Tuan, kamu tidak pulang selama beberapa hari, orang tuamu pasti mencarimu," tegur Lala.
"Aku lupa!" sahut Riki baru ingat.
Benar saja, setelah ia menghilang berhari-hari, poster bergambar wajah dirinya tersebar di mana-mana.
Selain itu, Lia ditangkap karena dituduh telah menculik Riki.
"Ini sungguh merepotkan!" keluh Riki.
Setiba di rumah, semua orang tampak khawatir dan menyambutnya dengan penuh suka cita.
"Aku hanya pergi beberapa hari, kenapa kalian begitu berlebihan!" kata Riki kesal.
Akhirnya Lia dibebaskan dan kesalahpahaman itu berakhir.
Sebagai permintaan maaf, orang tua Riki memberi izin pada Lia untuk mengajak Riki jalan keluar.
"Lihat ini! Aku sudah mengumpulkan banyak uang!" kata Lia senang.
"Memangnya kenapa?" tanya Riki yang tahu kalau uang tersebut ia dapatkan dari raid waktu itu.
"Ini artinya tak lama lagi aku bisa melamar kamu," jawab Lia.
"Astaga! Kita ini masih sekolah, Lia," kata Riki terkejut.
Sekarang mereka masih libur karena gedung sekolahnya hancur oleh monster dan biasanya butuh waktu sekitar sebulan untuk perbaikan.
Merasa Lia akan menjadi penghambatnya dalam menjalankan misi, Riki akhirnya menceritakan tentang rahasianya.
"Lia, sebenarnya aku sedang menjalankan misi untuk mengembalikan dunia ini menjadi normal," kata Riki.
Lia sedikit terkekeh mendengarnya. "Apa kamu sedang bercanda?"
"Tidak! Aku bisa buktikan kalau aku serius!" tegas Riki sungguh-sungguh.
Lia pun mulai menanggapi dengan serius. "Kalau begitu, bagaimana cara kamu membuktikannya?"
"Aku bisa bertarung denganmu!" jawab Riki.
Saat ini posisi mereka sedang duduk di bangku taman perkotaan.
"Manis, kamu ingin bertarung? Aku bisa melayanimu!" kata Lia malah menggoda Riki.
Lia pun menarik tangan Riki dan membawanya ke tempat sepi.
"Kamu ingin bertarung? Ayo lakukan di sini!" kata Lia malah menyudutkannya ke pohon dan menahan tangannya ke atas.
Riki sedikit tak berdaya ketika Lia mulai mendaratkan ciumannya.
"Hei, bukan seperti ini harusnya!" gumam Riki mencoba melawan.
[Ding! Kekuatan fisik telah diaktifkan]
[Cost : -10 Poin Skill]
Riki akhirnya berhasil mendorong Lia menjauh dan menjaga jarak.
"Ternyata tenagamu cukup kuat," kata Lia malah semakin tertarik untuk menggoda Riki.
Dengan cepat, Lia berhasil menangkap Riki dan menindih tubuhnya.
"Sayang, aku juga punya rahasia. Aku adalah anggota SBG (Super Buff Girl)," kata Lia.
Lia melanjutkan aksinya untuk mencium Riki.
"Host, seriuslah! Kenapa kamu malah pasrah?" ujar Lala heran.
Apa yang Lia lakukan pada Riki saat ini sama seperti yang Quin lakukan waktu itu.
Masalahnya, Riki malah menikmatinya.
"Lala, kamu tidak tahu betapa sulitnya melawan nafsu," kata Riki beralasan.
Beberapa saat kemudian, tampak Lia sudah dalam keadaan tertidur.
"Sudah puas kamu host?" kata Lala.
"Iya," jawab Riki.
"Kamu sudah berlebihan," sindir Lala cemberut.
"Hei, aku sudah membuatnya pingsan sebelum benar-benar melewati batas," ujar Riki.
Di sini Riki tidak menahan diri lagi untuk menggunakan poin skillnya dan bertarung sampai Lia kalah dan pingsan.
"Sudahlah. Sekarang aku mau kembali ke tower untuk melanjutkan raid," kata Riki ingin segera melanjutkan rencananya.
Riki berencana menyusup ke tower dan segera menaklukannya sendiri tanpa diketahui oleh Departemen Pahlawan.
"Ini baru namanya kostum pahlawan!" kata Riki setelah selesai membuat armor canggihnya lagi.
Setelah semua persiapan selesai, Riki pun berangkat ke tower bersama kedua robotnya.
"Lantai satu sampai tiga telah dibersihkan. Aku akan mulai dari lantai tiga," kata Riki ketika sudah berhasil masuk ke tower.
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
Ini menjadi pembantaian sepihak ketika Riki dan robot-robotnya berhasil mengalahkan semua monster dengan mudah.
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
Riki akhirnya tiba di lantai ke-7 dan segera bersiap untuk masuk ke ruangan bos tower.
Dengan hati yang berdebar, Riki menarik napas dalam-dalam dan memastikan senjata dan perlengkapannya dalam kondisi siap tempur.
Dia memeriksa detektor gerakan yang akan membantunya mengidentifikasi keberadaan musuh di dalam ruangan.
Setelah yakin segala persiapan telah diatur dengan baik, Riki membuka pintu menuju ruangan bos tower dengan hati-hati.
Suasana di dalam terasa tegang dan penuh ketegangan. Lampu-lampu remang-remang yang bersinar dari langit-langit ruangan membentuk bayangan yang mengancam di setiap sudut.
Riki melangkah maju dengan perlahan dan berusaha menjaga ketenangan serta meningkatkan kewaspadaannya.
Suara langkah kakinya terdengar samar-samar di lantai yang dilapisi marmer hitam.
Dia tahu bahwa dirinya berhadapan dengan musuh yang kuat dan berbahaya, dan percikan adrenalin mulai mengalir dalam tubuhnya.
Saat Riki mencapai tengah ruangan, lampu-lampu di sekitarnya tiba-tiba berkedip, mengubah suasana menjadi semakin mencekam.
Tiba-tiba, sebuah siluet muncul di balik tirai tebal di ujung ruangan.
"Apa barusan aku melihat tuyul?" tanya Riki.
"Tentu saja bukan!" sahut Lala.
"Alpha, tembak makhluk kecil itu!" ujar Riki ketika melihat iblis kecil mirip itu lewat lagi.
Namun, iblis kecil tersebut cepat dan lincah. Semua tembakan dari robot-robot tempur Riki tidak bisa mengenainya.
Riki merasa frustrasi karena iblis kecil itu terus lolos dari serangan-serangannya.
Dia mencoba mengatur ulang perangkat penguncian target pada robot-robotnya untuk meningkatkan peluang menangkap iblis tersebut.
Sementara itu, iblis kecil tersebut terus melompat-lompat dan menghindar dari serangan-serangan Riki. Iblis kecil itu terlihat cerdik dan memiliki kemampuan yang sulit diprediksi.
Riki memutuskan untuk mencoba pendekatan yang berbeda. Dia mengeluarkan senjata rahasia yang jarang dipakai, yaitu laras energi plasma. Senjata ini memiliki kekuatan yang sangat besar, namun sulit dikendalikan.
Dengan tepat, Riki mengarahkan laras energi plasma ke arah iblis kecil tersebut dan meluncurkan tembakan plasma dengan kecepatan penuh.
Tembakan plasma menghantam iblis kecil dengan kekuatan yang cukup besar, menghancurkan tubuhnya menjadi debu-debu. Riki bersorak kemenangan sambil menahan napas lega.
"Segitu saja ternyata dan bahkan makhluk kecil itu tidak menyerang balik," kata Riki sedikit terkejut.
[+15 Poin Skill telah ditambahkan]
"Sedikit sekali poin yang didapat darinya. Apa beneran dia bos tower menara ini?" kata Riki heran.
Meski iblis kecil barusan lemah, tapi kristal dari tubuhnya adalah kristal raja iblis.
"Alasan iblis tersebut lemah karena sebagian besar kekuatannya digunakan untuk membalikkan dunia ini," jelas Lala.
"Apa maksudmu dia adalah penyebab tertukarnya peran laki-laki dan perempuan?" tanya Riki.
"Benar. Setelah kamu menghancurkan kristal tersebut, dunia akan kembali normal tapi hanya sebagian saja!" kata Lala.
Dengan kata lain, peran yang tertukar antara laki-laki dan perempuan akhirnya bisa berakhir.
Namun, dunia ini masih dipenuhi monster dan tidak tahu akan berubah seperti apa setelah kristal iblis itu dihancurkan.
"Baiklah, ayo hancurkan saja!" kata Riki sudah siap menerima apapun yang akan terjadi.
Bersambung.