
Sebelum mereka keluar dari tol, Robin memutar tubuhnya, menepuk pria botak yang masih pingsan. Karena masih belum sadar, Robin mengguyur kepalanya menggunakan air yang dia simpan di penyimpanan.
Air dingin disertai AC mobil berhasil membuat pria botak terbangun. Secara spontan dia duduk, menoleh ke kanan dan kiri dengan ekspresi bodoh. Dia masih belum sepenuhnya sadar jika saja Robin tidak menepuk pipinya.
"Hei, sadar bodoh!" Ucap Robin sambil menampar pipinya.
Satu, dua, sampai empat tamparan sudah cukup membuatnya tersadar. Melihat wajah Robin dan mobil yang asing, pria botak terkejut, melebarkan matanya seolah bertanya kepada Robin.
"Hah…" Robin menghela sambil menggeleng, "Aku memenangkan taruhan, sekarang kau akan menjadi bawahan ku, dan sudah saatnya bagimu untuk berguna!"
Alih-alih merogoh saku, Robin membuka penyimpanan dan mengambil pil serta botol minuman. "Minumlah itu untuk mengembalikan energi mu, aku membutuhkanmu sekarang juga!"
Tak bisa berkata-kata ditambah dengan pikiran yang masih melayang, pria botak menerimanya dan meminum pil dengan cepat. Secara mengejutkan, pil tersebut benar-benar memulihkan kondisinya, bahkan tubuhnya sudah mencapai kondisi prima.
Dia mengepalkan tangannya berkali-kali. Keterkejutan masih terlihat jelas di wajahnya. Perlahan dia mendongak, melihat lurus ke arah Robin yang sedang fokus dengan perjalanan.
'Dia hebat… Aku merasa beruntung telah kalah darinya. Tapi, sedang kemana kita?' pikir pria botak, menekuk alisnya ketika menyadari jalanan yang sedang mereka lalui adalah tol.
'Dia bilang sebelumnya dia membutuhkanku? Dan sekarang kita berada di tol? Apakah ini akan menjadi tugas pertamaku? Ah, lupakan! Lebih baik untuk menunggu perintah selanjutnya saja…' Pria botak menggelengkan kepalanya, dia ikut fokus dengan jalan, sama seperti Robin.
Tak butuh waktu lama bagi pria botak untuk melihat akhir dari tol. 'Kita sejak awal seperti sedang mengikuti mobil di depan. Apakah itu targetnya?' pikir pria botak.
Mereka melaju di jalanan yang sepi. Itu wajar, melihat sekeliling adalah hutan. Tampaknya para penculik itu sedang membawanya ke suatu tempat yang terisolasi, tapi untuk apa? Robin sendiri kebingungan dengan itu.
'Mereka membawanya ke hutan? Untuk apa?' Robin menghentikan laju mobilnya, dia menepi di jarak yang cukup jauh dengan mobil mereka.
Diam saja tak berguna, Robin menoleh kebelakang, "Sekarang kau akan membantuku untuk menyelematkan teman wanitaku di dalam pabrik besar itu, mengerti?" Robin menekankan suaranya, menandakan bahwa dia serius.
"Mengerti!" Pria botak mengangguk, namun dia bingung dengan pabrik yang dimaksud.
'Pabrik? Memangnya di sini ada pabrik? Aku tak melihatnya…' pikir pria botak menekuk alisnya.
Mereka berdua keluar dari mobil. Sebelum melanjutkan perjalanan, Robin menyempatkan diri untuk berkenalan. "Aku Robin, panggil saja seperti itu. Dan sekarang kau akan menjadi bawahan ku, itu tidak masalah?"
Melihat Robin mengulurkan tangannya, pria botak menyambut, "Tidak masalah, Robin. Ini juga merupakan kekalahan bagiku, sudah sepantasnya aku menerima konsekuensinya." Jawab tenang dia, "Aku Bronto. Itu nama yang aneh, tapi kuharap kau tidak mempermasalahkannya…"
Robin menggeleng, "Tidak, itu mempermudahkan diriku. Mulai sekarang aku akan memanggilmu sebagai "Bro". Jadi, mari kita pergi ke pabrik yang ada seratus meter di depan!"
Dua ratus meter? Itu jarak pandang yang cukup jauh untuk seukuran manusia. Tanpa berbicara apapun lagi, mereka berdua berjalan bersama, secara senyap sambil bersembunyi di balik pepohonan yang ada.
Semua itu berlangsung cukup singkat hingga pada akhirnya mereka tiba di pabrik yang dimaksud. Tampak di sana beberapa mobil sebelumnya terparkir tepat di depan pabrik. Termasuk mobil Rina.
Semua yang terjadi membuat Robin kebingungan, banyak hal yang ingin dia tanyakan kepada Rina, sehingga yang perlu dia lakukan saat ini adalah menyelematkan nya.
Perlahan tapi pasti, mereka bersembunyi lebih dekat dari gerbang. Sebelum masuk, mereka diharuskan melewati para penjaga. Merasa bertarung akan merepotkan, Robin membeli dua pistol di toko Sistem, kemudian memberikan salah satunya kepada Bronto.
"Jangan tanyakan aku menyimpannya di mana, sekarang kau pegang ini dan mari kita lakukan hal yang semestinya!" ucap Robin tampak serius, membuat Bronto tak bisa mengeluhkan apapun.
"Baiklah." Bronto menerima pistolnya, dia tampak ragu untuk menembak penjaga di sana.
Robin belum pernah mengenal Bronto, dia juga tidak terlalu mempercayainya. Namun, dengan bantuan pil dari Sistem, seluruh keraguannya dapat dihilangkan. Yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan Rina, memastikan wanita itu pulang dengan selamat.
"Baiklah, aku akan mulai dalam hitungan mundur…" Robin berbicara dalam volume rendah.
"1…"
"2…"
"3…"
Tepat pada hitungan ketiga, peluru melesat cepat, menembus kepala mereka berdua yang kemudian terjatuh secara bersamaan. Melihat mereka sudah tumbang, mereka berdua saling bertukar pandang.
"Haha, kau hebat dalam menembak…" Robin tertawa, menepuk pundak Bronto.
Bronto tersenyum malu, "Saya ahli dalam menembak ketapel…" ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Memastikan tidak ada yang keluar dan mengecek kedua mayat tersebut, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanannya. Masuk secara senyap, mereka mendapati isi pabrik yang kosong.
Di sisi kanan dan kiri terdapat sel penjara yang berukuran kecil. Beberapa dari sel tersebut diisi oleh anjing gila yang selalu menggonggong setiap saatnya.
"Gila… Di sini ternyata bukan pabrik. Aku terkejut suara gonggongan mereka tidak terdengar sampai keluar…" gumam Bronto, pemikiran sama seperti Robin.
Merasa terganggu dengan gonggongan anjing di dekatnya, salah satu pria yang menjaga menendang sel penjara. Wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan.
"Dasar anjing gila! Apa kau tidak bisa diam saja!! Suaramu bisa-bisa menghancurkan gendang telingaku!!!" Pria itu menendang sel beberapakali dengan tendangan keras.
"Hei, hentikan itu! Bagaimana jika ketua mendengarnya? Itu semua akan berakibat fatal kepada kita!" Cemas pria disampingnya, mencoba menenangkan temannya tersebut.
"Tapi dia sangat berisik! Apa kau tidak merasa terganggu?"
"Aku juga sama, bahkan rasanya ingin membunuh mereka semua… Tetapi, Ayah Besar akan marah jika kita melakukannya, apa kau tidak takut?"
Mendengar perkataannya, pria itu merenung. Setelah jeda beberapa detik, pria itu kembali ke posisi semula dengan wajah yang terpaksa. Pria itu takut dengan sosok ayah besar.
Mereka kembali berjaga, terkadang melakukan patroli dengan berjalan-jalan sepanjang lorong, memastikan tidak ada yang aneh.
Namun, tanpa mereka sadari, terdapat dua orang pria asing dengan memperhatikan mereka di atas sel, yang mana terdapat sedikit celah bagi mereka untuk bersembunyi secara merangkak.
"Robin, apa ini perlu? Mengapa kita tidak membunuh mereka?" Tanya Broton sudah merasa tidak nyaman.
"Justru kita akan melakukannya sebentar lagi." Jawab Robin, "Sebelum itu, kita harus turun. Tapi, kita harus membuat kebisingan lain agar perhatian mereka teralihkan."
"Bagaimana caranya?"
Mendengar pertanyaan itu, Robin tersenyum tipis. "Hehe, ada satu cara untuk melakukannya, apa kau penasaran?"