
Hanya butuh beberapa menit bagi motor sang ojek untuk sampai di restoran milik Robin. Setelah dirasa sudah cukup, Robin turun dari motor, kemudian memberikan uang ongkos sebelum pada akhirnya mata dia terbelalak ketika melihat sosok familiar di depannya.
"Pak Seno?" Robin secara tidak sadar mengeluarkan suaranya, membuat Seno dengan cepat menoleh.
Tak hanya Robin, kini Seno pun ikut membuat ekspresi serupa. "Mas Robin!?" Seno sungguh tidak menyangka bahwa pelanggan yang dia anggap tidak sopan merupakan sosok pahlawan baginya.
"Ah, saya tidak sadar bahwa tukang ojeknya adalah pak Seno. Aduh, maaf ya pak sudah bersikap tidak sopan sama bapak." Robin memasang wajah kecut.
Seno tampak salah tingkah ketika melihat ekspresi Robin yang merasa bersalah, dengan cepat dia melambaikan tangannya, "Tidak, tidak. Saya tidak masalah selagi itu Anda. Lagipula saat ini saya merasa bahagia karena bisa berjumpa lagi dengan Anda!"
"Haha, kita sudah tidak bertemu selama seminggu, ya?" Robin tertawa kering, "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar bapak dan keluarga?" tanya Robin menambahkan.
Mendengar pertanyaan Robin, tampak wajah Seno langsung berubah menjadi cerah, "Saya dan keluarga saya baik. Apalagi jika membicarakan anak saya yang selalu bahagia setiap harinya, dia benar-benar menyukai hadiah yang Anda berikan, bahkan sekarang tidur pun harus ditemani oleh bonekanya, haha!!"
Robin tersenyum lembut ketika mendengar ceritanya, namun tak lama kemudian wajahnya berubah menjadi kusut ketika mengingat tujuan utamanya.
"Ini pak bayarannya!" Robin memberikan beberapa lembar uang ke dalam genggaman tangan Seno, kemudian berbalik dan berlari menuju restoran setelah memberikan salam perpisahan.
"Saya pergi dulu ya, Pak! Salam buat keluarga, dan semoga saya dapat bertemu dengan keluarga Anda nanti!" ucap Robin sedikit meninggikan suaranya.
Sementara itu, Seno menatap kepergian Robin dengan lembut, dia sungguh berterima kasih dengan kemurahan hati pemuda itu yang selalu senantiasa membantu pria tak dikenal sepertinya.
"Saya berharap seperti itu juga, Mas." gumam Seno sebelum kemudian pergi dengan motornya.
Setibanya di dalam restoran, Robin tak dapat melihat siapapun di sana kecuali kursi-kursi yang tertata dengan rapih di samping meja. Tampaknya restoran sengaja ditutup, pikir Robin.
Setelah mengedarkan pandangannya, Robin dapat melihat sesosok wanita muda sedang duduk di kursi yang berada di samping kiri. Dia dapat melihat sosok wanita anggun sedang duduk tegap sambil menatapnya dengan tatapan dingin.
'Ah, mungkin itu yang menelpon ku sebelumnya?' tanya Robin di dalam pikirannya.
Walaupun merasa aneh dengan sikap wanita itu, Robin tetap berjalan menghampirinya dan duduk di seberang wanita itu setelah dipersilahkan olehnya.
"Maaf saya datang terlambat, jalanan sedang macet sebelumnya." ucap Robin dengan suara penyesalan.
Wanita itu menggeleng kecil, "Tidak masalah, Tuan. Saya memahami kondisi Anda." ujarnya dalam suara datar.
Suasana tiba-tiba terasa menjadi canggung sampai membuat Robin menjadi kebingungan. Namun segera Robin membuyarkan suasana canggung tersebut dengan membawanya ke pengenalan diri.
"Sebelum itu, perkenalkan nama saya Robin Dermawan! Pastinya Anda sudah mengetahuinya, bukan?" Robin mengulurkan tangannya sambil menatap ke arah wajah wanita itu.
"Benar." Wanita itu menerima uluran tangan Robin. "Saya Rina Maulida, manager restoran ini." lanjutnya sambil menggoyangkan jabatan tangan mereka.
"Oke, Rina. Jadi, bagaimana kondisi keseluruhan dari restoran ini?" Robin melanjutkan jalannya situasi dengan membuka topik baru.
Mendengar pertanyaannya, Rina segera mengeluarkan beberapa berkas dari tasnya, kemudian dia berikan kepada Robin sambil membahas kondisi restoran.
"Secara finansial, kami tidak memiliki kekurangan apapun. Namun, itu semua akan masuk ke dalam kondisi kritis jika melirik kepada hutang yang dimiliki oleh restoran. Namun, kami yakin bahwa itu dapat diatasi dengan mudah, mengingat kami masih berada di posisi yang nyaman dalam persaingan pasar. Ditambah, pemasukan restoran selalu konsisten. Jika perlu dijelaskan, restoran tidak memiliki kekurangan apapun untuk saat ini." Jelas Rina dengan profesional.
Sambil membaca isi berkas, Robin juga sesekali melirik ke arah Rina dengan tatapan kagum. Dia bisa mengetahui kinerja Rina hanya dengan cara pembawaannya dalam menjelaskan semuanya terbilang cukup baik.
"Itu bagus. Saya merasa cukup senang dengan berita baik ini." Robin tersenyum. "Namun, saya tidak bisa membiarkan semuanya terus berjalan seperti ini…" Robin menambahkan setelah memberikan jeda.
"Mengapa demikian?" Rina menekuk alisnya ketika mendengarnya. Dia tidak memahami maksud Robin yang sebenarnya.
"Anda tahu? Kita tidak bisa terus berada di zona nyaman seperti ini. Saya ingin membuat gebrakan baru untuk perkembangan restoran. Tidak ada salahnya untuk melakukan hal itu." Robin menjelaskan dengan tenang.
"Itu benar. Namun, bagaimana dengan resikonya? Bukankah rencana Anda memiliki resiko yang tinggi?" Rina terus menyodorkan pertanyaan dengan tujuan untuk mengetes kelayakan Robin sebagai pemilik baru.
"Sebelum Anda bertanya seperti itu, saya sudah mengetahui kemungkinan resiko dalam rencananya. Namun itu bukanlah sebuah masalah, saya akan menanggung segala resiko yang ada. Kalian semua tidak perlu khawatir." jawab Robin dengan tenang.
"Bukankah Anda terlalu terburu-buru? Tidakkah Anda memikirkan kondisi para pegawai untuk beradaptasi dengan suasana baru?"
Robin sedikit mengerutkan keningnya ketika mendengar beberapa pertanyaan yang terus diajukan oleh Rina. Bukankah dia hanya perlu menuruti perintahku? Pikir Robin kebingungan.
"Manusia adalah makhluk yang mudah beradaptasi. Bukan hal yang tidak mungkin bagi mereka untuk beradaptasi dengan cepat. Saya justru merasa khawatir jika semua ini dibiarkan saja, ditakutkan usaha kita akan tenggelam oleh lawan-lawan bisnis kita."
Setelah mendengar semua tanggapan yang diberikan oleh Robin, lambat-laun Rina merasa puas. Walaupun posisinya hanya sebatas manager, namun dirinya juga memiliki kecintaan lebih terhadap pekerjaan ini.
Jadinya dia merasa khawatir dengan masa depan restoran jika berada di tangan yang salah. Dia tidak ingin semuanya berjalan seperti pemilik sebelumnya.
"Baiklah, sepertinya Anda setuju dengan itu." Robin tersenyum ketika melihat Rina yang terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun lagi. "Kalau begitu, kita akan mengakhiri pertemuan ini dan membahasnya di kesempatan lainnya. Semoga Anda bisa menunjukkan kinerja kerja yang baik!"
Robin kembali mengulurkan tangannya, dan tanpa menunggu banyak waktu, Rina menerima uluran tersebut sambil tersenyum manis.
"Saya akan melakukannya!" ucap Rina dengan percaya diri.
Melihat itu, Robin mengangguk puas. Ketika dia hendak beranjak dari kursinya, tiba-tiba terbesit sebuah pertanyaan di kepalanya yang membuat dirinya merasa terganggu.
"Ngomong-ngomong, di sini lebih banyak pegawai senior atau sebaliknya?" tanya Robin kepada Rina yang sedang membereskan berkas-berkas.
Rina mengalihkan pandangannya kearah Robin, "Restoran memiliki total 22 karyawan, 90% adalah karyawan senior, dan sisanya adalah anak magang."
Robin kembali mengangguk ketika mendengarnya, "Itu sudah cukup." ucapnya dengan suara rendah, "Baiklah, untuk saat ini saya harap kalian bekerja seperti biasanya dan tunggu berita dari saya untuk pergerakan selanjutnya. Mengerti?"
"Mengerti!" Rina mengangguk setelah ikut beranjak dari kursinya.
Setelah itu, Robin segera pergi dari restoran. Ketika sudah berada di luar, dia dapat melihat mobilnya sudah terparkir di parkiran restoran. Segera dirinya pergi menuju mobilnya setelah berbicara dengan Haris yang keluar untuk membukakan pintunya.
"Kita akan pergi ke tempat lain dulu." ucap Robin setelah duduk di kursi penumpang.
"Baiklah." Haris mengangguk.
Kemudian mereka pergi dari tempat tersebut, meninggalkan Rina yang baru saja keluar dari restoran. Tampak dirinya sedikit melebarkan mata ketika melihat mobil mewah yang digunakan oleh Robin.
"Tidak hanya tampan, ternyata beliau merupakan orang kaya… Pantas saja beliau percaya diri dengan apa yang diucapkannya." Rina bergumam, kemudian tersenyum tipis, "Semoga saja beliau tidak mengecewakan kami…"
Tak lama setelahnya, Rina pergi meninggalkan restoran dengan mobilnya. Dia tampak tidak sabar bekerja di bawah perintah Robin.