Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Gacha


Di tengah perjalanan pulang, muncul sebuah notifikasi hadiah yang tentunya langsung membuat Robin merasa bahagia. Tampak ujung mulutnya terangkat dengan wajah yang tidak sabar.


Karenanya, laju motor yang dia kendarai semakin cepat dan meliak-liuk di antara sela-sela kendaraan lain. Namun itu bukanlah sebuah masalah bagi Robin yang sudah terlalu hebat dalam berkendara berbagai jenis kendaraan.


Tak lama setelahnya, dia telah sampai di rumahnya, kemudian memarkirkan motor tepat di depan garasi. Dia sengaja tidak memasukkannya ke dalam karena sudah tidak tahan untuk melakukan gacha.


Dengan langkah cepat, Robin berjalan menuju kamarnya dan beruntung saat itu tidak ada yang melihat tingkahnya. Mungkin semua orang sedang bermain, pikir Robin.


Setibanya di dalam kamar, dia segera duduk di sisi ranjang dengan layar hologram sudah mengambang tepat di hadapannya.


"Mari kita lihat, apa yang akan aku dapatkan…" Robin tersenyum lebar dan hendak untuk memencet tombol gacha, paling tidak sebelum dirinya terpikirkan sesuatu.


"Ah, Sistem. Hadiah apa yang akan aku dapatkan?" tanya Robin kepada Sistem sambil sedikit mendongak.


[Semua sesuai keberuntungan Anda. Sistem gacha tidak memiliki tingkatan tertentu, sehingga apapun bisa Anda dapatkan. Tentunya diperlukan keberuntungan yang tinggi untuk mendapatkan hadiah fantastis.]


Robin mengangguk, kemudian dia kembali mengalihkan pandangannya ke Sistem. Seketika saat itu juga tatapannya berubah menjadi tajam, dia sangat serius dan berharap akan keberuntungannya.


"Satu kesempatan, satu hadiah memukau! Semoga!" ucap Robin kemudian memencet tombol gacha.


Tak lama setelahnya muncul animasi acak dengan kecepatan tinggi. Itu semua berlangsung selama lima detik. Dan ketika gacha sudah berhenti, Robin merasa kebingungan karena dia tidak mendapatkan notifikasi apapun atas hadiah apa yang dia dapat kali ini.


"Umm, Sistem?" Robin memasang wajah penuh pertanyaan.


[Maaf, Tuan. Sistem tidak memiliki animasi setelah gacha, sehingga hadiah Anda akan langsung tersimpan di penyimpanan Sistem.]


Mendengar penjelasannya, wajah Robin langsung berubah tenang, dia mengelus dadanya sambil menghela nafas ringan. Kemudian dengan cepat dia mengalihkan layar menuju penyimpanan Sistem.


Selain uang, pil, dan botol minuman, Robin dapat melihat sebuah berkas tersimpan di penyimpanannya. Dengan penasaran dia segera mengambil berkas tersebut dan membacanya secara seksama.


"Apa ini…?" Robin mengerutkan keningnya.


Setelah beberapa baris dari catatan tersebut, matanya tiba-tiba melebar dengan mulut yang terbuka hingga membentuk lingkaran. 


"Oh astaga, aku mendapatkan sebuah restoran… Ini adalah anugerah!" Robin merasa bahagia dan hampir saja melompat kegirangan.


Setelah cukup lama terlarut dalam kebahagiaan, dengan wajah bahagia dia menjatuhkan diri di atas ranjang tanpa mengendurkan senyumannya. Dia menatap langit-langit, dan terus memanjatkan rasa syukur di dalam hatinya.


"Huft… Aku terlalu bahagia sampai kelelahan seperti ini…" gumam Robin. "Tapi, bukankah ini merupakan keberuntungan yang besar, Sistem?"


[Anda benar, dan selamat karena telah mendapatkan kepemilikan sebuah restoran! Saya yakin Anda pasti dapat mengelolanya dengan baik!] 


Robin tersenyum mendengar ucapan selamat dari Sistem yang mengubah intonasi suaranya. Setelah mengangguk kecil, Robin memejamkan matanya sambil mengatur pola nafasnya yang tak beraturan.


Dia ingin menikmati ketenangan dengan perasaan bahagia ini lebih lama lagi. Paling tidak seberapa ponselnya berdering nyaring yang membuat konsentrasinya menjadi buyar.


"Hmm? Siapa ini?" Robin menekuk alisnya ketika melihat nomor tidak dikenal sedang menelpon dirinya.


Namun, karena takut jika itu penting, Robin mengangkat telponnya sambil membetulkan posisinya yang terbaring.


"Halo? Dengan siapa ini?" tanya Robin kepada orang di seberang telepon itu.


"Maaf telah ganggu aktivitas Anda, sebelum itu saya ingin bertanya, apakah Anda adalah Tuan Robin Dermawan?"


Setelah jeda beberapa detik, si penelpon yang bersuara perempuan itu kembali berbicara, "Saya adalah manager dari restoran yang kini sudah menjadi milik Anda. Jika berkenan, saya ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Anda hari ini."


Mendengarnya, Robin melebarkan mata, dia segera bangkit dari duduknya dengan mata yang berbinar semangat. 


"Ah, maaf. Baiklah. Saya akan segera kesana beberapa menit lagi, tolong tunggu sebentar!" jawaban Robin mencoba untuk tenang.


"Terimakasih. Saya akan menunggu Anda." 


Setelah itu, telepon ditutup oleh pihak restoran. Sedangkan saat ini Robin terlihat tengah memakai setelan formal yang tak pernah dia gunakan sejak awal membelinya.


"Akhirnya aku bisa memakai mu, sayang." ucap Robin sambil mengelus jas hitam miliknya.


Selesai dengan mengganti pakaiannya, Robin segera keluar dari kamar dan meneriaki nama Haris beberapa kali, hingga tak lama kemudian Haris datang dengan tergesa-gesa dan membungkuk.


"Ya, Tuan? Apa yang Anda butuhkan?" tanya Haris dengan patuh.


"Sebelum itu, apakah kau bisa mengendarai mobil?" Robin bertanya sambil membetulkan dasinya.


Tak menunggu jeda, Haris mengangguk, "Ya, Tuan. Saya memiliki keahlian itu. Jika boleh bertanya, untuk apa Anda mempertanyakan hal tersebut?" Haris mengamati setelan Robin yang begitu rapih dan tidak biasanya dia memakai pakaian seperti itu.


"Aku ada pertemuan penting, sekarang kau pegang kunci itu dan antar aku ke tempat yang ku tentukan! Cepatlah!" Robin melemparkan kunci mobilnya dan pergi keluar rumah dengan langkah cepat.


Tak berani menolak, Haris mengikuti Robin dari belakang dan mereka pun pergi dengan kecepatan rata-rata.


Sementara itu Sanaka secara tidak sengaja melihat kepergian mereka yang begitu tergesa-gesa. Dia melihat Robin dengan setelan rapih dan itu merupakan sebuah pemandangan yang sangat gagah baginya.


"Dasi Anda sedikit miring, Tuan…" gumam Sanaka dengan wajah yang melembut, kemudian berjalan menuju ruangan Vily dan Vino bermain.


***


Setelah sudah berada setengah jalan menuju tempat restoran, Robin tampak kesal dengan tangan mencengkeram kuat. Tatapannya terlihat begitu tajam memandangi jalanan yang secara mengejutkan menjadi macet.


"Sial, perasaan tadi tidak macet seperti ini. Dan kenapa harus terjadi disaat-saat seperti ini, astaga!" Kesal Robin menggerutu di kursi penumpang.


"Haris, berapa perkiraan waktu yang akan kita habiskan untuk sampai ke restoran?" tanya Robin dengan suara yang sedikit ditinggikan.


Haris melirik ke arah kaca mobil, "Menurut saya, kita membutuhkan 15 menit untuk sampai." jawab Haris dengan tenang.


"Itu lebih 5 menit dari waktu yang ku tentukan!" gerutu Robin sambil menggertakkan giginya.


Robin adalah orang yang tidak suka terlambat, sehingga kejadian saat ini membuatnya stres. Apalagi ketika mengingat bahwa pertemuan ini sangat penting bagi awal kariernya. Dia tidak ingin sampai dipandang buruk oleh pegawai sebelumnya dari restoran miliknya.


Setelah cukup lama memikirkan solusi, dengan berat hati Robin turun dari mobilnya, "Kalau begitu aku akan naik ojek saja, kau bisa terus melanjutkan perjalanannya untuk menjemput ku nanti. Ingat, nama restorannya adalah "One meal "! Jangan sampai kau salah tempat!"


Tak menunggu jawaban dari Haris, dengan pelan Robin membanting pintunya dan berlari melewati kemacetan untuk kemudian menaiki jok motor pengendara ojek.


"Apa yang Anda lakukan?" Ojek itu menoleh dengan wajah terkejut ketika melihat Robin menaiki motornya tanpa izin.


"Aku bisa melihat dari jaket mu, kau ojek, bukan? Tolong antar aku ke restoran One Meal, aku akan membayar dua kali lipat dari ongkir awal!" Robin mendesak, tak memberikan pilihan lain bagi tukang ojek itu untuk melaju melewati kemacetan.