Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Meludah


Setelah membicarakan hal itu lebih lanjut, akhirnya pertemuan mereka berakhir dengan persetujuan di kedua belah pihak. Hal itu tentu saja menjadi keuntungan bagi keduanya, namun untuk saat ini pihak yang diuntungkan hanyalah Aron.


Bagi Robin, keuntungan dia akan terlihat disaat pertaruhannya berhasil. Dan sekali lagi dia mengingatkan harapannya kepada Aron agar dia dapat melakukannya dengan baik.


Perusahaan Aron hanyalah anak dari perusahaan milik Ayahnya. Namun, mereka berada di jalur yang berbeda. Berbeda dengan perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang makanan, perusahaan Aron bergerak di bidang furniture, sehingga tidak terjadi persaingan diantara keduanya.


Ini memang aneh, namun semua itu karena Aron yang menginginkannya. Sebagai seorang ayah tentu saja dia tidak bisa membantah, yang bisa dia lakukan hanyalah berharap untuk kebaikan bagi anaknya.


Dengan suasana hati yang baik, Aron berpamitan dengan Robin dan pergi pulang menggunakan mobilnya. Dia bersyukur bisa melakukan kerja sama ini dengan dirinya yang turun secara langsung. Jika tidak, mungkin dia tidak akan pernah merasakan perasaan bahagia seperti saat ini.


Tak jauh beda dengan Aron, Robin juga pulang dengan senyuman. Ini merupakan kali pertama dirinya melakukan kerja sama setelah dua hari belakangan ini dia menggali informasi mengenai seorang investor.


Kali ini, karena sedang tidak terburu-buru, Robin melajukan motornya dengan santai sambil sesekali melihat sekeliling. Dia sedang mencari sesuatu untuk dirinya bawa pulang agar dapat dibagikan kepada keluarganya.


Namun, tak sekalipun dia menemukan sesuatu yang cocok. Itu sedikit membuatnya kecewa, tapi apalah daya ini hanyalah hadiah kecil yang mungkin tak terlalu berarti juga.


Jadi, dengan melupakan rencananya, Robin kembali fokus pada perjalanan pulangnya. Namun, ketika dia berada di jalanan yang cukup sepi, tiba-tiba saja muncul beberapa mobil berwarna hitam menutup jalannya tanpa meninggalkan sedikitpun celah.


Melihat itu, Robin hanya bisa menghela nafas berat. Dia tahu siapa dan apa alasan bagi mereka untuk melakukan semua ini. Sehingga dengan malas dia turun dari motornya, kemudian melepaskan helmnya.


"Astaga, mengapa kalian menghalangi akses jalan? Ini adalah jalanan umum, lho!" Robin sedikit meninggikan suaranya ketika mengatakan itu.


Tak mendapatkan jawaban, namun perlahan pintu mobil terbuka yang kemudian muncul beberapa orang berpakaian rapih dengan aura yang menyeramkan.


Mereka tampak menutupi tatapan tajamnya dari balik kacamata hitam. Namun tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran mereka saja sudah berhasil membuat Robin merasa tertekan.


"Waduh, apa kalian tahu bahwa memakai kacamata hitam di waktu seperti ini bakal membuat kulit kalian cepat kebakar, lho.  Apakah kalian tidak takut itu?" Robin kembali membuka suaranya, namun kali ini disertai nada mengejek.


Provokasi yang Robin lakukan ternyata berhasil membuat salah satu dari mereka tampak tersinggung. Saat ini wajahnya berubah menjadi merah dengan urat-urat menonjol di keningnya.


"Tutup mulutmu, bajingan…" Orang tersebut menahan suaranya dengan tangan mengepal kuat.


Robin dapat mendengar itu, dan sekarang dirinya tersenyum mengejek sambil sedikit menutupi mulutnya dengan tangan.


"Eh? Apakah itu menyinggungmu? Maaf deh. Lagian kenapa juga kalian berpenampilan seperti itu ketika akan bertarung denganku? Apa mungkin… Kalian meremehkan ku?" Robin menekankan suaranya disertai tatapan dingin ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Sekali lagi, tutup mulutmu dasar bajingan!!" Orang tersebut mendongak, menatap tajam ke arah Robin.


"Tidak mau…" 


Melihat sikap Robin yang menyebalkan, kesabaran mereka telah mencapai batasnya. Rencana yang pada awalnya ingin menculik Robin dengan tenang, kini terpaksa harus melawan pria itu dengan segenap kekuatan, sekaligus melampiaskan kekesalan mereka.


"Sialan! Serang dia!" Teriak pria tersebut kemudian diikuti oleh anak buahnya yang berlari secara bersamaan menuju Robin.


Mereka berlari tanpa membawa senjata, mungkin berpikiran bahwa Robin hanyalah mangsa yang empuk bagi mereka.


'Satu, dua, hmm ada lima orang. Ini akan berjalan dengan mudah…' pikir Robin dengan serius, dan tak lama kemudian muncul sebuah senyuman tipis di wajahnya.


'Ini akan menjadi menarik untuk mengetes kekuatanku…' lanjutnya.


Tak selang berapa lama, salah satu dari mereka melayangkan tinjuan ketika sudah berada satu meter dengan Robin.


Namun serangan itu dapat dihindari dengan mudah, Robin memiringkan kepalanya dan menangkap tangannya bagian siku untuk kemudian dia lipat ke arah yang berlawanan. Dia melakukan itu dengan kecepatan yang luar biasa.


Hal itu tentu saja membuat tangan pria tersebut menjadi patah, dia kemudian menjerit kesakitan sambil memegangi tangan dengan posisi tubuh yang sudah terkapar.


Sementara itu, Robin tampak merasa tidak percaya dengan apa yang dia lakukan sebelumnya. Reaksi, kecepatan, serta kekuatan yang dia keluarkan terasa seperti melebihi sebelumnya.


'Apakah ini efek yang kudapatkan setelah menambahkan dua poin pada Agility? Sungguh menakjubkan…' Robin sedikit melebarkan matanya sambil melihat korbannya sedang mengerang kesakitan di atas aspal.


Tapi, disaat Robin sedang tenggelam dalam pikirannya, satu orang lainnya kembali melanjutkan perjuangan temannya yang telah tumbang.


"Mati kau, sialan!!" Teriak orang tersebut menyadarkan Robin dari lamunannya.


Karena kesadaran yang telah kembali ke kenyataan, Robin dapat menghindari serangan tersebut yang kembali mengarah pada wajahnya. Dia melakukan gerakan menyamping. Namun setelah menghindarinya, dia dikejutkan oleh serangan lain yang datang dari arah berlawanan.


Walaupun dia berhasil menghindari serangan tersebut, dirinya tetap tak berhasil untuk tindakan selanjutnya yang mereka lakukan. Karena secara mengejutkan, kedua lengan Robin dikunci oleh tubuh salah satu dari mereka.


"Aha… Kalian ternyata Mafia seperti kalian suka melakukan cara kotor seperti ini. Mengejutkan sekali…" ucap Robin dengan senyuman mengejek.


"Hmm? Kau ternyata bisa tetap tenang walaupun sudah dalam keadaan seperti ini. Sungguh mengejutkan…" 


Terdengar suara seseorang dibalik seorang pria di hadapan Robin, dan ketikan dia menyingkir dari sana, tampak pemimpin dari kelompok tersebut sedang melangkah tenang sambil memainkan pisau kecil miliknya.


'Wah, jadi seperti ini rasanya menjadi karakter utama dalam film aksi? Ternyata asik juga…' Robin melebarkan matanya ketika menyadari bahwa kondisinya saat ini mirip seperti yang terjadi di beberapa film aksi.


Namun, reaksinya tersebut malah menimbulkan kesalahpahaman bagi pemimpin kelompok tersebut yang menganggap bahwa Robin sedang terkejut dan ketakutan sekarang.


"Nah, seperti inilah harusnya wajah seorang pengecut sepertimu…" ucap pria tersebut dengan wajah yang mendekat sambil memasang seringai lebar.


"Wajahmu sangat menjijikkan, cuih!" Robin meludah pada wajah pria itu yang membuat dia melangkahkan kebelakang sambil mengelap ludah Robin dengan tangannya.


"Sial, dia meludah!" ucapnya dengan perasaan jijik.


Melihat pemandangan tersebut, Robin tersenyum lebar dan tertawa terbahak-bahak, walaupun tubuhnya masih dalam kuncian pria dibelakangnya.


"Pfft, hahaha!! Lihatlah wajahnya yang jelek itu! Dengan ludahku, wajahnya terlihat semakin menjijikkan, hahaha!!" Ejek Robin tak menghentikan tawanya yang begitu renyah di dengar.