Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Wanita Tercinta


Robin menatap tajam ke arah mereka untuk beberapa saat, kemudian dengan gerakan cepat dia berlari menuju pemimpin preman dan menarik kerah bajunya, hingga membuat tubuhnya kembali terangkat setelah dalam posisi terjatuh.


"Kau telah menendangnya berkali-kali dan bahkan sampai merebut belanjaannya. Itu tidak dapat diampuni…" Suara dingin kembali terdengar layaknya angin malam yang menyayat kulit.


Pria kekar itu tampak gemetar hebat, dia ingin memberontak, namun semuanya percuma. Yang dapat dia lakukan saat ini hanyalah memejamkan mata dan berhawa bahwa semuanya tidak terasa menyakitkan.


Walaupun begitu, kali ini Dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepadanya. Karena untuk beberapa saat kemudian, pipinya dapat merasakan tamparan keras yang bahkan sampai membuat pipinya menjadi mati rasa.


"Ini untuk tindakanmu yang merebut belanjaannya…" ucap Robin tak mengubah nada suaranya.


Kemudian serangan berikutnya dilanjutkan dengan tamparan untuk pipi kanannya. Kembali lagi, suara renyah dapat terdengar dan kemudian meninggalkan bekas merah di pipi pria itu.


"Ini untuk tindakanmu yang mendorong tubuhnya…" Lanjut Robin.


Tamparan kedua terlihat sangat menyakitkan bagi mereka yang sedang menonton adegan tersebut, termasuk untuk wanita itu yang sedang mencengkram kedua tangannya dengan tatapan khawatir.


Tidak ada yang berani untuk memisahkan mereka, bahkan pria kekar itu merasa tidak bisa bergerak. Walaupun sakit, dia terpaksa harus menahannya dan berharap bahwa semuanya akan berakhir.


Tak puas, Robin hendak menamparnya kembali, paling tidak sebelum wanita itu menghampirinya dan menahan tangannya dari belakang. 


Awalnya, tindakan wanita itu hampir saja membuat Robin kesal. Namun ketika dia menoleh, dirinya dapat melihat ekspresi wanita itu sedang menekuk alisnya dengan kekhawatiran.


"Hentikan itu, Tuan… Saya merasa semuanya sudah cukup… Anda tidak perlu melanjutkannya lagi…" Harap wanita itu dengan suara rendah yang bergetar.


Perlahan-lahan wajah mengerikan Robin mulai luntur dengan sendirinya. Tindakan wanita itu berhasil membuat Robin kembali tersadar dari amarahnya, perlahan dia menjatuhkan tubuh pria itu dan berbalik untuk menghadap kepada wanita itu.


"Kamu…" Robin spontan memegangi wajah wanita itu sambil memasang ekspresi kusut, "Kamu tidak terluka!? Bagian mana yang sakit!? Apakah mereka tidak melakukan sesuatu yang berbahaya!?" Robin menelusuri setiap titik dari wajah wanita itu.


Diperlakukan seperti itu membuat wanita tersebut menjadi salah tingkah, dengan gerakan refleks dia menahan tubuh Robin sambil memalingkan wajahnya yang tersipu.


"T-tolong hentikan itu, Tuan!!" ucapnya dengan mata terpejam.


Mendengarnya, Robin pun ikut malu, dengan cepat dia menutup mulutnya. 'Astaga, apa yang kupikirkan? Dia masih lah seorang gadis, ini adalah pertemuan pertama kita di timeline baru…' pikir Robin.


Melihat suasana mereka yang seperti sedang menjadi ABG, para preman pasar memanfaatkannya dengan cara perlahan-lahan melarikan diri sambil membawa pemimpin mereka yang sudah kehabisan tenaga.


Sementara itu, Robin yang tak peduli dengan mereka lagi segera mengalihkan pandangannya kepada wanita itu yang sekarang sudah menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


"Emm… Ini belanjaan kamu… Maaf sudah menunjukkan pemandangan yang tidak enak…" ucap Robin sambil memberikan kresek belanjaan milik wanita itu.


"T-tidak masalah, Tuan. Justru saya lah yang seharusnya berterima kasih kepada Anda…" jawab wanita itu dengan nada rendah.


Dengan begitu, suasana seketika menjadi canggung, keduanya sama sama tidak mengetahui harus membahas apa lagi. Sehingga dengan cepat wanita itu membuka suaranya untuk berpamitan.


"B-baiklah, Tuan. Sepertinya saya harus segera pulang sebelum Tuan Rumah marah…" ucapnya kemudian berjalan melewati Robin, namun segera langkahnya dihentikan oleh Robin.


"Emm, maaf. Tapi, bagaimana jika aku mengantarmu pulang? Ditakutkan kalau mereka belum menyerah…" Robin tampak sedikit tak percaya diri.


Mendengar persetujuannya, Robin segera menuntun wanita itu untuk menuju motornya diparkirkan. Dan setelah beberapa perbincangan ringan, mereka pun segera berangkat menuju tempat yang sudah ditentukan.


"Kamu kerja sebagai pembantu, kah?" tanya Robin di perjalanan sambil sedikit menolehkan kepalanya.


"Iya… Saya sudah bekerja sebagai pembantu sejak masih kecil…" jawabnya tepat di samping telinga Robin.


"Begitu kah…?" 


Robin mengangguk kecil. Tanpa diketahui oleh wanita itu, sekarang dirinya sedang tersenyum tipis sambil memandangi kaca spion yang memantulkan wajah wanita yang tak lain adalah Wulan, istrinya.


'Aku tidak menyangka kita akan bertemu secepat ini…' batin Robin merasa bahagia.


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, akhirnya mereka telah tiba tepat di depan gerbang mansion besar yang mana gerbangnya saja sudah terlihat sangat lebar.


'Seperti yang diharapkan dari seorang pengusaha…' pikir Robin merasa sedikit takjub dengan pemandangan yang dia lihat saat ini.


Namun, lamunannya dengan segera dibuyarkan okeh Wulan yang sudah turun dari motor dan menepuk pundaknya dengan lembut.


"Terimakasih ya, Tuan, telah mengantar saya sampai ke rumah." ucapnya sedikit membungkuk dan membuat Robin menjadi salah tingkah.


"E-eh, itu tidak masalah. Justru itu menjadi sebuah anugerah bagiku— Ah, maksudnya aku juga tidak keberatan untuk mengantarkan mu!" Robin berbicara dengan terbata-bata. Ini terasa seperti ketika awal mereka berkencan.


Melihat sikap Robin yang salah tingkah, Wulan terkekeh kecil, "Baiklah…" ucap Wulan. "Ngomong-ngomong, apakah tidak masalah bagi saya untuk mengetahui nama Anda, Tuan?"


Robin mengangguk, "Itu bukanlah sebuah masalah. Tapi, aku berharap kamu tidak se-kaku itu ketika sedang mengobrol bersamaku." Robin sedikit mengeluhkan sikap Wulan yang terlalu kaku.


Mendengarnya, tampak Wulan menjadi tersipu malu, "Maafkan saya, Tuan! Ini sudah menjadi kebiasaan saya sejak kecil, dan Anda merupakan seseorang yang sudah menyelamatkan saya, jadi rasanya tidak sopan jika saya memanggil Anda dengan sebutan "Kau " atau "Kamu"..." ungkap Wulan tak berani menatap wajah Robin.


'Sial, kenapa dia sangat menggemaskan ya tuhan!!' Robin menjerit gemas di dalam hatinya.


"Haha, itu tidak masalah. Lagipula ini merupakan keinginanku, dan kuharap kamu juga tidak masalah dengan ini…" Robin menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan suara canggung.


Setelah berdiam selama beberapa detik, akhirnya Wulan memperkenalkan dirinya, walaupun saat ini Robin sudah mengetahui segalanya tentang Wulan. Namun apa salahnya untuk memulai semuanya dari awal?


Kemudian, dengan ditutupi oleh beberapa perbincangan ringan, mereka pun berpisah dengan Wulan yang segera memasuki gerbang setelah pagarnya terbuka lebar dan menunjukkan mobil mewah sedang berjalan keluar secara perlahan.


Saat melihat kehadiran mobil tersebut, Wulan membungkuk dengan sopan kepada seseorang yang berada di dalamnya. Begitu juga dengan Robin yang secara spontan menyipitkan matanya dan melihat sesosok pria berkumis sedang duduk di kursi penumpang dengan wajah datar, tak peduli dengan salam dari Wulan.


'Pria itu…' 


Robin menatap tajam ke arah pria berkumis yang tak lain adalah Tuan Rumah dari mansion besar ini. Dia adalah Ronal Mustofa. Seseorang yang telah dibenci oleh Robin dan Wulan dari timeline sebelumnya.


Setelah mobil itu berjalan melewatinya, Robin kembali tersadar dari lamunannya. Segera dia memakai kembali helmnya, kemudian menyalakan motornya untuk segera pergi dari teman tersebut.


'Aku hampir melupakan keberadaannya… Tapi aku berharap bahwa kejadian itu masih belum terjadi. Aku tidak ingin melihat Wulan menjadi menderita karena ulahnya!' pikir Robin dengan api yang membara di dalam matanya.