Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Bantuan Rina


Sebelumnya, Robin mendapatkan misi ketika sedang berkumpul dengan kedua Pelayannya. Dia terkejut. Namun, melihat misi yang tak memiliki durasi, Robin mengabaikannya untuk sementara waktu.


Lalu setelah membeli dua mobil baru, Robin yang sudah masuk ke dalam mobilnya menelfon Rina. Tanpa basa-basi, Robin meminta Rina untuk bertemu.


Menurut Rina, permintaan Robin terlalu mendadak. Dia juga berpikir, bukankah pertemuan sebelumnya itu sudah cukup? Namun, semua pemikiran itu terpaksa harus dibuang, mengingat Robin adalah Bosnya yang baru.


Setelah telfon ditutup, Rina segera mengganti pakaian santainya menjadi lebih formal. Sepuluh menit dia habiskan untuk semuanya dan akhirnya tiba di sebuah kafe, tempat pertemuan yang diinginkan oleh Robin.


***


Sekitar sepuluh menit kemudian, Rina menarik nafasnya, mengakhiri penjelasan dengan senyuman malu. Dia tidak sadar telah berbicara banyak hal di depan Bosnya. Ini merupakan hal yang memalukan.


"M-maafkan saya karena telah membicarakan banyak hal …" Rina merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Di hadapan tatapan Robin, dia tertunduk, mencengkram pakaiannya dan berhawa semua ini cepat berakhir.


Robin tersenyum, hendak tertawa. Dia merasa lucu dengan reaksi Rina yang tak terduga. Wajah dinginnya ternyata bisa menunjukkan rona merah seperti itu, pikirnya.


"Tidak … Itu malah membantuku." Robin telah mendapatkan kembali ketenangannya.


Rina mendongak, matanya sedikit terbuka lebar. Di dalam pandangannya, wajah Robin terlihat lembut dan cerah, entah mengapa itu berhasil menciptakan ketenangan baginya.


"B-begitu, ya … Terimakasih …" suaranya terdengar samar-samar, dia malu untuk mengungkapkannya dengan lantang.


Di hadapan Bos barunya, Rina merasa telah menunjukkan sikap yang tidak sopan. Jika saja dia melakukannya kepada orang lain, mungkin dia akan mendapatkan tamparan ringan sebagai hukumannya.


"Tapi, ya … Jujur saja saya merasa tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Rina, apakah Anda memiliki kenalan yang dapat membantu saya dalam urusan ini?" Robin bertanya, hembusan nafas terdengar sebelum kalimatnya dimulai.


Kenalan? Sesaat Rina merenung, dia mencoba mencari daftar seseorang didalam ingatannya. Seseorang yang setidaknya dapat melakukan tugas dengan baik.


Robin menunggu jawaban Rina dengan tangan dilipat, wajahnya menoleh ke samping dan melihat sekumpulan orang sedang menikmati kopi mereka sambil berbincang dengan temannya.


Mengingat kehidupan sebelumnya yang tak pernah mengalami hal seperti itu, Robin sedikit iri. Walaupun sikapnya selalu terlihat tenang, sebenarnya Robin masihlah manusia biasa, dia menginginkan momen dimana dirinya dapat membicarakan segala hal yang dia gemari.


Bukankah dia memiliki mereka di rumahnya?


Itu memang benar. Namun, melihat sikap mereka yang begitu kaku, Robin merasa percuma untuk melakukannya dengan mereka. Paling tidak dia hanya akan mendapatkan tanggapan yang didasari oleh rasa hormat. Itu terasa tidak menyenangkan.


Beberapa detik berlalu, Robin melihat Rina sudah mengubah ekspresinya, menandakan bahwa dirinya sudah menemukan seseorang yang cocok. Menunggu jawabannya, Robin menyesap kopi miliknya.


Menunggu Robin selesai dengan kopinya, Rina menjelaskan, "Jika Anda membutuhkan seseorang untuk mendaftarkan keponakan Anda ke sekolah, maka saya memiliki beberapa kenalan yang dapat melakukannya dengan baik."


"Oh, ya? Kira-kira siapa saja mereka?" Robin mengangkat kedua alisnya, berharap semuanya berlangsung dengan alur yang tenang.


"Namanya adalah Ana, dia merupakan teman saya waktu SMA. Selesai dengan pendidikannya, Ana memutuskan untuk menjadi seorang guru di sekolah. Namun, baru setahun ini dia menjabat sebagai wakil kepala sekolah di sekolah swasta ternama. Jadi, saya rasa dia dapat mendaftarkan keponakan Anda ke sekolah itu dengan mudah. Bagaimana menurut Anda?" 


Robin mendengarkan dengan seksama, kepalanya naik turun sepanjang penjelasan. Mendengar apa yang dikatakan, Robin merasa itu merupakan pilihan yang tepat.  Wakil kepala sekolah sudah lebih dari cukup untuk mempermudah urusannya.


"Itu bagus." Robin mengangguk, "Apakah Anda tidak keberatan jika harus menghubunginya? Saya rasa tidak pantas jika saya sendiri yang mengabari nya, ditakutkan itu akan mengganggu kesibukannya." 


Walaupun merasa enggan, Robin terpaksa harus mengatakannya. Berhubungan dengan misi, Robin merasa perlu untuk terus berhubungan dengan Rina. Dan cara yang paling mudah adalah menciptakan situasi dimana Rina berperan sebagai penghubung antara kedua pihak.


Untuk situasi saat ini, pihak yang dimaksud adalah Robin dan Ana, teman Rina.


Telfon berdering, hanya sekali. Dua detik diisi oleh jeda. Kemudian, terdengar suara lembut dari dalam telfon, itu adalah Ana.


Robin sedikit menekuk alisnya. Jelas saja dia mendengar suara wanita di speaker ponsel Rina. Apakah dia langsung mengabari nya? Bukankah ini terlalu cepat? pikir Robin.


"Halo? Rina?" 


Rina tampak melebarkan senyuman, "Halo, ini aku Rina! Bagaimana kabarmu, Ana?" Rina terdengar bahagia, sudah lama dia tidak berkomunikasi dengan sahabatnya itu.


"Ini benar Rina!? Ah! Dari mana saja kamu!" Ana terdengar sedikit menjerit bahagia. Tampaknya mereka berdua memiliki perasaan yang sama.


Kemudian, obrolan dilanjut dengan pertukaran kabar, sedikit curhatan, dan berakhir dengan topik utama. Sepanjang itu, Robin tak terlalu peduli, dia menyesap kopinya dan kembali mengamati situasi sekitar yang mana semakin dipadati oleh pelanggan.


'Ini adalah cafe, tidak heran mayoritas pelanggannya adalah anak muda. Tetapi, aku juga termasuk anak muda, sih …' pikir Robin, senyuman narsis tiba-tiba terukir di wajahnya.


Seperti sebelumnya, kesibukan Rina berakhir dalam waktu singkat. Lima menit setelahnya, Rina menutup telfon dan memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


Robin sedikit melirik dan membetulkan posisi duduknya lagi. Kali ini, dia merasa semakin bingung dengan alasan mengapa dirinya harus bertemu Rina? Namun, dia tetap mencoba untuk mengikuti alur dan mempercepat penyelesaian misi.


'Walaupun tak memiliki durasi, jika tidak diselesaikan, misi ini akan menghambat misi lainnya. Sehingga aku harus mempercepat semuanya agar tetap mendapatkan penghasilan besar setiap harinya.' pikir Robin, tekadnya semakin membara.


"Maaf lama, Pak." ucap Rina, merasa bersalah karena telah membuat Bosnya menunggu.


Robin menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah. Itu tidak terlalu lama."


Rina merasa lega. Dia menarik nafasnya, kemudian mulai mengatakan sesuatu, "Dia setuju dan akan bertemu dengan Anda untuk membicarakan semuanya lebih lanjut. Apakah itu tidak masalah?"


Sedikit kecewa, Robin teepaksa mengangguk. Dia merasa telah membodohi dirinya dengan berharap sesuatu yang lebih. Dia pikir urusan itu akan diselesaikan oleh Rina seorang diri, tapi memang benar, pemikiran tidak tahu diri itu pastinya tidak akan sesuai harapan.


"Tidak masalah, itu lebih baik. Rencananya, kapan dia ingin bertemu? Atau saya sendiri yang menentukan jadwalnya?" tanya Robin, mencoba untuk menutupi kekecewaannya.


"Dia menyerahkan jadwal pertemuannya kepada Anda, tetapi diusahakan sekitar hari Jum'at atau Minggu saja, karena pada hari itu, banyak waktu luang baginya." Jelas Rina dengan tenang, kemudian menuliskan sesuatu di atas secarik kertas kecil, kemudian dia berikan kepada Robin.


"Ini adalah nomornya! Saya harap itu sudah membantu …" Lanjut Rina.


Robin menerima kertas itu, melihatnya sejenak, kemudian memasukkannya ke dalam saku di balik jaketnya. Sekarang dia sedang mengenakan jaket kulit, berbeda dengan Rina yang tampak sangat formal dengan kemeja dan rok kantoran.


"Terimakasih, ini sudah lebih dari cukup." ucap Robin membuat Rina merasa bahagia. Membuat Bosnya senang merupakan sebuah pencapaian beda baginya.


"Kita sudah terlalu lama di sini, bagaimana jika kita pindah tempat saja?" Robin menambahkan, membuat Rina bingung dan menekuk alisnya.


"Maksud Anda? Bukankah kita ingin membahas pekerjaan di sini?" tanya Rina.


Robin tersenyum samar, namun di dalam hatinya dia sedang memaki dirinya sendiri karena telah melupakan hal penting untuk memberitahukan kepadanya tujuan mereka bertemu.


"Ah … Maaf. Saya lupa untuk itu. Tapi, saat ini saya lapar, rasanya ingin makan siang dengan kenyang. Kopi dan roti saja tidak cukup bagi saya." ucap Robin sambil nyengir kuda.


Rina terkejut mendengarnya. Ternyata orang kaya sepertinya juga tidak kenyang hanya karena memakan roti? pikirnya merasa terkejut dengan informasi langka seperti ini.