Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Merepotkan


Wanita paruh baya itu telah kembali, tampak wajahnya sedikit basah karena sebelumnya dia mencuci mukanya. Dengan langkah ringan dia berjalan menuju kursi sebelumnya.


Namun, dia mendapati kursi itu telah kosong dan hanya menyisakan beberapa cucian gelas kotor yang diberikan oleh Rendi. Wanita itu menghela nafas berat ketika mengetahui bahwa Rendi kembali melarikan diri dan meninggalkan setumpuk tagihan yang belum dibayar.


"Hah… Aku pikir dia benar-benar mabuk. Ternyata itu hanyalah strateginya untuk melarikan diri… Aku sudah ditipu lagi olehnya…" gumam wanita itu merasa pasrah dan segera membersihkan gelas-gelas kotor yang menumpuk di atas meja kecil, sebelum pada akhirnya dia membuka bar.


***


Sementara itu, di gang gelap yang letaknya hanya belasan langkah dari bar, tampak Robin masih mematung dan menatap sosok Rendi yang sedang melebarkan matanya karena terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Robin sebelumnya.


"A-apa maksudmu? Kenapa kau mengatakan hal itu kepada orang yang tidak dikenal?" Rendi mencoba untuk tenang, "Maaf saja, tapi aku tidak memahami maksudmu, selamat tinggal."


Tak ingin berlama-lama lagi, Rendi membalikkan tubuhnya dan hendak untuk berjalan meninggalkan Robin. Paling tidak sebelum pundaknya ditahan kuat oleh Robin.


"Berhenti." Robin berkata dengan dingin.


Hawa tak menyenangkan itu berhasil membuat Rendi menjadi merinding, dia merasakan seluruh tubuhnya diselimuti oleh hawa dingin. Dan dengan ragu dia pun menoleh kebelakang.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Rendi suaranya terdengar sudah tidak kuat menyembunyikan ketakutannya.


"Cukup berikan saja apa yang kau curi, aku tidak ingin berlama-lama lagi di sini." ucap Robin tetap konsisten dengan aura menakutkan miliknya.


Rendi merasa semakin tidak nyaman, dia berdiri dengan gugup dengan tatapan yang masih terlihat sedikit mabuk. Namun, satu hal yang terus mengganggu pikirannya adalah, 


'Kenapa dia bisa mengetahuinya? Dan siapa dia?'


Tak hanya fakta bahwa dirinya telah mencuri cincin Tania, namun keberadaan Robin yang mengetahui fakta tersebut juga perlu dipertanyakan.


Selama Rendi bermain ke rumah keluarga Wijaya, dia tak pernah sekalipun melihat sosok Robin berkeliaran di sana. Itu sedikit membingungkan bagi Rendi yang mana saat ini kepalanya sedang dilanda rasa pusing yang begitu berat.


"Kenapa kau diam saja? Cepat berikan itu sebelum aku melakukan sesuatu kepadamu." ucap Robin sudah berada di ambang kesabaran.


"Siapa kau? Dari mana kau mengetahuinya?" Setelah keheningan yang cukup lama, akhirnya Rendi kembali membuka mulutnya dengan suara yang gemetar lemas.


Mendengarnya Robin sedikit mengangkat sudut mulutnya, dengan cengkraman kuat dia mencengkram kedua pundak Rendi sambil menatapnya tajam.


"Akhirnya kau mengaku juga. Aku tidak akan memberitahukan identitas ku, dan aku juga tidak peduli dengan identitas kau atau apa alasan kau melakukan semua ini. Namun yang ku butuhkan saat ini adalah cincin itu…" ucap Robin semakin memperkuat cengkraman tangannya.


Merasa tak memiliki jalan keluar, Rendi yang sudah terpojok dengan sekuat tenaga menghempaskan tangan Robin, "Melihat kau bersikap seperti itu, tampaknya kau adalah suruhan si Ronal bajingan itu!"


Robin menekuk alisnya, dia menatap Rendi dengan tatapan aneh. Ronal? Bahkan berbicara dengan dia aku tidak pernah! pikir Robin sedikit menjerit di dalam hatinya.


Merasa perbincangan biasa tidak akan menyelesaikan masalah, dengan cepat Robin mencekik leher Rendi, tatapannya begitu tajam menusuk ke dalam pandangannya.


Dengan syarat berat dia berkata, "Cepat serahkan saja itu, sialan!" Robin terlihat sangat marah sekaligus ketakutan dengan hukuman yang akan diberikan oleh Sistem kepadanya.


"Aku… Tidak… Membawanya…" Rendi mencoba menjelaskan, walaupun sulit untuk berbicara.


Mendengarnya, Robin semakin khawatir, 'Sistem, apakah yang dia katakan itu benar!? Kalau seperti itu, kenapa kau mengarahkan diriku kepadanya!?' 


[Tidak, Tuan. Saya sudah benar menunjukkan targetnya, dia sedang berbohong kepada Anda. Kenapa tidak Anda cek saja sendiri? Ingat, sekarang durasi sudah semakin menipis.]


Robin merasa itu masuk akal, dengan cepat dia kembali mendapatkan ketenangannya. Setelah menghembuskan nafas berat, Robin menghempaskan tubuh Rendi ke tembok samping.


Hal itu menyebabkan tubuh Rendi menjadi kesakitan, akibat hentakan kuat yang terjadi, sesaat kesadaran Rendi keluar dari tubuhnya yang membuat dirinya pingsan untuk beberapa waktu.


"Aku merasa ini terlalu overpower bagiku…" gumam Robin merujuk pada kekuatannya yang sudah tidak masuk akal untuk seukuran manusia sepertinya.


Namun segera dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah Rendi yang sedang terkapar di antara tumpukan sampah. Itu merupakan pemandangan yang tidak diinginkan oleh Robin, mengingat rencana awalnya bukanlah untuk menyakiti, tetapi hanya sekedar menyelesaikan misi.


Itu semua tak membutuhkan usaha yang ekstra, beberapa menit kemudian dia menemukan cincin kecil dengan ukiran kecil terlihat di cincin tersebut. Robin sedikit menyipitkan matanya ketika membaca tulisan yang terukir.


"Hmm... Dia pria yang sama seperti di masa depan. Sungguh disayangkan karena dirinya mencintai wanita yang salah." gumam Robin, kemudian tersenyum kecut sebelum pada akhirnya kembali melihat kondisi Rendi yang begitu mengenaskan.


"Entah untuk alasan apa dia melakukan ini. Aku juga tidak pernah melihatnya di masa depan. Dan semoga ini bukanlah sebuah petaka bagiku..." ucap Robin sedikit khawatir. "Tapi, aku berharap kau tak mengganggu perjalananku kedepannya, dan hiduplah dengan tenang sebagai seorang pria biasa. Masalah ini akan kuambil alih."


Setelah mengatakannya, Robin berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Rendi sendirian. Dan tanpa pengetahuan Robin, sebenarnya sejak awal Rendi sudah kembali tersadar, bahkan dirinya dapat mendengar seluruh ucapan Robin sebelumnya.


Namun, dia memilih untuk berpura-pura pingsan agar dapat selamat tanpa perlu menyiksa dirinya lebih lama lagi.


Dengan mata yang terbuka satu, Rendi dapat melihat kepergian Robin yang begitu tenang meninggalkan dirinya sendirian dalam kondisi mengenaskan seperti itu.


"Apa yang dia katakan?" gumam Rendi.


***


Sementara itu, Robin yang sedang menuju ke restorannya kini terlihat sedang memasang senyuman yang ditunjukkan untuk memperlihatkan kebahagiaannya karena telah mendapatkan hadiah yang begitu besar.


[Anda mendapatkan: 1.500.000.000 Rupiah, 2 Poin Sistem, dan 1 kesempatan gacha.]


[Status]


[Nama: Robin Dermawan.]


[Usia: 22 Tahun.]


[Pekerjaan: Pengelola Restoran.]


[Strength: 11]


[Agility: 12]


[Durability: 8]


[Intelligent: 7]


[Sistem Poin: 6]


[Saldo: 2.775.700.000 Rupiah]


<< Penyimpanan >>


<< Toko >>


Dengan senyuman menghiasi wajahnya, Robin akhirnya sampai di restoran miliknya. Dia dapat melihat parkiran yang dipenuhi oleh kendaraan. Melihatnya tentu saja menimbulkan asumsi bahwa restoran Robin kini sedang banyak pelanggan.


"Hmm? Ini terlihat sangat ramai. Aku penasaran bagaimana kinerja kerja mereka disaat seperti ini." gumam Robin sambil tersenyum tipis dan kemudian berjalan memasuki restoran yang terlihat sangat ramai.


Setibanya di dalam restoran, Robin kebingungan untuk mencari tempat duduk yang kosong. Dia mengedarkan pandangannya, berharap akan mendapatkan tempat yang setidaknya bisa dia gunakan untuk duduk.


Namun, sekeras apapun dia berjuang, yang dia dapatkan hanyalah fakta bahwa tidak ada satupun tempat duduk yang tersisa. Hingga beberapa saat kemudian, muncul seorang pelayan menghampirinya dengan senyuman ramah.


"Apakah Anda sedang mencari tempat duduk, Tuan?" tanya dirinya membuat Robin sedikit tersentak karena terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


"A-ah... Itu benar. Tapi, sepertinya tidak ada tempat bagi saya untuk duduk." Robin menjawab layaknya seorang pelanggan.


"Kalau begitu, saya akan mengantarkan Anda ke tempat yang kosong... Tolong ikuti saya..." ucap pelayan itu kemudian berbalik dan berjalan, begitu pula dengan Robin yang mengikutinya dari belakang.