Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Goro


Setelah mengalahkan satu lawan yang sulit, Robin dihadapkan dengan lawan sulit lainnya. Mengapa sulit? Karena pria itu adalah pemimpin kelompok tersebut, Goro.


Goro menatap Robin, dia tidak menduga Robin masih memiliki tenaga untuk mendorongnya. Namun karenanya dia merasa sedikit tertantang. Entah mengapa, Goro ingin melawan Robin dan merasakan kekuatannya secara langsung.


"Aku lihat kau cukup pandai bertarung. Bagaimana jika kita bertarung dan bertaruh?" Ucap Goro, volumenya tinggi. 


Senyuman di wajah Goro menunjukkan keseriusannya. Menekuk alis, Robin berpikir sejenak, "Bertaruh? Apa kau rela jika harus berlari sambil telanjang?" 


Perlahan Robin bangkit, menggantung katanya di pinggang. Dia berdiri, terdiam dan menunggu Goro menjawab perkataannya. Alih-alih menjawab, Goro tertawa lepas sambil menutupi wajahnya.


"Haha!! Kau sebegitu percaya diri sehingga berani bertaruh seperti itu kepadaku!!" Ucapnya, terdengar mengejek dan merendahkan Robin. "Maaf saja, tapi aku yang akan memenangkannya!" 


Goro melupakan tujuan utamanya. Dia tidak ingin membunuh Robin semudah itu, paling tidak dirinya ingin melihat ekspresi kesakitan dari wajah Robin yang memohon pengampunan.


Membayangkannya saja sudah membuat darahnya mendidih. Kapan lagi dirinya akan melihat pemandangan seperti itu terlukis dari wajah seorang pejuang hebat seperti Robin? Itu kesempatan langka!


Selama ini Goro selalu disewa untuk menangkap atau menghabisi manusia-manusia lemah. Dia bosan. Ingin merasakan sensasi menyenangkan lainnya. Dan kali ini, kesempatan itu akan segera dia dapatkan.


"Hmm… Begitukah? Baiklah, selamat bersenang-senang!" Robin melambai kecil, kemudian pergi ke mobilnya sambil menggusur tubuh pria botak yang masih pingsan.


Semua orang di sana tertegun melihat Robin yang pergi melarikan diri, terlebih bagi Goro yang sudah berharap lebih akan sesuatu. Dia terpaku, membeku di tempatnya sambil melihat mobil Robin menabrak salah satu mobil mereka untuk bisa pergi meloloskan diri dari blokade.


"Apa?" Goro masih belum bisa mencerna situasinya dengan baik. Dia melamun, merasa seolah ada yang kurang. Hingga beberapa saat kemudian, raut wajahnya berubah menjadi gelap, menggertakkan giginya dan berteriak.


"Kau bajingan, sialan!!!" Suaranya terdengar menggelegar.


***


Di perjalanan, Robin mencari jejak Rina. Khawatir akan sesuatu yang berbahaya terjadi kepadanya. Di dalam hati, Robin terus memanjatkan doa dengan harapan keselamatan Rina.


Dia sudah melewati tempat Rina dicegat sebelumnya, namun di sana tidak terlihat siapapun, bahkan jejak ban mobil Rina sudah menghilang. Ini semua menakutkan. Membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepada Rina saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.


"Kumohon jangan sampai terjadi sesuatu yang mengerikan…" cemas Robin menepuk-nepuk setir mobil sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.


Dia sudah mencoba menelpon Rina, bahkan sudah beberapa kali dicoba. Namun, itu percuma. Alih-alih dijawab oleh Rina, dia malah mendapati operator sedang berbicara kepadanya, mengatakan bahwa Rina tidak bisa dihubungi.


Pencariannya tersebut terus berlangsung, bahkan satu jam sudah dia lewati hanya untuk mencari keberadaan Rina. Namun kembali lagi, dia tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.


"Sistem, kau benar-benar tidak bisa membantuku!?" Tanya Robin, melihat layar biru di sampingnya.


[Tidak, Tuan. Misi ini tidak memiliki durasi, sehingga Sistem tidak dapat memberikan keringanan untuk Tuan. Jika Anda tetap ingin mencarinya, maka belilah sebuah kemampuan di toko Sistem.]


Robin menekuk alisnya, secercah harapan muncul ketika mendengarnya. "Apakah itu benar-benar bisa? Aku khawatir kau menipuku lagi!" Dalam situasi seperti ini, Robin berada diposisi yang ambigu.


[Menipu Anda? Sejak kapan?]


[Tapi, saya berani bersumpah untuk ucapan saya. Anda tinggal mengecek semuanya di toko Sistem selagi masih memiliki waktu, dikhawatirkan Rina akan mengalami sesuatu yang buruk sebentar lagi.]


Membuka layar toko, Robin segera mencari kemampuan yang dimaksud. Dia menuliskan kata kunci di kolom pencarian. Tak lama kemudian, muncul satu kemampuan yang dia inginkan.


Melihat harganya, kebahagiaan Robin seketika menghilang. Ini terlalu mahal! Keluh Robin ketika melihat nominal satu milyar terpasang untuk membeli kemampuan tersebut.


"Ah, tidak peduli! Aku masih memiliki banyak uang! Saat ini nyawa Rina lah yang lebih penting!" Robin meyakinkan dirinya, dengan berat hati dia membeli kemampuan tersebut yang kemudian terpasang di dalam dirinya.


[Anda membeli kemampuan << Identitas Pembunuh >>]


[Saldo Anda terpotong: 1.000.000.000 Rupiah]


[Saldo tersisa: 1.320.400.000 Rupiah]


Notifikasi tersebut membuat Robin sakit hati. Namun, tak ingin berlama-lama, dia memencet kemampuan tersebut untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.


<< Identitas Pembunuh >>


Deskripsi: Dapat mengetahui lokasi dan membunuh seseorang dari kejauhan.


Persyaratan: Diwajibkan untuk mengetahui identitas lengkap serta wajah target untuk mengaktifkan kemampuan.


Menekuk alisnya, Robin bingung. Dia kembali menatap layar Sistem di sampingnya dan berkata, "Sistem, kau tahu identitas lengkapnya Rina? Aku hanya mengetahui nama lengkap dan wajahnya saja…"


[Tentu. Informasi Rina sudah tersimpan di Sistem, sehingga akan mudah untuk mengetahuinya.]


[Rina: Anak bungsu dari keluarga Irawan. Usia 24 Tahun, Tinggi 172 cm, Berat 65 kg, tanggal lahir 22 September 2000. Sekarang sedang bekerja sebagai manager di restoran bernama "One Meal".]


Data tersebut membuat Robin terkejut. Keluarga Irawan adalah musuh Robin, mereka selalu mengincar Robin karena kesalahan sepele yang pernah dia perbuat kepada anaknya. Siapa sangka Rina adalah anak bungsu dari keluarga itu?


Mencoba untuk tetap tenang, Robin menarik nafas, mengeluarkannya secara perlahan. Mengabaikan fakta yang dia dapatkan sebelumnya, Robin mulai membayangkan wajah Rina lengkap beserta data dirinya.


Tak lama kemudian, sebuah GPS muncul. Dia melihat tanda merah sedang berjalan di jarak 1 mil di depannya. Merasa masih ada harapan, Robin menancapkan gasnya, masuk ke dalam tol dan membuntuti mobil mereka yang sedang berjalan secara beriringan.


"Awalnya aku khawatir akan salah orang, tetapi tampaknya tidak begitu…" gumam Robin merasa yakin setelah melihat mobil milik Rina.


Akan berbahaya untuk melakukan penyelamatan ketika masih berada di tol, sehingga Robin memutuskan untuk menunggunya ketika mereka berada di luar tol. Namun, satu hal yang membuat Robin bingung adalah:


"Mungkinkah mereka sedang menuju kota lain? Tapi, untuk apa?" Masih belum mengetahui identitas dibalik penculik Rina, Robin dibuat bertanya-tanya lagi dengan motif mereka.


Dalam kebingungannya, Robin mendapatkan satu kesimpulan, "Jika mereka pergi keluar kota, maka penculik itu tidak berniat untuk menyakiti Rina. Menjual? Menyiksa? Menjadikannya sebagai tawanan? Itu semua tidak mungkin dilakukan, mereka pasti tahu dengan identitas keluarga Irawan…"


"Maka dari itu, satu kemungkinan yang pasti adalah mereka sedang membawa Rina ke suatu tempat atas perintah dari seseorang yang memiliki hubungan kuat dengan keluarga Irawan. Atau bahkan keluarga Irawan sendirilah yang menculik nya?" Robin dapat mencapai kesimpulan yang tepat hanya dalam hitungan menit. 


Merasa semuanya sudah jelas, Robin merasa sedikit lega. Tapi bukan berarti dia akan menyerah. Mengingat telponnya yang tidak diangkat, Robin menyimpulkan bahwa Rina sedang dibawa secara paksa, dan itu sama dengan seperti penculikan.


"Memang tidak sopan untuk melakukan ini, tetapi aku masih perlu kehadiran Rina karena misi Sistem! Jangan sampai dia pergi dengan semudah itu!" Robin menatap tajam kearah beberapa mobil hitam yang berjarak seratus meter di depannya.