Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Orang ke-100


Sebelum mereka mencapai tempatnya, Robin mengambil sesuatu di dalam layar Sistem. Tanpa mereka ketahui, mangsa empuk ini sekarang sedang memegang senjata.


Robin mengeluarkan sebuah katana, pedang tipis panjang yang memiliki bilah tajam. Berbeda dengan mereka yang memegang senjata parang dan sebagainya, mereka terkejut, secara reflek menghentikan langkahnya.


"Apa!? Kenapa kau memiliki senjata!" Tak hanya satu, tetapi kelima dari mereka ikut terkejut. Sejak awal, Robin terlihat tidak memiliki perlindungan, tapi kali ini semuanya berbeda.


"Kenapa? Tidak hanya kalian yang memiliki senjata!" ucap Robin, tersenyum sinis dengan tatapan menyipit.


Katana ini baru saja dia beli sepuluh detik lalu. Memakan biaya lima ratus ribu. Robin tidak tahu, ini merupakan kualitas terbaik atau tidak. Namun yang terpenting, kali ini dirinya harus melakukan perlawanan setara, bertarung dengan tangan kosong hanyalah menantang maut.


'Bagaimana dia mendapatkan katana itu? Aku tidak melihatnya sejak awal…' Pemimpin kelompok tersebut kebingungan, dia merenung di dekat mobilnya, bersandar dan mengerutkan kening selagi anak buahnya bertarung melawan Robin.


"Sial, kau kira kami akan takut dengan gertakan mu itu! Sekarang kau lah yang akan mati!" ucap salah satunya, berlari menerjang, mengangkat parang dan mengayunkannya dalam kecepatan tinggi.


Melihat anak buahnya bergerak penuh keberanian, pria itu tersenyum, memasang wajah meremehkan dan bergumam, "Ya… Apapun itu, yang terpenting dia akan kalah…"


Satu, dua, sampai empat orang menerjang secara bersamaan. Robin merasa bingung, bola matanya terus berputar mengikuti arah gerak mereka. Empat sisi telah diblokir, Robin merasa terkepung, dia tidak bisa melakukan apapun selain memprediksi serangan mereka.


"Mati kau!!"


Satu serangan mendarat ke tubuhnya, berencana untuk mengukir garis lurus di tubuh Robin. Namun, setelah menghentakkan kaki kanannya, Robin melompat ke samping, mengayunkan katana nya kepada pria yang sedang berlari.


Dia mati langkah! Jelas ini merupakan kesempatan emas bagi Robin untuk memanfaatkannya. Alasan Robin melakukan ini karena firasat. Dia merasa menghindar saja tidak akan membuahkan hasil, seluruh titik matinya telah dikunci, akan sulit untuk bergerak secara leluasa.


Sosok Robin yang melompat mengejutkan semuanya, termasuk untuk pria yang sedang menjadi incaran Robin. Untuk sesaat, dia terpaku, mendongak dengan mata melebar. Dia melihat Robin sedang memasang seringai tajam yang mengerikan.


"Sampai bertemu di neraka, brengsek!" ucap dingin Robin, gerakannya begitu halus menebas leher pria bertopi di depannya.


Dengan kepala yang terlepas, darah muncul keluar dengan muncratan yang menjijikkan. Beruntung darah tersebut mengenai wajah Robin, tidak menutupi pandangannya.


"Dia membunuhnya…"


Semua orang yang ada di sana terkejut. Beruntung tidak ada masyarakat biasa. Dikhawatirkan mereka akan pingsan atau bahkan terkena serangan jantung ketika melihat pembunuhan sadis tersebut.


Kepala pria itu terjatuh, menggelinding dimana kaki Robin menapak. Topi nya sudah terlepas, memperlihatkan gaya rambut yang puncaknya botak, berbeda dengan bagian sisi dan belakang yang dipenuhi rambut.


"Ternyata itu alasan kenapa kau memakai topi di cuaca yang panas ini…" gumam Robin, tampak tidak ketakutan melihatnya. Entah bagaimana, tetapi Robin berasumsi bahwa mental bajanya terasah seiring bertambahnya kekuatan.


Apapun itu, masih tersisa lima orang lagi untuk diberi teror menakutkan… 


Robin mengalihkan pandangannya, tak lupa dia menendang kepala pria itu ke tengah-tengah, memberikan perasaan takut kepada semuanya yang melihat itu.


Beberapa dari mereka berkeringat dingin, tangan bergetar seolah tidak bisa mengangkat senjata yang tak terlalu berat. Mereka telah berhasil ditanamkan ketakutan oleh Robin.


"Bagaimana? Apakah kalian berniat untuk melanjutkannya lagi, atau hentikan saja sampai disini? Jujur, aku tidak ingin membunuh siapapun, cukup orang itu saja yang menjadi target ke seratus ku…" Robin bersandiwara, mencoba untuk menghentikan pertarungan dengan damai.


'Ke seratus…? Mungkinkah dia telah membunuh orang sebanyak itu…!' Semua orang berpikiran hal yang sama, ketakutan tampak semakin jelas di wajah mereka.


"Seratus, dua ratus, atau bahkan seribu… Aku tidak akan takut! Aku akan membunuhmu hari ini!!" Pria botak menerjang Robin, tangannya memegang sebuah besi panjang dengan ujung yang sudah dililit kain dengan beberapa paku menancap.


"Itu senjata yang bagus, kawan!" Robin tersenyum, dia sendiri ingin merasakan sensasi menyenangkan ini lebih lama lagi.


Seolah ingatannya berhenti berfungsi, Robin mengabaikan kondisi Rina yang sedang dikerumuni orang-orang mencurigakan. Dia mengambil langkah, menghindari serangan pria botak dengan menyamping.


Karena tidak ingin membunuh siapapun lagi, Robin menjatuhkan pedangnya. Dia melakukan pukulan keras dan cepat pada wajah pria botak hingga membuatnya sedikit terguncang.


"Cukup hebat bisa menahan pukulan ku…" Robin tersenyum tipis, dia melihat pria botak sedang menstabilkan keseimbangannya sambil perlahan melangkah mundur.


Itu adalah pukulan keras, tetapi pria itu dapat menahannya? Bukankah itu menakjubkan! Robin semakin antusias, niatan awalnya yang ingin bersenang-senang seketika berubah menjadi keinginan untuk merekrutnya.


Beberapa saat kemudian, pria botak telah berhasil menstabilkan tubuhnya. Dia kembali menatap tajam sosok Robin, tekadnya tampak semakin membara dibalik tatapan matanya. 


Mereka berdua tidak ingin kalah!


"Hei, bagaimana jika bertaruh?" ucap Robin sebelum keduanya melanjutkan pertarungan, "Jika aku menang, kau akan bergabung denganku. Tapi jika aku kalah… Eh, itu tidak mungkin, sih!" Robin terkekeh, dia mengejek dan menjatuhkan harga diri pria itu!


"Huh! Aku akan segera menyumpal mulutmu itu dengan darah!" Pria itu mendengus, meludah ke samping dengan ekspresi tidak senang.


"Haha, kita buktikan saja!"


Mereka kembali berlari, berhadapan langsung dengan tangan kosong. Beberapa pukulan telah dilakukan, tetapi tak ada satupun yang berhasil mendaratkannya tepat di tempat yang dituju.


Mereka saling bertukar serangan. Ketika Robin menyerang, pria itu akan berusaha untuk memblokir dan melakukan counter. Begitupula sebaliknya, Robin juga melakukan hal yang sama.


Pertarungan sengit itu tak ada satupun yang berani memisahkannya, mereka menonton dari kejauhan, berharap teman mereka akan mengalahkannya.


Namun, harapan tersebut terpaksa harus berakhir dengan pahit. Karena kehabisan stamina, serangan dan kecepatan pria itu mulai kacau. Robin memanfaatkannya dengan melakukan serangan terakhir yang sangat bertenaga.


Pria botak tak bisa bereaksi, bahkan jikalau bisa, dia tidak memiliki sisa tenaga untuk menghindarinya. Pada akhirnya, pria botak terhempas sejauh tiga meter, pukulan itu berhasil membuat wajahnya menjadi tak berbentuk dengan kesadaran sudah diambang batas.


Ini merupakan kemenangan bagi Robin!


Dia menghela nafas lega, menyeka keringatnya dan meraih katana di dekatnya. Namun, sebelum melakukannya, terdapat sebuah injakan yang menghentikan tangan Robin.


Mendongak, Robin dapat melihat pemimpin kelompok itu sedang menginjak dan mengayunkan balok kayu kearahnya.


Menyadari marabahaya, Robin mendorong tubuhnya untuk menghantam kaki pria itu. Serangannya tersebut berhasil, paling tidak untuk melepaskan tangan dan kembali mendapatkan katana miliknya.


"Cih, kau masih memiliki tenaga juga!" ucap pria itu meludah, memandang jijik sosok Robin.


'Apa aku perlu membunuhnya saja, ya?' pikir Robin, kerutan di dahinya terlihat jelas. Dia memegang katana nya, memasang kuda-kuda dan tenggelam dalam pikirannya.