Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Hadiah


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pada karyawan itu telah menyelesaikan pekerjaannya. Karyawan itu langsung memberikan beberapa ponsel yang masih segel kepada Robin.


"Terimakasih sudah menunggu, ini dia barang yang Anda inginkan, Tuan pelanggan." ucapnya sekarang ditambahkan sedikit rasa hormat.


Robin mengangguk, kemudian beranjak dari kursinya dan memberikan sebagian kepada Sanaka yang sudah ikut bangkit dari duduknya. Sanak menerimanya, dan menunggu kembali Robin menyelesaikan urusannya.


"Ya." Robin mengangguk, "Tapi, apakah di sini menyediakan kartu operatornya juga?" tanya Robin langsung dibalas anggukan oleh karyawan tersebut.


"Kebetulan kami menyediakan beberapa di sini. Mungkinkah Anda ingin membelinya?" tanya karyawan tersebut.


Robin mengangguk, "Baiklah, tolong berikan sesuaikan dengan jumlah barang yang ku beli!" 


"Mohon ditunggu…" Karyawan itu langsung melakukan apa yang diinginkan oleh Robin. Hal itu tak terlalu membuang banyak waktu. Dengan begitu mereka sudah mencapai akhir pembelian.


"Bisakah aku membayarnya lewat kartu atau transfer?" tanya Robin setelah membahas harga yang perlu dibayar.


"Anda bisa menggunakan keduanya, namun kami telah menyediakan mesin untuk menggesek kartu. Jadi, kami sarankan untuk menggunakan itu saja jika Anda tidak keberatan." ucap karyawan tersenyum ramah sambil menunjukkan sebuah mesin kecil untuk transaksi.


Melihat itu, Robin mengangguk, kemudian mengeluarkan kartunya dari dompet, kemudian menggesekkan nya. Tak lama kemudian, transaksi telah berhasil dilakukan yang membuat para karyawan di sana merasa sangat bahagia.


[Saldo Anda berkurang 150.000.000 Rupiah]


[Saldo Tersisa: 2.621.200.000 Rupiah.]


"Baiklah, ini sudah selesai. Terimakasih." ucap Robin kemudian melemparkan senyumannya sebelum pada akhirnya pergi dari toko tersebut.


Melihat pelanggan terhormat mereka hendak pergi, para karyawan dengan segera membungkuk dan berterimakasih kepada Robin.


"Terimakasih telah berbelanja di tempat kami, semoga Anda sampai ke tujuan dengan aman!" Mereka serempak menyampaikan rasa hormat dan kebahagiaan kepada Robin yang telah memborong di toko mereka.


Sementara itu, Robin yang sudah kembali ke mobilnya langsung menoleh kepada Sanaka yang masih tampak tidak percaya. Melihat ekspresinya itu, Robin merasa gemas.


"Apa ini sudah cukup? Atau kau masih ingin membeli sesuatu lagi?" tanya Robin membuat Sanaka menjadi salah tingkah dan tak tahu harus menjawab apa.


"T-tidak! Saya rasa ini sudah cukup… Terimakasih, Tuan…" ucap Sanaka tampak sedikit malu-malu.


Melihat ekspresinya yang seperti itu, Robin merasa ikut bahagia. Walaupun mereka hanya sebatas orang asing yang secara paksa masuk ke dalam kehidupannya, namun tetap saja hubungan seperti itu tidak bisa disepelekan oleh Robin.


"Baiklah. Tapi, jika kau membutuhkan sesuatu lagi, tak perlu sungkan untuk memintanya kepadaku. Kita adalah keluarga, sudah sepatutnya seperti itu." Ungkap Robin dengan senyuman.


Sanaka hanya terdiam dan mengangguk kecil. Kemudian, mereka pergi sudah terlalu lama diluar langsung pulang dengan kecepatan normal. Beruntung saat ini kemacetan sudah selesai, sehingga tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di rumah.


Setelah masuk ke dalam, Robin memarkirkan mobilnya. Sementara itu, Sanaka segera pergi masuk, khawatir anak-anak akan bangun dan mencari keberadaannya seperti yang sudah-sudah.


"Fiuh, cukup merepotkan untuk memarkirkan mobil di rumah semewah ini. Aku rasa aku masih membutuhkan satpam untuk membuka gerbang dan membantuku untuk hal-hal lain." gumam Robin sambil melihat gerbangnya yang tampak tidak ada siapapun.


Tak lama setelahnya, Robin segera pergi ke dalam rumah, berniat untuk beristirahat. Sungguh, hari ini banyak sekali aktivitas yang membuatnya menjadi sangat lelah. Ditambah, esok hari masih banyak aktivitas yang perlu dia lakukan.


Sehingga saat ini dirinya sangat membutuhkan istirahat yang cukup. Walaupun itu hanya tidur selama beberapa menit saja.


Pergi ke ruang keluarga, Robin dapat melihat Haris dan Xiao Hang yang telah bangun. Kini mereka sedang berbincang membahas ponsel yang dibelikan oleh Robin.


"Kalian sudah bangun?" tanya Robin kemudian duduk di sofa tunggal.


Mereka mendongak, kemudian secara spontan berdiri dan membungkukkan tubuhnya. "Kami sudah puas dengan istirahat. Dan selamat datang kembali, Tuan!" Serempak mereka memberikan salam.


Sikap mereka tersebut membuat Robin menjadi canggung dan hanya bisa menjawabnya dengan tawa kering. "Haha… Baiklah, baiklah. Lebih baik kalian duduk lagi…"


"Baik, Tuan!" Mereka kembali duduk setelah mendengar ucapan Robin.


"Ah, apakah kalian sudah mendapatkannya dari Sanaka?" tanya Robin dibalas anggukan.


"Sudah, Tuan. Ini dia barangnya!" ucap Xiao Hang sambil menunjukkan kresek kecil yang berisikan ponsel.


Robin mengangguk dan tersenyum, "Baguslah. Dan juga, aku memintamu Haris untuk memasukkan kartu operatornya. Sebelumnya aku lupa meminta mereka untuk melakukannya. Kau pasti bisa, bukan?"


"Tentu saja, Tuan! Serahkan kepada saya!" jawab Haris dengan antusias.


Robin tersenyum menanggapinya, kemudian dia beranjak dari sofa dan berkata, "Aku akan istirahat dulu. Kita akan membicarakannya di lain waktu, selamat malam." ucapnya kemudian berjalan menuju tangga.


"Selamat malam, Tuan!" sahut keduanya dengan sopan.


Di lantai dua, Robin yang hendak masuk ke dalam kamar tidurnya secara tidak sengaja melihat Sanaka berjalan di lorong. Tampaknya dia telah selesai untuk mengecek kondisi anak-anak.


"Mereka masih tertidur?" tanya Robin kepada Sanaka.


Sanaka mengangguk dan berhenti berjalan, "Iya, Tuan. Mereka masih betah dengan mimpinya." jawab Sanaka terdengar lembut.


"Baguslah. Kau juga jangan lupa untuk beristirahat! Sepertinya besok akan menjadi hari yang melelahkan bagimu." ucap Robin sebelum masuk ke dalam kamar.


"Terimakasih, Tuan." sahut Sanaka sedikit membungkuk, kemudian pergi menuju lantai dasar untuk bertemu Haris dan Xiao Hang yang sedang sibuk.


Sementara itu, di dalam kamar tidur, Robin yang sudah berganti pakaian langsung duduk di sisi ranjangnya dan berbicara dengan Sistem.


"Banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu."


[Apa itu, Tuan? Saya akan menjawab segala pertanyaan yang ada di benak Anda, terkecuali untuk informasi mengenai asal usul saya.]


Robin tersenyum kecut mendengarnya, "Haha, kau tahu saja apa isi pikiranku. Tapi bukan itu yang ingin kutanyakan kepadamu."


[Lalu, apa yang ingin Anda tanyakan?]


Setelah terdiam sesaat, Robin kembali melanjutkan ucapannya, "Sebenarnya saat ini aku sedang mempertanyakan setiap perubahan yang terjadi di dunia ini. Memang, masuk akal bila kita menjawab bahwa dunia ini merupakan dunia paralel. Tetapi, karena hal itu juga aku mulai mempertanyakan maksud dari kedatanganku ke dunia ini. Maksudku, hei bisa saja diriku di dunia ini tidak merasakan hal yang sama sepertiku?"


Robin menjelaskan isi hatinya dengan ekspresi yang berubah-ubah. Hal itu membuat Sistem menjadi berpikiran serupa. Walaupun dirinya sebuah Sistem yang mahakuasa, namun itu bukan berarti bahwa dia merupakan pemilik dunia ini.


[Itu memang menimbulkan sejumlah pertanyaan, bahkan untuk saya sendiri. Tetapi, niscaya lah bahwa sang pencipta tidak menugaskan saya untuk melakukan hal yang percuma. Saya dapat merasakan rasa cinta dari sang pencipta untuk Anda.]


Robin mendengarnya dengan seksama.


[Jadi, Anda tak perlu mengkhawatirkan apapun. Walaupun pastinya terjadi beberapa perubahan, tetapi perubahan tersebut tak terlalu berpengaruh besar dengan hidup Anda.]


[Saya rasa… Hanya itu saja yang bisa saya katakan untuk saat ini. Semuanya telah bergantung pada setiap keputusan yang Anda lakukan.]


Robin mengangguk, kemudian dirinya membaringkan diri di atas ranjang dengan tatapan memandangi langit-langit ruangan yang tampak sangat jauh di atas.


"Tapi… Aku penasaran, bukankah para pelayan yang ku datangkan itu berbicara dengan bahasa berbeda dan hanya aku yang bisa memahaminya? Lalu kenapa sebelumnya Sanaka dapat berbicara dengan Wulan? Bukankah itu perlu kau jelaskan, Sistem?" tanya Robin, wajahnya dipenuhi dengan kerutan.


[Hah… Anda terlalu teliti dalam segala hal.] Sistem terdengar menghela.


[Itu semua dikarenakan versi Sistem yang telah Anda tingkatkan. Juga, walaupun berbeda bahasa, tetapi jika satu ikatan (sama-sama pelayan Robin) maka mereka dapat berbicara dengan normal…]


[Tapi, lupakan hal yang tidak penting itu! Lebih baik Anda segera tidur, bukankah sebelumnya Anda mengeluh kelelahan?]


"Ada apa denganmu Sistem? Tanpa kau minta, aku akan melakukannya." Robin merasa aneh dengan perubahan sikap dari Sistem, "Tapi, sudahlah. Selamat malam." ucapnya kemudian memejamkan mata setelah menarik selimutnya.


[... Selamat malam…]