Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Berbisnis


Karena jalanan serta kecepatan motor yang dapat diandalkan, hanya memerlukan beberapa menit bagi Robin untuk tiba di tempat yang ditentukan oleh keduanya.


Saat ini, karena hanya berbincang ringan dengan beberapa topik bisnis, mereka berdua menentukan sebuah restoran yang sudah buka di jam awal.


Mengingat orang-orang masih belum memenuhi tempat itu, perbincangan mereka akan berjalan dengan santai dan menenangkan.


Setelah memarkirkan motornya, Robin dapat melihat dari kejauhan sosok Aron sedang duduk di dalam restoran dengan jendela besar di dekatnya.


Dengan langkah santai, Robin memasuki tempat itu dan duduk di hadapan Aron yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Maaf, apakah aku datang terlambat?" tanya Robin sambil tersenyum tipis.


Aron menggeleng kecil, "Tidak, saya baru tiba lima menit sebelum Anda." balasnya dengan intonasi rendah meninggalkan kesan sopan dan ramah.


"Begitu ya? Syukurlah…" Robin menghela nafas ringan. "Oh ya, apakah kau sudah membawa berkas yang ku minta?" Robin mengalihkan topik pembicaraan.


Aron sedikit mengerutkan keningnya ketika mendengar itu, namun kemudian dia menghela nafas panjang sambil memasang wajah malas.


"Ayolah, apakah Anda ingin membahas itu terlebih dulu? Rasanya agak tidak cocok untuk membahas bisnis di waktu awal…" Aron menatap Robin dengan serius, tatapannya tersebut berhasil membuat Robin menjadi malu.


"A-hahaha… Kau benar…" Wajah Robin sedikit meninggalkan rona merah.


"Tapi ya, saya sudah membawanya. Ini bukanlah sebuah langkah yang buruk bagiku untuk memulai bisnis dengan baik, bukankah begitu?" Aron melirik ke arah Robin yang kini sudah kembali tenang.


"Namun, sebelum itu saya ingin membahas sesuatu yang tak kalah penting dari ini. Dan juga, ini menyangkut keselamatan Anda." Aron menambahkan, dan kali ini dia kembali dengan sikap seriusnya.


Mendengar dan melihatnya yang tampak tidak ingin bercanda, Robin pun ikut memasang sikap serius dengan tubuh tegap menghadap pada Aron.


"Apa itu?"


"Sebelumnya, satu hari setelah pertemuan kita di restoran, saya mendapatkan kabar dari teman yang bekerja di kepolisian yang sama dengan saya. Dia mengatakan bahwa tahanan yang saya tangkap terkahir kali telah dibebaskan oleh ketua, itu sangat aneh bagi seorang polisi membebaskan pidana dengan mudahnya." Aron menekankan suaranya ketika menjelaskan itu semua.


"Tapi, itu bisa dimaklumi, mengingat mereka termasuk ke dalam kelompok Mafia yang terkenal memiliki kekuatan besar di kota ini. Namun jika kita mengesampingkan hal itu, saya berharap Anda dapat memahami apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan?" Aron melanjutkannya.


Pada awalnya Robin tak memahami maksud dari Aron, namun perlahan dia semakin paham apa yang ingin disampaikan olehnya. 


Dia menatap Aron dengan tatapan rumit, pikirannya tiba-tiba mengeluarkan berbagai kemungkinan yang ada. Tapi dari sekian banyaknya kerumitan, dia hanya mengeluarkan satu kalimat.


"Sepertinya kehidupanku akan dihantui oleh teror dari mereka." ucap Robin tak melunturkan keseriusannya.


"Benar. Dengan bebasnya mereka, tindakan mereka selanjutnya dapat diprediksi dengan mudah." Aron mengangguk. "Bohong jika kita mengatakan bahwa hidup Anda akan baik-baik saja ketika sudah pernah bermasalah dengan kelompok Mafia seperti mereka…"


"Jadi, apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, Tuan Robin?" ucapan Aron diakhiri dengan pertanyaan.


"Haah… Memangnya aku bisa bernegosiasi dengan mereka? Jadi, tentu saja jawabanku hanya satu, yaitu: melawan mereka hingga titik darah penghabisan." Robin menjawab setelah menghela nafas berat, dia menyandarkan tubuhnya dengan lemas sambil menatap langit-langit restoran.


Mendengarnya, Aron hanya bisa tersenyum kecut. Dia baru saja bertemu dengan Robin, tetapi entah mengapa dia merasa bahwa Robin berbeda dengan yang lain, hal itu jugalah yang membuat dirinya menjadi peduli kepada Robin.


"Ah, ya, itu lebih baik." Robin kembali membetulkan posisi duduknya.


Dengan begitu, keduanya sepakat untuk membeli kopi untuk menemani perbincangan mereka. Dan setelah menitipkan pesanan itu kepada pelayan, Robin kembali membahas masalah yang masih memiliki ikatan dengan Mafia Black Eye.


"Ngomong-ngomong, apakah kau tahu Rosa? Sebelumnya aku mendengar nama itu dari salah satu anggota Mafia yang melawanku. Barangkali kau mengetahuinya."


Aron yang mendengar itu pada awalnya memasang kerutan sambil mencoba untuk mengingat-ingat orang yang sedang dimaksudkan oleh Robin.


"Rosa, kah? Sepertinya yang mereka maksud adalah putri dari keluarga Irawan? Pasalnya kepala keluarga Irawan lah yang memimpin kelompok itu, bukan hal yang mustahil jika mereka akan mengijinkan anggotanya untuk melindungi putrinya sendiri…" Aron menjelaskan dengan asumsi yang memiliki kemungkinan besar.


Robin mendengarnya dengan seksama, kemudian mengangguk paham, "Begitu kah? Itu masuk akal. Maka dengan begini aku memahami maksud dari mereka sampai mati-matian mencoba untuk menyerang ku. Haha, itu sungguh lucu jika harus diingat."


Robin terkekeh sendiri, membuat Aron kebingungan. Namun hal itu tak terlalu membebani pikiran Aron, lagipula dia yakin bahwa tidak akan terjadi hal serius kepada Robin.


'Melihat dia tersenyum, sepertinya dia tidak mengkhawatirkan apapun. Yah, itu cukup menenangkan.' Pikir Aron dalam benaknya sambil tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, pesanan mereka telah tiba. Dengan sedikit perbincangan ringan, akhirnya mereka telah memasuki topik untuk membahas kerja sama mereka lebih lanjut lagi.


Setelah sedikit persiapan yang dilakukan sebelumnya, Aron mengangkat tasnya ke atas kursi dan mengambil beberapa kertas yang kemudian dia berikan kepada Robin.


"Ini adalah informasi mengenai perusahaan saya, kemudian dengan data keuangan yang semuanya sudah dipastikan tepat!" ucap Aron setelah Robin menerima berkas yang dia berikan.


"Hmm?" Robin mengangkat alisnya, kemudian dia membaca satu persatu dari berkas tersebut, dan perlahan tampak kebahagiaan muncul dari wajahnya.


'Ini dia yang ku inginkan!' Robin berteriak bahagia di dalam hatinya.


Setelah membaca keseluruhannya, dia kembali memberikan berkas itu kepada Aron yang sudah siap dengan ucapan Robin selanjutnya. Tampak dia sudah tidak sabar untuk mendengarkan segalanya.


"Bagaimana, Tuan? Apakah Anda sudah yakin untuk menjadi investor di perusahaan kita?" tanya Aron sambil mencoba menahan senyumannya.


Sebelum menjawab, Robin menyesap kopinya untuk beberapa detik, kemudian dia kembali meletakkannya di atas piring kecil yang berada di meja. Setelahnya, dia memasang sikap serius dengan tatapan intens.


"Sejujurnya aku sangat tertarik dengan perusahaan mu. Aku dapat melihat potensi besar pada perusahaan mu itu. Namun, disisi lain aku juga merasakan kekurangan dalam segi inovasi, sehingga hal tersebut dapat menghambat pertumbuhan dari perusahaan." Robin mengungkapkan pikirannya dengan tenang.


Mendengar itu, tampak wajah Aron berubah menjadi kusut. Sekarang dia merasa bahwa kekurangan perusahaannya akan membuat minat para investor termasuk Robin menjadi mundur.


Melihat Aron yang terdiam, Robin tersenyum, dia memahami isi pikiran dari pria tersebut walau hanya dari mimik wajahnya.


"Tapi, aku akan membantu perusahaan mu dengan cara menyuntikkan dana untuk kemudian menghancurkan keraguan dalam dirimu." ucap Robin membuat Aron terkejut, "Bukankah penyebab hambatan dalam perkembangan usahamu adalah kurangnya dana dari investor? Sekarang aku akan melakukannya, dan ku harap kau dapat menyulapnya menjadi keberhasilan."


Aron semakin melebarkan matanya, mulutnya melebar dengan sudut yang terangkat. "Benarkah itu, Tuan?" tanya Aron dengan antusias.


"Tentu saja, aku sedang bertaruh kepadamu dan kuharap kau tak mengecewakanku." Robin tersenyum tipis.


"Terimakasih, Tuan!"