
Di malam hari yang begitu hening, secara mengejutkan Robin terbangun dari tidurnya. Dengan cepat dia beralih ke posisi duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing.
"Apa-apaan barusan? Kenapa aku memimpikan mereka? Apa yang sedang terjadi?" Robin bertanya-tanya dengan suara rendah.
Di mimpinya, dia dapat melihat keluarga Wijaya dan Miranda sedang mengadakan pertemuan dengan suasana yang penuh tawa. Mereka tampak sangat bahagia dengan pernikahan yang sudah ditentukan jadwalnya.
Namun, hal itu yang justru membuat Robin kebingungan. Kenapa dia melihat mimpi seperti itu? Dan apa hubungannya dengan dirinya? Ini bukanlah sesuatu yang memiliki hubungan kuat dengan kehidupannya di masa lalu!
Pada saat Robin sedang kebingungan, tiba-tiba terdengar suara datar Sistem yang menjawab pertanyaan Robin dengan terperinci.
[Sebelumnya Anda sedang melihat masa lalu yang sebenarnya. Itu merupakan sebuah gambaran yang dihasilkan oleh skill Anda.]
Robin mengerutkan keningnya ketika mendengarnya, "Skill? Apa yang kau maksud, Sistem?"
[Haah… Sebelumnya Anda mendapatkan sebuah skill setelah proses Sistem selesai. Skill tersebut dapat melihat kejadian sebenarnya dari masa lalu setelah masa lalu itu berubah oleh pergerakan berbeda dari yang seharusnya.]
Robin yang masih memegangi kepalanya mencoba untuk mencerna apa yang dimaksud oleh Sistem. Itu berlangsung cukup lama, sebelum pada akhirnya dia memahami maksud Sistem.
"Hmm… Jadi, intinya aku akan mendapatkan spoiler jika berhasil mengubah masa lalu?" Robin mencoba memastikannya.
[Benar, Tuan!]
Robin menghela nafas setelah mendengarnya. Tanpa membuka suaranya lagi, Robin membuka layar penyimpanan dan mengambil obat pil untuk kemudian dia minum, bersamaan dengan dorongan air.
"Itu cukup menyebalkan jika dampaknya adalah sakit kepala…" keluh Robin dengan suara lemah.
Kemudian, dia menoleh ke arah samping dan melihat waktu masih menunjukkan pukul 12 malam. Ini masih terlalu awal baginya untuk terbangun.
"Ngomong-ngomong tentang masa lalu, bukankah aku sudah mengubahnya beberapa kali? Dan juga, aku jadi terpikirkan dengan nasib Wulan ketika dirinya benar-benar dilecehkan oleh para preman… Aku menjadi khawatir walaupun sudah berhasil mengubahnya…" Robin bergumam sambil membayangkan beberapa kemungkinan jika dirinya tidak berhasil menolong Wulan.
[Anda tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang sudah berlalu, lebih baik bagi Anda untuk berfokus pada masa depan.]
Robin yang sudah terlentang kembali hanya bisa terdiam ketika mendengar ucapan Sistem. Itu memang ada benarnya, aku tidak perlu berlarut dalam masa lalu. Pikir Robin.
"Oh ya, Sistem. Aku ingin bertanya. Sejujurnya aku sudah lama menyimpan pertanyaan ini…" Robin bertanya dengan suara yang sedikit ditinggikan.
[Hmm? Apakah Anda ingin bertanya mengenai kasus hilangnya cincin Tania?]
"Benar. Seingat diriku kejadian itu tidak akan terjadi, bahkan saat itu aku pergi mengantar Tania ke mall. Namun, cincin miliknya tidak hilang seperti yang terjadi di timeline sekarang…" ungkap Robin dengan kebingungan.
[Mungkin itu terjadi karena perjalanan waktu yang Anda lakukan menyebabkan beberapa perubahan pada dunia. Anggap saja bahwa saat ini Anda berada di jalur yang berbeda dengan dunia yang sebelumnya. Bisa dibilang Anda berpindah ke dunia paralel. Namun, itu hanyalah kemungkinan saja.]
Walaupun sebagian dari dirinya merasa ragu, Robin tetap mengangguk dan sedikit setuju dengan alasan yang sangat masuk akal baginya. Bukan hal yang tidak mungkin untuk terjadi sesuatu diluar dugaan seperti ini jika kembali berkaca pada takdir Robin yang dengan mudahnya kembali ke masa lalu.
Setelah memastikan semuanya telah aman, Robin kembali tidur lagi dengan harapan bahwa tidak terjadi sesuatu yang merepotkan kedepannya. Dia sendiri merasa khawatir dengan perubahan yang telah terjadi.
***
Sekilas bangunan tersebut seperti sebuah pabrik, namun jika kita menelusurinya lebih dalam, bangunan yang diduga sebagai pabrik itu ternyata merupakan sebuah sel tahanan dengan ratusan anjing gila berada di setiap jeruji besi.
Terdengar suara raungan dari para anjing yang disertai air liur menjijikkan melambai dari sudut mulutnya. Itu terlebih menakutkan bagi orang normal pada umumnya, namun itu merupakan sebuah pemandangan biasa bagi orang-orang yang sudah ditugaskan bekerja di sana.
"Bagaimana kabar Feran? Apakah dia sudah gila?" Salah satu orang berwajah sangar sedang berbicara dengan temannya tepat di pintu masuk bangunan itu.
Temannya tersebut menjawabnya dengan gelengan kepala dan bahu yang diangkat, "Dia adalah manusia paling tangguh, bahkan setelah digigit oleh anjing-anjing gila. Sungguh tidak masuk akal." jawabnya diakhiri dengan helaan nafas.
"Kau benar…" Pria sangar itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah langit, kemudian menyesap ujung rokoknya dengan penghayatan yang dalam. "Menurutku lebih baik baginya untuk melarikan diri seperti yang lain, daripada harus tersiksa dengan menyakitkan seperti ini… Sejujurnya aku tidak tega melakukan hal kejam kepada orang yang sudah ku anggap sebagai saudara."
Teman disampingnya hanya bisa terdiam sambil memandanginya dalam diam. Dia sendiri mengerti dengan perkataan pria sangar itu. Namun, semua ini adalah perintah dari Ayah Besar yang memiliki prinsip kuat dalam menghukum setiap pembangkang.
"Bagiamana lagi, dia sudah gagal menyelesaikan perintah Ayah Besar. Walaupun itu tidak terlalu berisiko, namun peraturan tetaplah peraturan, siapapun yang gagal atau membangkang pastinya akan berakhir dengan penderitaan…" ucapnya bersuara rendah, dalam ucapannya itu kita dapat mendengar hati nuraninya sedang berbicara. "Dan juga, mereka yang melarikan diri pastinya tidak akan mendapatkan kehidupan yang nyaman, saat ini mereka sudah berstatus sebagai buronan tingkat atas."
"Haha, kau memang benar. Kuharap itu tidak terjadi kepada kita. Aku juga tidak berani untuk menentang keputusan Ayah Besar yang telah membesarkan kita dari seorang gelandangan menjadi seseorang seperti ini…" Pria sangar itu tersenyum kecut, kemudian dia berjalan pergi setelah menepuk pundak temannya.
"Ayah? Itu konyol…" Pria itu memandangi langit yang begitu gelap, sama seperti suasana hatinya saat ini.
Sementara itu, di dalam ruangan bawah tanah yang terdapat di bangunan itu, terlihat sebuah sel tahanan yang lebih kotor dan menakutkan dari sebelumnya.
Berbeda dengan penjara yang berisikan anjing-anjing gila, di penjara bawah tanah ini sudah dikhususkan untuk menahan para manusia yang telah melanggar aturan Ayah Besar.
Termasuk untuk Feran yang kini tampak sedang berada di sel paling ujung dengan kedua tangan di gantung dan kaki yang terikat oleh rantai besi tebal.
Di sekujur tubuhnya dapat terlihat puluhan bekas luka yang menakutkan, berbagai macam jenis siksaan dapat dibedakan dari setiap luka yang berbeda. Tampaknya tubuh Feran sudah tersiksa hingga membuatnya menjadi sekarat seperti saat ini.
"Feran, apakah kau masih kuat untuk mendapatkan siksaan lebih? Jadwal selanjutnya akan dilakukan beberapa menit lagi…" ucap Beni, pria sangar sebelumnya dengan tangan memegangi tali tambang yang sudah ditempeli dengan ratusan paku di setiap tempatnya.
Dengan pandangan kabur, Feran menatap temannya itu yang kemudian diikuti oleh senyuman kecut.
"Hmm… Tampaknya kau sudah siap, ya?" Beni mengangkat alisnya ketika melihat wajah Feran. "Tapi tenang saja, aku tidak akan menyiksamu sekejam seperti sebelumnya. Saat ini aku hanya perlu melakukan sandiwara kecil saja…"
Setelahnya, Beni membuka pintu jeruji, kemudian masuk ke dalam ruangan sempit itu sambil menyeret tali yang panjangnya seukuran kaki orang dewasa.
"Kau terlihat seperti tidak akan memberikan aku pengampunan…" lirih Feran disertai suara yang serak dan lemah.
"Haha, itu salah kau sendiri karena tidak bisa membawa bocah yang sudah mengganggu Nyonya Rosa. Maafkan saja, tapi ini adalah konsekuensinya…"
Feran hanya bisa menatap sendu ke arah Beni dengan senyuman tipis yang disertai penderitaan.
Sesaat setelah melihat ekspresi Feran, dengan cepat Beni mengangkat tangannya dan mengayunkan tali itu ke tubuh Feran dengan mata yang menyipit.
'Maafkan aku, Feran…'