Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Menyelamatkan gadis


Manager restoran menghampiri pegawainya dengan wajah yang marah. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung meluapkan kemarahannya kepada pelayan wanita itu dengan ekspresi yang tajam.


"Kau sudah mempermalukan nama restoran! Kenapa kau sampai menampar seorang pelanggan!?" tanya Manager sedikit meninggikan suaranya hingga menimbulkan kehebohan.


Tetapi, pelayan wanita itu tidak bisa membalasnya, dia hanya tertunduk dengan tubuh gemetar, "T-tapi Tuan... S-saya melakukannya kare—"


"Hentikan itu dan pergilah keruangan ku!" Tanpa mendengar alasan pegawainya, dia memerintahkan wanita itu untuk segera pergi dari hadapannya.


Tak bisa berkata-kata apapun lagi dan sudah mengetahui nasibnya selanjutnya, wanita itu pergi dengan wajah kecewa. Tubuhnya tampak sedikit membungkuk sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah terlanjur malu.


"Maaf Tuan pelanggan, apakah itu mengganggu Anda? Saya akan segera mengganti ruginya..." ucap pria itu sedikit membungkuk dengan tulus.


"Tidak perlu seperti itu, saya hanya bertindak karena dia melecehkan keluarga saya..." Robin berkata dengan santai dan duduk di kursinya.


"Terimakasih, Tuan..." ucap pria itu kembali.


Saat ini, walaupun dia tidak bisa membuang banyak waktu secara percuma, dirinya masih perlu meminta maaf kepada Robin yang berada di pihak korban. Dan ini semua dilakukan demi menjaga nama baik restoran miliknya.


Tak menjawab, Robin mengalihkan perhatiannya kepada kedua adiknya dan tersenyum dengan hangat, "Apa kalian masih ingin makanan disini?"


Vily dan Vino terdiam sesaat, mereka tampak enggan untuk menjawab. Namun setelah Robin mengelus kepala mereka, keberanian mulai muncul yang membuat mereka mengangguk kecil dengan wajah menunduk.


"Bagus…" Robin merasa lebih tenang. "Kami akan lanjut makan disini, dan tolong panggil pelayan lain untuk melayani kami…" ucap Robin kepada sang Manajer.


Merasa harus bertanggung jawab, pria itu mengangguk, kemudian berbalik pergi dan tak lama kemudian datang seorang pelayan pria sambil tersenyum ramah kepada Robin dan keluarganya.


Setelah itu, Robin menunggu Vily dan Vino memesan makanan, kemudian dilanjut oleh Sanaka, Xiao Hang, dan Haris. Walaupun mereka sedikit tidak enak untuk melakukan hal ini, tetapi dengan sedikit paksaan rasa enggan mereka akhirnya takluk.


Robin sendiri hanya memesan makanan biasa. Bukan karena tak mampu atau sedang bergema, tetapi dia tidak merasa lapar sedikitpun. Alasan dia tetap ikut makan malam karena ingin menghargai keluarganya.


Hanya butuh beberapa puluh menit bagi mereka untuk menghabiskan seluruh makanan itu. Tampak kedua adiknya sudah sangat puas dengan senyuman lebar yang diikuti oleh sendawa kecil.


Ini merupakan pemandangan yang sangat menenangkan hati bagi seorang pria miskin yang pernah memiliki anak.


"Kalian kembalilah ke taksi, kebetulan aku sudah memintanya untuk menunggu, oke?" ucap Robin kepada Sanaka dan kedua adiknya.


"Baiklah!" Dengan serempak mereka menjawab, kemudian berlalu pergi menuju keluar restoran meninggalkan Robin dan kedua pelayannya.


"Kenapa kalian masih disini? Apakah kalian akan membayar tagihannya?" tanya Robin kepada mereka dengan tatapan aneh.


Mereka berdua segera menggelengkan kepalanya dengan panik setelah mendengar pertanyaan itu.


"Kami disini hanya ingin menunggu Anda saja, Tuan…" ucap Xiao Hang mencoba menenangkan diri.


Robin mengangkat alisnya ketika mendengar itu, "Sudahlah kalian pergi saja dulu, aku akan segera membayarnya." Tanpa menunggu jawaban, Robin bangkit dan pergi menuju meja kasir.


Tak bisa melakukan apapun, mereka berdua mengangguk kemudian pergi meninggalkan restoran terlebih dahulu. Robin pergi menuju kasir dan membayar seluruh tagihannya, walaupun dia bisa memanggil seorang pelayan untuk melakukan pembayaran.


Setelah mobil taksi yang ditumpangi oleh mereka sudah mulai jalan, Robin dan Haris mengikutinya dari belakang dengan kecepatan yang sama agar tidak terjadi salip menyalip.


Namun, ketika mereka baru berjalan sejauh ratusan meter dari restoran, secara mengejutkan sebuah notifikasi misi muncul dari hadapan Robin yang membuatnya sangat terkejut.


"Apa-apaan ini? Kenapa harus di waktu yang tidak tepat!?" Robin kelihatan sangat panik karena misi itu memiliki durasi yang singkat.


Haris yang berada di jok belakang tampak kebingungan, dia menepuk pelan pundak Robin dan bertanya, "Apa yang terjadi, Tuan?"


"T-tidak…" Robin mencoba untuk tetap tenang. "Ngomong-ngomong, apakah kau bisa mengendarai motor?" tanya Robin kepada Haris.


Haris mengerutkan keningnya ketika mendengar itu, "Bisa, Tuan. Memangnya kenapa?" Haris bingung dengan pertanyaan tiba-tiba dari Tuannya.


"Itu bagus…" Tak menjelaskan situasinya, Robin menepi ke bahu jalan dan turun dari motor sambil melepaskan helmnya. "Sekarang kau harus jaga mereka dengan baik, aku akan pergi sebentar dan jangan khawatirkan apapun!"


Setelah Haris menerima helmnya, Robin segera berlari cepat ke arah yang berlawanan, meninggalkan sejumlah pertanyaan bagi Haris yang masih tidak bisa mencerna situasinya dengan baik.


"Yah, apapun itu pastinya Tuan sedang melakukan sesuatu yang sangat penting…" Haris mencoba untuk tenang. "Saat ini aku hanya perlu menuruti permintaan Tuan!" ucapnya kemudian melajukan motornya mengikuti mobil taksi yang sudah semakin menjauh.


Sementara itu, Robin kini tampak sedang berlari menuju salah satu halte bus yang mana terdapat WC umum di dekatnya. Dan kali ini tujuannya bukanlah halte bus, melainkan WC umum.


Bukan karena ingin buang air, tetapi untuk menyelamatkan target misi yang menyuruh Robin untuk menyelamatkan seorang wanita muda yang sedang disekap oleh beberapa orang.


[Selamatkan seorang wanita muda di dalam WC umum yang berada di dekat halte bus!]


[Hadiah: 50.000.000 rupiah, 1 point system, dan 1 mobil acak.]


[Hukuman: menderita impotensi selama sepuluh tahun.]


[Durasi: 00:00:04:29]


"Sial, aku tidak boleh terlambat!"


Setelah menghabiskan beberapa tarikan nafas, akhirnya Robin telah sampai di tempat yang dimaksud. Tanpa basa-basi, Robin segera masuk ke dalam WC umum itu dan mendobrak salah satu pintu yang ada.


Tendangannya tersebut menimbulkan suara bising yang segera menggema di dalam ruangan kosong itu. Hal tersebut membuat para pria yang berada di salah satu WC tampak sangat terkejut dengan kehadiran Robin.


"Siapa kau!?" tanya salah satu pria bertubuh besar dengan tatapan tajam.


Mendengarnya, Robin tampak tak bergeming. Justru sebaliknya, saat ini dirinya menatap tajam ke arah tiga pria mesum itu dan sesekali melirik ke arah wanita muda yang sedang tidak sadarkan diri dengan busana yang hampir terbuka.


"Dasar pria tak beradab!" Robin berkata dengan suara dingin. Saat ini amarahnya sudah tidak terbendung.


Setelah mereka saling bertatapan dalam beberapa detik kemudian ketiga pria itu langsung menerjang ke arah Robin dengan kesal.


"Sialan, jangan memandangi kami dengan mata menjijikkan mu itu, bajingan!!" ucap pria berbadan besar berlari menuju Robin yang berada diluar WC.