
Wanita itu tampak terkejut dengan perkataan Robin. Namun, merasa tidak bersalah, dia membalas tatapan Robin dengan tajam dan berjalan menghampirinya dengan langkah berat.
"Jaga ucapan mu, gelandangan!" Wanita itu berkata dengan nada yang ditekankan.
Sementara itu, Robin hanya diam tak menanggapi, namun wajahnya yampam sangat gelap dengan tatapan dingin tersimpan dibalik rambutnya.
Robin perlahan bangkit dari duduknya, semua orang masih memandangi mereka dengan tatapan penasaran dan bahkan ada yang sampai merekam.
Namun, dengan tenang Robin mengubah wajahnya menjadi ramah, dia tersenyum tipis dan menatap pelayan wanita di depannya dengan tatapan rumit.
"Oh… Maafkan saya bila perkataan saya menyakiti Anda…" Robin berbicara sambil menempelkan kedua tangannya seolah memohon.
Mendengar itu, pelayan wanita tampak puas, namun disisi lain dia kebingungan dengan perubahan sikap Robin yang terbilang sangat aneh dan begitu cepat.
"Akhirnya kau paham juga siapa yang salah disini, dasar gelandangan!" ucap pelayan wanita kembali merendahkan mereka dengan senyuman mencibir.
Melihat itu, Robin tak mengubah sikapnya, dia masih menatap pelayan wanita itu dengan mata yang menyipit dan senyuman aneh. Hal itu tentu saja membuat yang lain kebingungan, termasuk keluarganya sendiri, mengingat sebelumnya dia tampak begitu marah.
"Iya, kami memang gelandangan… Kami juga tidak memiliki uang yang banyak. Tetapi, kami dapat dengan mudah membeli harga dirimu sepenuhnya…" Robin berbisik di dekat wajah pelayan wanita dengan seringai tipis yang tak bisa dilihat siapapun selain wanita itu.
Pelayan wanita yang sebelumnya tampak sombong kini wajahnya terlihat merah padam, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat membuat orang-orang yang melihat mereka sejak awal semakin dibuat kebingungan.
'Ini sebenarnya sedang terjadi apa, sih?' pikir mereka kebingungan.
Namun, kebingungan mereka segera berubah menjadi perasaan semangat ketika melihat pelayan wanita menampar pipi Robin dengan keras hingga menimbulkan suara nyaring yang mengisi ruangan.
"Jaga ucapan mu, bajingan!" kesal wanita itu menatap tajam kearah Robin yang sedang memegangi pipinya.
Xiao Hang dan Haris sontak berdiri dengan terkejut sekaligus marah. Mereka hendak untuk menghampiri wanita itu dan meminta pertanggung jawaban atau mungkin melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan kepada Robin.
"Kau…" Xiao Hang yang sudah terlanjur marah hendak menghampirinya dengan amarah. Namun hal itu segera dihentikan oleh Robin yang telah kembali seperti semula.
"Berhenti Xiao Hang, ini tempat umum, dan juga kita tidak boleh mengganggu ketenangan dengan melakukan pembalasan kepada wanita ini…" bisik Robin berwajah serius.
Xiao Hang tidak bisa membantah, karena mau bagaimanapun juga yang dikatakan oleh Robin merupakan kebenaran. Restoran akan heboh bilamana mereka melakukan pembalasan kepada wanita itu.
"Ya… Daripada membalasnya dengan pukulan, lebih baik kita segera pergi saja…" Robin meninggikan suaranya hingga terdengar oleh keluarganya.
"Tuan benar…"
Perlahan mereka bangkit dan hendak pergi mengikuti Robin. Paling tidak sebelum kehadiran seseorang yang datang menghampiri mereka dengan pakaian yang sangat rapih.
Robin berhenti sejenak, dia melirik kearah pria tersebut dan mengangkat alisnya karena bingung dengan kedatangan pria asing kepada mereka.
"Ada apa ini!?" tanya pria itu dengan suara yang tegas. "Kenapa kudengar ada keributan? Apa yang sedang terjadi?"
Mendengar itu, pelayan wanita tampak membelalakkan matanya. Dia segera menoleh kepada pria itu untuk kemudian membungkuk dengan buru-buru.
"Maafkan saya, Pak Manager karena telah membuat keributan…" Pelayan wanita itu meminta maaf dengan perasaan khawatir.
Mendengar suara kemarahan dari sang manager, pelayan wanita itu kembali ke posisinya dan sedikit menunduk untuk menjelaskan situasinya dalam sudut pandang yang berbeda.
"Saya tidak tahu… Tetapi mereka telah membuat keributan karena alasan yang tidak jelas, ditambah mereka tidak memesan apapun dan hanya diam di kursi mereka seperti sedang menumpang, hal itu membuat kerugian bagi kita karena banyak calon pelanggan yang kabur gara-gara mereka. Dan ketika saya hendak memberitahukan kepada mereka mengenai hal ini, mereka justru menyalahkan saya dengan mengatakan bahwa saya pekerja yang tidak kompeten…" ucap pelayan wanita dengan suara bergetar.
Mendengarnya, wajah Manager berubah menjadi masam. Dengan segera dia mengalihkan pandangannya kearah Robin dan keluarganya. Dia tampak begitu marah, suasana hatinya saat ini seperti akan meledak-ledak karena amarah.
Sebaliknya, Robin dan keluarganya tampak kebingungan dengan ucapan wanita itu. Karena jelas saja sebelumnya dia lah yang bersalah. Namun, saat ini mereka tidak bisa melakukan apapun selain menunggu.
"Apa kau yakin dengan ucapan mu itu?" tanya Manager dengan suara yang ditekankan.
Wanita itu segera mengangguk meyakinkan ucapannya, karena dia yakin bahwa Managernya akan mempercayainya. Namun, dia tidak mengetahui bahwa Robin memang sengaja membiarkannya menjelaskan situasi.
Manager itu menatap Robin dengan tajam, dia seperti predator yang hendak menerkam Robin dengan brutal. Namun tatapannya itu tidak berarti apa-apa bagi Robin yang tampak sangat tenang.
"Tuan pelanggan… Mengapa Anda melakukan ini? Membuat keributan di tempat umum merupakan sebuah tindakan kriminal atas dasar mengganggu ketenangan. Apa Anda tidak terpikirkan sampai sana?" ucap Manager mencoba untuk tetap tenang.
Dia yang awalnya hanya ingin berkunjung ke restorannya malah berakhir seperti ini. Rasanya dia ingin mengabaikan masalah ini, tetapi itu akan menjadi masalah jika dia benar-benar melakukannya.
"Apa Anda sebegitu mudahnya mempercayai perkataan dia? Jika iya, maka itu menjadi kesalahan terbesar karena seorang Manager seperti Anda mempercayai perkataan seorang pembohong…" jawab Robin dengan tenang.
Ucapan Robin sontak membuat beberapa orang terkejut, terutama untuk wanita itu yang merasa bahwa Robin sudah melakukan kesalahan dengan mengatakan seperti itu kepada seorang Manager yang memiliki wewenang terhadap restoran ini.
"Apa yang Anda maksud, pelanggan…" Pria itu masih mencoba untuk tenang, namun tatapannya yang tajam tidak bisa berbohong.
"Tidak perlu aku jelaskan lebih lanjut, dan kalau tidak salah ada beberapa orang yang sudah merekam kejadian sebelumnya. Anda lebih baik mengecek kebenaran dengan memastikan situasinya. Bukankah itu lebih baik?" Robin tersenyum tipis kepada pria itu.
Sebagai Manager yang memiliki akal sehat, dia mengangguk menyetujui usulan Robin yang terdengar masuk akal. Dia sendiri takut harga dirinya akan jatuh jika dirinya melakukan kesalahan.
"Baiklah, saya akan memastikannya…" Manager itu segera meminta kepada salah satu pelanggan dengan enggan.
Namun hal itu bukanlah sebuah masalah, karena hanya dengan satu kalimat saja dia berhasil mendapatkan izin dari salah satu pelanggan untuk mengecek rekaman sebelumnya.
"Terimakasih pelanggan… Saya akan mentransferkan nya ke dalam rekening Anda setelah masalah ini selesai…" Manager menerimanya dengan ramah.
Kemudian, dia segera membuka rekaman yang menunjukkan situasi sebelumnya. Di sana, dia dapat melihat dengan jelas pegawainya yang sedang berseteru dengan Robin.
Namun jika dilihat bagaimanapun juga ini merupakan masalah yang biasa terjadi antara pelanggan dan pegawai. Dia merasa bahwa menonton rekaman ini hanya membuang-buang waktunya yang berharga.
Dan pada saat dia hendak memberikan kembali ponsel itu kepada pemiliknya, tiba-tiba saja dia mendengar suara nyaring dari ponsel tersebut yang kemudian membuat dirinya penasaran.
Dia kembali memutar bagian itu yang kemudian bisa terlihat jelas bagaimana pegawainya menampar Robin dengan keras di bagian pipi kirinya.
Hal itu sontak membuat dia terkejut. Dengan bukti yang kuat, dia memberikan kembali ponsel itu kepada pemiliknya dan berjalan menuju pegawainya dengan perasaan amarah yang tak terbendung lagi.
Sementara itu, pelayan wanita tampak sangat ketakutan dengan keringat dingin mulai bermunculan di tubuhnya. Karena saat ini dia sangat memahami kesalahannya yang telah membawanya ke dalam jurang tak berdasar.