
Selesai memesan makanan, Robin kembali duduk di tempatnya. Kali ini, Rina telah ke posisi semula, dia tidak ingin dianggap aneh oleh Robin jika melihat wajah merona nya lagi.
"Maaf ya, Saya sudah mengajak Anda ke tempat yang tidak cocok bagi Anda. Tapi, jujur saja, Saya memilih tempat ini untuk keselamatan perut saya karena sudah diambang kelaparan… Hehe…" ucap Robin diakhiri tawa kering dengan seringai kuda.
Awalnya Robin ingin membatalkan acara makan-makan ini, namun semua terlambat. Jika Rina pergi di tengah jalan, Robin merasa para penguntit itu akan menyadarinya dan malah menargetkan Rina yang sama sekali tidak bersalah.
Itu akan berbahaya.
Sehingga, dengan terpaksa dia membawa Rina, berencana untuk mengantarnya pulang agar tidak terjadi sesuatu yang berbahaya.
"Tidak masalah, Pak. Saya sudah merasa lebih nyaman dari sebelumnya…" jawab Rina, senyuman manis terlihat di wajahnya.
"Syukurlah jika seperti itu…" Robin menghembuskan nafas lega.
Mereka melanjutkan suasana dengan berbicara ringan, tampak hubungan keduanya sudah tidak terlalu kaku, bisa terlihat dari Rina yang lebih banyak menunjukkan senyumannya daripada yang pernah dia lakukan sebelumnya.
Tak terasa makanan mereka akhirnya telah tiba, makanan yang Robin pesan adalah ikan bakar, ayam, dan beberapa makanan lainnya. Rina terkejut, baru pertamakali dia melihat makanan sebanyak ini.
Bukan karena tidak mampu, tetapi Rina merupakan wanita yang gemar diet, sehingga tidak pernah sekalipun dia menyentuh makanan sebanyak ini.
"Pak, ini semua makanan…?" Tanya Rina, matanya melebar. Wajahnya benar-benar menunjukkan ketidakpercayaannya yang berhasil membuat Robin terkekeh.
"Tentu saja, kamu kira ini apa?" Robin sedikit menutupi mulutnya, dia semakin menunjukkan sikap mengejek yang membuat Rina sedikit malu.
"T-tidak, Pak… Bukankah ini terlalu banyak untuk dimakan oleh kita berdua? Bagaimana jika tidak habis?" Rina membingungkan hal yang masuk akal, Robin sedikit setuju dengan itu.
Namun, Robin sengaja membeli makanan sebanyak ini hanya untuk mengulur waktu dan berharap para penguntit akan pergi karena bosan menunggu mereka. Ya, itu hanyalah taruhan, kemungkinannya masihlah 50/50.
"Tidak perlu memusingkan itu, aku akan memakannya sampai tidak tersisa! Kamu tidak tahu? Aku pernah memakan makanan dalam jumlah banyak di restoran kita hanya untuk seorang diri!" ucap Robin membusungkan dada, wajahnya menunjukkan kesombongan.
Rina menekuk alisnya, "Bapak pernah makan di restoran kita? Kenapa saya baru mengetahuinya… Atau mungkin Bapak melakukan itu pada saat masih belum menjadi pemilik restoran?" Rina tampak bertanya-tanya, dia khawatir karena telah mengabaikan bosnya kala itu. Namun, dirinya yang lain berharap bahwa dugaannya tepat.
Robin menggeleng, dia tersenyum dan berkata, "Tidak, aku melakukan itu ketika sudah menjadi pemilik. Bahkan aku ada pada saat karyawan kita bermasalah dengan pelanggan. Kamu tidak tahu?"
"Iya… Saya bahkan tidak sadar kehadiran Anda saat itu…" Rina tidak percaya, dia merasa tidak sopan dan bersalah akan hal itu.
Wajahnya kali ini dengan jelas menunjukkan kekecewaannya, bahkan Robin sadar akan hal itu. Dia tersenyum samar, kemudian mulai menatap makanan di depannya.
"Lupakan semua itu, mari kita makan saja dan membahas itu setelahnya!" ucap Robin penuh semangat.
Sementara itu, Rina mengangkat kepalanya, melihat ekspresi bosnya yang seolah tidak mempedulikan hal lain selain makanan di depannya. Walaupun masih merasa bersalah, Rina tampak terkekeh kecil, dia merasa gemas dengan tingkah Bosnya yang terlihat seperti anak kecil.
Kemudian, mereka berdua menyantap makanan dengan tenang. Tampak kejadian tersebut membuat hati Rina semakin terbuka. Dia merasa nyaman berada di dekatnya Bosnya, dan ingin semua ini berlangsung begitu lama.
***
Selesai makan, keduanya tampak sama puas. Apalagi ketika melihat makanan mereka benar-benar ludes tidak tersisa. Tentu saja yang makan paling banyak adalah Robin, membuat Rina terkejut tidak percaya.
"Hah… Kenyang sekali…" ucap Robin, mengelus perutnya yang membuncit.
"Hehe, Bapak benar-benar menghabiskan semuanya…" Rina berkata canggung, dia merasa bingung untuk bereaksi seperti apa.
Robin melirik, kemudian tersenyum dan berkata, "Sudah kubilang, semua ini mudah saja bagiku! Tapi, jujur saja aku jadi kekenyangan dan mengantuk. Bagaimana jika kita pulang, saja?"
Tentu saja itu bohong. Robin sudah merasa marabahaya semakin mendekat, bahkan mereka sudah berani muncul dengan mengintai dari seberang jalan. Robin bisa sadar karena dia telah menjadi kuat, instingnya semakin tajam.
Melihat jam di tangannya, Rina melihat waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ini sudah waktunya bagi mereka untuk pergi, mengingat rumahnya sedang kosong, dikhawatirkan akan ada maling yang menyelinap.
"Baiklah…"
"Aku berharap mereka tidak keluar sebelum Rina sampai ke rumahnya…" Harap Robin merasa cemas.
Baru saja dia berkata seperti itu, tampak muncul beberapa mobil yang menutupi jalannya. Di balik mobil-mobil menyebalkan itu, Robin dapat melihat mobil Rina sedang digiring ke suatu tempat.
Merasa kesal, Robin berniat untuk menabrak mereka. Namun itu segera dihentikan ketika dirinya menyadari jalanan sekitar sudah mulai sepi. Tampaknya dia sudah dijebak oleh mereka.
Robin menghentikan mobilnya, keluar dan melihat beberapa sosok asing sudah berdiri di dekat mobil mereka. Dari wajahnya, Robin tidak pernah bertemu mereka sama sekali, yang berarti ini adalah musuh baru.
"Siapa kalian!" Robin berteriak kesal, suaranya terdengar keras.
Terkekeh, salah satu dari mereka maju dan melepaskan kacamata hitamnya. "Kau tidak perlu mengetahui siapa kami, karena saat ini kau akan mati!" ucapnya begitu arogan.
Robin berdecak kesal, sekarang dia dipaksa untuk melawan mereka disaat Rina sedang dalam bahaya. Sebelum benar-benar memulai pertarungan, Robin membuka layar status dan mengupgrade kekuatannya dengan sisa poin yang dimiliki.
[Status]
[Nama: Robin Dermawan]
[Usia: 22 Tahun]
[Pekerjaan: Pengelola Restoran]
[Strength: 15]
[Agility: 12]
[Durability: 10]
[Intelligent: 7]
[Sistem Poin: 0]
[Saldo: 2.320.900.000]
<< Penyimpanan >>
<< Toko >>
Melihat statusnya yang sudah meningkat, Robin dapat merasakan perasaan nyaman sedang mengalir dari pembuluh darahnya. Tak hanya itu, dia juga merasa tubuhnya semakin ringan tapi bertenaga.
"Huh… Sepertinya dia mematung karena ketakutan. Kalian, cepat tarik mayatnya!" ucap pria tersebut kepada anak buahnya.
"Siap!" Mereka langsung berlari menuju Robin setelah mendapatkan perintah. Tampak masing-masing dari mereka memegang senjata tajam yang siap untuk mencabut nyawa Robin.
"Sepertinya kalian benar-benar ingin membunuhku…" gumam Robin, suaranya terdengar dingin.
***
Sementara itu, Rina kebingungan dengan beberapa mobil hitam yang terus membuntuti dan bahkan seperti sudah mengurungnya di tengah-tengah.
Merasa aneh, Rina menghentikan laju mobilnya, membuka jendela dan mulai bertanya, "Permisi, kenapa kalian terus mengikuti saya?" tanya Rina meninggikan volumenya.
Tak lama kemudian, muncul sesosok pria botak berjas sambil menyeringai, "Mengikuti Anda? Maaf, tapi kami sedang membawa Anda pulang…" ucapnya tak melunturkan seringainya.
"K-kau!?" Rina terkejut, dia membelalakkan matanya ketika melihat sosok yang familiar itu. Namun, yang dia dapatkan bukanlah perasaan bahagia, melainkan sebaliknya.
Saat ini dirinya sedang berkeringat dingin!