Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Keanehan


"Kamu… Kamu juga di sini!?" tanya Robin begitu terkejut ketika melihat sosok istrinya sedang berada di tempat yang sama.


Suara Robin berhasil membuat Wulan kembali tersadar, mendengar pertanyaan Robin, spontan dia menganggukkan kepalanya, "Ya, saya sedang membeli buah-buahan untuk Nyonya muda… Kebetulan beliau sedang menginginkannya karena sedang mengandung." 


Wulan menjawabnya lembut, namun hal itu menimbulkan beberapa pertanyaan di benak Robin. Dia mencoba untuk menggali masa lalu tentang ini, tetapi semua itu mustahil untuk dilakukan dalam waktu yang singkat.


Sebelum dirinya dianggap sebagai orang aneh, Robin segera kembali normal dan tertawa kering, "Haha, ini adalah sebuah kebetulan yang mengejutkan!"


Sementara itu, Sanaka yang sejak awal memperhatikan mereka hanya bisa memiringkan kepalanya. Dia ingin tahu hubungan antara keduanya, namun untuk mengungkapkan pikirannya tersebut diperlukan nyali yang besar. Sedangkan Sanaka sendiri tidak memilikinya.


"Itu benar…" Wulan ikut tertawa, kemudian dia teringat sesuatu, "Oh, iya, apakah kalian merupakan sepasang suami istri?" tanya Wulan melirik ke arah Sanaka dan Robin secara bergantian.


Tak disangka, pertanyaannya yang begitu tiba-tiba itu membuat Sanaka menjadi malu, dia memalingkan wajahnya yang memerah. Sementara itu, Robin hanya mengangkat alisnya kebingungan.


"Maksudmu kami?" tanya Robin dan mendapatkan anggukan kepala dari Wulan, "Haha, tidak, kami tidak memiliki hubungan seperti itu! Mengapa kamu berpikir demikian?" Robin terkekeh.


Mendengarnya, Wulan menghembuskan nafas lega, entah mengapa dia merasa tak kuat jika sampai mendengar bahwa hubungan mereka sesuai dengan apa yang dia pikirkan.


"Tidak… Hanya saja aku merasakan kecocokan diantara kalian." Wulan menjawab, "Tapi syukurlah jika itu kebenarannya…" tambahnya dengan nada yang lebih rendah.


Walaupun begitu, Sanaka dapat mendengar dengan jelas perkataan Wulan. Namun, belum sempat dia bereaksi, Wulan sudah berjalan menuju kasir setelah antrian telah selesai.


Sanaka tidak mengetahui hubungan diantara keduanya, namun dia sangat yakin pada instingnya bahwa mereka berdua memiliki perasaan yang sama, walaupun saat ini semuanya masih belum pasti.


Robin belum sempat menceritakan tentang keluarganya di masa lalu kepada siapapun itu, dia hanya menceritakan beberapa penderitaan yang dia dapatkan dari musuh-musuhnya di masa lalu, hanya sebatas itu saja.


Sementara itu, Robin yang berada di samping Sanaka segera mengambil alih pekerjaan nya untuk mendorong troli. Sebelum melakukannya, dia sempat menunjukkan senyuman lembut kepada Sanaka.


"Sekarang giliran ku…" ucap Robin kemudian mulai mendorong troli kedepan.


Robin berjalan meninggalkan Sanaka yang masih terpaku di tempatnya, dia sedikit terkejut dengan tindakan Robin, namun kemudian ekspresinya berganti menjadi senyuman lembut disertai kebahagiaan.


'Ya, setidaknya aku masih memiliki harapan, walau hanya setitik cahaya saja…' pikir Sanaka kemudian berjalan menghampiri Robin yang sedang mengantri di belakang Wulan.


***


Selesai dengan semuanya, mereka bertiga pergi keluar supermarket bersama. Diantara mereka bertiga, saat ini hanya Robin seorang yang membawa banyak sekali beban di tangannya.


"Tuan, biarkan saya membantu Anda!" pinta Sanaka dengan ekspresi khawatir, namun lagi-lagi itu dibalas dengan gelengan kepala.


"Sudah kubilang, semua ini tidak terlalu masalah bagiku, tenang saja!" tegas Robin meyakinkan Sanaka yang terus saja khawatir dengan kondisinya.


"Baiklah jika seperti itu…" Sanaka memasang ekspresi kecewa, tetapi dia sendiri tidak bisa membantah perintah Tuannya itu.


Sesampainya mereka di tempat parkir, Robin segera bertanya kepada Wulan, "Apakah kamu yakin tidak akan ikut dengan kami?" tanya Robin tampaknya menyiratkan sedikit harapan.


Mendengarnya kembali, Wulan menggelengkan kepalanya, "Tidak seperti sebelumnya, sekarang saya diantar oleh supir keluarga. Jadi, maafkan saya karena tidak bisa menerima tawaran Anda!"


Tak hanya Robin, Wulan juga ingin pulang bersama. Namun itu akan terlalu menunjukkan perasaannya terlalu jelas, ditambah dengan supir keluarga yang sejak awal sudah menunggunya di tempat parkir. Kondisinya saat ini tidak memungkinkannya untuk melakukannya.


"Baiklah… Hati-hati dijalan, dan jangan lupa untuk meminta bantuan kepadaku kapanpun kamu berada dalam masalah!" ucap Robin disertai senyuman.


Walaupun dirinya sedikit kecewa, namun semua ini bukanlah sebuah masalah besar. Semua momen kebersamaan akan terjadi di masa depan, mengingat mereka berdua sudah bertukar nomor ponsel, sehingga hal itu akan memudahkan komunikasi diantara keduanya.


"Baik, terimakasih dan selamat tinggal?" Wulan pergi setelah melambaikan tangannya.


"Apakah kau ingin mampir ke suatu tempat dulu?" tanya Robin kepada Sanaka setelah keduanya sudah duduk di kursi depan.


Sanaka menoleh, wajahnya tampak penuh dengan pertanyaan, "Mungkinkah Anda memiliki perlu di suatu tempat?"


Pertanyaan Sanaka dibalas gelengan kepala, "Tidak, tapi ini tak kalah pentingnya dengan itu. Bagaimana?"


Tak perlu merenung, Sanaka mengangguk, "Baiklah. Saya tidak keberatan."


Mendengar persetujuannya, Robin segera tancap gas untuk kemudian pergi menuju mall. Tujuannya kali ini adalah membeli beberapa ponsel untuk keluarganya, termasuk Vily dan Vino.


"Tuan, Anda ingin membeli sesuatu?" tanya Sanaka ketika menyadari tempat yang mereka kunjungi adalah sebuah mall.


"Tentu saja!" jawab Robin tersenyum tipis, kemudian berjalan memasuki mall dan pergi ke sebuah toko yang menjual ponsel.


Sanaka hanya bisa terdiam dan mengikuti seluruh keinginan Robin tanpa memiliki niatan untuk membantah atau mempertanyakan sesuatu.


Namun tak bisa dipungkiri bahwa kali ini Robin mengajaknya ke suatu tempat yang tampak begitu asing baginya. Ini adalah kali pertama bagi Sanaka untuk memasuki tempat seperti ini.


Sesampainya di dalam toko ponsel, Robin segera mengajak Sanaka untuk pergi menuju etalase kaca yang berisikan berbagai jenis ponsel. Di sana dirinya langsung berhadapan dengan seorang karyawan wanita yang segera memasang senyuman ramah.


"Ada yang Anda butuhkan, Tuan pelanggan?" tanya karyawan wanita begitu profesional.


Setelah duduk di kursi kecil yang disediakan, Robin menatap karyawan tersebut, "Begini Mbak, saya akan membeli Handphone yang paling direkomendasikan di tempat ini." ucap Robin tanpa basa-basi.


Mendengarnya, karyawan wanita itu sempat merenungkan sesuatu, kemudian dia kembali menatap Robin dan berkata, "Jenis Handphone untuk keperluan apa kalau saya boleh tahu?"


"Aku ingin yang multifungsi, ya setidaknya bisa digunakan untuk apapun itu, tak hanya berpatokan pada satu keperluan." jawab Robin setelah melirik ke arah Sanaka yang berdiri di dekatnya.


"Berapa buah yang ingin Anda beli?" tanya kembali karyawan tersebut dengan tatapan penuh harap.


Sebelum menjawabnya, Robin sempat terdiam, namun beberapa detik kemudian dia berkata, "Kalau bisa, aku ingin 6 buah saja. Tolong dipercepat ya?"


Mendengar jawaban Robin, tampak wajah karyawan wanita itu menjadi cerah. Tak hanya dirinya, tetapi beberapa karyawan yang mendengar permintaannya langsung memasang ekspresi bahagia.


"Baiklah, baiklah, mohon ditunggu sebentar, Tuan pelanggan!" ucapnya kemudian berjalan menuju teman-temannya untuk mempersiapkan barang yang Robin inginkan.


Ketika mereka sedang sibuk menyiapkan pesanan, Robin dengan tenang menepuk kursi di sampingnya sambil menatap Sanaka dan berkata, "Duduklah sebentar, kamu perlu beristirahat sejenak, tidak baik duduk terlalu lama."


Sanaka mengangguk, kali ini dirinya terlalu banyak tenggelam dalam pikirannya setelah mendengar ucapan Robin yang sedikit mengejutkan dirinya.


"Ngomong-ngomong, Tuan. Untuk apa Anda membeli Handphone sebanyak itu?" Sanak merasa sudah tidak kuasa untuk tidak bertanya kepada Robin.


Mendengarnya, Robin tersenyum tipis, "Ini untuk kita semua. Setidaknya aku ingin menciptakan suasana baru bagi keluarga kita." ungkap Robin terdengar begitu tulus.


****


Hai, hai, hai, Kiyohyun di sini!


Saat ini saya ingin menyampaikan rasa terimakasih saya kepada kalian yang sudah membaca novel ini. Kalau masih banyak kekurangannya, maafkan. Pasalnya novel ini saya buat tanpa kerangka cerita, itu emang sulit banget, cuma saya bakal berusaha semaksimal mungkin buat menyelesaikan novelnya tidak seperti yang lalu.


Untuk masalah telat update, saya juga meminta maaf. Saya sedang mempersiapkan novel baru, maka dari itu terkadang suka telat update untuk novel ini. Dan juga, sekali lagi maaf karena ada beberapa komen yang tidak saya respon atau bahkan tidak dibaca sama sekali. Masalahnya, saya masih bermental culun, entah mengapa suka takut duluan.


Sekian dari saya, terimakasih...