Sistem Kekayaan Ganda

Sistem Kekayaan Ganda
Merasa malu


Rina tak membantah, dia sadar ini sudah jam makan siang. Perlahan, mereka berdua bangkit. Ketika Rina hendak membayar tagihannya, segera Robin menghentikan dan berkata.


"Saya saja yang membayarnya, Anda pergilah terlebih dahulu!" Lirih Robin, senyuman hangatnya membuat Rina salah tingkah.


"T-tapi, Pak! Ini adalah tagihan saya!" ucap Rina, merasa enggan jika harus ditraktir oleh Bosnya.


Robin tak menjawab, dia terus memasang senyuman dengan mata menyipit. Itu adalah reaksi yang tak bisa dibantah. Walaupun enggan, Rina tetap menurutinya dan perlahan pergi menuju parkiran.


Disaat Rina menghampiri mobilnya, Robin membayar tagihan yang tidak seberapa. Saat ini saldo di rekeningnya masih tersisa banyak, sekitar dua milyar rupiah. Itu sudah lebih dari cukup untuk hidup selama lima puluh tahun kedepan.


Ditempat parkir, Robin dapat melihat Rina yang sudah berada di dalam mobilnya. Dia tersenyum, merasa bahagia karena semuanya masih berjalan lancar. Namun, sebelum memasuki mobilnya, dia merasakan beberapa pasang mata sedang mengamatinya dari kejauhan.


Robin menoleh, mengedarkan pandangannya ke sekitar. Namun, dia tidak dapat melihat apapun selain beberapa kendaraan yang terparkir dan pepohonan berjejer. Dia menekuk alisnya, paling tidak sebelum Rina bertanya kepadanya.


"Pak? Apa yang terjadi?" tanya Rina merasa aneh dengan sikap Robin yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan bersikap seperti sedang merasakan hantu di belakangnya.


Robin tersenyum canggung, dia menggelengkan kepalanya, "Tidak … Saya hanya mendengar suara tikus. Saya takut dengan mereka …" Robin berdalih.


Rina ingin terkekeh, namun dia tidak berani. Tatapannya tampak getir, mulutnya menutup dengan paksa, mencoba untuk tidak tertawa. Beruntung sikapnya tersebut tidak disadari oleh Robin yang langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Anda ingin makan di mana, Rina?" tanya Robin, jendela mobilnya turun, menunjukkan wajah tampannya sedang menatap Rina yang berada di mobil sampingnya.


Suara tersebut membuat Rina menjadi sedikit panik, dia khawatir ekspresinya akan dianggap aneh oleh Robin. Setelah menoleh, mulutnya yang tersenyum canggung berkata, "Saya akan ikut kemanapun Anda menginginkannya …"


Walaupun sudah mencoba untuk menutupi ekspresi anehnya, Robin tetap peka. Dia menyadari ada keanehan di wajah Rina. Namun, dia tidak ingin mempedulikannya. Dengan cepat dirinya menyalakan mesin mobilnya dan berjalan lebih dulu.


Menyadari itu, Rina mengikutinya dari belakang. Beberapa saat selanjutnya, mereka tampak melaju di jalur yang sama dengan Robin memimpin di depan.


Tanpa mereka sadari, mobil mereka sedang dibuntuti oleh sekelompok orang yang berada di dalam beberapa mobil acak.


"Dia sedang pergi dengan wanita, kemungkinan itu adalah rekan bisnisnya. Lebih baik kita abaikan mereka dan berfokus pada pria itu. Mengerti?" ucap pria bertubuh besar, aura yang mengerikan disertai tatapan tajam membuat orang-orang disekitarnya tidak berani untuk menatapnya lebih lama.


"Siap!" Semua orang termasuk orang yang berbicara melalui walkie-talkie menyetujuinya dengan suara tegas.


***


Mereka berdua telah tiba di tempat makan sederhana, mereka memarkirkan mobilnya di dekat ruko kosong yang berada di samping rumah makan tersebut. 


Robin keluar dari mobil, diikuti oleh Rina. Kedatangan mereka menimbulkan sedikit kericuhan di sekitar, termasuk orang-orang di dalam rumah makan. 


Berbeda dengan Robin yang tampak acuh, Rina merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan orang di sekitar. Dengan langkah kecil dia menghampiri Robin yang berjalan lebih dulu.


Memaksakan senyumannya, Rina mendongak dan berkata, "Tidak masalah, Pak. Saya juga menyukainya …"


Tak tega. Itulah perasaan yang terlintas di hati Robin untuk kondisi Rina. Jelas, dia dapat melihat Rina yang tampak tidak nyaman dengan keramaian. Namun, hal ini perlu dilakukan, mengingat banyak orang yang sedang membututi nya sejak awal.


'Maafkan aku, Rina. Aku khawatir jika kita ke tempat yang lumayan sepi, mereka akan beraksi lebih cepat dan leluasa … Aku berjanji akan bertanggung jawab di masa depan.' pikir Robin, alisnya menekuk dengan ekspresi sesal.


Hanya butuh beberapa langkah bagi mereka untuk masuk ke dalam rumah makan tersebut. Tak hanya satu, tapi banyak sekali orang yang memperhatikan mereka berdua di dalam rumah makan. Itu semakin membuat suasana menjadi tidak nyaman.


'Kalau ini terus berlanjut, aku khawatir suasana hatinya semakin buruk …' Robin mengalihkan pandangannya kepada Rina dan sekitar secara bergantian.


Setelah menarik nafas dalam-dalam, Robin memperhatikan orang-orang yang masih menatap mereka. Kerutan di keningnya seketika muncul, Robin merasa aneh dengan sikap mereka yang tidak sopan.


"Mohon maaf, bisakah kalian tidak memperhatikan kami? Sungguh, saya memohon!" Robin berkata, suaranya terdengar lantang menyebar keberbagai sisi rumah makan.


Tidak perlu berbohong, saat ini Robin ikutan tidak nyaman dengan perilaku mereka. Niat awalnya yang ingin menghindari tempat sepi malah membawanya ke situasi yang menyebalkan.


Tak hanya mereka, Rina juga merasa terkejut dengan tindakan Robin. Dia mendongak, matanya yang melebar menatap wajah Robin yang tampak dipenuhi kerutan tidak senang. Rina merasa Robin seperti orang yang berbeda, Robin yang saat ini terlihat sangat mempesona baginya.


Melihat mereka yang sudah mengalihkan perhatiannya, Robin kembali duduk, dia mengembuskan nafas berat. "Hah … Ini semua terasa tidak sopan. Tapi perilaku mereka lebih tidak sopan!" Keluh Robin sambil memijat keningnya.


Disaat seperti itu, Robin melirik dan menyadari Rina sedang menatapnya dengan aneh. Namun, dia yang memahaminya tidak ambil pusing dan kembali berdiri, berencana memesan sesuatu.


"Rina ingin memesan apa? Sekalian saya akan pergi untuk memesan makanan …" ucap Robin, suara lembutnya berhasil menyadarkan lamunan Rina.


Rina tampak gelagapan, dia tidak bisa berpikir jernih, "A-ah! S-saya sama seperti Anda saja!!" Secara spontan dia menjawab.


Reaksinya tersebut menciptakan sebuah senyuman indah di wajah Robin, dia merasa lucu dengan Rina yang bereaksi berlebihan.


"Baiklah, saya akan memesannya dulu …" ucap Robin. Saat dirinya hendak berjalan, Robin menyempatkan diri untuk mengatakan sesuatu lagi, "Ngomong-ngomong, wajahmu yang seperti itu terlihat lebih manis daripada sebelumnya. Hehe …"


Robin menutup senyumannya dengan tangan, kemudian pergi meninggalkan Rina yang wajahnya tampak semakin merona dibuatnya. Dengan gerakan cepat dia menoleh kebelakang dan melihat Robin yang sedang memesan sesuatu.


'A-apa-apaan dia itu!? Kenapa dia mengatakannya dengan ekspresi seperti itu!!' pikir Rina sambil mengingat kembali ekspresi Robin yang terlihat manis ketika sedang menggodanya.


Mengingatnya kembali, wajah Rina semakin dibuat merona. Dia segera memalingkan wajah dan membenamkan nya di lengan yang sudah dilipat. Darahnya begitu mendidih, sehingga membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Bos yang bodoh …" gumam Rina dengan volume kecil dan hanya dirinya yang dapat mendengar itu.