
(Maaf, kemarin judulnya oleng wkwk, efek kurang fokus.)
***
Merasa terhina, pria itu melangkah maju dan menghajar wajah Robin dengan pukulan yang keras. Tentu itu tak dapat dihindarkan, namun Robin tetap tak mengubah ekspresinya yang terus menunjukkan penghinaan kepada orang itu.
"Aku akan membuat wajahmu menjadi lebih buruk dari itu!" ucap pria tersebut kembali menghajar Robin hingga memberikan bekas memar di wajahnya. Sesekali pria itu juga memukul dan menendang perut Robin.
Namun, semua usahanya tersebut tak membuahkan hasil yang diinginkan. Dibalik memar yang memenuhi wajahnya, Robin memasang seringai menyebalkan.
"Wajahmu itu, sungguh menyebalkan, sialan!" Kembali dia melancarkan pukulan cepat dan keras kepada Robin.
Namun kali ini, pukulannya tampak begitu lambat di mata Robin. Dengan waktu yang seolah melambat, Robin dapat melihat sebuah notifikasi misi yang menyuruhnya untuk segera pergi dari tempat tersebut sebelum nasib sial menimpa dirinya.
[Selamatkan seorang gadis dari pencurian di dekat pasar!]
[Hadiah: 1.000.000.000 Rupiah, 2 Poin Sistem, dan kesempatan gacha 1×]
[Hukuman: Kehilangan indera penciuman selamat satu tahun]
[Durasi: 00:00:14:55]
Melihat hukumannya yang begitu mengerikan, dengan cepat kesadaran Robin kembali ke dunia nyata. Sekarang dia dapat melihat pukulan pria itu semakin cepat menuju ke arahnya, namun dengan satu gerakan, Robin berhasil menghindarinya.
"Apa!?" Pria itu membelalakkan matanya ketika menyadari Robin menghindari serangannya.
"Maaf, aku tidak punya banyak waktu untuk bermain lagi." Robin berkata dengan nada rendah.
Kemudian beberapa sekian detik, Robin menyikut ulu hati pria yang menahannya, dan dilanjut dengan tendangan keras ditujukan kepada pria di depannya.
Dengan begitu, dia sudah melepaskan diri dari jeratan mereka dan berhasil menumbangkan dua orang dari mereka. Namun, itu belum berakhir, karena dua sisanya langsung melanjutkan perjuangan teman-temannya dengan menyerang Robin secara bersamaan.
"Oh astaga, aku melihat banyak celah dari kalian…" gumam Robin dengan mata memutar cepat ke dua arah berbeda.
Sebelum serangan mereka berdua sampai ke arahnya, Robin dengan santai sedikit menurunkan tubuhnya, kemudian memukul perut keduanya secara bersamaan dengan kekuatan yang sama.
Pukulannya tersebut berhasil memberikan dampak yang cukup besar bagi mereka. Namun yang paling mencolok saat ini adalah fakta bahwa tubuh mereka terhempas beberapa meter hanya karena satu pukulan saja.
"Maafkan aku untuk itu, dan semoga kalian tidak terkena amukan warga karena telah menutup jalan!" ucap Robin sambil menaiki motornya dan memasangkan helm di kepalanya.
Karena tempat pasar yang berada di jalan yang berbeda, Robin memutar motornya dan melaju tanpa mempedulikan mereka yang sedang mengerang kesakitan. Namun itu tidak berlaku bagi pria yang merupakan pemimpin kelompok tersebut.
"Cih, dia berhasil melarikan diri!" kesalnya meludah ke samping, kemudian dia pergi ke mobil untuk segera pergi meninggalkan teman-temannya.
"Kalian semua sampah, jadi tidak usah kembali lagi!" ucapnya dengan tenang, dan perlahan sosoknya menghilang bersamaan dengan mobilnya.
Sementara itu, Robin dengan motornya sedang fokus menatap jalan, kecepatannya melewati batas rata-rata, namun itu bukan menjadi sebuah masalah baginya. Karena saat ini, masa depannya sedang dipertaruhkan dalam sebuah misi kecil.
"Sial, kenapa harus disaat yang tidak tepat wahai Sistem!" gerutu Robin dengan wajah yang khawatir.
[Anda tidak bisa mengeluh, Tuan. Pasalnya seluruh misi yang diberikan sudah diatur oleh Sang Pencipta, dan tentunya itu memiliki ikatan pada masa depan Anda.]
Sistem menimpali ucapan Robin dengan suara datarnya membuat pria tersebut menjadi tak bisa membantah apapun lagi. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah gelengan kecil sambil menarik nafas untuk menenangkan diri.
Beberapa menit kemudian, dia mencapai tempat yang ditentukan, yaitu pasar. Namun, GPS Sistem menunjukkan bahwa target misi kali ini sudah berada di luar pasar.
Hal itu tentunya membuat Robin menjadi kesal. Sebelumnya dia dihadang oleh kelompok tidak jelas, sekarang dia harus bermain kejar-kejaran dengan seseorang yang sedang memegang masa depannya.
"Ah, sial. Sekarang aku harus pergi ke sana!"
Robin kembali melajukan motornya menuju tempat yang ditentukan. Dan benar saja, tak sampai lima ratus meter dia dapat melihat sekelompok preman pasar sedang mengelilingi seorang gadis yang tengah membawa barang belanjaan.
"Alamak, sekarang aku harus berhadapan dengan kelompok aneh lagi. Tapi kuharap ini akan berjalan dengan cepat…"
Robin segera turun dari motornya dan berlari menuju mereka dengan tatapan yang tajam.
Sementara itu, para preman pasar kini sedang melakukan tarik menarik tas belanjaan dengan wanita itu, sebelum pada akhirnya wanita itu kalah setelah didorong oleh pria di depannya hingga terjatuh.
"Ini bayaran karena kau sudah mengabaikan jasa kami. Sekarang, semua ini telah menjadi milik kami, kau bisa pergi sebelum kami melakukan hal lebih kepadamu!" ucap preman itu menatap tajam ke arah wanita tersebut.
Menghadapi beberapa pria sangar tentunya membuat wanita itu ketakutan. Dia tidak bisa melakukan apapun selain memohon, namun semua permohonannya tak didengar oleh mereka, bahkan beberapa kali wanita itu telah ditendang oleh mereka hingga terjungkal.
Melihat itu, Robin yang sudah dekat dengan mereka langsung melompat dan memukul kepala salah satu dari mereka hingga membuat pria tersebut tak sadarkan diri.
Pukulannya saat ini memiliki tenaga lebih dari sepuluh kilogram, itu lebih dari cukup untuk membuat seseorang menjadi pingsan dibuatnya.
"Dasar pengangguran banyak gaya!" ucap Robin dengan mata menatap tajam ke arah mereka yang masih terpaku dengan tindakan Robin sebelumnya.
"Apa masalahmu, bajingan!?" Pria bertubuh besar melotot ke arah Robin dengan urat-urat menonjol di keningnya.
Bukannya menjawab, Robin malah membungkukkan tubuhnya untuk membantu wanita itu bangkit. Namun, ketika melihat wajah wanita itu, mata Robin seketika melebar dengan tubuh yang menjadi kaku.
"Kau berani mengabaikan ku, brengsek!?" Pria itu kesal, kemudian menjatuhkan kresek belanjaan ke bawah dan berlari menuju Robin dengan amarah yang memuncak.
"Sekarang kau harus diberi pelajaran!" ucap pria itu sambil melayangkan pukulannya.
Sementara itu, Robin yang masih terpaku dengan sosok wanita itu dengan cepat kembali ke dunia nyata. Tanpa menoleh, Robin mengangkat tangannya untuk menahan pukulan keras dari pria itu.
"Apa!?" Pria itu terkejut, dia ingin segera melepaskan tangannya dari cengkraman Robin, namun usahanya sia-sia.
Tak peduli dengan reaksinya, Robin menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang begitu ngeri. Hanya dengan melihat ekspresinya, mereka merasakan hawa dingin menjalar dari tubuhnya, seketika membuat bulu kuduk mereka secara spontan berdiri dan menari-nari.
"Sebelumnya aku hanya akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada kalian. Membuat kesadaran kalian menghilang itu sudah cukup…" Robin berkata dengan suara dingin.
Di jeda kalimatnya, Robin melepaskan cengkeramannya, kemudian membantu wanita itu untuk bangkit secara perlahan sebelum pada akhirnya dia kembali menatap kehadiran mereka.
"Namun, kali ini aku tidak akan mengampuni kalian, bahkan jika itu sampai membuat kalian mati dengan mata terlepas!" Robin menekankan suaranya dengan aura membunuh yang berkobar di belakang tubuhnya.
Hal itu membuat mereka menjadi sangat ketakutan, secara tidak sadar mereka sudah terjatuh ke tanah karena tak memiliki tenaga lebih.
Kali ini, baru pertama kali mereka merasakan ketakutan yang begitu besar kepada seseorang, bahkan sekarang mereka sedang mengutuk diri karena telah berurusan dengan orang yang salah.
"Persiapkan diri kalian, dasar bajingan!"