Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Jangan Menyiksaku Seperti Ini


***


Pagi hari di mansion Winston.


Seperti yang sudah Winston pesankan pada Sean, pagi itu dokter sudah berada di mansionnya.


"Halo Tuan Winston, saya dokter yang disuruh oleh dokter Sean kemari," ucap dokter dengan sopan pada Winston yang sedang duduk dihadapannya itu.


"Baiklah, aku sudah tahu. Kau lakukan lah tugas mu dengan benar." ucap Winston hendak meninggalkan ruangannya itu.


"Winston, kau mau kemana? jangan pergi dari sini, aku takut!" keluh Luna langsung berlari mengejar langkah kaki Winston yang sudah berada di dekat pintu.


Luna langsung memegangi lengan Winston, sembari melihat dengan takut kearah dokter yang berada di ruangan itu juga.


"Bagaimana dok? apakah tidak masalah aku berada disini selama pemeriksaan?" tanya Winston kearah dokter itu sembari mendekap Luna kedalam pelukannya.


"Tidak masalah Tuan, melihat dari keadaan pasien juga lebih baik Tuan berada di dekatnya. Karena sepertinya pasien merasa aman berada didekat Tuan," jawab dokter itu sopan.


Setelah mereka sepakat, Winston tetap berada di kamarnya selama pemeriksaan berlangsung.


Dokter itu membuat Luna tidak sadarkan diri dengan cara hipnotis, dokter itu ingin bertanya pada Luna mengenai apa yang sudah ia alami.


***


"Halo, boleh sebutkan siapa namamu?" tanya dokter itu saat Luna sudah kehilangan kesadarannya.


"Nama saya Luna Maria," jawab Luna dengan mata tetap tertutup.


Sekarang beberapa monitor sudah dipasang di ruangan itu, dan beberapa kabel sudah menempel di nadi Luna. Jadi, dokter itu bisa melihat adrenalin Luna saat menjawab pertanyaan nya.


"Baik Luna, boleh ceritakan mengapa kau tiba-tiba menjadi takut melihat orang-orang?" tanya dokter itu lagi.


"Aku, aku, aku mengingatnya, aku mengingat masa kecilku dulu," Luna menjawab sembari menangis dan tiba-tiba layar monitor yang tersambung dengan nadi dan detak jantungnya menunjukkan kenaikan adrenalin Luna, yang menandakan Luna sedang sangat ketakutan.


"Baiklah Luna, boleh ceritakan apa yang sudah kau ingat?" tanya dokter itu.


Melihat keadaan Luna sudah membuat Winston gusar, dia ingin menghentikan pemeriksaan itu karena melihat Luna seperti sedang tersiksa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dokter itu, namun Winston menahan dirinya. Dia hanya bisa memegang kursi yang ia duduki dengan sangat kuat.


"Aku, aku mengingatnya, dulu aku dibawa bibiku kesuatu tempat dan ada seorang pria menyeramkan yang menjemput aku. Lalu, lalu, aku dibawa pria menyeramkan itu. Bibiku berjanji akan menjemput aku, tapi dia tidak pernah datang, pria itu, pria itu mengurung aku di ruangan yang sangat gelap. Aku sangat ketakutan,"


Denyut nadi Luna semakin berdetak dengan sangat cepat, Luna juga sudah meronta-ronta dan menangis. Hal itu membuat Winston mengentikan paksa pemeriksaan itu.


Dia langsung berlari memeluk Luna.


"Maafkan aku, maafkan aku, jangan memaksakan dirimu," ucap Winston memeluk Luna dengan sangat erat. Karena Luna terlihat sangat menderita dan menangis dengan sangat histeris.


"Sebaiknya pemeriksaan ini dihentikan dulu dok, kau bisa pergi keruangan yang sudah aku siapkan untuk mu," ucap Winston sembari menenangkan Luna di pelukannya.


***


"Apa yang sudah kau alami? kenapa kau terlihat sangat menderita? apakah ingatan yang kau bicarakan tempo hari yang membuatmu begini?" ucap Winston menangis melihat Luna dengan keadaan seperti itu.


Melihat Luna menderita malah memberikan sensasi menyakitkan bagi Winston. Dia sangat tidak tega melihat Luna terlihat sangat lemah dan tersiksa.


"Kau akan baik-baik saja, tidak akan ada lagi yang akan berani menyakiti mu. Lihatlah aku ada disini untukmu." ucap Winston menenangkan Luna di dalam dekapannya.


Winston meninggalkan semua pekerja dan menyuruh Rean dan Sean untuk menyelesaikannya. Dia ingin fokus merawat Luna dan menyembuhkan Luna dulu.


***


Di rumah sakit,


Sekarang keadaan Rani sudah membaik, dia juga sudah bisa bergerak dengan bebas.


"Emmmm, bos Winston sedang ada urusan yang sangat penting, nanti dia juga akan kemari menjenguk Kaka," jawab Lani dengan gugup.


Untuk saat ini, Lani belum bisa mengatakan jika Winston sudah menikah. Dan Rani sudah tidak memiliki kesempatan, karena kelihatannya Winston sangat mencintai istrinya itu.


***


Tring ... Tring ... Tring


"Halo Rean, ada apa?" tanya Winston saat melihat Rean sedang menghubungi dirinya.


"Bos, sepertinya kita telat menangkap penculik Rani, dia sudah bunuh diri di rumahnya," jawab Rean saat menemukan pelaku penculik Rani itu sudah meninggal di ruangannya.


"Sialan! siapa dia Rean? apakah kau mengenalnya?" tanya Winston geram, padahal Winston masih ingin menghajar penculik itu dengan tangannya sendiri.


"Sepertinya dia adalah rekan bisnis yang kita tumbangkan dulu Bos, sepertinya dia ingin balas dendam dengan cara menculik Rani dan membuatnya menderita, tapi setelah rencananya gagal, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya," jawab Rean sejelas mungkin.


"Brengsek! baiklah Rean, kau tinggalkan saja dia disitu, biarkan pihak kepolisian yang mengurusnya. Oh ya, aku punya tugas yang baru untukmu. Cepat selidiki istrinya si Beni itu, jangan ada informasi yang terlewatkan."


Winston tadi mendengar jika bibinya Luna lah yang membawa Luna kesuatu tempat dan meninggalkannya. Winston harus tahu apa yang sudah menimpa Luna saat itu, yang membuatnya sangat trauma sampai sekarang.


Setelah mematikan panggilannya dengan Rean, Winston kembali ke ruangannya dan menjumpai Luna yang sedang diam itu.


Dia mendekat kearah Luna dan memeluknya.


"Sayang, kau tahu, aku sudah meninggalkan semua pekerjaan ku hanya untuk menjagamu. Kalau kau sembuh nanti, kau harus membayar kerugian ku berkali-kali lipat," ucap Winston ingin menghibur Luna, tapi tetap saja Luna tidak bergeming.


Luna seperti mayat hidup, matanya terbuka namun pikirannya entah kemana.


"Sayang, apa yang harus aku lakukan? jika kau tertidur dan koma, aku harus bagaimana? jangan meninggalkan aku dengan cara seperti ini. Bukankah kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku?"


Winston menderita melihat keadaan Luna yang sekarang, dia sangat bingung harus melakukan apa.


"Aku berjanji tidak akan memaksa mu lagi, aku akan menjadi orang yang lebih baik. Bukankah aku sudah pernah bilang ingin memiliki 12 orang anak denganmu? jika semua urusanku sudah selesai, kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak, apakah kau tidak menginginkan itu? dan juga, apakah kau tidak ingin mengadakan pesta pernikahan denganku? jika kau sakit seperti ini bagaimana kita bisa mengadakan pernikahan kita?"


Winston mengajak Luna berbicara panjang lebar, tapi Luna masih tidak bergeming. Luna hanya akan membuka suaranya jika Winston beranjak dari kasur, selain itu Luna hanya akan terdiam membisu bagaikan mayat hidup.


***


Keesokan harinya.


Pemeriksaan dilakukan kembali oleh dokter itu, walaupun berat hati, Winston ingin segera mengetahui apa yang sudah Luna alami, jadi Winston bisa mengambil tindakan selanjutnya.


Sama seperti metode sebelumnya Luna dibuat tidak sadarkan diri,


"Halo Luna, apakah kamu bisa melanjutkan pembicaraan mu yang sebelumnya? siapa pria yang menyeramkan itu? dan kenapa kau dibawa ke ruangan yang gelap?" tanya dokter itu lembut ke arah Luna.


"Aku, aku tidak mengenalnya. Dia, dia mengurungku disitu, dia memukuli aku dan selalu berkata kasar padaku. Aku sangat ketakutan, tolong jangan menanyai aku lagi, aku mohon," sama seperti sebelumnya, Luna menjawab sembari menangis.


Karena Winston tidak tega, dia kembali menghentikan pemeriksaan itu.


Setelahnya dia menanyai dokter itu,


"Jadi dok, apakah ada cara untuk menyembuhkan Luna?" tanya Winston dengan wajah yang sendu.


"Sebenarnya pasien ini sedang terkurung dalam pikiran dan masa lalunya, ingatan yang tiba-tiba muncul itu mengakibatkan psikologis nya terguncang. Pasien akan sembuh jika dia memiliki keinginan untuk tetap hidup. Jadi, penyembuhan pasien ada pada dirinya sendiri," jawab dokter itu pada Winston.


Karena memang menurut dokter itu, tenaga medis tidak bisa menyembuhkan penyakit Luna. Karena hal ini menyangkut batin pasien sendiri, jadi yang bisa dokter lakukan hanyalah memberikan obat penenang, agar pasien tidak terus merasa khawatir dan cemas.