
Pagi hari sudah berlalu dan sekarang sudah tengah malam, tetapi belum ada tanda-tanda jika Luna ditemukan, semua jalanan sudah di cari oleh tim yang Rean turunkan, tetapi tak ada tanda-tanda kehadiran Luna disana.
"Braakkkk ... Prangggg ... Trashhh," Winston memukul apa saja yang ada di ruangan nya, termasuk cermin yang berada di ruangan itu.
"Sreekkk," Winston menarik kerah Rean assisten nya, "Cepat temukan Luna, jika Luna tidak ditemukan juga, maka akan ku hancurkan siapapun yang ikut mencari nya hari ini! cepat temukan dia, dan bawa kehadapanku sekarang juga! teriak Winston kepada Rean.
Rean sangat terkejut, baru kali ini Winston kehilangan kendali, Winston seperti orang yang gila. Hal itu sontak membuat Rean menambahkan tim pencarian pada Luna, kali ini juga harus menyusuri hutan yang berada di dekat jalanan itu, Rean pun tidak lupa meminta bantuan Sean.
"Jika kau berani kabur dariku, aku tidak akan pernah memaafkan mu Luna, kau harus kembali padaku. Kau hanya milikku!" geram Winston sembari mengusap kasar rambutnya, dia tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi pada Luna saat ini.
Setelah beberapa saat, Sean menghubungi Rean, jika ia telah menemukan Keberadaan Luna, Sean pun mengirimkan alamat yang telah ia lacak, dan alamat itu menuju sebuah Hotel yang lumayan jauh jaraknya dari lokasi mereka berada.
Rean segera mengabarkan hal itu pada Bos nya Winston, dengan ekspresi yang begitu murka dan nafas yang sangat memburu, Winston memerintahkan agar secepatnya membawa diri nya ke Hotel tersebut.
setelah beberapa saat dalam perjalanan, mereka pun sampai di Hotel yang di maksud. Dengan cepat Winston menuju kamar yang menjadi tempat Luna menginap.
"Braakkkk," dengan kasar Winston mendobrak kamar Hotel itu, lalu ditemuinya Rendi sedang duduk didekat kasur, sembari mengompres dahi Luna, sedangkan Luna sedang terbaring tertidur diatas kasur itu.
Flashback on.
Hari ini, Rendi sedang ada urusan di rumah kerabatnya, dan pagi itu Rendi membawa mobilnya sendiri dan hendak pergi ke kampus. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Luna lagi.
Tetapi, di tengah perjalanan, Rendi melihat sesosok perempuan yang familiar, dia melihat perempuan itu sedang menangis sembari melangkah dengan sangat lemah.
Rendi langsung menghentikan mobilnya dan berlari ke arah Luna. Ditariknya tangan Luna dan dipeluknya Luna dengan sangat erat.
Hati Rendi terluka melihat keadaan Luna saat ini, wajah yang begitu pucat, air matanya yang terus mengalir, dan juga kakinya yang sedang terluka, membuat Rendi tidak tahan melihat betapa menyedihkannya keadaan Luna saat ini.
"Luna, ada apa dengan mu? siapa yang membuat dirimu seperti ini? katakan padaku!" ucap Rendi sembari mengusap lembut wajah Luna yang sembab itu.
"Jangan menangis Luna, kau membuatku sedih jika seperti ini, aku berjanji, siapapun yang melakukan ini padamu akan ku hancurkan." Ucap Rendi kembali memeluk Luna yang masih menangis itu.
"Rendi, jika aku memintamu membawaku ketempat yang jauh? apakah kau bersedia? jika aku memintamu menyembunyikan aku, apakah kau bersedia? aku sudah tidak sanggup, jika terus seperti ini, aku rasa aku akan gila. Tolong aku Rendi, aku mohon bawa aku kemanapun, tolong sembunyikan aku ... aku mohon." Ucap Luna langsung pingsan di dalam pelukan Rendi.
Melihat gadis yang begitu ia cintai menderita, rasanya seperti neraka untuk Rendi, Rendi mendekap tubuh Luna yang sedang lemah itu dengan erat.
"Aku berjanji Luna, dari mulai saat ini, aku tidak akan pernah menyerahkan mu kepada siapapun lagi, aku bisa menebak siapa yang membuat mu seperti ini." Bisik Rendi pada Luna sembari menggendong Luna menuju mobil yang Ia berhentikan tadi.
Bagaimana tidak, selama ini, mengapa Rendi selalu menahan perasaannya pada Luna, karena Rendi merasa Luna sedang bahagia dengan orang yang Luna cintai, tetapi nyatanya, yang Rendi lihat dari Luna hanyalah penderitaan.
segera Rendi melajukan mobil nya, Rendi tidak membawa Luna ke rumah sakit, karena memang tadi Luna mengatakan untuk menyembunyikan dirinya.
Rendi akhirnya membawa Luna ke sebuah hotel yang jaraknya agak jauh, dan memesan hotel dengan nama samaran.
Flashback Off.
"Brengsek, beraninya kau membawa wanitaku ke dalam hotel! apakah kau tidak tahu siapa aku Hah? Akan ku bunuh kau!" teriak Winston pada Rendi, hal itu sontak membangun kan Luna dari ketidak sadarannya.
melihat Rendi di hajar sampai berdarah-darah oleh Winston membuat Luna panik, dia takut jika Winston akan membunuh Rendi, dengan Lemah Luna beranjak dari ranjangnya dan melerai Winston dengan Rendi.
"Aku mohon jangan di lanjutkan, aku yang salah, bawalah aku, jangan melukainya lagi." Ucap Luna dengan suara yang lemah.
"Kau tidak mengerti juga Luna, kau hanya milikku, sampai matipun milikku, kau tidak berhak bersama dengan pria yang lain! apa kau mengerti?" sekarang Winston sedang mencengkeram kedua pipi Luna dengan sangat kasar.
"Kenapa tidak kau bunuh saja aku? jika kau menyiksaku seperti ini, bukan kah kau yang terluka?" Balas Luna dengan wajah yang begitu lemah dan pucat.
"Diam kau, hanya aku yang boleh memutuskan." Respon Winston langsung menggendong Luna pergi dari hotel itu.
Sedangkan untuk Rendi yang sedang tidak sadarkan diri, Winston menyuruh anak buahnya untuk menghajar Rendi, jika Rendi sudah bangun.
Di mansion Winston.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, mereka pun akhirnya sampai di mansion Winston, dengan sangat kasar Winston menggendong tubuh Luna, di bawanya Luna ke arah belakang mansion.
Lalu, di ceburkannya tubuh Luna kedalam kolam renang yang dangkal itu.
"Kau harus tahu konsekuensi nya, jika tertangkap basah olehku selingkuh di hotel dengan pria lain!" teriak Winston pada Luna yang sudah tercebur ke kolam.
Winston seperti kehilangan akal sehatnya hari ini, dia sangat membenci pengkhianatan apalagi perselingkuhan, dia ingin membuat Luna sadar akan konsekuensi dari tindakan nya hari ini.
Luna yang berada di dalam air kolam, bisa melihat campuran kemarahan dan kesedihan di raut wajah Winston, dia juga melihat tangan Winston yang berdarah, juga bajunya yang sedang berantakan.
Luna dengan pelan menutup matanya, dia sudah lelah, sebenarnya jika dia berdiri pastilah dia tidak akan tenggelam, karena memang kolam tersebut tidak lah dalam.
"Ahh ... sudah cukup! biarkan aku mati disini! dengan begitu, semua orang akan hidup tenang dan bahagia, termasuk dirimu, mungkin sedari awal tidak seharusnya aku terlahir di dunia ini." Gumam Luna tidak berkeinginan untuk bangkit dari kolam itu, dia membiarkan dirinya tenggelam ke dasar kolam.
Luna ingin mengakhiri penderitaannya yang tiada berakhir, jika ia menutup matanya sekarang, maka sebentar lagi, mungkin Luna akan bertemu dengan kedua orangtuanya.
Luna kembali mengingat flashback saat Winston bersikap lembut pada dirinya, walaupun berstatus sebagai simpanan, namun, Winston menghargai harga diri Luna. Meskipun sering mendapatkan pemaksaan dari Winston, namun, karena memang ini adalah kali pertama Luna menerima perhatian dari orang lain, membuat Luna sedikit demi sedikit bergantung pada Winston.
"Alangkah baiknya jika aku tidak bertemu denganmu di danau waktu itu, alangkah baiknya dulu kau membiarkan aku tenggelam di danau itu, saat ini, rasanya lebih menyakitkan dari hari itu, jika boleh memilih, aku sungguh tidak ingin bertemu dan berhubungan dengan mu."
"Semoga kau bahagia, semoga hatimu menjadi damai saat kepergian ku, jika aku tetap hidup, aku tidak yakin bisa menerima kebencian darimu, aku sudah terbiasa menerima kehangatan mu. Kali ini biarkan aku pergi." Luna meneteskan air matanya, dia sudah pasrah dan menyerah.
Sedangkan Winston masih belum menyadari, jika Luna sudah tidak memiliki keinginan untuk hidup, kemarahan masih menguasai dirinya saat ini.
Yang membuatnya sangat marah adalah, karena memang Winston merasa trauma akan perselingkuhan, dia dulu pernah bersumpah tidak akan menikah karena meragukan kesetiaan. Dan saat menemukan Luna dan Rendi berada di ruangan yang sama, mengingatkan Winston akan Luka itu.