Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Wira Hermanto


***


Setelah Winston berhasil menumbangkan geng Lou, Winston dan anggotanya yang lain sekarang sudah memiliki akses ke pasar gelap.


Sean semalaman mengotak-atik layar komputernya. Wajahnya begitu marah dan nafasnya memburu.


Memang usulan penguasaan pasar gelap ke Winston adalah usulan Sean dan Rean. Mereka akan menemukan siapa yang telah menghancurkan hidup mereka, yang menyiksa mereka dan akhirnya menjual mereka saat kecil dahulu.


"Akan kutemukan siapapun kau! akan ku hancurkan dan balas tindakanmu padaku dan Rean! tunggu saja!" ucap Sean masih mencari-cari informasi data dirinya di pasar gelap itu.


Dan benar saja, dengan kemampuan tidak biasa miliknya. Sean sudah bisa mendapatkan data orang bejat yang menyiksanya dahulu.


"Hahaha! ternyata itu kau! akhirnya dendamku akan terlaksana! lihatlah pembalasan ku manusia tercela!" geram Sean sembari melihat dengan intens data-data yang berada di layar komputernya.


***


Winston sudah pergi ke kantornya, sedangkan Luna masih meneruskan istirahatnya. Karena memang dirinya masihlah sangat kelelahan akibat olahraga yang ia lakukan bersama Winston.


"Braakkkk," suara pintu terbuka dengan sangat keras. Mengganggu istirahat Luna yang baru saja memejamkan matanya.


"Kau wanita sialan! beraninya kau masih tidur di ranjang tunanganku!" teriak Lily menarik selimut yang digunakan Luna.


"Kau berisik sekali. Kalau kau ingin protes masalah ini, kau protesnya ke Winston saja!" ketus Luna dengan nada yang kesal. Bagaimana tidak, Lily telah mengganggu tidurnya.


"Berani sekali kau mengatakan itu padaku? kau itu hanya simpanan! sebaiknya kau tahu diri perempuan murahan!" teriak Lily semakin geram, karena Luna seolah tidak menghiraukan dirinya.


"Terserah! aku sedang tidak ingin berdebat dengan dirimu pagi ini. Aku sangat lelah, jika kau belum pergi maka aku yang akan pergi dari sini."


"Kau juga boleh tidur di ranjang ini, tapi kau pasti tahu apa yang akan Winston lakukan padamu, jika kau berani mengusik dirinya," ucap Luna sudah bangkit dari kasur. Dia hendak mandi karena Luna sudah tidak memiliki mood untuk tidur lagi.


"Sialan kau perempuan murahan! belum pernah ada yang berani menentang aku sebelumnya!" benak Lily merasa sangat kesal, api amarah sudah membara di dadanya.


"Srekkk ... plak!" Lily langsung menarik bahu Luna dan menampar pipi Luna dengan sangat keras. Hal itu tentu saja memicu emosi Luna sampai ke ubun-ubun.


"Heh? kau berani sekali menampar aku. Apakah kau tidak tahu jika di ruangan ini ada cctv? coba kita lihat apa yang akan Winston lakukan padamu nanti!" bisik Luna ke kuping Lily.


Luna tidak ingin membuang-buang energinya bertengkar dengan Lily, biarkan saja Winston yang mengurus tunangannya yang menyebalkan ini.


Mendengar hal itu dari Luna membuat Lily tersungkur, matanya langsung menjelajah ke sudut-sudut ruangan. Dan benar saja, ada banyak cctv di kamar itu.


Tubuh Lily jadi gemetaran, dia sangat takut akan hal yang akan Winston perbuat pada dirinya. Sedangkan Luna, Luna sudah beranjak ke kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya.


Setelah beberapa saat ....


"Selamat pagi Nani," sapa Luna menghampiri Nani di dapur mansion itu.


"Selamat pagi Luna, sarapan sudah saya persiapkan di meja makan. Jika ingin sarapan sudah bisa langsung dinikmati," ucap Nani sopan, karena Nani berpikir jika Luna menjumpainya hendak menanyakan perihal sarapan pagi.


"Terimakasih Nani, tapi aku menghampiri kamu kesini cuma mau tanya mengenai permintaan ku kemarin. Apakah sudah ada info terbaru?" tanya Luna pelan pada Nani.


"Wah, terimakasih banyak Nani. kau sangat bisa di andalkan. Namanya saja sudah cukup kok, sisanya akan aku selidiki sendiri," balas Luna sembari memeluk Nani kegirangan.


"Tapi Luna, apakah tidak masalah bagimu menyelidiki hal ini? jika tuan Winston tahu, bisa-bisa dia marah besar padamu," ucap Nani khawatir pada Luna. Dia tidak mau Luna dilukai oleh Winston.


"Tenang saja Nani, semua akan baik-baik saja. Eh ngomong-ngomong, Tuti dimana ya Nani? sudah lama aku tidak melihat dia," tanya Luna keheranan, karena memang dirinya sudah lama tidak melihat Tuti.


"Tuti sedang pulang kampung Luna, kemungkinan minggu depan dia sudah kembali kesini," jawab Nani menjelaskan pada Luna.


"Ooh, oke baiklah. Sekali lagi terimakasih ya Nani, kalau begitu aku pergi sarapan dulu ya. Sebentar lagi aku ada kelas nih," ucap Luna sembari beranjak menuju meja makan. Karena memang dirinya ada kelas sebentar lagi.


Di kantor Winston.


Hari ini Lena dan Sean datang ke kantor Winston untuk membicarakan hal yang sangat penting.


"Bos, setelah kita mendapatkan akses dari Lou ke pasar gelap. Aku telah semalaman mencari info seseorang, dan kemudian aku menemukannya," ucap Sean dengan ekspresi yang sangat serius. Belum pernah dia seserius ini sebelumnya.


"Baiklah, coba jelaskan secara terperinci," balas Winston menanggapi keseriusan rekannya Sean itu.


"Aku telah menemukan info orang yang telah menjual aku dan Rean dahulu. Dan ternyata dia adalah pemilik perusahaan Wira, aku sangat ingin membalaskan dendamku terhadapnya," ucap Sean dengan tangan yang bergetar. Dia kembali mengingat kenangan yang sangat mengerikan itu.


"Baiklah Sean, kali ini kita akan menghancurkan dirinya sampai hancur berkeping-keping. Aku tidak akan menanyakan perihal apa yang sebenarnya kalian alami dahulu, tapi aku sangat percaya pada kalian. Jika kalian ingin membalaskan dendam terhadapnya, maka gunakanlah kekuasaan ku untuk menghancurkan dirinya," balas Winston menenangkan Sean. Karena memang sedari tadi tangan bergetar, belum pernah Winston melihat Sean segugup itu.


"Terimakasih banyak Bos, karena telah menerima kami dan menganggap kami sebagai saudaramu," ucap Sean dengan ekspresi yang sendu.


Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya dan Rean, jika hari itu Winston tidak kabur ke mobil tempat mereka diikat.


"Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Kalian adalah saudaraku yang sangat penting dan berharga. Aku pasti akan mendukung kalian apapun yang terjadi," ucap Winston dengan jujur. Karena memang setelah dirinya kabur dari rumah ayahnya, Rean dan Sean lah yang pertamakali menemani dirinya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengatur pertemuan dengan pihak perusahaan Wira. Kita akan menghancurkan mereka, dan menguak perilaku terselubung Wira Hermanto mengenai bisinis ilegalnya itu." ucap Rean memecah omongan antara Winston dan Sean.


"Kali ini misi kita akan dilakukan secara habis-habisan. Dan karena memang Wira Hermanto adalah salah satu anggota elit di perdagangan gelap, maka hal itu akan otomatis menarik perhatian yang lain. Kita harus melakukan semuanya dengan sangat baik kali ini. Jangan sampai ada cela," jelas Winston kepada mereka yang di ruangan itu.


***


Di kampus Luna.


Luna sudah selesai melakukan kelasnya hari ini, karena dia masih memiliki waktu luang. Luna bermaksud melanjutkan penyelidikannya perihal kasus ayahnya.


Hari ini Luna akan pergi ke kantor polisi untuk menanyakan kasus itu secara terperinci.


Setelah beberapa menit dalam perjalanan. Luna pun sampai di kantor polisi. Dan dengan sangat ramah, petugas yang berada di kantor polisi itu melayani Luna dengan profesional.


Dan ternyata kasus yang ingin Luna baca adalah kasus level tinggi yang membutuhkan banyak sekali perizinan. Hal itu membuat Luna sangat kebingungan, mengapa kasus pembunuhan bisa menjadi kasus yang sangat ditutupi.


"Pasti ada yang tidak beres!" gumam Luna lesu didalam kantor polisi, karena dirinya tidak diijinkan untuk melihat kasus ayahnya tersebut.