
***
Di mansion Winston.
Winston kembali ke mansionnya, tapi kali ini, dia tidak sendiri dia membawa Rena bersama dengan dirinya.
Tentu saja Winston ingin membuat Rena percaya bahwa Winston tertarik pada nya, demi kelancaran rencana yang telah Ia susun.
"Sayang, apakah kau mau tidur dengan ku malam ini?" goda Rena sembari memeluk Winston dengan erat.
"Heh, sangat murah, baru pertama kali bertemu sudah menyerahkan dirinya." Winston merasa jijik dengan wanita yang di hadapan nya ini.
"Rena, kau pasti lelah, kita bisa melakukannya kapan pun setelah menikah nanti." Winston ingin menolak Rena tanpa menggagalkan rencana nya.
"Hmmm, baiklah sayang, tapi malam ini kita tidur bersama ya, aku sangat ingin memelukmu malam ini." Rena merasa dirinya sudah dicintai oleh Winston.
"Baiklah, kau boleh tidur di ranjangku." Balas Winston sembari memberikan senyuman palsu di wajahnya.
***
Di kediaman Beni.
"Cih, untuk apa perempuan murahan ini kembali kesini? apakah kau sudah di campakkan?"
ketus Nonik saat melihat Luna kembali lagi bersama Neon ke rumah mereka.
"Mohon maaf Ibu Nonik, ini rumah paman Luna dan sudah sewajarnya Luna sekali-kali menginap disini, apalagi hari ini adalah hari kepulangan Kak Neon."
Jawab Luna tegas, mana mau dia menerima perlakuan semena-mena dari nenek sihir itu lagi.
Luna langsung bergegas masuk ke kamar lama nya, dia memang berada dalam mood yang sangat jelek hari ini.
..
"Ibu, jangan mempermasalahkan hal sepele, dia itu adik Sepupuku. Ibu jangan membuat Keributan di hari pertama aku pulang, biarkan dia menginap disini malam ini."
Neon pun langsung pergi ke kamar nya.
"Dasar, wanita murahan tidak berguna, lihat saja akan ku balas kau berkali-kali lipat." Memang Nonik dan Putri nya Hani memiliki rencana busuk untuk menghancurkan hidup Luna.
..
"Dasar pria arogan, bisa-bisanya dia berciuman dengan orang lain, segampang itu kah berciuman dengan orang?"
"Hiks, aku bahkan belum pernah mencium orang lain selain kau brengsek, dasar! padahal tadi pagi kau begitu lembut dan membuat ku berdebar."
"Dia pasti juga sudah sering tidur dengan Wanita seksi seperti tadi, dasar play boy, kuharap kau kena penyakit kelamin!"
"Eh, tapi jangan deh kasihan, kutarik umpatan ku barusan, walaupun dia begitu, dia tetap lah orang yang menyelamatkanku, kau saja yang kegeeran Luna, kau pikir dirimu disukai oleh nya, padahal dari awal kau sudah tahu posisi mu hanyalah simpanan."
"Ih, sebel deh, padahal biasanya di jam segini dia sudah memelukku di tempat tidur."
"Aduh Luna hentikan angan-angan mu, cepat lah kau tidur." Luna menyadarkan dirinya sendiri agar tidak berharap lebih.
Luna tentu nya sadar akan posisi nya, dia hanyalah gadis yang sedang melunasi hutang dan menumpang untuk hidup yang lebih baik.
Kehidupan yang begitu pilu selama belasan tahun saat orang tuanya meninggal benar-benar membuat Luna sangat menderita, setidaknya saat ini ada tempat yang menerima dirinya, ada tempat untuk dia pulang. walupun hanya sebatas gadis simpanan yang melunasi hutang.
"Sudah tahu begitu, sudah tahu hanya pelunas hutang, sudah tahu hanyalah simpanan, sudah tahu ... tapi ... mengapa hatiku sangat sakit? mengapa aku menangis seperti ini?"
"Apakah kebahagiaan memang hanyalah sebuah ilusi? apakah aku memang tidak pantas mendapat kebahagiaan?"
Luna begitu terpukul dengan apa yang di lihatnya hari ini, cara gadis itu memeluk Winston, dan cara Winston mencium gadis itu sungguh memberikan luka yang baru bagi hati Luna.
Malam yang begitu sunyi menemani Luna, tidak ada Winston di sana.
"Apakah aku benar-benar berharap pada nya?"
"Simpanan seperti ku sungguh menggelikan, siapapun yang mendengar ceritaku ini, alasan ku menangis saat ini. Pasti orang itu akan mentertawai ku."
Tangisan yang panjang disertai kenangan yang menyedihkan membuat malam itu begitu dingin, seolah Luna merasa dia telah di tinggalkan, tidak seorang pun yang mencari, perasaan itu, sama seperti saat kedua orang tua nya meninggalkan dirinya.