
Di kantor Winston.
***
"Bos, malam ini kita ada pertemuan dengan orang-orangnya Wira Hermanto di hotel crystal, ini adalah laporan bisnis dan background Wira Hermanto," Rean memberikan laporan jadwal, serta berkas yang harus Winston baca saat Winston sudah sampai di ruangannya.
"Hemm, semoga si Wira itu tidak berniat menjodohkan ku dengan putrinya ataupun sanak saudaranya. Jika iya, maka aku sudah sangat muak bersandiwara," ucap Winston dengan nada yang datar.
Winston sudah sangat muak dengan orang-orang yang tamak seperti contohnya Lou. Orang-orang seperti mereka pasti ingin sekali mengikat Winston menjadi rekan mereka melalui jalur pernikahan.
"Sepertinya tidak akan Bos, Wira Hermanto tidak memiliki putri di keluarganya," jawab Rean serius, karena memang dirinya sudah melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap Wira Hermanto.
"Baguslah kalau begitu," balas Winston dan langsung menyuruh Rean untuk melanjutkan pekerjaannya di ruangan pribadinya.
***
"Istriku sedang apa ya sekarang? baru juga beberapa jam tidak berjumpa aku sudah merindukan dirinya," gumam Winston.
Lalu dibukanya ponselnya untuk menghubungi Luna, namun sesaat sebelum ia menghubungi Luna. Ada satu notifikasi masuk ke ponselnya.
"Sial! untuk apa dia makan bersama dengan Nixon? berduaan lagi? awas saja kau ya Luna, hanya karena aku memaafkan mu perihal masalah ayahmu kau bisa seenaknya berselingkuh dariku!" geram Winston dengan amarah yang memuncak.
Karena memang Winston mendapatkan kiriman foto dari suruhannya, dan di foto itu terlihat jelas Luna dan Nixon sedang bersama di sebuah restoran sedang makan bersama.
Winston memang bisa sangat lembut pada Luna, dan memaafkan Luna apapun kesalahannya kecuali tentang perselingkuhan. Winston sangat membenci hal itu.
***
Hari ini kelas Luna berakhir dengan lancar dan cepat. Dia juga sudah membuat janji dengan Nixon untuk makan bersama, untuk membahas perihal kasus yang Luna minta.
"Hai manis, tumben sekali kau mau makan siang bersama denganku. Apakah kau sudah membuka hatimu untukku?" goda Nixon sesaat setelah Luna menghampiri nya di restoran yang sudah ia pesankan.
"Nixon jangan bercanda. Kau jelas tahu maksudku datang kesini," ketus Luna langsung duduk.
"Oh ya Nixon, dimana berkas kasus yang kau janjikan?" tagih pada Nixon Luna, karena dia tidak ingin berbasa-basi lebih lama dengan pria ini.
"Sabar manis, kita makan dulu. Setelah selesai makan baru akan aku berikan berkas yang kau inginkan," jawab Nixon sembari melempar senyuman yang sangat nakal.
"Sungguh, kau sangat mirip dengan Winston. sama-sama pemaksa dan mesum!" ketus Luna saat menerima senyuman nakal itu dari Nixon.
Akhirnya mereka makan bersama, karena memang Luna sangat menginginkan berkas yang ada di tangan Nixon.
"Kau sangat manis Luna, seandainya aku yang bertemu denganmu duluan," ucap Nixon memandangi Luna yang sedang mengunyah makanan di mulutnya.
"Jika kau terus memperhatikan aku seperti itu, aku akan menaruh sambal ini di matamu." Ketus Luna dengan tatapan yang tajam, tapi mulutnya mengembang karena memang dia sedang mengunyah makanan di mulutnya.
"Pffttt, lihatlah kau sangat menggemaskan. Jika kau terus menggodaku seperti itu, aku akan memiliki keinginan yang lebih untuk merebut kamu dari Winston," ucap Nixon saat melihat wajah yang ditampilkan oleh Luna.
Menurut Nixon saat ini Luna sangatlah menggemaskan, apalagi saat Luna marah tadi, pipinya yang menggembung dan matanya yang bulat melotot sungguh sangat imut.
Karena sudah lelah menanggapi kemesuman dari Nixon, Luna hanya melihat dengan miring dan melanjutkan makan nya. Dia ingin cepat menghabiskan makanan yang ada di mejanya dan meminta berkas kasus yang sudah dijanjikan oleh Nixon padanya.
Setelah beberapa saat ....
"Nixon, aku sudah selesai makan. Dimana berkasnya? aku sudah sangat ingin melihatnya," Luna membuka pembicaraan sesaat setelah dirinya sudah selesai makan.
Tapi Luna heran saat Nixon mendekat kearahnya, dan mengulurkan tangannya tepat di wajah Luna.
"Heh! apa yang mau kau lakukan, disini banyak orang!" keluh Luna sembari menghempaskan tangan Nixon dari wajahnya.
"Haha, memangnya menurutmu aku akan melakukan apa? aku hanya mengambil sisa nasi yang ada di dekat bibirmu," balas Nixon sembari memakan butiran nasi yang baru saja ia ambil dari samping bibir Luna.
Melihat itu, Luna hanya bisa melongo dan menggelengkan kepalanya. Dia keheranan melihat level ke mesuman Nixon yang dinilai terlalu berlebihan.
***
"Memang wanita murahan, kemanapun pergi tetap akan menjadi murahan!" ketus Lily dengan senyuman sinisnya melihat Luna dengan seorang pria di restoran.
Memang sedari tadi Lily berada di restoran itu, namun letaknya lumayan jauh dari tempat Luna duduk. Jadi Luna kurang memperhatikan.
"Lihat saja perempuan sialan, akan aku buat kau dicampakkan oleh Winston!" geram Lily sembari tersenyum mengabadikan momen-momen Luna dan Nixon. Apalagi saat Nixon menjamah bibir Luna.
"Hahaha, Winston pasti akan sangat kecewa padamu. Kita lihat bagaimana kau akan selamat dari Winston kali ini!" gumam Lily langsung mengirimkan foto yang dia abadikan ke Winston.
"Winston, sepertinya simpananmu sedang berkencan dengan pria yang lain. Sepertinya dia mencari mangsa baru, yang memiliki uang banyak." Lily mengetik pesan itu dan mengirimkannya ke Winston beserta foto-foto yang sudah ia abadikan.
***
Tapi saat ini Winston tidak dapat menghampiri Luna dan menyuruhnya pulang. Karena saat ini dia sedang melakukan hal yang sangat penting, yaitu perihal susunan rencana untuk menumbangkan Wira Hermanto tanpa kerusuhan dan menarik perhatian.
Winston sadar betul, jika Wira Hermanto hanyalah satu dari sekian banyak manusia bejat yang aktif di pasar gelap. Jika Wira Hermanto ditumbangkan secara terang-terangan seperti geng Lou, maka bisa dipastikan Winston akan menjadi target orang-orang berkuasa lainnya.
"Sial! saat ini ingin ku rantai dia di rumah! dan tidak membiarkan dirinya keluar selangkah pun!" decak Winston sangat kesal.
***
"Kau bilang akan memberikan aku berkasnya setelah makan siang, tapi kenapa kau mengajakku ke taman ini?" keluh Luna merasa kesal, karena telah dibodohi oleh Nixon.
"Kau tidak memiliki berkasnya kan? kau pembohong! kau hanya ingin mengerjaiku saja. Sialan!" seru Luna ingin langsung bergegas pergi dari tempat itu.
"Tunggulah sebentar Luna, aku punya berkas yang kau inginkan. Aku tidak berbohong padamu. Hari ini adalah hari ulang tahunku, jadi bisakah kau meluangkan sedikit waktumu untukku?" ucap Nixon dengan ekspresi yang membuat Luna heran.
Luna baru sadar jika Nixon memiliki ekspresi seperti ini. Ekspresi yang begitu menyedihkan dan terlihat kesepian.
"Ka ... kau tidak berbohong kan? dimana kartu identitas mu? jika kau tidak berbohong maka aku akan menemanimu sebentar lagi," jawab Luna sedikit gagap, karena dia tidak tega melihat kesedihan diraut wajah Nixon.
"Kau memang sangat unik Luna, sampai sekarang aku masih menyesali tidak menemukan dirimu lebih dulu dibanding Winston," ucap Nixon sembari menunjukkan kartu identitasnya.
Karena memang apa yang di ungkapkan Nixon adalah kebenaran maka sesuai janji, Luna akan menemani Nixon sebentar lagi.
"Emmm, kenapa kau tidak bersama dengan keluargamu sekarang?" Luna memecah keheningan diantara mereka. Karena mereka memang sedang duduk terdiam di sebuah bangku panjang yang berada di taman, dekat restoran tempat mereka makan tadi.
"Aku tidak pernah merayakan ulang tahun dengan keluargaku, seluruh keluargaku memiliki jabatan yang sangat tinggi di pemerintahan. Mereka semua sangat sibuk,"
"Jadi sudah menjadi kebiasaan bagi kami untuk tidak saling mengganggu dan bertemu selama berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Jadi, aku sungguh tidak mengetahui arti dari keluarga itu sebenarnya apa,"
Entah mengapa cerita dari Nixon sungguh menyentuh hati Luna, dia bisa merasakan penderitaan akan kesepian karena tidak memiliki keluarga.
Karena merasa iba, timbul di hati Luna untuk menghibur Nixon. Dia langsung membuka tasnya dan mengambil secarik kertas dan melipatnya.
"Emmm, Nixon, aku memang tidak memiliki kado untukmu. Tapi aku baru saja membuat satu kado yang sangat spesial," ucap Luna dengan senyuman yang merekah di wajahnya.
Ditangannya dia menyerahkan sebuah kertas yang sudah ia lipat menjadi bentuk pesawat.
Melihat perlakuan dari Luna membuat Nixon terdiam sesaat, matanya berkedip-kedip melihat kertas lipat yang ada di tangan Luna.
"Apakah kau tidak menyukainya? tapi aku hanya bisa membuat ini saja, aku tidak punya waktu untuk membeli kado untukmu," ucap Luna lesu ingin menyimpan kertas lipat yang berada di tangannya itu.
"Tidak, tidak. Aku sangat menyukainya, ini adalah hadiah terindah yang pernah aku terima. Entah mengapa kau mengingatkan ku pada seseorang di masa lalu, makanya aku terdiam. Maafkan aku, bisakah aku mengambil hadiahku kembali?" ucap Nixon menjelaskan mengapa dia terdiam sesaat.
"Emmmm, baiklah. Ini untukmu, ada maksud kenapa aku memberikan kamu pesawat kertas. Aku ingin kau mengucapkan semua kekesalan mu pada kertas itu, dan terbangkan lah pesawat kertasnya. Maka semua kesedihan dan kekesalan dirimu akan terbang bersama pesawat kertas itu," ucap Luna begitu antusias saat dia memberikan pesawat kertas itu pada Nixon.
Mendengar itu Nixon sekali lagi terdiam dan terpaku, dia hanya bisa menatap Luna dengan mata yang kebingungan.
"A ... aku sudah membuktikannya, aku tahu, kau pasti menganggap aku aneh kan? makanya kau melihatiku seperti itu. Tapi aku ...." Belum sempat Luna melanjutkan ucapannya Nixon langsung memeluk Luna.
"Siapa kau sebenarnya? kenapa kau bisa mengucapkan sesuatu yang sama dengan dirinya dulu? siapa kau?" ucap Nixon dengan suara yang bergetar.
Lalu dilepasnya pelukannya dari Luna, kemudian dipegangnya kedua pipi Luna dengan lembut. Dan dilihatnya lekat wajah Luna itu.
Dengan wajah yang sangat sendu dan air mata yang hampir menetes, Nixon memperhatikan wajah Luna.
"Plakkk," Luna langsung menampar Nixon karena menerima perlakuan yang menurut Luna sudah keterlaluan itu.
"Kau keterlaluan Nixon, aku disini bukan untuk kau lecehkan. Aku hanya ingin menghibur mu sedikit. Kau membuatku kecewa!" seru Luna langsung bergegas pergi dari taman itu.
Dan setelah mendapatkan tamparan dari Luna, barulah Nixon sadar bahwa dia sudah keterlaluan. Nixon sesaat berfikir jika Luna adalah gadis yang sedang ia cari-cari selama ini.
Tapi ditepisnya semua itu, Nixon merasa harus menyelidiki hal itu lebih dulu. Nixon segera mengejar Luna yang sudah bergegas pergi itu.
"Luna!" seru Nixon kearah Luna yang sedang setengah berlari itu. Tapi tidak disahut oleh Luna, malahan Luna semakin berjalan dengan sangat cepat.
"Srekkk," Nixon langsung menarik tangan Luna, karena memang Nixon jauh lebih cepat langkahnya dibanding langkah Luna.
"Kau mau apa lagi? apakah belum cukup kau mempermainkan aku?" teriak Luna kearah Nixon dengan wajah yang sudah sangat marah.
"Maafkan aku Luna, aku salah mengira jika kau adalah seseorang yang sedang aku cari-cari, aku hanya ingin memberikan mu berkas kasus yang kau minta padaku," ucap Nixon dengan pelan. Dia merasa bersalah karena telah memeluk Luna secara tiba-tiba tadi.
"Baiklah aku terima berkasnya, tapi aku belum memaafkan mu atas apa yang baru saja kau lakukan," ketus Luna mengambil berkas yang disodorkan oleh Nixon, dan langsung bergegas pergi.