Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Surat Perjanjian


Di mansion Winston.


"Kau sangat percaya diri, kau hanya seorang simpanan, dan aku adalah tunangannya yang legal, lihat saja, aku pasti akan membuatmu di usir dari mansion ini." Lily begitu percaya diri, dia masih belum tahu, jika dirinya sebenarnya hanyalah bidak di mata Winston.


"Baiklah, aku tunggu! semoga berhasil tunangan legal." Luna sama sekali tidak mau mengalah pada Lily, Luna sudah cukup belajar dari pengalaman, jika kita tetap diam dan tidak membela diri, maka semakin lama, harga diri kita akan di injak-injak.


Kamar Winston yang tadi nya damai dan sunyi, berubah menjadi ajang perdebatan panas antara Lily dan Luna, dan keduanya sedang memperdebatkan tuan rumah sang empunya kamar itu.


Nani yang sedari tadi masih disitu merasa gagap, dia bingung harus berbuat apa, dia hanya menjadi pendengar yang baik di antara perdebatan itu.


"Lihat saja nanti ya, aku pasti akan membalas penghinaan mu ini, perempuan murahan, jelas-jelas hanya simpanan, tapi beraninya berdebat dengan tunangan sah, hari ini aku akan mengadukan mu pada Winston tunanganku." Ketus Lily dengan nada yang begitu kesal, dia merasa Luna tidak berhak membalas omongannya, karena dirinya lah yang menjadi pasangan legal disini.


Dengan wajah yang merah padam akibat emosi, Lily langsung beranjak keluar, dia berencana menuju kantor Winston sekarang, dia ingin mengadukan perihal perilaku Luna terhadap tunangannya itu, dia sungguh yakin jika Winston akan memarahi Luna.


***


"Luna, apa tidak masalah membiarkannya begitu? bagaimana jika dia sungguh mengadu pada Tuan Winston?" Nani merasa khawatir, karena saat ini kelihatan nya, hubungan antara Luna dan Winston memang sedang tidak baik, jika ditambahi masalah yang lain, maka takutnya hubungan mereka tidak akan bisa di perbaiki lagi.


"Aku sudah tidak peduli Nani, jika sungguh Winston mencintai ku dengan tulus, dia tidak akan melukaiku, tapi setelah apa yang ku lalui akhir-akhir ini, menyadarkanku atas seberapa berbahayanya dirinya itu, aku merasa dia tidak mencintaiku, dia hanya sedikit terobsesi terhadapku, saat waktunya tiba, dia akan membuangku, apalagi saat ini aku adalah orang yang paling ia benci."


Wajah Luna begitu sendu saat menjawab pertanyaan Nani.


"Luna jangan bicara seperti itu, aku yakin Tuan Winston begitu menyayangi kamu, Tuan Winston mungkin memang sedikit kasar, tetapi aku dengar memang Tuan Winston kurang bisa mengendalikan emosinya, dia di didik oleh Ayahnya dengan kekerasan, dan saat remaja, dia sudah bergabung dengan perkumpulan mafia, jadi mungkin cara Tuan Winston menunjuk perasaannya adalah menggunakan kekerasan."


Nani memberikan semua penjelasan yang ia ketahui, Nani begitu yakin jika Winston sungguh lah menyayangi Luna sepenuh hati.


"Sudahlah Nani, aku sudah tidak mengharapkan apapun Lagi, jika dia sungguh memang mencintaiku, aku rasa dia akan semakin terluka, aku sudah lelah meresapi segalanya dengan perasaan, saat ini aku hanya akan mengikuti peran ku saja, aku ini bukanlah pasangan yang tepat untuk nya."


"Oh ya Nani, apakah kau bisa membantu ku? tolong cari tahu mengenai cinta pertama Winston saat kuliah dulu, mungkin pak Roni tahu sedikit mengenai itu, setidaknya aku hanya ingin tahu namanya dulu."


Luna meminta tolong pada Nani, dia yakin jika cinta pertama Winston itu kembali lagi di hidup Winston, mungkin pelan-pelan Winston akan melupakan dirinya.


"Karena kau adalah teman ku, maka aku akan mengusahakannya, tetapi aku tidak bisa berjanji apa-apa." Jawab Nani berterus terang.


hal itu langsung disetujui oleh Luna, karena memang saat ini, dia lah yang meminta tolong pada Nani.


***


Rumah Sakit,


Rendi sudah dilarikan ke rumah sakit sejak pagi tadi, dia ditemukan tidak sadarkan diri saat petugas kamar hotel hendak membersihkan ruangan yang di sewa oleh Rendi tadi malam.


Sesaat setelah sampai di Rumah Sakit, ditemukan banyak sekali luka lebam di tubuhnya, hal itu sontak membuat keluarga besar Rendi murka, mereka sudah mencari tahu ke pihak hotel dan mencoba untuk cek cctv hotel tersebut, tetapi tidak ada satupun petunjuk, karena cctv hotel pada saat itu, bisa kebetulan mati saat kejadian tersebut terjadi, hal itu membuat Bima Anggara geram, dia bersumpah akan menemukan siapapun yang telah mencelakai putranya Rendi.


Bima Anggara menyewa dektetif terhebat di Negara itu, dia sangat yakin siapapun yang melakukan ini bukan lah orang yang biasa, Bima memerintahkan agar penyelidikan dilakukan dengan senyap dan rahasia, Bima Anggara takut jika yang melakukan ini adalah saingan bisnisnya.


"Kalian memilih lawan yang salah, aku tidak pernah sekalipun kalah dalam permainan petak umpet seperti ini." Gumam Bima dalam hatinya, sembari melihat istrinya yang sedang tersedu-sedu menangisi keadaan putranya yang sedang tidak sadarkan diri itu.


Tring ...Tring ...Tring


Ponsel Luna berbunyi sudah sedari tadi, tetapi Luna begitu malas mengangkatnya, namun, karena merasa sangat tergganggu, karena deringan ponselnya tidak kunjung berhenti, Luna memutuskan untuk menyerah dan menjawab panggilan itu.


"Halo Nyonya Luna, saya Rean"


"Begini Nyonya, saya diperintahkan oleh Bos Winston untuk mengirimkan mu surat perjanjian, mungkin sebentar lagi kurir nya akan sampai, dan Bos menyampaikan jika Nyonya Luna tidak bisa menolaknya."


Rean menjawab sejelas mungkin akan perintah Winston terhadap dirinya.


"Baiklah Pak Rean, akan ku coba baca dulu nanti." Luna begitu lesu saat Rean menjelaskan hal tadi, dia merasa kali ini Winston benar-benar mengikat kebebasannya.


Tok ... Tok ... Tok


Setelah panggilan antara dirinya dan Rean berakhir, suara ketukan pintu langsung terdengar memecah kekalutan hati Luna, dan masuklah Nani membawakan sebuah amplop berwarna cokelat di tangannya.


"Luna, ini ada kiriman dari Tuan Winston." Seru Nani sembari menyerahkan Amplop yang berada di tangannya ke Luna.


"Baiklah Nani, terimakasih, kau boleh kembali ke tempat mu." Balas Luna dengan sopan pada temannya itu.


"Baik Luna, jika butuh sesuatu bisa langsung memanggilku." Sesaat setelah nya Nani langsung berlalu keluar dari kamar itu.


Segera Luna membuka amplop berwarna cokelat itu, dan Luna bisa melihat dengan sangat jelas judul besar dari perjanjian. 'Surat Perjanjian Pernikahan'


Luna begitu terkejut saat membaca judul besar surat perjanjian itu.


"Apa lagi yang dia inginkan? kenapa tiba-tiba ingin menikah dengan ku? bukan kah dia mengatakan jika dirinya sangat membenciku? atau, apakah ini adalah salah satu caranya untuk menyiksaku?" gumam Luna merasa kesal, Winston selalu saja memaksakan kehendaknya pada orang lain.


Luna langsung membaca keseluruhan perjanjian kontrak, dan secara garis besar isi nya adalah :


[ Harus melayani Winston dari bangun tidur sampai kembali tertidur lagi. Untuk masalah pernikahan ini tidak akan di adakan pesta pernikahan, hanya tinggal menanda tangani surat nikah saja. Pernikahan ini secara keseluruhan adalah rahasia, jadi tidak boleh membocorkan nya kepada siapapun juga. Luna juga di larang dengan sangat keras berhubungan dengan pria manapun, dan yang paling penting menjaga keselamatan diri adalah kewajiban yang harus di lakukan. ]


[ Luna tetap bisa melanjutkan kuliah nya, namun sesaat setelah jam kuliah selesai harus langsung kembali ke mansion, dilarang keras berbohong dan tidak boleh membantah, perjanjian ini berlaku untuk waktu yang tidak dapat di tentukan. ]


Begitulah isi surat perjanjian itu secara garis besar. "Oh, ternyata masih tetap menjadi istri simpanan, bahkan lebih rendah dari babu, ternyata dia sungguh mempermainkan aku sampai sejauh ini, apakah aku sungguh lah sudah tidak berharga lagi di matamu Winston?" Luna berbicara pelan sembari meremas surat perjanjian yang ada di genggamannya.


Tring ... Tring ... Tring


Dering ponsel Luna kembali membuyarkan angan Luna, dan dengan kesal dia mengangkat ponsel nya.


"Halo." Sahut Luna dengan ketus.


"Halo sayang, apakah surat perjanjiannya sudah berada di tangan mu? oh ya, apakah Rean sudah mengatakan jika kau tidak bisa menolak ini?"


dari suaranya Luna langsung tahu, jika yang menghubungi dirinya adalah Winston.


"Winston, kenapa kau sangat labil dan tidak jelas? bukan kah kau bilang sangat membenci diriku, ingin meremukkan ku? lalu mengapa ingin menikah denganku? Aku menolak ini, lebih baik aku mati dari pada menandatangani kontrak perbudakan ini." Luna sudah tidak peduli lagi, dia merasa Winston sangat aneh, kenapa Winston selalu saja ingin mengikat dirinya.


"Ho? sayang, sejak kejadian tadi malam, aku jadi sadar bahwa aku sangat tidak bisa melihatmu bersama pria yang lain, kau sudah terikat padaku, rasa benciku terhadap ayahmu tidak akan pernah hilang, dan telah ku putuskan, caramu membayarnya adalah tetap berada di sisiku."


"Oh ya, kakak sepupu tercintamu yang bernama Neon, aku telah membeli saham perusahaannya, kebetulan dia baru merintis perusahaannya sendiri, kau tahu kan maksud ku, jika kau berani menolak perjanjian itu, apa menurutmu yang akan terjadi padanya dan juga pada paman mu?"


Mendengar itu Luna melongo, dia sungguh kehabisan kata-kata, ternyata Grozav Winston Leeac adalah orang yang begitu arogan dan menyeramkan.


"Aku menyesal bertemu denganmu di danau waktu itu." Ketus Luna dan langsung mematikan ponsel nya.


"Kenapa tidak membiarkan ku pergi saja? kenapa harus mengikat ku seperti ini? semakin kau ingin mengikat ku, semakin aku ingin pergi jauh darimu!" keluh Luna, dia merasa hidupnya, sepenuhnya di atur oleh Winston.