
***
Di kantor polisi.
"Hei kucing manis," sahut seorang pria memecah lamunan Luna yang sedang duduk di kursi tunggu kantor polisi tersebut.
"Halo Nixon, kenapa kau ada disini?" tanya Luna keheranan saat melihat Nixon ada di kantor polisi.
"Ada sesuatu yang sedang aku urus disini, kau sendiri, mengapa kau ada disini?" tanya Nixon penasaran. Mengapa kekasih Winston bisa datang ke kantor polisi.
"Aku sedang menyelidiki sesuatu, tapi ternyata tidak segampang yang aku duga," jawab Luna dengan ekspresi yang sedih.
"Hemmm, coba kau sebutkan padaku masalahnya? siapa tahu aku bisa membantumu?" ucap Nixon sembari tersenyum ke arah Luna.
"Tidak usah Nixon, aku tidak ingin merepotkan dirimu. Aku juga tidak yakin kau bisa membantu masalah ini atau tidak," jawab Luna sopan, dia tidak ingin merepotkan Nixon. Disamping itu, Luna tidak yakin jika Nixon memiliki wewenang untuk membuka kasus ayahnya. Karena kasus ayahnya merupakan kasus level tinggi.
"Ho? kau jangan meragukan aku manis. Aku tidak selemah yang kau kira, walaupun begini aku memiliki banyak kuasa," jawab Nixon membanggakan dirinya.
"Benarkah? kalau begitu apakah kau bisa memberikan aku kasus yang sudah terjadi belasan tahun yang lalu?" tanya Luna antusias.
"Jangankan belasan tahun yang lalu, kasus yang paling rahasia sekalipun bisa aku akses," Nixon benar-benar pamer pada Luna.
"Baiklah, kalau begitu apakah kau bisa memberikan aku berkas kasus ayahku? namanya Gonzales Hein," ucap Luna dengan sangat antusias dan bersemangat.
"Tentu saja bisa. Kasus seperti itu sangat gampang untuk aku dapatkan, aku akan memberikan kamu berkasnya dua hari lagi. Karena saat ini ada urusan yang sangat penting yang harus aku urusi, aku pergi dulu ya kucing manis," Nixon menjelaskan sembari beranjak dari samping Luna. Karena memang dia memiliki sesuatu yang harus ia urus.
"Wah, si Winston benar-benar lembek pada gadis itu. Dia bahkan tetap memberikan Luna kebebasan mencari perihal kasus ayahnya itu, apakah Winston benar-benar sudah mencintai gadis itu?" gumam Nixon keheranan atas sikap Winston pada Luna.
***
Tidak terasa hari sudah gelap, karena sedari tadi sedang asyik menyelidiki kasus ayahnya. Lagi-lagi Luna melupakan tentang Winston.
"Aku harus cepat-cepat pulang, kalau tidak dia pasti akan menghabisiku malam ini," gumam Luna langsung bergegas pulang ke mansion Winston.
Setelah beberapa saat ....
Luna langsung bergegas ke kamarnya dan dia sudah menemukan Winston rebahan di kasur, tanpa mengenakan pakaian atas dan sedang membaca dengan tenang.
"Astaga, pemandangan yang sungguh indah. Seandainya aku bisa memotret ini, pasti sudah kujadikan wallpaper ponselku," gumam Luna masih terdiam di pintu sembari memandangi ketampanan Winston.
Luna sudah lama menyadari jika Winston sangatlah tampan, tetapi saat ini Winston jauh lebih tampan dari biasanya. Rambut yang sedikit berantakan, dan tubuh bidang yang sixpack membuat tampilan itu sempurna.
Jika digambarkan secara animasi, pastilah sekarang dari mulut Luna sudah keluar air liur dan di matanya ada bentuk hati.
"Sayang, aku tahu jika aku sangatlah tampan. Tapi, jangan kira dengan hanya menatapku, kesalahanmu akan tertutupi," ucap Winston meletakkan buku yang ia pegang ke samping meja yang berada di dekat kasur.
"Sayang, kemari lah," ucap Winston sembari menepuk-nepuk kasur.
"Kesalahan apa lagi yang sudah ku perbuat? mengapa selalu saja aku yang melakukan kesalahan?" gumam Luna keheranan dan mengingat-ingat kesalahan apa yang telah ia perbuat.
Tanpa menunjukkan perlawanan, Luna mengikuti perintah Winston. Luna berjalan menuju kasur tempat Winston sedang duduk bersandar.
"Sreekkk," Winston langsung menarik Luna kepangkuan nya, dan langsung mendekap tubuh istrinya itu.
"Tadi kau membicarakan apa dengan Nixon?" bisik Winston sembari membelai rambut Luna.
"Jika aku sedang bertanya, jangan pernah menjawab dengan pertanyaan. Kau seperti tidak mengenalku saja," ucap Winston sembari mengelus kuping Luna dengan lembut.
"Ka ... kami tidak membicarakan sesuatu yang penting. Kami tidak sengaja bertemu di kantor polisi, dia mengatakan jika dia bisa memberikan aku berkas mengenai kasus ayahku," balas Luna dengan gagap.
"Kasus ayahmu? kenapa kau tidak meminta tolong padaku? kenapa harus Nixon? apakah kau mau selingkuh lagi dengan dia?" Sekarang Winston sudah menekankan nada suaranya.
"Astaga Winston, aku tidak meminta tolong padanya, dia yang menyodorkan dirinya untuk membantuku. Dan juga aku tidak pernah berselingkuh dengan dia. Jangan mengarang," jawab Luna dengan nada yang sedikit tinggi. Sejenak Luna lupa, jika yang ia hadapi sekarang adalah manusia paling possesive yang pernah ada.
"Ho? nada suaramu menandakan jika kau sedang bersemangat hari ini sayang. Tenang saja, aku tidak akan membiarkan kamu tidur malam ini," bisik Winston langsung menerkam Luna.
"Tidak! biarkan aku mandi dulu," balas Luna menunduk, dia sangat malu.
"Tidak usah sayang, nanti saja sama-sama," bisik Winston dan langsung melancarkan aksi olahraga panasnya itu.
"Sayang kenapa kau sangat wangi? membuatku ingin lagi dan lagi, apakah kau memang sengaja menggodaku?" bisik Winston dekat sekali diwajah Luna.
"Kenapa? kenapa setiap kali bersamamu selalu saja berakhir dengan adegan seperti ini? sial!" ketus Luna masih melakukan penolakan.
"Sial? aku akan membuatmu menyadari betapa kata-kata itu menyakitiku sayang," balas Winston langsung mencium setiap inchi tubuh Luna.
"Ini semua salahmu karena terlalu menarik dimataku," ucap Winston di sela-sela kegiatan yang ia lancarkan.
Setelah beberapa jam barulah Winston menghentikan permainannya. Lagi-lagi Winston kasihan melihat Luna yang terlihat sangat kelelahan.
"Mulai besok, kau harus banyak memakan daging. Kau sangat lemah, apakah kau mengerti?" ucap Winston sembari menyelimuti tubuh polos Luna dan memeluknya.
Karena sudah tidak memiliki energi, Luna hanya menunduk dan tidak menjawab.
***
"Sayang, mulai besok kau tinggal di apartemenku dulu ya," ucap Winston sembari memeluk Luna di ranjang.
"Kenapa memangnya? kau punya selingkuhan yang lain?" jawab Luna ketus. Luna yakin, pasti jika dirinya di pindahkan ke apartemen, maka pasti ada perempuan yang lain yang akan datang ke mansion itu.
"Apakah kau cemburu?" tanya Winston terkekeh.
"Tidak! untuk apa aku cemburu?" jawab Luna ketus. Walaupun sebenarnya Luna sudah ingin menjambak rambut Winston, tapi Luna tahan, dia tidak ingin Winston salah paham.
"Apa? jika kau bilang kau tidak cemburu, maka aku akan menghabisi dirimu malam ini, tidak peduli kau kelelahan atau tidak," ketus Winston merasa kesal akan jawaban Luna.
"Baiklah, baiklah. Aku cemburu, sangat cemburu! jadi bisakah kau jelaskan mengapa aku harus pindah ke apartemen?" tanya Luna menyerah dengan sifat arogansi Winston itu.
"Hemmm, satu minggu ini aku akan mengurus sesuatu yang sangat berbahaya. Alangkah baiknya jika dirimu pindah ke apartemen dulu, dengan begitu aku akan lebih tenang," ucap Winston menjelaskan pada Luna.
"Memangnya kau mau mengurus apa? bukankah kau sudah sangat kaya? kenapa kau masih mengurus hal-hal yang berbahaya?" Luna penasaran, mengapa Winston selalu saja sangat sibuk. Padahal dia sudah sangat kaya.
"Ada banyak hal yang belum bisa aku jelaskan padamu sayang, tapi saat waktunya tiba. Saat semuanya sudah berakhir, aku pasti akan menjelaskan segalanya padamu. Makanya berjanjilah padaku agar kau tidak akan pernah meninggalkan diriku," ucap Winston dengan tetap memeluk istrinya itu.
"Baiklah, baiklah, aku sudah sangat ingin mandi. Bisakah kau melepaskan aku sebentar?" keluh Luna sudah merasa kegerahan dipeluk Winston sedari tadi.
"Oke sayang, mari kita mandi bersama," balas Winston langsung menggendong Luna ala bridal style ke kamar mandinya.
"APA? TIDAK!" seru Luna pada Winston, dan tentu saja hal itu tidak digubris olehnya.