
***
Di rumah sakit,
Rani sudah sadar beberapa menit yang lalu, dia melihat jika Lani sudah berada disisi nya.
"Lani, kenapa kau ada disini? lalu aku ada dimana?" Rani kebingungan saat mendapati dirinya sudah tidak lagi dirantai dan berada di sebuah ruangan rumah sakit.
"Kaka, apakah kau sudah sadar? sebentar ya kak, aku panggilkan dokter dulu," ucap Lani merasa sangat senang dan hendak bergegas memanggilkan dokter yang memeriksa kakanya itu tadi.
Tapi, sebelum Lani pergi ....
"Lani, tunggu sebentar. Aku masih bingung, kenapa aku bisa ada disini? siapa yang menyelamatkan aku?" Rani masih sangat kebingungan, dia ingin jawaban secepatnya dari adiknya itu.
"Tadi bos Winston, Rean dan anggota yang lain menyelamatkan Kaka. Nanti aku ceritakan semuanya, aku panggilkan dokter dulu," balas Lani langsung bergegas pergi.
"Winston? Winston menyelamatkan aku? apakah ini mimpi? apakah dia akan kembali lagi padaku?" gumam Rani merasa sangat senang, akhirnya Winston menyelamatkan dirinya selama hampir beberapa tahun menghilang.
***
Tring ... Tring ... Tring
"Halo Bos, kak Rani sudah sadar, kapan Bos akan kembali kesini?"
Ya, memang Lani sedang menghubungi Winston, karena memang Rani sudah sadar dan sedang diperiksa oleh dokter.
"Maaf Lani, sepertinya untuk hari ini aku tidak akan kesana dulu, nanti Sean akan kesitu, istriku sedang dalam masalah," jawab Winston yang sedang berada di balkon kamarnya.
"Istri? maksudnya Bos? kapan kau menikah? jangan bilang itu adalah gadis kecil itu?" Nada suara Lani sudah meninggi dan menekan, dia sungguh tidak habis pikir bosnya akan menikah diam-diam, apalagi dengan gadis lemah seperti Luna.
"Aku sedang tidak ingin berdebat, aku akan menjelaskan segalanya nanti. Untuk saat ini, jika ada yang ingin kau tanyakan, tanyakanlah pada Rean, kau jagalah Rani dulu. Jika aku punya waktu aku akan menyempatkan diri kesana," Winston langsung mengakhiri panggilannya dengan Lani, karena memang sekarang pun Winston sedang sangat gelisah dan pusing.
Bagaimana tidak, Luna terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Entah apa yang sudah ia lalui, namun Luna terlihat selalu ketakutan dan was-was dengan sekitar. Seolah Luna merasa trauma akan sesuatu.
***
"Ahhhhh, jangan! aku mau pulang, jangan pukul aku! aaahhh!" Luna berteriak dalam tidurnya. Hal itu membuat Winston amat sangat panik.
"Sayang, ada apa? apakah kau bermimpi buruk? tenanglah ada aku disini, kau tidak perlu takut," Winston langsung berlari dari balkon dan memeluk istrinya itu dengan sangat lembut.
"Kau, kau, aku mengingatmu, aku akhirnya mengingat dirimu. Kau Winston, iya, kau Winston," Luna memegangi wajah Winston dan melihatnya seolah-olah Luna baru mengenali Winston, dan baru bertemu setelah beberapa tahun tidak bertemu.
"Kenapa kau menangis dan gemetaran, aku selalu ada di sisimu, aku tidak pernah pergi, apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan padaku, tenanglah, jika kau seperti ini membuat hatiku sakit, tolong jangan menangis lagi, aku akan menjagamu,"
Winston mengusap air mata Luna dengan sangat lembut, dia sangat khawatir dengan keadaan Luna yang sekarang.
"Iya, kau dulu sudah pernah berjanji padaku, kau berjanji untuk selalu menjagaku. Kau tidak boleh lagi meninggalkan aku," Luna langsung memeluk Winston dengan sangat erat, seolah-olah Winston pernah meninggalkan dirinya.
Mendapat jawaban Luna semakin membuat Winston kebingungan,
Lalu, saat Luna sudah kembali tertidur, Winston langsung menghubungi Sean, karena memang tadi Winston sudah meminta Sean untuk mengirimkan dokter terbaik ke mansionnya.
***
Rean sudah berhasil melacak orang yang telah menculik Rani, yang juga merupakan rekan Rean. Rean sangat murka saat melihat keadaan Rani tadi, karena Rani terlihat sangat kurus dan pucat.
"Beraninya kau mengganggu saudara ku!" decak Rean dengan emosi yang sangat memuncak, dia memang sangat menyayangi rekan-rekannya dan sudah menganggap mereka sebagai saudaranya.
Tring ... Tring ... Tring
"Halo Bos, saya sudah mendapatkan info yang menculik Rani. Aku juga sudah mendapatkan lokasinya, apakah Bos akan menanganinya sendiri?" tanya Rean melalui telepon kepada Bosnya Winston.
"Sepertinya aku sedang tidak bisa Rean, Luna sekarang sedang membutuhkan aku. Tadi dia diculik, aku juga belum menemukan siapa dalangnya, bisakah kau mengurus dia? tapi jangan membunuhnya dulu, aku ingin melihat siapa yang sudah berani mengganggu saudara kita!" jawab Winston ingin menyerahkan perihal kasus Rani pada Rean.
"Nyonya Luna diculik? baiklah, baiklah Bos, kau bisa menyerahkan masalah ini untukku. Kau jagalah istrimu itu," jawab Rean panik. Bagaimana tidak, hari ini begitu banyak masalah yang secara tiba-tiba datang secara beruntun, dia tidak ingin bosnya Winston semakin pusing, jadi Rean akan mengurus kasus Rani sendirian.
Setelahnya Winston langsung mematikan panggilan telepon itu, karena memang ada seseorang yang mengetok pintu kamarnya.
Saat dia membuka pintu kamar itu, dilihatnya lah Lily sedang berdiri tertunduk didepan pintu. Winston bisa melihat ada beberapa memar di wajah dan juga lengannya.
"Ada apa? kenapa kau disini?" tanya Winston dengan ketus, padahal jelas-jelas Lily sedang terluka.
"Aku, aku hanya ingin meminta maaf, aku tidak tahu jika Luna akan dilukai separah itu. Aku, aku yang memberitahukan perihal hubunganmu dengan Luna. Kau, kau bisa memukulku sebanyak luka yang Luna terima. Tapi, sebelum itu aku ingin memberitahukan kamu siapa penculiknya,"
Lily begitu gugup. Saat tadi dia melihat keadaan Luna yang begitu lemah dan tidak sadarkan diri membuat rasa bersalah Lily semakin memuncak. Dia tidak tahu, jika seseorang bisa melukai orang lain dengan begitu parah.
"Kau! Jadi kau yang memberitahukan hubunganku dengan Luna? Ah sudahlah, kau memang bodoh dan pengecut. Aku lihat kau juga terluka, cepatlah katakan siapa pelakunya!" decak Winston sedang meredam amarahnya.
Dia bisa melihat ketakutan di diri Lily, Winston bisa mengerti karena memang seumur-umur Lily belum pernah merasakan diculik ataupun dilukai. Jadi mungkin tadi Lily hanya ingin menyelamatkan dirinya saja, makanya sampai memberitahukan hubungan Winston dengan Luna.
"Ka ... kalau tidak salah mereka menyebutnya dengan sebutan nona Rena. Selebihnya aku sudah tidak tahu lagi, karena aku sangat ketakutan aku tidak berani membuka mataku." jawab Lily berterus terang, dia memang tidak berani sekalipun membuka matanya saat perempuan yang menculiknya itu mendekatinya. Lily hanya bisa menangis dan menutup matanya saja.
"Rena ya? lihat saja bagaimana aku akan mengurus dirinya!" ketus Winston mengepal tangannya dan ekspresinya sudah terlihat sangat marah. Lily belum pernah melihat ekspresi se menyeramkan itu dari Winston.
"Kau sudah boleh pergi, jangan membuat masalah yang lain lagi." ketus Winston langsung berlalu melewati Lily, karena Winston hendak pergi mencari keberadaan Rena dan membalaskan perbuatan yang sudah ia lakukan pada Luna.
Tapi, sebelum Winston benar-benar pergi ....
"Emmm, itu, aku, aku, bolehkah aku menemui Luna sebentar? aku, aku hanya ingin minta maaf! aku, aku tidak bisa tenang melihat keadaannya yang seperti itu. Dia biasanya berdebat denganku dan terlihat kuat, tapi tadi dia terlihat sangat lemah. Aku merasa harus meminta maaf, tapi, tapi bukan berarti aku mengalah padanya. Ja ... jadi bisakah aku bertemu dengan dia dan meminta maaf?"
Lily bergetar ketakutan dan menangis, karena selama ini dunianya terlihat baik-baik saja dan indah membuat dirinya syok atas apa yang sudah ia alami hari ini. Lily seolah melihat sisi lain dari dunia yang kejam.
Apalagi biasanya Luna selalu terlihat kuat dan tangguh di mata Lily, dia merasa sangat bersalah saat melihat Luna terlihat begitu lemah dan tidak seperti Luna yang biasanya.
"Jangan sekarang, dia sedang tidak bisa bertemu dengan orang lain. Sebagai rasa bersalah mu, kau jaga lah dia disini. Jika ada hal yang mencurigakan, kau harus langsung menghubungi aku." balas Winston langsung berlalu meninggalkan Lily yang sedang menangis bergetar ketakutan itu.
Mendengar jawaban itu membuat Lily semakin menangis, dia tidak tahu jika dunia ini begitu kejam dan sangat berbahaya.