
"Wah ... wah, lihat itu yang disana, sepertinya ada pangeran yang sedang datang ke kampus kita."
"Kyaaa! tampan sekali, sudah punya pacar belum ya?"
"Pasti dia adalah pria kelas atas, lihat kulitnya sangat mulus dan terawat."
"Kalau aku berdiri di sampingnya, mungkin aku akan terlihat seperti kain lap hahaha."
Semua mahasiswi yang berada di sekitaran kampus sedang mengelilingi seorang pria yang sangat tampan, yang sedang berdiri di luar mobilnya dan terlihat seperti sedang menunggu seseorang.
***
"Ah, perutku kenyang!"
"Tentu saja kenyang, kalau kau tidak kenyang juga, aku rasa di perutmu ada lubang hitamnya." Balas Rendi atas ucapan Luna. Bagaimana tidak, tadi Luna makan di kantin seperti seseorang yang kesurupan. Dia makan sangat banyak.
"Kenapa banyak orang berkumpul disini? apakah ada artis yang datang?" ucap Luna geleng-geleng melihat kerumunan yang dihadapannya itu.
Sampai disatu titik matanya bertemu pandang dengan Winston.
"Ah, ****** aku! si mesum ini kenapa datang ke kampus ini? hiks, betapa menyedihkannya hidupku yang malang ini." Gumam Luna langsung spontan menunduk saat Winston melihatnya.
"Sial, gadis ini sangat tidak bisa diatur. Ingin ku ikat saja dia di rumah dan tidak membiarkan siapapun melihatnya. Baru juga tadi malam aku peringatkan, tetapi sekarang sudah tertangkap basah sedang berduaan dengan pria lain." Gumam Winston kembali kesal.
Padahal, hari ini dia berniat ingin meminta maaf pada Luna atas sikap kasarnya tadi malam.
"Hemm Luna, jangan berani-beraninya ingin kabur! aku sudah melihat mu. Jika kau kabur, kau tahu kan apa konsekuensi nya?" tegas Winston yang berada di tengah keramaian itu.
Rendi melihat kejadian itu, Rendi masih ingat betul dengan wajah itu. Wajah yang sangat ia benci. Bagaimana tidak? lelaki itu adalah tersangka utama hancurnya acara pernyataan cintanya pada Luna.
"Hiks ... sudah ku duga! dia mana pernah memikirkan perasaan ku? beraninya dia memanggil namaku dengan lantang! huhu ... kehidupan perkuliahan ku yang tenang, sekarang hanyalah angan-angan." Gumam Luna mengikuti perintah Winston.
Mau bagaimana lagi? Luna hanyalah seperti tikus kecil yang sedang diterkam hewan buas.
"Wah, dia memanggil Luna."
"Apakah Luna adalah adiknya? atau kekasihnya?"
"Kyaaaaa! apapun itu, aku tetap iri pada Luna."
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin menikmati ciptaan Tuhan yang sedang terpampang nyata dihadapanku ini! tak akan ku sia-siakan."
itulah bisik-bisik yang terdengar dari kerumunan itu.
"Masuk!" tegas Winston pada Luna.
Dengan ekspresi yang begitu Lesu, Luna mengikuti perintah Winston. Dia segera masuk kedalam mobil itu.
Sebelum benar-benar pergi, Winston memberikan pandangan yang begitu mematikan pada Rendi. Tetapi Rendi tidak mau kalah, jika digambarkan, akan ada percikan api dari pandangan tajam mereka berdua.
"Cih, untuk kedua kalinya dia merebut Luna tepat di hadapanku. Lihat saja, aku tidak akan kalah, aku menyukai Luna dengan segenap hatiku." Gumam Rendi melihat mobil yang Luna naiki sudah melaju.
"Sayang, bagaimana rasanya tertangkap basah selingkuh? apakah rasanya mendebarkan?" tanya Winston dengan ekspresi yang sangat marah.
"Cukup Winston! aku ini mahluk sosial. Aku butuh berinteraksi dengan orang lain, butuh teman. Dan dia hanya temanku, dia juga berjanji tidak akan melewati batas pertemanan kami. Aku rasa kau butuh pengobatan untuk sifat kecurigaan tak berdasar mu itu!"
balas Luma dengan nada yang tinggi dan kecepatan yang tidak terduga.
"Astaga, Nyonya kecil ini berani sekali membentak bosku? hiks, Nyonya mulai dari sekarang aku adalah fansmu." Gumam Rean yang sedang menjadi nyamuk, saat menjadi supir kedua pasangan yang sedang bertengkar itu.
"Cih! kau bahkan sudah berani membantahku seperti ini. Kita lihat saja di rumah, apakah mulutmu masih sanggup mengatakan hal ini kepadaku." Ucap Winston memicingkan matanya.
"Apa ... apa ... apa yang akan kau lakukan di dalam rumah? ku peringatkan ya Tuan Winston yang terhormat, aku tidak mau melakukan itu. Malam itu aku memaafkanmu karena memang itu bukan kesalahanmu." Ucap Luna curiga atas perkataan Winston barusan.
"Sayang, kau masih pura-pura polos. Tentu saja melanjutkan kegiatan kita yang sudah tertunda tadi malam. Apakah kau ingat hukuman tiga hari tiga malam yang ku katakan saat di luar negeri?" aku akan menagihnya sekarang." Ucap Winston sembari mengusap bibir Luna dengan jemarinya.
"Kau gila! kau mesum! aku mau turun dari sini. Turunkan aku! aku tidak mau melihat mu lagi! setiap kali kau marah, kau pasti melampiaskannya padaku! dasar kau brengsek!" teriak Luna pada Winston.
Tapi segera Luna terperanjat saat melihat senyuman menyeramkan dari wajah Winston. Luna langsung tertunduk diam, aura mendominasi dari Winston berhasil menundukkan emosinya yang sedang membludak.
"Ja ... ja ... jadi maksudku adalah, kita tidak boleh melakukan hal itu." Ucap Luna dengan sangat pelan dan gagap sembari tertunduk.
"Kau semakin berani terhadapku sayang. Seandainya kekuatan amarahmu barusan kau lampiaskan di ranjang, pasti aku akan sangat puas." Balas Winston sembari menarik tangan Luna dan menggigit jemarinya.
"Ehemmm ... ehemmm, aduh udaranya sangat panas."
Rean sengaja mengeluarkan suaranya, agar dirinya tidak ditiadakan dari mobil itu. Sedari tadi kuping Rean sudah sakit akibat pertengkaran pasangan yang menurutnya kekanak-kanakan itu.
Di kediaman Nixon.
Dia sudah menerima laporan mengenai identitas Luna. Dan alangkah terkejutnya Nixon saat melihat Luna berhubungan dengan sangat erat dengan Winston.
"Hahahaha, pantas saja beritanya bisa diredam, ternyata karena ulah Winston. Aku semakin ingin mengetahui hubunganmu dengan gadis ini Winston. Setahuku, kau tidak pernah dekat dengan wanita lain sebelumnya. Hahaha."
"Aku jadi semakin ingin memiliki gadis ini, sungguh gadis yang sangat langka."
Nixon juga menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki lebih lanjut perihal kematian kedua orangtua Luna, yang dikabarkan telah dihukum mati. Nixon yakin, pasti ada hal yang lebih menarik lagi dari hal itu nantinya.
"Hahaha, tidak ku sangka ada waktu dimana aku dan Winston akan berebut seorang gadis. Aku sih tidak masalah, karena gadis itu sangat cantik dan juga unik. Ahh, aku sudah tidak sabar menantikan perjumpaan ku dengan kucing kecil itu lagi."
Ucap Nixon sembari tersenyum melihat potret dari Luna didalam berkas yang anak buahnya tadi serahkan.
Di sekolah Hani.
Sekarang Hani benar-benar dijauhi oleh teman-temannya, dia dikucilkan dan digosipi disana-sini. Hal itu membuat Hani semakin dendam terhadap Luna. Hani yakin, ini semua adalah karena Luna. Hidupnya menderita pun karena Luna.
Hani berjanji akan membalaskan dendamnya terhadap Luna. Hani lupa jika Luna dilindungi oleh Winston, dan sebenarnya hukuman yang diterima Hani tidaklah seberapa.
Winston masih memberikannya kesempatan, karena mau tidak mau, Hani tetaplah keluarga dari Luna.