Serial ArtLand: MINORITY TALENT

Serial ArtLand: MINORITY TALENT
Endemik


"Ada yang tahu siapa penulis buku berjudul: Waktu Selalu Punya Jawaban Untuk Setiap Persoalan?" Jun Andreas bertanya di antara gelak tawa rekan-rekannya.


"Jibril Ibrahim!" Reyhan Ibrahim menjawab sekenanya sembari mengunyah kentang goreng.


"Hey! Jangan ingatkan aku pada penulis keparat yang telah menjadikan aku sebagai tokoh paling payah dalam kisah ini," protes Senja menanggapi Reyhan Ibrahim. "Aku akan membunuhnya setelah tamat cerita ini!"


"Setuju!" Ester Maria menimpali.


Ryan mengangkat tangan dan mengacungkan telunjuknya. Seketika seisi Coffee Shop terdiam. Setelah itu Ryan mengangkat cangkir dari meja dan meneguk isinya. Sementara rekan-rekannya masih melengak menunggunya mengatakan sesuatu. Setelah menenggak kopi, Ryan menaruh kembali cangkir kopinya, kemudian beranjak dan mengedar pandang. "Nungguin ya?" Kelakarnya menyebalkan. Setelah itu bergegas menjauhi meja. Seisi Coffee Shop itu tergelak menanggapi kelakuannya.


Athena hanya tersenyum tipis seperti biasanya. Ia menaikan kedua siku di meja dan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dagu. Kemudian menatap Jun Andreas.


Seolah dapat membaca ekspresi Athena, Mathew Minor, atau lebih dikenal sebagai Pak Tua, kemudian menyela. "Juna baru saja bercerita ia pernah bertemu Casey di Taman Bacaan Deasy Dengkur bersama seseorang yang--" Pak Tua menggantung kata-katanya sesaat, kemudian melirik ke arah Jun Andreas di sampingnya dan melanjutkan, "tidak kelihatan," jelasnya ragu-ragu. "Bernama Denta."


Mendengar hal itu, Dewi Samudera yang sejak awal hanya diam di sudut ruangan seperti kebiasaanya, tiba-tiba mengangkat wajah dan menatap Pak Tua dan Jun Andreas.


Sepintas Athena mendengar Dewi Samudera memanggil nama Denta di dalam hatinya. Ia menoleh ke arah gadis itu dan tersenyum simpul.


"Kemudian Deasy memberitahu, bahwa Casey sempat menyewa sebuah buku dari Taman Bacaannya." Pak Tua melanjutkan. "Dan judul bukunya: Waktu Selalu Punya Jawaban Untuk Setiap Persoalan!"


Athena kembali tersenyum tipis. Lalu menegakkan tubuhnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. "Agung Tirta juga mengirimi saya pesan pada malam Monica Debora tertangkap. Pesan itu disampaikan pada Deasy, saat Deasy sedang tidur. Isi pesannya berupa nomor seri yang merupakan kode ISBN dari buku berjudul: Waktu Selalu Punya Jawaban Untuk Setiap Persoalan!" Athena menambahkan.


Pak Tua terdengar menelan ludah dan tercenung.


Jun Andreas di sampingnya juga terlihat sedang berpikir keras. "Apakah itu semacam pesan ancaman?" Jun Andreas bertanya pada Athena.


Athena kembali mengembangkan senyum tipisnya yang khas. Lalu menggelengkan kepalanya. "Judul buku itu sebetulnya merupakan kriptografi yang dirancang khusus untuk misi pertemuan rahasia Paravisi!"


Senja Terakhir kemudian tersenyum simpul mendengar penjelasan itu. Ia ingat saat pertama kali ia menemukan akses rahasia yang menghubungkan Ruang Komite dengan ruang Personality Class.


"Kalimat itu merupakan kriptografi pertama yang diciptakan oleh Jet-1," tutur Athena. "Saya hanya tidak tahu kriptografi itu diunggah menjadi judul sebuah buku." Athena mengakui. Lalu mengedar pandang ke arah Jun Andreas dan Pak Tua. "Tapi saya berani memastikan penulisnya adalah Jet-1 sendiri!"


Kedua pria di seberang mejanya itu beradu pandang.


"Jet-1 menginginkan Putri Anda, Pak!" Athena memberitahu. "Saya rasa sudah saatnya Anda berhenti khawatir."


Pak Tua mengalihkan perhatiannya pada Athena, kemudian tercengang belum mengerti.


"Putri Anda tidak diculik!" Athena menegaskan.


Seisi Coffee Shop terdengar menghela napas lega.


"Tidak lama lagi, pelantikan Aset dan Paravisi akan dilaksanakan." Valentine memberitahu.


Kemudian Ardian Kusuma menambahkan, "Jet-1 tidak mungkin melewatkan acara ini!" Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Pak Tua.


"Ayahmu luar biasa," kelakar Martin Hernandez pada Luciana. Sebelah matanya mengerling ke arah Ardian Kusuma.


Luciana tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menangkupkan sebelah tangannya menutupi muka seraya menunduk. Ia tidak malu memiliki pasangan yang jauh lebih tua. Ia hanya khawatir orang lain menilainya memanfaatkan Ardian Kusuma demi keuntungan pribadi.


Sesaat ruangan berubah gaduh kemudian membeku serentak ketika Ester Maria mendadak histeris seraya menunjuk layar televisi yang menempel pada dinding bagian atas ruang bartender.


Semua mata mengikuti arah pandangnya.


Wajah Jessifer Illucy muncul dalam sebuah tayangan berita yang disiarkan secara langsung. "Saya menawarkan 500.000$ untuk siapa saja yang bisa membebaskan saya dari penjara!" Gadis itu berteriak ke arah kamera.


Semua orang dalam Coffee Shop memekik bersamaan dan beranjak serentak dari tempat duduknya masing-masing. Kecuali Arfah. Anak laki-laki itu hanya tergagap kebingungan melihat reaksi mereka. Ia tidak mengerti bagaimana dampak nominal pernah menyeret mereka semua ke dalam peperangan yang tak terelakan.


Dampak 1 juta $ masih membekas dalam ingatan para Aset. Dan mereka tahu persis gadis dalam tayangan televisi itu bukan Jessifer Illucy yang asli. Gadis itu jelas menderita histeria. Ia menghalalkan segala cara demi mendapatkan perhatian. Lagi pula dia Monica Debora. Gadis yang sama yang pernah menjadi penyebab bencana yang sama.


"Dasar Histeria gila!" Gilang Wibisana menggebrak meja di depannya. Tapi teriakannya terdengar seperti jeritan gadis sedang frustasi.


Membuat Ary Caroline melompat terkejut di sampingnya. Gadis itu menggeram kesal ke arah Gilang Wibisana yang merupakan Guardiannya. "Dasar banci laknat!"


Evan Jeremiah dan Elijah menyeringai bersamaan menyaksikan keduanya. "Ayo, Fah!" Elijah menarik tangan Arfah dan menjauhkan anak laki-laki itu dari Gilang Wibisana. "Tontonan yang satu ini gak bagus buat anak-anak," katanya seraya mendelik ke arah Ary Caroline dan Gilang Wibisana.


Arfah hanya menyeringai "Anak-anak setan?" Ia berkelakar seraya melangkah mengikuti Elijah. Diikuti Evan Jeremiah di belakangnya.


"Apa dia serius?" Sejumlah orang tamak mulai mempertanyakan kebenaran berita itu di tempat lain. Di hampir seluruh Artland.


Monica Debora tidak pernah main-main dengan dramanya. Ia bahkan tak segan-segan mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk menjadi pusat perhatian dunia.


"Ini kesempatan Lo buat nginjek batang leher Monica Debora!" Ryan Gunawan menepuk pundak Asetnya.


Mata gadis itu berbinar senang dan menanggapinya dengan antusias. "Hmh!" Gadis itu mengangguk penuh semangat dengan tampang kekanak-kanakan.


"Itu juga kalo kaki lo bener-bener nyampe!" Ryan menambahkan.


"Hmm..." Ika menggeram dan memelototinya.


Berita hari itu tersiar secara langsung, tidak hanya di kota Artland. Tapi juga di kota Ghostroses. Kota keramat kediaman Jessifer Illucy yang asli.


Athena menatap nanar ke arah Evan Jeremiah. Dan rekan Paravisinya tahu apa itu artinya. Artland dalam gerbang kehancuran. Siaran tadi bukan saja memancing para gangster tapi juga mengundang malaikat kematian.


Evan Jeremiah menelan ludah. Ia adalah satu-satunya orang yang pernah berhasil lolos dari kota Ghostroses tanpa catatan pembunuhan. Tapi itu tak berarti bahwa ia juga pernah berhasil menawarkan kesepakatan. Ghostroses tak pernah menerima tawaran kesepakatan kecuali bertukar nyawa. Terutama kesepakatan damai. "Forget it!" Evan mengerang ke arah Athena. "Kita takkan berhasil!"


Begitu Athena balas mengerang, tanpa menunggu aba-aba lagi semua Aset serentak menghambur meninggalkan Coffee Shop itu dan berpencar ke arah kendaraannya masing-masing. Mereka tahu mereka harus bersiap-siap sekarang. Tidak lama lagi, mereka mungkin akan berhadapan dengan sedikitnya penyerangan massal sebelum akhirnya betul-betul menghadapi kematian massal yang sesungguhnya.