Serial ArtLand: MINORITY TALENT

Serial ArtLand: MINORITY TALENT
Rahasia Di Balik Program Dan Semua Orang


Agung Tirtayasa jatuh terduduk dan tertunduk lemas tanpa daya. Sekali lagi ia harus menyaksikan pemandangan yang paling tak diharapkannya.


Ratusan mayat bersimbah darah bergelimpangan di depan matanya.


Sesaat perempuan berseragam Paravisi itu melirik ke arah Agung Tirtayasa seraya menyampirkan rantai ke bahunya kemudian berbalik dan berjalan ke arah tangga menuju lantai 3.


Semua orang dalam ruangan itu masih tercengang menatapnya tanpa berkedip.


Athena juga menatapnya dari balik railing di selasar lantai 5 seraya bersedekap dan mengembangkan senyum tipisnya.


Senja melirik ke arah Athena dari puncak tangga, tak jauh dari tempat Athena berdiri. Lalu beralih menatap perempuan berseragam Paravisi dengan rantai besi. "Kukira kau phobia pada benda logam?"


Ester menelan ludah. "Dewi Samudera!" Ia menyadari.


Perempuan itu berhenti di puncak tangga, "semua orang akan phobia pada benda logam mulai sekarang," tandasnya dingin. Lalu melangkah menuruni tangga tanpa menoleh sedikit pun.


Senja menghela napas dan kembali melirik ke arah Athena. Ia menelan ludah dan berdeham seraya bersedekap. "Kau berhutang penjelasan pada semua orang," tuntutnya setengah berbisik.


Athena menundukkan kepalanya memandangi semua orang di lantai 4.


Agung Tirtayasa masih bersimpuh di lantai ketika yang lainnya mulai berkumpul dan saling menyapa satu sama lain. Deasy Dengkur berjalan pelan menghampirinya dan menatapnya dengan tampang kekanak-kanakan. Pria itu kemudian mengangkat wajahnya menatap Deasy dan memaksakan senyum.


Luciana Adam, Ester Maria, Ika Apriani dan Ary Caroline berkerumun saling berhimpitan memeluk Naomi.


Ardian Kusuma menatap Luciana dari tangga seraya tersenyum tipis. Luciana kemudian membalas tatapannya dan melepaskan pelukannya dari keempat temannya. Lalu berjalan menghampiri pria itu dengan sikap malu-malu.


"Halo, tampan!" Evan Jeremiah mengerlingkan sebelah matanya ke arah Elijah seraya tersenyum lebar.


Elijah menanggapinya dengan wajah datar.


Enam pria berambut panjang berkerumun saling menyapa satu sama lain yang kemudian dilanjutkan dengan saling melontarkan lelucon.


Jonathan Van Allent dan Reyhan Ibrahim bersalaman dan saling menyemangati.


Adam Martinez dan Ethan Hernandez mendekap Martin Hernandez di kiri-kanannya.


Sementara itu, sejumlah Guardian sudah mulai sibuk mengangkut mayat-mayat dan mengumpulkannya di pekarangan.


Athena masih mematung dalam posisi bersedekap di tempatnya semula. Beberapa Guardian yang tengah sibuk menyisir ruangan berseliweran di belakangnya.


"Mereka berhasil melarikan data!" Seorang Guardian melaporkan pada Athena.


Membuat semua orang serentak menatap Guardian itu dan juga Athena secara bergantian.


Sekilas Ary Caroline beradu pandang dengan Pak Tua.


Athena mengusap wajahnya dengan telapak tangannya dan menghela napas berat. Lalu kembali bersedekap.


Sementara semua mata tertuju pada dirinya dengan pandangan menuntut.


Senja benar, batinnya. Aku berhutang penjelasan pada semua orang, sesalnya. Ia mengedar pandang ke seluruh ruangan tanpa mengatakan apa-apa. Wajahnya menyiratkan kebimbangan besar yang teramat sulit untuk diungkapkannya dengan kata-kata.


Rekan Paravisinya saling bertukar pandang satu sama lain. Mencoba menerka-nerka sendiri apa yang sedang terjadi. Tapi tak satu pun mengerti sampai mereka menyadari Monica Debora telah diculik.


..._...


"Aku menyesal telah membawa kalian sampai sejauh ini," sesal Athena seusai pembersihan gedung.


Seisi ruangan bergeming menunggu pengakun Athena.


Membuat seisi ruangan tertunduk merasa menyesal telah mencurigai Athena.


Hari itu mereka berkumpul di ruang Personality Class. Tapi posisi Leader tidak didampingi Paravisi kecuali Senja Terakhir. Semua Paravisi juga duduk di bangku peserta.


"Aku tidak bermaksud merahasiakan tujuan program ini dari kalian kecuali untuk mencegah bocornya informasi. Dan semua aksi serangan yang datang terjadi di luar rencana dan perhitunganku." Athena melipat kedua siku tangannya di meja kemudian menautkan kedua telapak tangannya di depan dagu. "Aku tidak pernah merencanakan semua penyerangan ini sebagai ujian. Kalian semua tidak butuh diuji. Kalian semua telah lulus seleksi sebelum kalian semua diundang ke ruang Personality Class pada hari pertama." Athena menelan ludah. "Bahkan Monica Debora," desisnya getir.


Senja Terakhir bersedekap dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi seraya melirik Athena di sisinya seraya tersenyum tipis namun menyiratkan kegetiran yang sama.


Paravisi di bangku peserta kembali tertunduk.


"Kami semua, Paravisi, sejujurnya tidak pernah memilih kalian berdasarkan bakat dan keahlian. Kami memilih kalian berdasarkan keinginan besar yang tidak pernah terwujud. Misi utama Program Minority Talent adalah mewujudkan keinginan gila setiap orang." Athena mengembangkan senyum tipisnya seraya mengedar pandang.


Seisi ruangan terdengar menghela napas berat. Sindiran halus Athena rupanya telah menembus ke dalam sanubari mereka masing-masing.


"Keinginan gila merupakan modal utama untuk mengembangkan ide-ide baru. Itu sebabnya kalian semua disebut Aset." Athena mengembangkan senyum tipisnya sekali lagi, masih melontarkan sindiran halus. "Kalian tidak pernah dipilih karena istimewa!"


Para Aset itu sekarang tertunduk dalam.


Ary Caroline menelan ludah dan berdeham kemudian memberanikan diri untuk mengangkat tangan, meminta kesempatan untuk bertanya.


Athena kemudian mempersilahkannya.


"Saya menemukan data Monica Debora sebagai Talent Rekomendasi Athena," Ary Caroline tergagap. "Dan..." Ia menggantung kalimatnya.


Athena menanggapinya dengan tersenyum tipis. "Benar," akunya. "Monica Debora adalah Talent Rekomendasiku, karena keinginan terbesarnya adalah menghancurkan Oscar Tjang. Keinginan Monica Debora sejalan dengan ambisiku," tandasnya tajam.


Semua mata sekarang tertuju kembali pada Athena.


Ester Maria terhenyak mendengar nama Oscar Tjang disebutkan. Menghancurkan Oscar Tjang juga merupakan salah satu keinginan terbesarnya. Sekarang ia mengerti kenapa Athena memilih dirinya sebagai Talent Rekomendasi.


"Aku hanya tak mengira gadis itu telah berhasil mewujudkannya pada hari aku membawanya." Athena menghela napas dan mengatupkan kelopak matanya.


Semua orang dalam ruangan menatapnya tak mengerti.


Athena mengedar pandang seraya tersenyum getir, "Monica Debora melarikan data Oscar Tjang dalam bentuk microchip yang tertanam dalam tubuhnya."


Rekan Paravisinya terdengar mengerang bersamaan.


"Aku mungkin berambisi untuk menghancurkan Oscar Tjang. Tapi merampok kekayaannya bukanlah salah satu cara yang aku sukai. Meski Oscar Tjang telah merampok sebagian besar aset kita. Itu cara Oscar Tjang. Bukan cara kita!" Athena menaikan rahang menatap tajam ke semua arah. "Melindungi Monica Debora sama artinya dengan melindungi perampok. Dan itu artinya kita tidak hanya berurusan dengan Oscar Tjang, tapi juga terlibat pelanggaran hukum!"


Ardian Kusuma mengatupkan mulutnya menahan geram sampai rahangnya terlihat menegang.


"Saya masih belum mengerti kenapa Anda tetap merahasiakannya?" Evan Jeremiah menuntut penjelasan.


"Not exactly," komentar Ardian Kusuma. "Athena berusaha menyampaikannya pada semua orang kecuali Monica Debora."


"Saya meninggalkan banyak pesan tersembunyi melalui semua orang," tutur Athena membela diri. "Setiap pesan merupakan pola untuk membongkar identitas Monica Debora. Dan setiap orang menerimanya dengan cara yang berbeda."


Semua orang dalam ruangan mulai bertukar pandang satu sama lain. Mencoba memastiakan siapa saja yang telah mengetahuinya.


"Tidak. Maksud saya, kenapa Anda masih saja melindungi Monica Debora setelah mengetahui kebenarannya?" Evan Jeremiah memprotes.


Athena kembali mengembangkan senyum tipisnya seraya melirik tajam ke arah Agung Tirtayasa.


Agung Tirtayasa tertunduk menyadari pandangan itu tengah menuntutnya sekarang.


"Sejujurnya masing-masing kalian memiliki rahasianya sendiri," ungkap Athena seraya bersedekap dan kembali tersenyum tipis.