
Senja Terakhir memarkir sepeda motornya di pekarangan Taman Bacaan Deasy Dengkur. Menyusul Agung Tirtayasa di belakangnya. Senja melirik sepintas ke arah pria itu seraya melangkah turun dari sepeda motornya. Tak lama kemudian keduanya sudah masuk ke dalam Taman Bacaan itu dan bergabung dengan Athena di ruang baca nomor 3.
"Kenapa kau begitu suka dengan angka 3?" Senja bertanya setengah menyindir.
Agung Tirta, atau Agung Tirtayasa, hanya tersenyum tipis menanggapinya. Angka 3 adalah kode aksesnya dalam Komite.
"Putri Minor diculik tadi malam." Athena memberitahu kedua rekannya.
Agung Tirta menghela napas dan menyandarkan bahunya pada rak buku. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya dan memandang Athena tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Senja mengambil posisi duduk di sisi Athena di atas sofa beludru dan menautkan kedua telapak tangannya di depan dagu dengan kedua sikut terlipat di atas pahanya.
"Menurut Ary Caroline, Si Penculik mengetahui akses dalam rumah Minor dan memakai seragam Paravisi." Athena melanjutkan.
Kedua rekannya masih termangu menyimak penjelasan Athena.
Seragam Paravisi di kota Artland semacam seragam dinas dewan divisi seperti aparat militer yang secara resmi dinaungi badan pemerintahan yang tidak dijual bebas untuk rakyat sipil.
"Kita harus mengumpulkan semua Aset untuk Misi pencarian Casey Minor," usul Athena.
"Bagaimana dengan pihak kepolisian kota?" Agung Tirta bertanya. "Ini jelas sebuah kasus. Kupikir tidak ada salahnya melaporkan masalah ini pada pihak yang berwajib!"
"Terlalu beresiko," komentar Athena. "Lagi pula Jet One menginginkan putri Minor sebagai Asetnya."
Mendengar hal itu kedua rekannya sontak membelalakkan matanya menatap Athena.
Dalam Komite Paravisi, Jet One merupakan gelar tertinggi seperti Mayor Jendral dalam Divisi Militer.
"Jet One mengenal baik putri Minor?" Senja tak bisa percaya.
"Apakah Mathew Minor sudah mengetahuinya?" Agung Tirta bertanya.
"Mathew Minor baru selesai mengirim data Casey sebagai Talent Rekomendasinya pada hari mereka pindah ke rumah kakek buyutnya." Athena menerangkan. "Tapi Dewan Komisaris menolak rekomendasinya karena mereka memiliki hubungan darah. Jet One menawarkan bantuan untuk meloloskan Casey Minor sebagai Talent Rekomendasi Jet One."
"Lalu?" Agung Tirta penasaran.
"Berita itu tersiar secara serentak di semua jaringan pada malam Casey diculik," tutur Athena pahit.
Senja dan Agung Tirta mengerang bersamaan.
Semua orang sudah tahu Jet One takkan menawarkan bantuan kebijakan untuk seorang Talent kecuali jika ia memiliki serentet riwayat prestasi. Jika Casey Minor sampai menarik minatnya, itu artinya Casey Minor memiliki nilai yang cukup tinggi.
Tapi terlepas dari itu semua, apakah Jet One mengenal Casey Minor? Itulah yang menjadi pertanyaan Senja. Dan pernyataan Athena belum menjawab pertanyaannya. "Memangnya bakat apa yang dimiliki Casey Minor?" Senja merasa tak puas.
"Secara medis, Casey Minor didiagnosa memiliki kelainan syaraf pada otak yang memungkinkan gadis itu menjadi terlalu sensitif terhadap cahaya dan juga getaran, sehingga ia mampu menangkap cahaya dan getaran di bawah frekuensi rendah." Athena memaparkan.
"Jadi, apakah Jet One mengenal baik Casey Minor atau tidak?" Senja akhirnya bertanya terus terang.
Athena cuma angkat bahu.
Dan Senja menafsirkannya sebagai ungkapan antara tidak tahu atau tidak mau tahu.
"Asetku tak bisa diandalkan untuk Misi ini," sela Agung Tirta seraya mengedikkan bahunya ke arah meja kasir.
"Putri Tidur merupakan saksi kunci atas setiap peristiwa," bantah Athena.
Agung Tirta mengerutkan dahi. Itukah alasan Athena mengusulkan Deasy sebagai Talent Rekomendasinya? Ia bertanya di dalam hatinya.
"Ya," jawab Athena seraya menatap tajam ke arah Agung Tirta.
Membuat Agung Tirta menelan ludah.
Senja menyeringai memperolok Agung Tirta.
"Bagaimana dengan Talent Cengeng Rekomendasi Ryan Gunawan?" Agung Tirta tiba-tiba bertanya. "Sampai sekarang aku masih penasaran pada bakatnya," ungkapnya.
Senja dan Athena menatapnya dengan alis bertautan.
"Baiklah, dia ikut klub panahan. Ya, dia memang cukup membantu." Agung Tirta beralasan. "Tapi mengenai bakat istimewa yang menjadi inti dari program..."
"Bukan itu inti dari program MT, Boss!" Athena menyela.
Senja tergelak mendengar Athena menautkan julukan Boss pada Agung Tirta. Athena menautkan julukan itu untuk menyindir ukuran tubuhnya yang hanya setinggi dada. Boss merupakan singkatan dari: Bosom Size yang berarti ukuran dada wanita.
"Bakat istimewa adalah kebiasaan kecil yang berpengaruh besar." Athena memaparkan. "Disadari ataupun tidak, sifat cengeng merupakan reaksi alamiah terhadap situasi. Si Cengeng bisa menjadi tidak stabil ketika dirinya merasa tak nyaman. Kondisi emosinya memberitahukan situasi," sembur Athena panjang lebar. "Apa kau sudah mengerti?"
"Baiklah, aku mengerti!" Agung Tirta mengangkat kedua tangannya di sisi bahunya dengan sikap menyerah.
"Masih ada pertanyaan?" Athena bertanya setengah menantang.
"Seperti apa tipe pria idamanmu?" Senja bertanya.
"Oh, shut up!" Athena mendengus.
Sementara Senja hanya menyeringai puas mendapati rona merah di pipi Athena.
"Hubungi semua Aset dan Paravisi!" Athena memerintahkan.
Lalu ketiganya beranjak dari ruang baca.
"Aku akan kembali saat makan siang!" Agung Tirta berbisik pada Deasy yang tengah mendengkur di meja kasir. Lalu mengecup kepalanya dan berlalu menyusul Athena dan Senja Terakhir.
Tak lama ketiganya sudah sampai di depan sebuah Coffee Shop terbuka bernuansa Garden Party bernama East Theater. Disambut pertunjukan musik Black Buraqh beranggotakan 4 pria berambut panjang berusia 30 tahunan yang tergabung dalam klub panahan di Minority Academy. Dengan Ika Apriani sebagai singer bergiliran dengan Luciana Adam. Panggung mereka terletak di tengah-tengah taman berkonsep pentas rakyat tanpa atap.
Athena bertepuk tangan ketika Ika menyelesaikan satu buah lagu.
Membuat Si Pemilik Coffee Shop sontak menoleh dan menerjang ke arah Athena dengan wajah berbinar-binar senang. "I Miss you...." Gadis itu merangkul Athena dengan manja.
"Oh, kau sudah 25 tahun sekarang, Ester!" Athena menepuk dahi gadis itu seraya tersenyum simpul. "Berhentilah bersikap seperti gadis 17 tahun!"
Senja Terakhir dan Agung Tirta tersenyum tipis memandangi gadis itu di belakang Athena.
"Di mana Monica Debora?" Ester berkelakar.
Membuat Athena mengembangkan senyum lebar seraya menggeleng-geleng.
"Kapten..." Luciana menyeruak ke arah mereka dan merebut pelukan Athena dari Ester. Menyusul kemudian Ika di belakangnya. Kedua gadis itu bergelayut manja di bahu Athena.
"Hey! Dia kapten, bukan ibumu," protes Ester pada kedua temannya.
"Dia juga bukan ibumu," balas Ika seraya mencebik.
Athena mengusap-usap kepala keduanya penuh rasa sayang.
Sementara itu Agung Tirta dan Senja Terakhir sudah bergabung bersama Ardian Kusuma dan Gilang Wibisana di sebuah meja berukuran paling besar di dalam Coffee Shop itu.
Tak lama kemudian empat pria muda bertubuh sama tinggi, berseragam bartender menghampiri meja mereka dan melayaninya sambil melontarkan lelucon. Keempat pria muda itu adalah Jonathan Van Allent, Reyhan Ibrahim, Adam Martinez dan Ethan Hernandez.
"Kalian terlihat tampan dengan seragam baru," komentar Gilang Wibisana kepada mereka.
"Pujian Anda takkan mendatangkan minuman gratis, Sir!" Adam Martinez menyeringai ke arah Gilang Wibisana.
Tak lama kemudian Dion Markus dan Martin Hernandez sudah berhimpun di dekat meja mereka. "Bagaimana kalau aku yang bilang kau tampan?" Martin Hernandez menyela dan menatap Adam Martinez juga Ethan Hernandez secara bergantian.
"Pujian itu takkan mengubah ketampanan Anda, Sir!" Ethan Hernandez menimpali seraya mendekap Martin Hernandez.
"Oh," Dion Markus membeliak sebal. "Kalian tak harus bersikap seperti banci untuk menunjukkan bahwa kalian memiliki hubungan spiritual yang istimewa!" Ia berkomentar.
Adam Martinez terkekeh seraya merangkul Ayah Asetnya, berebut perhatian dengan Ethan Hernandez.
"Tampanku...." Dion Markus menyeringai ke arah Reyhan Ibrahim. "Do you missing me?"
Giliran Reyhan Ibrahim sekarang yang membeliak sebal ke arahnya. "Kita tak harus ikut-ikutan jadi banci hanya untuk menunjukkan bahwa kita punya hubungan spiritual yang istimewa," sindirnya seraya bersedekap di tempatnya.
Dion Markus tergelak. "Baiklah," katanya seraya menarik sebuah bangku di sisi Ardian Kusuma dan menghempaskan tubuhnya di atas bangku itu. "Apa kalian punya sesuatu yang memabukkan?" Ia bertanya seraya menggerak-gerakan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya mengisyaratkan tanda kutip saat menyebutkan kata: memabukkan.
Keempat bartender itu menyeringai ke arah Dion Markus sebelum keempatnya berlalu meninggalkan meja mereka.
"Di mana yang lain?" Athena bertanya ketika ia sudah bergabung di meja khusus berukuran paling besar di tengah Coffee Shop itu.
Meja berukuran paling besar itu memang dirancang khusus untuk pertemuan mereka.
"Ryan dan Valentine sedang menuju ke sini. Tapi Evan dan Elijah belum ada kabarnya!" Gilang Wibisana menjelaskan.
Mendengar nama Evan disebutkan. Seorang pengunjung wanita diam-diam menoleh ke arah mereka.
Membuat Athena refleks menatap tajam ke arah pengunjung itu.
Pengunjung wanita itu memalingkan wajahnya menghindari tatapan Athena. Lalu tertunduk berpura-pura sibuk mengaduk-aduk minumannya.
"Hubungi Evan sekarang!" Athena memerintahkan seraya mengeluarkan telepon seluler dari saku jaketnya dan mencoba menghubungi Elijah. Sementara Ardian Kusuma menghubungi Evan Jeremiah.
Pengunjung wanita di meja sebelah seketika menahan napas ketika telepon seluler di dalam saku jaketnya bergetar.
"Oh, shit!" Athena menggeram. Membuat seisi meja serempak menatapnya. "Tangkap gadis itu!" Ia menudingkan telunjuknya ke arah pengunjung di meja sebelahnya.
Gadis itu terhenyak ketakutan dan melonjak dari bangkunya kemudian berlari meninggalkan mejanya.
Detik berikutnya, tiba-tiba Senja Terakhir sudah berdiri menghadang gadis itu di depan pintu.
Membuat seisi Coffee Shop memekik ngeri. Bahkan rekan Paravisinya. Kecuali Athena. Athena sudah tahu lebih dulu sebelum yang lainnya. Jadi perempuan itu sudah tidak terkejut lagi.
Reyhan Ibrahim juga tersenyum maklum mendapati reaksi mereka. Ia ingat perasaannya sendiri saat pertama kali menyaksikan kemampuan Senja.