
...Sepuluh pria ditemukan tewas dalam satu malam di pinggiran kota Artland. Menurut keterangan seorang saksi, pelaku diduga sebagai Agen Paravisi wanita berambut pendek, dengan tinggi badan di atas rata-rata....
Isi berita utama Harian Kota Artland itu membuat Evan Jeremiah kebakaran jenggot. Dihempaskannya koran di tangannya ke lantai lalu menghambur keluar dan memacu sepeda motornya meninggalkan rumah.
Pada saat yang sama, Elijah juga membaca berita yang sama dari koran berbeda. Aku tidak membunuh mereka, batin Elijah marah dan mencampakkan koran itu di punggung trotoar.
Athena terhenyak, kemudian membeku dan menyimak.
Membuat Senja otomatis mengerutkan dahi. "Kapten?"
Athena terperanjat dan menatap Senja setengah tergagap.
"Are you ok?" Senja bertanya. Dibalas senyuman tipis yang membuatnya salah tingkah.
Pada saat itu mereka hanya berdua di dalam lift. Dan Athena sudah terbiasa mendapati Senja selalu gugup saat berada di dalam lift. Senja phobia pada logam dan ruang tertutup. Tak heran jika ia selalu terlihat salah tingkah setiap kali berada di dalam lift yang sudah cukup jelas memiliki unsur keduanya. Ruang sempit dan logam. Jadi Athena tidak menyadari ada unsur lain yang membuat pria itu gugup.
Senja mengalihkan perhatiannya ke lantai, berusaha menahan diri supaya hatinya tidak berkata-kata.
Athena mengamatinya dari sisi seberang dan hanya menangkap suara hujan. Perempuan itu menyipitkan matanya sesaat kemudian tersenyum tipis.
Senja meliriknya diam-diam ketika perempuan di depannya sudah mengalihkan perhatiannya ke lantai.
Sesaat kemudian, keduanya mendengar suara benturan logam yang berdebam.
Senja memekik tertahan. Kemudian mengerang begitu lampu di dalam lift mendadak berkeredap dan padam.
Oh, shit! Athena mengerang. Lift-nya macet, pikirnya kesal. Ia melompat dari tempatnya dan mendekat ke arah Senja. "It's ok!"
Senja mengangkat kedua tangannya menutupi telinga. Tubuhnya nyaris tersungkur di lantai karena lututnya sudah tak sanggup menopang tubuhnya yang gemetaran.
Athena menangkap kedua tangan pria itu dan menariknya berdiri.
Kedua tangan pria itu masih terangkat menutupi telinga.
"Lihat aku!" Athena berteriak seraya menepuk-nepuk pipi Senja. "Senja! Kau bisa melihatku?"
Senja membuka matanya perlahan dan berusaha memfokuskan pandangannya ke wajah Athena.
"Nice, Sweetheart!" Athena memegangi kedua pipi Senja untuk menenangkannya.
Tapi lift itu kemudian berguncang meninggalkan bunyi berderak yang memekakkan. Membuat Senja kembali terhuyung.
Athena menahan kedua tangan pria itu dengan kedua bahunya, sementara kedua tangannya melingkar di pinggang menahan tubuhnya. Dia tidak bisa terus menerus seperti ini, pikirnya khawatir. Jika pola pikir positif tak cukup membuatnya berubah, ia harus mengubah kenangan buruk mengenai benda logam dan ruang sempit juga ruang gelap, pikir Athena. Jika ia tak mampu mengubahnya, aku yang akan mengubahnya, tekad Athena seraya memperketat pelukannya. Ia menyusupkan wajahnya di antara kedua tangan Senja yang masih terlipat dan mendekatkan wajahnya ke wajah Senja. "It's ok, Sweetheart," desisnya lembut.
Membuat Senja sontak membuka kedua matanya dan tergagap mendapati wajah mereka hampir bersentuhan. Ia menelan ludah dengan susah payah namun tak berani bergerak. Ia tak ingin kehilangan kesempatan itu.
"Kau bisa melihatku?" Athena bertanya.
"Yeah!" Senja menjawab tanpa berusaha menjauhkan wajahnya.
"Nice," desis Athena pura-pura merasa lega. Lalu menempelkan pipinya di pipi Senja.
Seketika jantung pria itu berdegup kencang dan sensasi rasa hangat mulai merebak di pipinya, lalu merambat ke dadanya. Membuat aliran darahnya mendadak deras. Melemaskan seluruh sarafnya.
Sesaat Senja menahan napas dan ketika ia melepaskannya, napasnya seperti tersendat. Membuatnya tersenggal.
Jantung Athena turut berdegup kencang ketika ia menangkap getaran di dada Senja. Reaksi itu membuat Athena heran sendiri. Ada apa dengan perasaanku? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Membuat jantungnya semakin memburu tak beraturan.
Perlahan senja menurunkan tangannya dari telinga, tapi tidak menurunkan sikunya dari bahu Athena. Ia menurunkan kedua telapak tangannya ke belakang kepala Athena dan melingkarkannya di leher Athena.
Membuat Athena terperangah dan mendongak, tapi gerakan itu justru membuat ujung hidungnya menggesek bagian bawah dagu Senja.
Membuat Senja tak bisa menahan diri untuk tidak menekan kepala Athena dan membenamkan wajahnya semakin dalam hingga bibir Athena melekat di lehernya.
Athena mengerang kesesakkan. Lalu menarik wajahnya menjauh dan menengadah untuk menghela napas.
Senja memanfaatkan kesempatan itu untuk memagut bibir Athena. Lalu menyesapnya dalam-dalam. Lembut namun rakus.
Membuat Athena semakin mengetatkan pelukannya.
Pada saat yang sama lift itu kembali berguncang. Lalu menghentak. Meninggalkan ledakan logam yang mendengking. Tak lama lift itu kembali berjalan. Dan lampunya kembali menyala. Tapi Senja dan Athena bahkan tak menyadarinya. Hingga pintu lift itu membuka, keduanya masih saling menautkan diri satu sama lain.
"Oh, wow!" Agung Tirta tercengang menyaksikan kedua rekan Paravisinya dari ambang pintu. "I'm sorry," ungkapnya gugup.
Tidak cukup keras, tapi cukup membuat keduanya tersentak dan terperanjat, kemudian menoleh ke arah pintu.
"It's ok, saya lewat tangga saja!" Agung Tirta mendadak salah tingkah. Lalu memutar tubuhnya dan berjinjit meninggalkan lift.
Senja dan Athena masih mematung menatap pria itu sebelum akhirnya mereka beradu pandang dan menyadari. Lalu saling melepaskan diri dan tertunduk menyembunyikan rona merah pada pipinya masing-masing.
Begitu mereka sampai di ruang meetings, mereka disambut oleh tatapan Paravisi dan sejumlah Aset yang tidak menyenangkan. Sebagian menghakimi. Sebagian mencemooh. Sebagian takjub dan tak percaya.
"Kau belum bisa mengendalikan kekuatan teleportmu ya?" Evan Jeremiah mencemooh. "Kuharap lain kali kau sudah bisa menggunakannya saat betul-betul dibutuhkan," komentarnya tajam.
Senja diam saja. Hanya tersenyum tipis seperti biasa. Ia memaklumi sifat Evan Jeremiah. Saat hatinya mengalami gangguan, otomatis otak dan mulutnya juga ikut terganggu. Evan Jeremiah tidak pernah berlaku usil kecuali mood-nya betul-betul sedang buruk.
Athena juga tidak berkata apa-apa sampai mereka bergabung dengan yang lain.
"Well..." Agung Tirta berdeham setelah Senja dan Athena mengambil tempat duduk. "Welcome, Captain!" Ia menyapa Athena. Kemudian menyapa Senja. "Welcome, Master!"
Kedua Paravisi itu hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai reaksi. Lalu Athena mengangkat tangannya mengisyaratkan Agung Tirta untuk melanjutkan forum.
"Thanks for join. Sekedar panduan, saya ingin memberitahukan sedikit informasi mengenai pembicaraan kami sebelum Anda tiba." Agung Tirta menjelaskan. "Kami sedang berdiskusi mengenai..." Ia ragu-ragu. "Berita hangat," katanya seraya menatap Athena dan Senja secara bergantian.
Athena menaikan rahangnya saat membalas tatapan Agung Tirta.
Valentine mengawasi Athena dengan alis bertautan.
"Elijah sedang dalam masalah besar, dan ia juga belum ditemukan sampai sekarang!" Agung Tirta menambahkan.
"Elijah tidak bersalah," sergah Athena. "Lagi pula kematian massal tidak hanya terjadi di Artland. Feat Street juga sedang mengekspos kasus yang sama baru-baru ini!"
Seisi ruangan mendadak hening.
"Sepuluh pria yang mereka temukan tadi malam bukan korban pertama di kota Artland. Sebelumnya, sudah ada 35 orang yang juga tewas dalam satu malam. Hanya saja media tidak cukup cepat memuat beritanya karena semua korban ditemukan di tempat yang berbeda-beda. Berita semalam menjadi viral karena mereka menemukan korban di tempat yang sama," tutur Athena panjang lebar. "Kita punya peluang untuk membebaskan Elijah dari tuduhan!"