Serial ArtLand: MINORITY TALENT

Serial ArtLand: MINORITY TALENT
Satu Tahun Kemudian


"Aku benci kota tua," Casey Minor mengerang begitu mobil yang dikendarai ayahnya memasuki gerbang perbatasan bertulisan: SELAMAT DATANG DI KOTA ARTLAND.


"Well, that's too bad," komentar ayahnya seraya memelankan laju mobilnya. "Kau harus membiasakan diri mulai sekarang, Sweetheart! Kita akan berada di sini sepanjang sisa hidup kita," tutur ayahnya dengan tampang masam.


Casey menurunkan kaca jendela dan memandang ke luar mengamati sederet sepeda motor sport yang terparkir di kiri-kanan jalan. Sejumlah remaja berseliweran di sepanjang trotoar sambil bersenda gurau. Beberapa remaja hanya duduk di bangku taman yang berderet di sepanjang tepian jalan tak jauh dari trotoar. Masing-masing dari mereka tengah sibuk dengan buku bacaan atau bermain game online dari telepon selulernya.


Mr. Minor melirik sekilas wajah putrinya melalui sudut matanya. Lalu kembali memandang ke depan memperhatikan jalan.


Tak lama kemudian mobil mereka melewati sederet toko cinderamata yang menjual aneka kerajinan tangan. Tak jauh dari tempat itu, mereka menemukan pusat kuliner yang berkilauan dipagari lampu kelap-kelip berwarna-warni yang tertata artistik secara keseluruhan. Setelah melewati pusat kuliner, mereka memasuki deretan toko dengan arsitektur model kuno yang menjual benda-benda antik juga buku-buku tua.


Dan rumah tua peninggalan kakek buyut Casey terletak tak jauh dari tempat itu. Bagus, batin Casey getir. Rumah tua itu akan menjadi tempat tinggal baru Casey mulai sekarang. Dan lingkungan pertokoan itu akan menjadi pemandangannya sehari-hari. Kau harus membiasakan diri mulai sekarang, Sweetheart, katanya pada diri sendiri. Lalu melangkah keluar dari mobil dengan tampang masam.


"Are you ok, Sweetheart?" Ayahnya bertanya khawatir.


"I'm ok, Dad!" Casey menjawab tanpa berani menoleh pada ayahnya.


Tak lama seorang wanita muda bertubuh mungil menghampiri mereka seraya mendekap map. Usianya bisa diperkirakan tidak jauh lebih tua dari pada Casey. "Selamat sore, Mr. Minor!"


Ayah Casey baru saja membuka bagasi mobilnya, bersiap menurunkan barang-barang mereka. "Selamat sore," balasnya kepada wanita itu seraya menutup kembali bagasi mobilnya.


"Senang akhirnya bisa bertemu Anda, Mr. Minor. Rumah ini sudah lama menunggu pemiliknya," tutur wanita itu ramah. Ia menyodorkan map di tangannya ke arah ayah Casey. "Nama saya Ary Caroline, by the way!" Wanita muda itu menyodorkan tangannya mengajak ayah Casey bersalaman.


"Senang bertemu Anda, Miss. Caroline." Ayah Casey membalasnya dengan tak kalah ramah. "Saya Mathew Minor dan ini putri saya Casey Minor!"


Casey melambaikan tangannya ke arah Ary Caroline.


"Nice to meet you, Casey!" Ary Caroline menyapanya. "Mari saya temani Anda dan putri Anda berkeliling untuk melihat-lihat," katanya seraya menggerak-gerakan tangannya ke arah Casey, mengisyaratkan supaya gadis itu juga mengikutinya.


Casey menghela napas, kemudian mengekor di belakang gadis itu dengan tampang bosan.


"Kau akan menyukainya tidak lama lagi!" Ary Caroline mengedipkan sebelah matanya ke arah Casey.


Casey memekik di dalam hati, dia bisa membaca pikiranku!


Ary Caroline tersenyum tipis ketika membukakan pintu utama. "Design interior-nya belum ada yang berubah sejak tahun 1990," Tutur Ary Caroline pada Ayah Casey.


Mr. Minor menanggapinya dengan mengangguk-angguk.


Casey terbelalak mendapati pemandangan di depan matanya. Bukan design interior yang membuatnya terkejut, tapi sosok seseorang yang tengah duduk manis di atas sofa di tengah ruangan.


Seorang pria berambut sebahu menatap Casey dengan mata hitam mengkilat dibingkai alis tebal yang terkesan tegas. Pria itu mengenakan kemeja putih polos di bawah jaket kulit berwarna hitam mengkilat yang dipadu dengan celana model army berwarna hitam. Di pangkuan pria itu, seekor kucing berbulu hitam juga menatap terkejut ke arah Casey. "Kau membuatnya takut," katanya pada Casey.


Casey tergagap, ia menatap Ary Caroline dan juga ayahnya secara bergantian. Tak satu pun dari mereka merasa terganggu dengan keberadaan pria itu. Apakah mereka tak melihatnya? Ia bertanya-tanya dalam hati. "Who are you?" Casey mendesis ke arah pria itu.


"Casey!" Ayahnya memanggil dari puncak tangga. "Kau takkan melewatkan yang satu ini," kata ayahnya meyakinkan.


Pria di atas sofa itu mengikuti arah pandang Casey. Lalu kembali menatap Casey. "Kau takkan tertarik dengan apa pun yang menantimu di atas sana," katanya dengan tatapan nakal. "Aku punya rekomendasi tempat yang lebih keren untuk dikunjungi!" Pria itu kemudian beranjak dari sofa dan mengisyaratkan Casey untuk mengikutinya.


Casey mendongak memperhatikan ayahnya di lantai atas, mencoba menimang-nimang sebelum akhirnya mengikuti pria itu. Peduli setan, pikirnya. Aku betul-betul bosan!


Pria itu masih menggendong kucing hitamnya ketika ia berjalan menyusuri koridor yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang dapur. "Sekedar informasi, ini ruang dapurnya!" Pria itu memberitahu Casey seraya menunjuk pintu dapur yang setengah terbuka dan melewatinya. "Tapi bukan itu yang paling penting," ia menambahkan sambil cengengesan.


Di ujung koridor itu, ada sebuah ruangan sempit dengan langit-langit rendah berbentuk segitiga karena letaknya tepat berada di bawah tangga. Di sepanjang dindingnya terdapat rak-rak buku dari kayu yang sudah berdebu. Di salah satu sudut ruangan itu terdapat sebuah meja kayu berwarna hitam mengkilat yang dilengkapi bangku kayu serupa.


Pria itu menarik sebuah buku tebal dari rak kayu yang menempel di dinding, kemudian menyodorkannya ke arah Casey.


Oh, yang benar saja, pikir Casey. Dia tidak sedang menyuruhku membaca buku kuno kan?


Pria itu tersenyum tipis seraya merunduk di depan rak tadi dan mengintip melalui tempat buku itu diambil.


Casey masih mematung kebingungan seraya mengamati buku di tangannya.


Tak lama terdengar suara berderak dari rak buku di depan pria tadi.


Casey mengalihkan perhatiannya dari buku itu dan tercengang melihat dinding rak buku di depannya bergeser membuka.


Pria itu menoleh ke arah Casey seraya tersenyum jahil.


"Casey!" Suara ayahnya menggelegar dari ruang tengah.


Casey memekik tertahan dan tergagap menatap pria di depannya.


Pria itu merogoh kembali ke dalam rak buku tadi, kemudian dindingnya kembali menutup. Direnggutnya buku dari tangan Casey dan menyelipkannya kembali ke tempat semula.


"What are you doing here?" Ayah Casey bertanya.


Casey masih tercengang menatap pria di depannya ketika ayahnya sudah sampai di depan pintu.


Pria itu menoleh ke arah pintu seraya mengelus-ngelus bulu kucing di pangkuannya dan menatap Ayah Casey tanpa mengatakan apa-apa.


Casey memutar tubuhnya dan menelan ludah. Kemudian berdeham, "apa aku tak boleh melihat-lihat rumahku sendiri?" Casey bertanya pada ayahnya.


"Aku hanya kuatir kau tersesat, Sweetheart!"


"Oh, yang benar saja?" Casey mengerang. "Aku tersesat? Di rumahku sendiri?" Casey melotot tak senang.


Ayahnya menghela napas. Lalu melongok ke dalam ruangan itu dan memeriksanya. "Well, sejak kapan kau mulai tertarik mengunjungi perpustakaan tua?" Ayahnya berkelakar.


Casey menatap pria di dalam ruangan itu dengan alis bertautan. Kemudian menatap ayahnya, menunggu reaksi. Tapi ayahnya tidak berkomentar apa-apa soal pria di dalam ruangan itu. Casey menghembuskan napas dan memutar-mutar bola matanya. Jadi, pria ini memang tidak kelihatan, ia menyimpulkan. Lalu berbalik meninggalkan tempat itu dan menuntun ayahnya ke ruang tengah.


"Bantu aku menurunkan barang-barang," pinta ayahnya setelah mereka sampai di ruang tengah.


"Di mana Ary Caroline?" Casey bertanya.


"Dia sudah pergi dari tadi," jawab ayah Casey sebelum ia bergegas menuju halaman. "Belajarlah untuk menata kamarmu sendiri, kau takkan butuh waktu lama untuk melakukannya. Kamar barumu tidak membutuhkan banyak penataan tambahan kecuali hanya menaruh barang-barangmu pada tempatnya." Ayahnya menjelaskan panjang lebar selama menurunkan barang-barang dari bagasi mobilnya.


Casey diam saja. Perhatiannya terfokus pada pria berambut sebahu yang kini berdiri di ambang pintu. Ia menyampirkan ransel di bahunya kemudian mengangkat sekotak dus berisi barang-barang pribadinya dan berjalan ke dalam rumah.


"Butuh bantuan?" Pria itu menawarkan.


Well, yeah. Casey berkata dalam hati. Memangnya apa yang bisa dilakukan seseorang yang tidak terlihat oleh manusia normal?