Serial ArtLand: MINORITY TALENT

Serial ArtLand: MINORITY TALENT
Missed!


Pengunjung wanita yang sedang berusaha kabur itu menggigil di depan Senja.


Pada saat yang sama, seorang pengendara Harley Davidson memasuki East Theater, dan tertegun menyaksikan pemandangan di dalam Coffee Shop itu. Seisi Coffee Shop sesaat membeku di depan matanya.


Senja Terakhir mengetatkan rahangnya ketika tangan kekar pria itu bertengger di bahunya dan menekannya.


"Dia milikku!" Pria itu berkata sekenanya.


Perempuan di depan Senja itu tercekat menatap Si Pengendara Harley Davidson.


Athena mengerang seraya memutar-mutar bola matanya.


Tak seorang pun berani menentang Benjamin Lewis di kota Artland!


Benjamin Lewis - Si Pengendara Harley Davidson adalah seorang anggota Dewan Manajer Pemerintah Kota non-politik yang disewa oleh Dewan Komisaris untuk menjalankan birokrasi.


Di negara-negara barat, Manajer Kota merupakan pejabat tertinggi yang ditunjuk di suatu kota. Dalam arti teknis, istilah "Manajer Kota," sebagai lawan dari Chief Administrative Officer (CAO), menyiratkan lebih banyak kebijaksanaan dan otoritas independen yang ditetapkan dalam piagam atau beberapa badan hukum yang dikodifikasi, sebagai lawan tugas yang diberikan atas dasar yang berbeda oleh atasan tunggal seperti Walikota.


Tapi bukan itu saja yang membuat Athena betul-betul gerah menghadapi Benjamin Lewis. Selain nama besar, Benjamin Lewis juga memiliki mulut yang luar biasa besar dengan kepala yang tak kalah besar.


Senja menarik dirinya dari cengkeraman Benjamin Lewis dengan tampang sebal, kemudian melirik ke arah pria itu lalu memelototi gadis di depannya. Tapi tak mengatakan apa-apa.


Pengunjung wanita yang berusaha kabur itu masih mematung dengan wajah pucat.


Benjamin Lewis menyeringai menatap gadis itu seraya mendekatinya kemudian melingkarkan lengannya di bahu gadis itu dengan tampang konyol. "Mari kembali ke dalam," katanya pada gadis itu seraya menuntunnya kembali ke dalam. "Mereka takkan berani menyentuhmu sekarang. Aku akan melunasi semua tagihan di mejamu."


Athena menghela napas antara jengah sekaligus lega mendengar perkataan Benjamin Lewis. Pria itu rupanya sudah salah mengerti. Athena merasa lega mengetahui Benjamin Lewis akhirnya takkan mempersulit mereka terkait kronologi kasus pengunjung yang berusaha kabur itu. Tapi ia jengah mengetahui pria itu akan mempersulit mereka terkait pelayanan Coffee Shop.


Pengunjung wanita yang mencoba kabur itu meronta ketika Benjamin Lewis memperketat rangkulannya, berusaha melepaskan diri.


"Kau tak dengar ya? tadi kubilang kau milikku!" Benjamin Lewis berteriak marah pada gadis itu. Merasa tersinggung dengan sikapnya.


Gadis itu menangkupkan telapak tangannya menutupi wajah.


"Wah!" Tiba-tiba Elijah muncul di belakang Benjamin Lewis. "Lo kan yang tadi nyopet dompet sama HP gue?!" Elijah berteriak di sisi Benjamin. Sebelah tangannya terulur ke arah gadis itu dan merenggut parka yang dikenakan gadis itu. "Balikin HP gue!"


Seisi Coffee Shop itu serentak menoleh ke arah Elijah.


Gadis di depan Benjamin Lewis terbelalak ketakutan menatap Elijah.


Benjamin Lewis memutar tubuhnya dan menatap Elijah dengan tatapan sewot, tak lama kemudian mata pria itu mendadak berbinar-binar. "Hey," serunya. "Aku suka tipe cewek sepertimu," ungkapnya senang.


Elijah melotot tak senang mendengar pernyataannya.


Evan Jeremiah mengernyit ngeri di belakangnya.


Athena menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi kedua telinga. Wajahnya juga mengernyit tak kalah ngeri.


Bugh!


Sebuah tendangan mendarat di rahang Benjamin Lewis.


Membuat semua orang memekik dan menahan napas.


Benjamin Lewis melotot ke arah Elijah. Wajahnya mulai merona menahan geram. "Punya banyak cadangan nyawa rupanya...." Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Elijah. "Kau betul-betul seperti malaikat!"


Plak!


Dibalas dengan ledakan tawa yang menggelegar. "Sungguh menarik," gumam Benjamin Lewis.


Dasar maniak, rutuk Elijah dalam hatinya seraya melotot.


Evan Jeremiah melongok dari balik bahu Elijah dan seketika tercengang di ambang pintu, beradu pandang dengan gadis di sisi Elijah yang juga tengah tercengang memandanginya.


Elijah menyadarinya kemudian mendaratkan tinju di wajah Evan.


Evan memekik terkejut dan sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Elijah sudah menghambur keluar meninggalkan Coffee Shop dan memacu sepeda motornya dalam kecepatan tinggi.


"Eli..." Evan bergegas mengejar Elijah tapi gadis di dekat Benjamin Lewis tiba-tiba menyeruak melewati Benjamin Lewis kemudian menangkap pinggangnya dan memeluknya dari belakang. "Hey," protes Evan tak senang.


Benjamin Lewis menggeram menatap gadis itu, kemudian mengedar pandang ke seluruh pengunjung, memastikan semua orang tidak sedang menatapnya dengan pandangan mencemooh. Tapi hanya dibalas tatapan ngeri semua orang.


Athena dan semua Paravisi di dalam Coffee Shop masih tergagap mengamati gadis yang memeluk Evan Jeremiah penuh tanda tanya.


Evan Jeremiah menepiskan tangan gadis itu dan melepaskan diri seraya mengumpat. "Apa-apaan nih?!" Ia merongos.


"Evan!" Athena berteriak marah padanya. Tak terima perlakuan kasarnya pada perempuan.


Gadis itu kemudian melirik Athena.


"Jangan ikut campur!" Evan memperingatkan. "Kau tidak tahu siapa gadis ini," tandasnya tajam seraya menudingkan telunjuknya ke arah gadis itu.


Gadis itu menyembunyikan dirinya di belakang punggung Banjamin Lewis. Terkejut dengan reaksi Evan.


"Sudah kubilang kau milikku," sela Benjamin pada gadis itu seraya menyeringai.


Evan memelototi keduanya secara bergantian.


Benjamin Lewis mengerling penuh kemenangan.


Evan Jeremiah mengamati Benjamin Lewis sekali lagi, kemudian berlalu dari tempat itu dan berlari menuju parkiran. Dalam sekejap, ia sudah meluncur dengan sepeda motornya menjauhi Coffee Shop.


Seisi Coffee Shop masih membeku menyaksikan drama itu.


Senja dan Athena saling bertukar pandang, saling memperhatikan satu sama lain. Lalu saling mendekat. Aku tak ingin berurusan dengan pria ini, batin Athena.


Aku bisa membawamu pergi dari tempat ini secepat mungkin, balas Senja di dalam hatinya. Lalu mengulurkan tangan ke arah Athena. Dibalas senyum tipis tanda mengerti. Begitu tangan mereka bersentuhan, dalam sekejap keduanya menghilang dari tengah Coffee Shop.


Seisi Coffee Shop kembali terhenyak. Tak seorang pun percaya kejadian itu betul-betul kenyataan.


Benjamin Lewis juga terpana menyaksikan kedua Paravisi itu menghilang dalam sekejap. "Whoa..." Pria itu tergagap. Merasa tak yakin dirinya tidak sedang bermimpi. "Sulit dipercaya..." Ia menggantung kata-katanya. Tak tahu harus mengatakan apa lagi. Tapi jelas ia terkesan.


Ika melirik ke arah Luciana yang masih tercengang tanpa berkedip. Lalu mengamati Ester yang tak kalah bingung. Tanpa mereka sadari Benjamin Lewis tahu-tahu sudah berdiri di dekat mereka.


Ester menelan ludah ketika Benjamin Lewis menggeram padanya. "Kita akan membicarakan ini nanti!" Benjamin Lewis memelototi Ester dengan sikap mengancam. Lalu menjejalkan sejumlah uang ke dalam genggaman tangan Ester. Setelah itu Benjamin Lewis menghela tangan gadis jarahannya meninggalkan Coffee Shop. Sementara Ester masih mematung di tempatnya. Tanpa bereaksi sedikit pun.


Ika mendekat ke arah Ester dan mendekapnya seraya menepuk-nepuk bahunya. Tak lama kemudian Luciana sudah bergabung dengan keduanya. Lalu mereka berhimpun saling memeluk seperti biasa.


Beberapa pengunjung mulai bergegas meninggalkan tempat itu. Sebagian masih belum pulih dari keterkejutannya. Sebagian lagi mulai berbisik-bisik membahas apa yang baru terjadi.


Ester mendesis lirih dan mulai menangis. Aku tak percaya kau meninggalkan kami begitu saja, batinnya kepada Athena.


"Aku tidak kemana-mana, Sweetheart!" Tiba-tiba Athena dan Senja Terakhir tahu-tahu sudah berada di belakang mereka.