Serial ArtLand: MINORITY TALENT

Serial ArtLand: MINORITY TALENT
Malam Di Pusat Pertokoan Klasik


Deasy Dengkur melangkah keluar ketika sebuah mobil sport berhenti di pekarangan tokonya.


Ketika kaca mobil itu diturunkan, wajah tampan Agung Tirta muncul seraya tersenyum lebar ke arah Deasy. Rambut keriting berwarna hitamnya yang sepanjang bahu disanggul tinggi di belakang kepalanya. Tudung jaketnya dibiarkan jatuh di belakang bahunya. Ia jarang mengenakan tudung jaketnya ketika ia berada di dalam mobil.


Deasy menatap pria itu dengan wajah sendunya yang kekanak-kanakkan. Menunggu pria itu keluar dari mobilnya dan menyongsongnya seperti biasa. Ia tahu pria itu akan selalu melakukannya meski jarak dari teras toko dengan mobilnya cukup dekat. Jadi ia memutuskan untuk menunggunya. Dalam hati, Deasy kerap merasa risih menerima perlakuan semacam itu sepanjang waktu. Mengingat perbedaan usia di antara mereka, seharusnya Deasy yang memanjakan Agung Tirta dan bukan sebaliknya.


Usia Agung Tirta terpaut tiga tahun di bawah Deasy. Tinggi badan pria itu lima sentimeter di bawah Deasy. Agung Tirta baru berusia 19 tahun. Tapi cara berpikirnya mengalahkan Ardian Kusuma yang sudah 35 tahun.


Ketika Ardian Kusuma mendadak berubah cengeng setelah jatuh hati pada gadis muda berusia 22 tahun, Agung Tirta justru memilih wanita lebih tua dan malah memanjakannya.


Dibanding yang lainnya, Agung Tirta merupakan Paravisi termuda, bahkan setelah angkatan kedua. Rata-rata usia Paravisi angkatan kedua adalah 20 tahun. Sementara rata-rata usia Paravisi angkatan pertama 30 tahun, kecuali Senja Terakhir. Usia Senja Terakhir 25 tahun. Agung Tirta masih bertahan dengan gelarnya sebagai Paravisi termuda.


Mengingat kenyataan itu, Deasy kadang berharap bisa membebaskan pria itu dari tanggungjawabnya sebagai kekasih. Aku tak pernah memperlakukannya sebagai kekasih, tapi pengasuh!


"Jangan berpikir untuk lari dariku," ancam Agung Tirta tiba-tiba.


"Apa?" Deasy tergagap tak mengerti. Tapi kemudian menyadari apa yang baru saja ia pikirkan.


Bagaimana pun juga, Agung Tirta adalah seorang Paravisi. Siapa yang tidak tahu rata-rata Paravisi memiliki kemampuan yang tidak biasa. "Aku mencintaimu, Deasy. Dan aku memilihmu bukan karena iba!" Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Deasy.


Deasy mulai menguap. Oh, tidak, erangnya dalam hati. Jangan sekarang, please! "Ada hal penting yang harus aku sampaikan," ungkap Deasy seraya mencoba mempercepat langkahnya. Tapi rasa kantuknya mulai menuntut. "Kita harus cepat," desaknya seiring langkahnya yang mulai terseok karena saraf pada lututnya mulai melemas.


Agung Tirta mengetatkan pegangannya setengah menggendong. Lalu membukakan pintu mobilnya untuk Deasy.


Deasy menghempaskan tubuhnya di atas jok mobil pria itu dengan kelopak mata semakin layu. Bertahanlah, katanya pada diri sendiri. "Siapkan handphone dan catat ini sekarang," perintahnya setelah Agung Tirta duduk di belakang kemudi.


Pria itu mengeluarkan telepon seluler dari saku jaketnya dan mencatat semua yang dikatakan Deasy.


"1999. 1111. 1983. 9001..." Setelah mengatakan itu kepala Deasy terkulai terantuk dashboard.


Agung Tirta menahan kepala gadis itu dengan telapak tangannya dan membenahi posisinya. Setelah ia mengikatkan sabuk pengaman di pinggang Deasy, ia menghela napas dan tercenung meneliti rangkaian angka di layar ponselnya. Ia mengurut dahinya dan memandangi Deasy seraya berpikir keras.


Udara di luar terasa lembab dan berangin basah. Sebentar lagi akan turun hujan. Sepanjang area pertokon klasik itu terlihat sepi dan mencekam. Seperti kota mati dalam film-film horor Eropa.


Di bawah cahaya kuning lampu jalan seorang gadis berpakaian kumal tengah duduk merunduk di atas sebuah bangku kayu di tepi trotoar. Tepat di seberang jalan di depan Taman Bacaan Deasy Dengkur.


Agung Tirta menutup pintu mobilnya tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponselnya. Ia tidak menyadari keberadaan gadis itu.


Tapi gadis itu menyadari kehadirannya ketika Agung Tirta menyalakan mesin mobilnya. Gadis itu melompat dari bangkunya, menghambur ke tempat lebih gelap dan bersembunyi di balik batang pohon akasia, tak jauh dari bangku taman tadi sampai mobil Agung Tirta keluar dari pekarangan Taman Bacaan Deasy Dengkur dan berlalu menjauh dari tempat itu.


Kilat berkeredap membelah kegelapan malam, disusul suara halilintar yang menggelegar. Tak lama kemudian hujan turun mendadak dan menderas dalam sekejap.


Tak lama kemudian terdengar suara mesin kendaraan mendekat.


Gadis itu segera bergerak menjauh dari tempat itu seraya menaikkan tudung parkanya, menutupi kepalanya. Dengan langkah lebar gadis itu berjalan menyusuri teras pertokoan untuk mencari persembunyian. Sesekali ia berbalik menoleh ke arah Taman Bacaan tadi dengan sikap gusar. Khawatir keberadaannya diketahui seseorang.


Sebuah sepeda motor sport memasuki pekarangan Taman Bacaan Deasy Dengkur.


Gadis itu mengawasinya melalui sudut matanya. Tapi kemudian ia terkejut mendapati sepeda motor itu tahu-tahu sudah terparkir di pekarangan toko itu tanpa pengendara. Kemana perginya Si Pengendara sepeda motor itu? Ia bertanya dalam hati. Ia memutar tubuhnya ke belakang dan berjalan mundur seraya mengawasi teras toko itu dengan alis bertautan. Apakah dia melihatku?


Ledakan suara petir membuat gadis itu terperanjat dan akhirnya memutar kembali tubuhnya kemudian berlari ke ujung koridor.


Di ujung koridor pertokoan klasik ada sebuah taman kecil dan sebuah danau. Di sisi danau itu ada sederet toko yang sudah tidak terpakai, tempat itu biasa ia gunakan untuk bersembunyi selama dua pekan terakhir. Dan selama itu, keberadaan dirinya tidak pernah diketahui oleh siapa pun.


Untuk bisa mencapai tempat itu, ia harus menyeberang melewati taman dan berputar melalui tepian rawa yang rumputnya setinggi pinggang orang dewasa.


Dalam keadaan hujan, jalan itu tak cukup aman untuk dilalui, batinnya. Tapi ia tahu ia harus bersembunyi secepatnya sebelum pemilik sepeda motor tadi menemukannya. Jadi ia terpaksa menerobos hujan lebat itu dan berjalan cepat menyeberangi taman.


Di ujung jalan setapak di tepi danau, gadis itu menghentikan langkahnya. Ia menatap jalan itu dengan wajah memucat, membayangkan kemungkinan buruk yang menantinya di sepanjang jalan setapak yang dibuatnya sendiri selama dua pekan ini. Ia membeku cukup lama di tempat itu. Mencoba menimang-nimang apakah ia akan menyeberang atau mencari tempat persembunyian lain.


Sekonyong-konyong terdengar suara gemerincing logam di antara deru angin dan rintik hujan.


Gadis itu mengedar pandang dan menyimak. Tak ada siapa-siapa di sekitar sini, batinnya ngeri. Gadis itu memegangi tengkuknya seraya bergidik. Kemudian berlari menyusuri jalan setapak itu dengan langkah gemetar. Napasnya memburu seiring detak jantungnya yang berdegup kencang tak beraturan.


Begitu ia sampai di teras bangunan kosong itu, suara gemerincing logam kembali terdengar dari arah jalan setapak yang tadi di laluinya.


Gadis itu terhenyak ketakutan. Dalam hati ia menyesal telah memilih tempat ini untuk melarikan diri. Di tempat ini ia benar-benar sendirian sepanjang waktu. Tak seorang pun akan menolongnya jika terjadi sesuatu padanya sekarang. Sesaat ia membayangkan sesosok mummy dengan rantai pada tubuhnya, muncul dari tengah-tengah ilalang di tepi danau. Ia kembali bergidik dan serentak memutar tubuhnya ke belakang. Kemudian mematung memandangi kegelapan malam dengan mata terbelalak. Tapi guyuran hujan terlihat seperti tirai manik-manik yang menutupi seluruh penglihatannya.


Gemerincing logam itu terdengar semakin mendekat.


Tubuh gadis itu mulai menggigil sekaligus membeku bersamaan. Ia menelan ludah dan berteriak, "siapa di sana?" Tapi yang keluar dari mulutnya hanya erangan serak yang terdengar lemah dan memprihatinkan.


Tak lama terdengar suara berdebuk dan berkeresak, disusul gemerincing logam lagi.


Gadis itu menjerit ketika tiba-tiba seuntai rantai besi melesat ke arahnya dan melilit tubuhnya dalam sekejap. Detik berikutnya lilitan rantai itu semakin mengetat dan menariknya. Gadis itu membelalakkan matanya lebar-lebar memperhatikan ujung rantai itu.


Ketika kilat berkeredap, gadis itu melihat ujung rantai itu dan melolong.


Tidak ada siapa-siapa di ujung rantai itu!