
Deasy Dengkur mengerang dan menggumam seraya menarik wajahnya dari meja. Kemudian menguap. Tidurnya terganggu oleh kegaduhan dalam ruangan. Ia mencoba untuk mengabaikannya dan kembali meletakan kepalanya di meja, kemudian memejamkan mata. Tapi tiba-tiba sebilah pedang melesat ke arahnya kemudian mendarat di mejanya, tak jauh dari batang hidungnya. Deasy membuka matanya dan memelototi pedang itu beberapa saat. Lalu kembali memejamkan mata. Detik berikutnya seorang Ninja melompat ke arah mejanya, dan merenggut rambut Deasy Dengkur. Membuat gadis itu betul-betul kesal. "Aku paling benci tidurku diganggu!" Ia menggeram seraya mengeluarkan kedua kakinya dari kolong meja, kemudian mendorong meja itu dengan kedua kakinya. Meja itu bergeser menjauh, menjatuhkan tubuh Ninja yang bertengger di atasnya. Tapi mejanya tidak ikut jatuh. Setelah itu ia melompat ke atas meja tadi, kemudian melayangkan kakinya dan mendaratkannya di kepala Ninja yang tadi menjambaknya. "Peraturan nomor satu, jangan bangunkan macan sedang tidur," hardiknya seraya membenamkan wajah Ninja itu di atas meja. Setelah itu ia mencabut pedang yang tertancap di meja itu, kemudian melompat ke tengah ruangan.
Seorang Guardian melengak menatap Deasy. Sulit dipercaya Putri Tidur itu bisa mendadak buas hanya karena tidurnya terganggu.
Agung Tirtayasa mengerilngkan sebelah matanya ke arah Deasy. "That's my girl!"
Ester baru saja memasang kuda-kuda ketika lantai di bawah kakinya seperti bergetar. Ia menggeleng-gelengkankan kepalanya untuk meyakinkan penyebabnya bukan sakit kepala, lalu ia terhuyung beberapa langkah ke belakang dan membentur punggung Ika.
"Are you ok, Sweetheart?" Ika bertanya, menirukan gaya bicara Athena dengan sikap konyol. Gadis itu sedang berusaha memfokuskan bidikannya. Ia bertanya sekenanya saja tanpa menoleh sedikitpun.
"It's ok, Sweetheart!" Ester membalasnya tak kalah konyol dengan tanpa menoleh pula. Ia menarik tubuhnya menjauh dari Ika dan kembali memasang kuda-kuda. Gadis itu mengerjap-mengerjapkan matanya beberapa saat, berusaha membuat dirinya kembali fokus. Tapi gadis itu lagi-lagi merasakan lantai di bawah kakinya bergetar. Pertanda apa ini sebenarnya? Ia bertanya dalam hati.
Pintu gerbang di depan gedung itu berderak membuka, ketika dua mobil tentara memasuki pekarangan dengan cara paksa. Tak lama puluhan Ninja berseragam putih berloncatan keluar dari dalam mobil dan mengepung gedung itu.
Lalu puluhan Ninja berpakaian hitam menghadang mereka di selasar.
Ninja berseragam putih itu adalah Guardian baru yang dikirim pihak divisi. Mereka sengaja mengganti seragamnya diam-diam untuk mengecoh musuh. Itu sebabnya mereka datang lebih lambat dari waktu yang dijanjikan. Mereka berusaha memastikan pasukan musuh mengenakan seragam yang sama. Dan dugaan mereka benar. Sekarang musuh mereka sudah terlambat untuk mengganti kostumnya.
Sayangnya siasat itu tidak sepenuhnya efektif. Karena personel di ruang Personality Class sudah terdesak sekarang. Sudah lebih dari 20 Guardian tewas di ruang Personality Class. Sisanya tinggal 6 personel di samping Paravisi dan Anak Aset.
"Kita bakal tamat hari ini," komentar Ika Apriani mulai putus asa.
"Oh, tidak bisa...." Luciana berkilah. "Ending-nya harus sampai Luciana Adam menikah dengan Ardian Kusuma!"
Ester Maria mengerang dan memutar-mutar bola matanya menanggapi pembicaraan itu. "Ini serial action," komentarnya.
Ary Caroline tiba-tiba memekik tertahan. Ia tercengang dan menoleh ke arah Ester dengan mata terbelalak.
Ester terhenyak, lantai di bawah kakinya kembali bergetar. Ary juga merasakannya, batin Ester. Ini bukan pertanda. Tapi lantainya memang bergetar.
"Awas!" Seorang pria berambut panjang merunduk di depan Ary Caroline seraya mengayunkan busur menangkis sebilah pedang, tepat di depan wajah Ary Caroline. Gadis itu menjerit. "Tidak perlu berterimakasih," pria itu berkata.
Ary Caroline tergagap. Lantai di bawah kakinya sekarang berguncang.
Pria berambut panjang tadi sampai terhuyung di depan Ary dan akhirnya tersungkur menabrak bahu Ika yang sedang berusaha membidik. Membuat Ika menggeram dan menjambak rambutnya, "setaaann..." Pria itu hanya mengernyit setengah terkekeh.
Tanpa mereka sadari pasukan Ninja telah berhasil mengepung mereka semua. "Habislah kita," Ika menggumam pelan seraya menurunkan busurnya.
Tak lama lantai di bawah mereka kembali berguncang. Kali ini terasa jauh lebih kencang. Membuat semua orang dalam ruangan itu memekik tertahan. Seketika ruangan mendadak sunyi. Sementara itu, puluhan mata pedang sudah siap menikam mereka. Agung Tirtayasa dan kedua rekan Paravisinya juga bergabung di tengah ruangan sebagai sandera. Begitu juga Monica Debora, Jun Andreas, Deasy Dengkur, Pak Tua dan kedua Programmer juga 4 pria berambut panjang dari tim panahan. Selebihnya tidak ada lagi yang tersisa. Sudah tidak ada jalan untuk mereka melarikan diri sekarang. Detik berikutnya mata pedang itu melesat bersamaan ke arah mereka dan seketika itu juga lantai di depan mereka tiba-tiba terbelah.
Graaakkk!
Jeritan mereka membahana ketika retakan lantai di depan mereka melebar menjadi lubang besar, mengeluarkan asap tebal. Beberapa Ninja terperosok ke dalam lubang itu.
Ester memeriksa ke dalam lubang besar yang ada di depannya itu tapi tak lama kemudian lubang itu bergerak menutup. Jadi begitu cara Athena menghilang? Ester menyimpulkan.
Sesaat Agung Tirtayasa dan Martin Hernandez beradu pandang dengan Dion Markus, sebelum akhirnya melompat dari lantai dan bergabung bersama rekan Paravisinya.
Luciana Adam dan Jun Andreas beranjak menyusul mereka seraya membidikkan panahnya ke arah yang berlawanan.
Ary Caroline dan Ester Maria juga Ika Apriani kembali ke posisi berhimpun saling membelakangi satu sama lain dengan persiapan kuda-kuda dan senjatanya masing-masing, mirip pose cewek jagoan dalam film Charlie's Angel.
"Please, jangan pose Charlie's Angel," protes Ary Caroline kepada penulis.
"Charlie's Angel gak bawa-bawa busur fiberglass!" Ika menggerutu. Dilepaskannya sebuah anak panah dari busurnya ke arah seorang Ninja yang sedang menerjang ke arah mereka.
"Aku akan membunuh penulisnya setelah tamat cerita ini!" Ester Maria menimpali. Lalu mengepalkan kedua tangannya dalam posisi kuda-kuda.
"Hey, ini serial action. Bukan rubrik gosip!" Athena menghardik mereka seraya menjejakkan telapak kakinya pada wajah seorang Ninja.
"It's ok, Sweetheart!" Ketiga gadis itu menjawab bersamaan tanpa menoleh.
Begitu menyadari posisinya semakin terdesak, dua orang Ninja kemudian membukakan pintu, dan Ninja lainnya menghambur keluar ruangan.
Athena dan Senja Terakhir menyusul mereka dan memburunya. Diikuti 5 Paravisi lain di belakangnya. Pertarungan pun dilanjutkan di lantai 4.
Ika dan Luciana bergegas menuju tangga sementara Ester Maria memilih terjun bebas melompati railing dengan teknik kaki khas Capoeira.
Tak lama pasukan Ninja putih berdatangan dari lantai 3. Ester menelan ludah. Siapa lagi mereka? Batinnya. Tapi segera tahu begitu salah satu dari Ninja berpakaian putih itu menurunkan masker. Ester mengenalinya sebagai pria 31 tahun yang kurang percaya diri dengan usianya. Topan Maulana tersenyum ke arah Ester, mengisyaratkan mereka berada di pihaknya. Ester menghela napas lega, "semoga panjang umur, Om!" Sapanya, kemudian berbalik dari pria itu dan kembali memasang kuda-kuda. Bersiap untuk menyerang ke arah yang berlawanan.
Tapi diluar dugaannya pasukan Ninja hitam juga bermunculan dari berbagai arah. Keluar dari persembunyiannya dalam kecepatan luar biasa.
Ester memekik tertahan ketika salah satu Ninja itu menerjang cepat ke arahnya. Tapi Ary Caroline melesat lebih cepat dari lantai di atasnya dengan gerakan khas Capoeira. Ika dan Luciana berlarian di anak tangga seraya membidikan panahnya masing-masing.
Tak lama kemudian Ryan Gunawan muncul dari lantai 3 disusul Naomi dan Reyhan Ibrahim. Setelah itu 3 orang berseragam Paravisi dan sejumlah Guardian berseragam Racing mengikuti di belakangnya. Membuat semua mata tertuju ke arah mereka.
Seorang perempuan berseragam Paravisi melangkah ke tengah ruangan dengan rantai besi tersampir di bahunya. Lalu berhenti.
Grak!
Perempuan itu menurunkan rantai dari bahunya dan mengedar pandang. Seketika suasana di sekitarnya mendadak beku dan mencekam. Seolah hanya dengan mengedar pandang, ia telah mengunci semua gerakan di seluruh tempat. Dan sebelum semua orang pulih dari kekagetannya, perempuan itu sudah berhasil menghabisi semua musuhnya.
Semua orang memekik dan menahan napas.
Siapa dia sebenarnya?