
Casey Minor sudah terbiasa menghadapi seseorang yang tidak terlihat oleh orang lain.
Secara umum orang-orang semacam itu sering disebut arwah gentayangan atau hantu.
Tapi Casey tidak pernah setuju dengan pendapat itu karena menurutnya hantu tidak muncul pada siang hari. Kecuali jika yang dimaksud dengan hantu adalah bagian dari masa lalu seseorang. Karena peristiwa semacam itulah yang selama ini dialaminya setiap kali ia memasuki tempat-tempat baru. Terutama jika tempat itu berusia ratusan tahun. Itulah sebabnya Casey benci rumah tua dan kota tua.
Semakin tinggi nilai sejarah sebuah tempat, semakin banyak orang-orang tak terlihat yang bisa ia temukan.
Casey lebih setuju jika fenomena semacam itu disebut: LORONG WAKTU. Karena tidak semua orang yang tidak terlihat itu sudah meninggal dunia. Sebagian dari mereka masih hidup di tempat lain dengan usia yang berbeda. Meski kebanyakan dari mereka memang sudah meninggal dunia.
"Namaku Denta," kata pria tak terlihat yang tinggal di rumah baru Casey.
Pada saat itu, Casey baru saja mengeluarkan barang-barang pribadinya dari dalam kotak kardus yang dibawanya dari tempat lama, tiba-tiba pria itu sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Casey mengalihkan perhatiannya dari kotak kardus itu dan mengangkat wajahnya menatap ke arah pria itu. Gadis itu terdiam sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang pria itu. "Apa nama belakangmu juga Minor?" Casey bertanya.
"Tidak, tidak. Aku tidak berasal dari keluarga yang memiliki nama khusus atau nama belakang." Pria itu berkata. "Nama lengkapku Denta Yudistira. Aku tidak tahu apakah nama di belakangnya bisa dikatakan sebagai nama belakang atau nama leluhur. Jika itu benar berarti aku masih keturunan kerajaan Hastinapura dalam tokoh pewayangan." Denta berkelakar.
"Tokoh pewayangan itu hanya mitologi," komentar Casey. Aku tidak percaya kehidupan mereka pernah ada di dunia nyata. Gadis itu menumpuk beberapa lipatan baju yang ia keluarkan dari dalam kotak kardusnya kemudian menjejalkan semuanya ke dalam lemari dinding di seberang tempat tidurnya.
Pria itu menyilangkan kakinya seraya menyandarkan sebelah bahunya di bingkai pintu kamar Casey dan bersedekap. "Kau belum memperkenalkan dirimu," katanya setengah menuntut.
Casey melirik ke arah pria itu dan tersenyum. "Namaku Casey. Casey Minor," katanya. Kemudian kembali sibuk mengeluarkan sisa barang-barangnya dari dalam dus.
"Apa hubunganmu dengan Ezra Minor?"
Pertanyaan pria itu membuat Casey mendadak terdiam. Gadis itu mematung sesaat di depan lemarinya. Lalu menoleh ke arah pria itu dengan tampang gugup. "Kau mengenalnya?" Casey balas bertanya.
Pria itu mengerutkan dahi, "ya," jawabnya dengan tatapan menyelidik. "Kau tidak menyukainya? Ya, kan?"
Casey mengalihkan perhatiannya dari pria itu dan berpura-pura sibuk menyusun baju-bajunya ke dalam lemari. Ketika ia selesai menyusun baju-bajunya, pria tadi sudah menghilang. Casey menghela napas berat dan menghembuskannya perlahan. Lalu terdiam. Masih mematung di depan lemari dinding. Aku tidak pernah membencinya, Denta. Casey menjawab dalam hati. Ayahku yang membencinya!
"Aku berharap kau mulai melakukan kegiatanmu sendiri karena malam ini aku harus menghadiri pertemuan di rumah tetangga baru kita," tutur ayahnya saat makan malam.
"Well, yeah..." Casey menjawab tak yakin. "Mungkin aku akan berjalan-jalan sedikit." Casey menjejalkan segarpu penuh makaroni ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan.
Mr. Minor memperhatikan wajah putrinya dari seberang meja dengan pandangan prihatin. "Aku menyesal karena harus membawamu ke tempat membosankan ini," katanya lirih. "Kuharap kau bisa mengerti keputusan ini juga tak mudah untukku, Sweetheart!"
"Nikmati malam Anda, Pak Tua!" Casey menepuk-nepuk lembut punggung tangan ayahnya, untuk memberi semangat. "Setidaknya Daddy sudah berhasil menemukan teman baru, aku turut gembira mendengarnya." Casey menambahkan.
"Kuharap kau juga menemukan teman baru secepatnya," ayahnya menimpali. "Dan aku berharap ia teman sungguhan!"
Casey menanggapi perkataan ayahnya dengan tersenyum masam.
Casey tertunduk dalam. Benar, katanya dalam hati. Tak banyak orang yang mengerti perbedaan dalam dirinya kecuali Ezra. Casey tak yakin bisa menemukan seseorang yang bisa memahami dirinya dengan cukup baik jika suatu saat nanti ia terpaksa harus kehilangan ayahnya. Ia bahkan tak yakin apakah ia bisa melewati sisa hidupnya jika ia tak bersama lagi dengan ayahnya. Tak jarang ia merasa tergoda untuk mempertanyakan apakah ia akan berdosa jika suatu saat nanti ia memilih hidup bersama Ezra setelah ayahnya tiada?
Ezra Minor adalah kakak sepupu Casey. Tapi Casey juga mencintainya. Bukan seperti cinta seorang adik kepada kakaknya. Tapi cinta seorang gadis kepada seorang pria. Sebuah cinta terlarang yang dibenci ayahnya.
"Tidak cukupkah bagimu setelah kau berhasil merampas semua kekayaan keluargaku? Dan sekarang kau juga ingin merampas putriku?!"
Seketika perkataan tajam ayahnya melintas di kepala Casey. Pada saat itu, baik Ezra maupun ayahnya tidak menyadari kehadiran Casey. Casey tak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka suatu malam, ketika ia sedang berusaha menyelinap keluar dari rumahnya untuk menemui Ezra. Casey tak pernah menduga ayahnya akan memergoki Ezra yang sedang menunggunya di pekarangan. Ia bahkan tak pernah mengira bahwa malam itu akan menjadi malam terakhirnya melihat Ezra.
"Saya mungkin tak pantas menerima kekayaan keluarga Anda, Mr. Minor. Tapi Anda tidak punya alasan untuk melarang saya mencintai Casey. Kami tidak memiliki hubungan darah. Ingat?" Ezra menantang ayahnya. "Saya hanya anak angkat!"
Casey memekik tertahan mendengar pernyataan Ezra malam itu. Kenyataan itu terdengar menyakitkan sekaligus menenangkannya.
"Saya akan mengembalikan semua kekayaan Minor!" Ezra menegaskan. Lalu pergi dan tak pernah kembali lagi.
Kenyataan itulah yang menyakitkan Casey. Tapi kenyataan lain yang membuatnya tenang adalah mencintai Ezra tak lagi menjadi kekeliruan.
"Sweetheart?!"
Casey hampir tersedak menyadari ayahnya sedang berteriak.
"Are you ok?" Ayahnya terlihat sangat kuatir.
"Well, yeah. I'm fine, dad!" Casey tergagap.
"So, mau sampai kapan kau memelototi makanan itu?" Ayah Casey ternyata sudah bersiap untuk pergi. "Kalau tak sanggup menghabiskannya tinggalkan saja. Biar tua renta ini yang mencuci piringnya nanti."
"It's ok, Daddy! Aku akan mencucinya sekarang." Casey beranjak dari tempat duduknya dan bergegas merapikan meja makan.
Ayahnya menatapnya dengan dahi berkerut. "Kau yakin kau baik-baik saja?"
"Yeah, Dad!"
"Ye-ah?"
"Yess!" Casey menegaskan.
Ayahnya menghela napas kemudian mengenakan mantel dan berjalan menuju pintu. "Aku takkan pulang terlalu malam. Usahakan kau juga tidak berjalan-jalan terlalu jauh!" Ayahnya berpesan.
Tak lama kemudian, Casey mendengar suara mobil ayahnya keluar dari garasi dan bergerak menjauh.