
"Oom...Oom...?!" Ika menarik-narik lengan baju Guardiannya.
Guardian itu menoleh dengan dahi bertautan.
Ika mengernyit. "Pengen pipiiiissss....!" Ia merengek ke arah Guardian itu seolah Guardian itu betul-betul pamannya.
Guardian itu terbelalak, kemudian menatap rekannya.
"Di mana senjatamu?" Guardian satunya lagi bertanya.
"Yailaaahhh...." Ika mengerang. "Mau pipis aja kudu bawa senjata," gerutunya seraya berbalik ke dalam ruangan, tempat ia meletakkan perangkat panahannya. Ia menyampirkan quiver ke punggungnya, kemudian menenteng busurnya, dan kembali keluar.
Begitu sampai di depan pintu, dua pedang terhunus ke arahnya.
Ika menjerit sekuat tenaga, hingga kedua penghunus pedang itu tiba-tiba jatuh ambruk ke lantai. Ika terperangah. Apa iya jeritan gue sesakti itu? Ia bertanya dalam hati.
Seorang pria berambut panjang menyeringai di ambang pintu dengan busur berbahan fiberglass di tangan kirinya.
Ika menelan ludah.
Pria itu adalah Wisnu Habel Putra Pandu, yang tadi menggodanya saat pembagian tim. "Gak usah bilang makasih!" Pria itu berkata.
Sementara Tim Racing yang berada di luar gedung saat itu menghadapi yang lebih buruk. "Bersiaplah!" Seorang Guardian memberi tahu Naomi. "Kita kedatangan tamu." Naomi mengikuti arah pandangan Guardiannya dan memekik tertahan.
"Suara ribut-ribut apa itu?" Agung Tirtayasa bertanya. Ia bangkit dari kursi Paravisi kemudian melangkah mendekati dua Guardian penjaga pintu.
"Kita diserang!" Seorang Guardian berteriak dari dasar tangga.
Ester terbelalak ketakutan dan beradu pandang dengan Monica Debora.
Salah satu guardian itu melangkah ke arah jendela kaca yang menghadap ke gerbang depan gedung, kemudian mengawasi ke pekarangan. "Oh, shit!" Ia menggumam lalu berbalik dengan tampang gugup, "sejujurnya kami tidak pernah dilatih untuk berhadapan dengan berandalan."
"Apa maksudnya berandalan?" Agung Tirtayasa gagal paham.
"Mereka genk motor liar, Sir!" Guardian itu melaporkan.
"Damn!" Agung Tirtayasa mengerang. Serangan itu di luar prediksinya. Formasi yang telah disusunnya tidak dipersiapkan untuk serangan massal.
"Jumlah mereka terlalu banyak!" Ethan Hernadez memekik.
"Habislah kita!" Adam Martinez menelan ludah. Kedua anak laki-laki ini ditempatkan di pekarangan bagian depan.
"Monica Debora direkomendasikan oleh Athena!" Ary Caroline melaporkan. "Dan..." Gadis itu menggantung kalimatnya.
Pak Tua menurunkan kaca matanya dan mengerutkan dahi, kemudian menoleh ke arah Ary Carolin.
Kedua Guardian di depan pintu menoleh ke dalam dan mendapati kedua ahli komputer bersama Pak Tua sudah berhimpun di belakang Ary Caroline memelototi monitornya dengan alis bertautan. Membuat kedua Guardian itu mulai curiga. Lalu keduanya menerobos ke dalam ruangan di susul dua yang lainnya, kemudian dua lagi di belakangnya.
Keempat Programmer itu memekik bersamaan.
Sekitar 12 Guardian tahu-tahu sudah mengelilingi mereka dengan pedang terhunus di tangannya.
"Mereka bukan Guardian!" Ary Caroline menjerit.
Keempat Programmer itu serentak memasang kuda-kuda dan berhimpun di tengah ruangan saling membelakangi satu sama lain.
Lalu ketika serangan itu datang, mereka menangkis setiap serangan dengan bangku atau apa saja benda keras yang ada di dekat mereka. Pertarungan itu jelas tak seimbang. Tapi setidaknya mereka masih mampu bertahan meski tak yakin berapa lama.
"Di mana Guardian kita?" Pak Tua bertanya.
Lalu seseorang muncul di ambang pintu, menyelinap ke belakang Guardian yang menyerang mereka. Pakaiannya juga serba hitam, tapi tidak seperti Ninja. Pakaiannya sama persis seperti seragam yang biasa dikenakan Paravisi.
Ary Caroline dan juga Pak Tua menatap sosok itu tanpa berkedip. Tanpa mereka sadari sepasang pedang melesat ke arah mereka. Ary Caroline menjerit.
Lalu dua Ninja tumbang. Sosok misterius itu telah menghabisinya. Kini keempat Ninja lainnya menyerang pria asing itu.
Ary Caroline pun memanfaatkan kesempatan itu, ia mengayunkan sebuah kursi dan memukulkannya pada salah satu Ninja dan berhasil menjatuhkannya.
Sisa tiga Ninja dan sosok misterius itu menghabisinya dalam sekejap.
Keempat Programmer itu tercengang.
"Juna?!" Pak Tua menatapnya setengah tak percaya.
Ary Caroline mengamati pria itu dan mengingatnya sebagai Jun Andreas. Salah satu dari Talent yang hilang dari Komite Musik.
Ika mengendap-ngendap di sepanjang selasar lantai 15, lantai teratas bangunan Minority Center. Di depannya Wisnu membentenginya bersama dua orang Guardian.
Salah satu Guardian itu mengangkat tangannya, mengisyartakan mereka untuk berhenti. Lalu menempelkan telunjuk ke bibirnya.
Ika dan Wisnu mematung.
Seseorang dengan pakaian mirip Paravisi tengah membidikkan panah ke luar gedung.
Guardian itu tidak tahu apakah mereka harus menyerangnya atau tidak. Seingatnya Paravisi tidak diijinkan berada di dalam gedung selama program diambil alih. Lalu Guardian itu mengisyaratkan mereka untuk mundur.
Orang itu menyadari kehadiran mereka dan berbalik ke arah mereka seraya membidikkan anak panahnya.
Ika memekik.
Anak panah itu melesat dari busurnya melewati mereka.
Bruk!
Seorang Ninja tersungkur di belakang mereka. Keempatnya menoleh ke belakang. Lalu seorang Ninja lagi tumbang.
Sosok misterius itu menghampiri mereka seraya menurunkan masker dari wajahnya.
Ika tercengang, tak percaya. "Lucy?!"
Kedua Guardian itu menatap Luciana dengan dahi berkerut-kerut kebingungan. Siapa orang ini? Mereka bertanya dalam hati. Lalu keduanya bertukar pandang.
Luciana bersedekap memeluk busurnya di depannya dadanya.
Wisnu memelototi gadis itu nyaris tak berkedip.
"Jangan memelototiku seperti itu!" Luciana menggeram padanya. "Aku sudah punya pacar," tandasnya tajam.
Ika melompat berdiri dan menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.
Luciana menempelkan telunjuknya di hidung Ika dan menekannya. "Ssssst..." Desisnya. "Bukan saat yang tepat untuk menangis!"
Di luar gedung Reyhan Ibrahim, Naomi dan tiga anak lain sudah bersiap di atas sepeda motornya masing-masing. Mereka berbaris seperti ketika mereka bersiap di garis start saat balapan.
"Begitu saya beri aba-aba, kalian semua maju serentak dalam kecepatan minimal 120." Seorang Guardian memberi perintah.
Pasukan pengendara motor modifikasi sudah hampir mencapai jalan masuk di depan gerbang. Dan rencana mereka adalah menghadang iring-iringan itu dengan teknik Drag Race dan menabrakkan diri.
Naomi tak yakin apakah ia sanggup melakukannya tanpa cidera. Ini jelas aksi bunuh diri, pikirnya. Ia menghela napas dalam-dalam berusaha menyingkirkan rasa gugupnya.
"Bersiap!" Guardian itu mengacungkan tangannya. "Dalam hitungan ketiga kalian sudah meluncur. Satu..."
Reyhan Ibrahim memejamkan mata dan berdoa dalam hatinya. Ia juga sama gugupnya dengan Naomi.
"Dua..."
Reyhan merundukkan bahunya, memokuskan pandangannya ke depan.
Pasukan musuh sudah berbelok ke arah gedung.
"Tiga!"
Reyhan Ibrahim dan juga Naomi melesat.
Graaakkk!
Suara ledakan logam yang berbenturan membahana di depan gerbang. Suara-suara ban yang berdecit mendesing ke udara disusul suara berderak bersahut-sahutan.
Agung Tirtayasa memejamkan matanya. Tak sanggup membayangkan kengerian itu.